Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Ketabahan Andini


__ADS_3

Perawatan Andini mulai stabil dan kesembuhannya pun meningkat drastis. Keesokan harinya Andini sudah di perbolehkan untuk pulang.


"Mas. Anak kita." Ucap Andini kemudian.


"Bersabarlah sayang. Semua yang Allah ciptakan akan kembali kepadanya. Allah mengambil anak kita sebelum dilahirkan itu pun akan ada hikmahnya sayang. Kamu harus kuat. Ini ujian kita sayang. Ingat ada Mas yang akan selalu ada untukmu sayang." Jawab Rasya menenangkan istrinya itu yang seketika waktu syok dan sangat bersedih hati.


Andini perlahan mulai bisa menerima takdir yang sudah di garis kan untuk nya.


Itulah bagaimana iman dan pundak Andini memang kuat. Apapun ia terima dengan lapang dada meskipun melalui prosesnya. Tentu tak heran ujian terus mendekatinya. Pahala atas sabarnya lah yang akan mempertemukan dengan buah hatinya itu kelak.


***


Setibanya dirumah Rasya masih kepikiran sikap Rafki dan kemudian pergi menuju kamar Rafki.


"Ki. Boleh Kakak masuk?" Tanyanya di pintu kamar.


"Masuklah Kak." Jawab Rafki.


"Ketika kamu Kakak tanyain di Rumah Sakit kamu masih belum bisa cerita. Sekarang cerita lah Dik. Kakak juga tidak bisa tenang kamu seperti ini." Jelas Rasya.


"Aku bingung Kak. Aku sudah mengambil tindakan yang mungkin menurut Kakak adalah tindakan bodoh. Mungkin saja Ibu dan Kakak tidak akan merestuinya." Jelas Rafki.


"Tindakan apa Dik?" Tanya Rasya.


"Ketika jadwal aku dinas. Dan ada seorang pasien aku yang keadaannya darurat Kak. Dia mencoba bunuh diri kesekian kalinya Kak. Aku tidak tega dengannya. Kesedihannya itu mengingatkan aku akan Ibu dan Kak Andini. Dia dalam keadaan hamil diluar nikah. Aku berkata tanpa berpikir panjang kemudian mengucapkan aku akan menikahinya Kak." Jelas Rafki menahan air matanya.


"Bagaimana kamu bisa berpikir sebesar itu Dik?" Rasya bertanya lagi.


"Aku juga nggak paham Kak. Aku kasihan lihatnya. Namun tentang ucapan ku aku juga harus menepatinya Kak." Jelas Rafki.


"Memang benar Dik. Kamu harus bertanggung jawab atas setiap tindakanmu. Kakak ada bersama mu Dik. Tenanglah kita akan bicarakan ini pelan pelan dengan Ibu." Jawab Rasya membuat Rafki sedikit lega.


"Terima kasih banyak Kak." Ucap Rafki sembari memeluk Rasya.


***


"Ibu. Duduklah sebentar." Ajak Rasya.


"Ada apa Nak?" Tanya Rina kemudian.


"Ada yang mau aku bicarakan tentang Rafki Bu." Jelasnya lagi.


"Kenapa Adikmu itu Nak?" Tanya Rina.


"Dia akan berkomitmen untuk menikah Bu." Jawab Rasya.


"Apa Nak? Menikah? Siapa yang akan ia nikahi. Bukankah itu Anak paling susah dengan perempuan." Ucap Rina.

__ADS_1


"Aku harap Ibu akan mengerti situasinya Rafki. Menikahi seseorang yang ia selamatkan di Rumah Sakit tempatnya dinas. Seseorang yang akan bunuh diri yang ia selamatkan Bu." Jelas Rafki.


"Kenapa Adikmu tak ada berbicara kepada Ibu tentang ini?" Tanya Rina.


"Rafki takut Ibu akan marah dan tidak setuju." Jawab Rasya kemudian.


"Bagaimanapun masalah Anak Anak Ibu. Kalian adalah Anak Ibu. Tetap akan ada rasa kasih dan sayang untuk kalian Nak." Jelas Rina lagi.


Rasya memeluk erat tubuh Ibunya.


Kemudian Rafki datang menemui Ibunya karena Rasya memanggilnya ke kamarnya Rafki sendiri.


"Assalamualaikum Ibu." Sapa Rafki.


"Waalaikumussalam. Duduklah Nak!" Pinta Rina.


"Maafkan aku karena mengecewakan Ibu." Rafki berlutut memohon ampunan Ibunya.


"Berdirilah Nak! Apa masalahmu Nak. Ceritakan sama Ibu." Pinta Rina.


Rafki menceritakan kisahnya yang akhirnya terlontar ucapan untuk mengikat ke hal sakral seperti pernikahan. Rina kaget mendengar cerita Rafki. Ia tak bisa bicara apa apa. Rasya yang mendengar nama Lina ikut kaget. Apakah Lina langganan ojek onlinenya dulu ketika masih menjadi tukang ojek.


"Mana mungkin juga. Lagian yang namanya Lina nggak cuman satu di dunia ini." Ucap Rasya kemudian dalam hatinya.


***


"Tunggu sebentar Mbak. Dokter Rafki sedang di ruang operasi." Jelas Perawat tersebut.


"Oh ya. Terima kasih Mbak." Ucap Lina kemudian pergi dari ruangan pelayanan pertama. Kemudian Lina melangkahkan kakinya langkah demi langkah, mendekati ruangan operasi tersebut kemudian ia melihat kursi di pojok kiri sana dan duduk disana. Menunggui Rafki yang sedang bertugas.


Tak lama kemudian Rafki keluar dari ruang operasi karena operasi itupun sudah selesai.


"Assalamualaikum." Sapa Lina.


"Waalaikumussalam." Jawab Rafki sedikit pangling dan berpikir.


"Lina. Apakah benar ini kamu?" Lanjut Rafki.


"Benar Dokter. Ini Lina." Jawabnya.


"Masya Allah. Beginilah selain cantik juga sopan." Ucap Rafki memuji Lina.


Maklumlah Lina yang baru belajar dipuji sedikit rasanya sudah terbang sejauh mungkin.


"Mari keruangan aku!" Ajak Rafki.


Lina hanya menurut dan mengikuti Rafki dari belakang.

__ADS_1


"Sinilah! Berjalan di sampingku." Ucapnya lagi mengarahkan tangannya menunjuk arah sampingnya.


Lina hanya diam dan mengerti maksud Rafki. Memberinya kesempatan dan ruang mendekatinya. Lina semakin tinggi pede seolah berpikir Rafki benar tertarik padanya tidak hanya karena kasihan.


Lina seorang perempuan yang juga cantik. Meskipun sekarang memakai jilbab namun tak menutupi kecantikannya. Malah menambahkan kecantikan akhlaknya.


"Bagaimana kesehatanmu dan janin mu?" Tanya Rafki tiba tiba.


"Aku belum check." Jawabnya.


"Sini biar aku temenin ke Dokter kandungan." Ajak Rafki.


Lina mengangguk kecil kemudian mengikuti Rafki.


Setiba di ruangan kandungan Lina yang disuruh berbaring kemudian diperiksa oleh Dokter.


"Dokter Rafki. Suami Mbak ini mana?" Ucap Dokter kandungan tersebut kepada Rafki yang juga sudah menunggu hasilnya.


"Maaf Dok. Itu privasinya." Jelas Rafki tegas.


"Maaf Dok." Ucap Dokter kandungan itu lagi.


"Tidak mengapa. Jadi bagaimana kondisi calon istri saya Dok?" Tanya Rafki kemudian. Membuat Dokter yang menangani Lina menjadi kaget.


"Calon istri? Apa Dokter Rafki tidak lagi waras sehingga memilih wanita hamil menjadi istrinya." Ucap Dokter itu di dalam hatinya.


Lina tak kalah kaget mendengar ucapan Rafki yang membuatnya melambung tinggi.


Rasanya baru kali ini ia dimengerti bahkan disayangi oleh seorang laki laki meskipun belum seutuhnya perhatian kecil Rafki membuatnya menjadi bertambah yakin akan semua hal tentang Rafki yang akan menjadi calon imamnya.


"Kondisi Ibu dan Anaknya baik Dok." Jawabnya.


"Terima kasih Dok." Ucap Lina berdiri dari baringan nya.


Rafki yang mengajar Lina keluar ruangan selesai pemeriksaan kemudian Rafki mengantarkan Lina untuk pulang.


"Makasih Dokter Rafki." Ucap Lina.


"Panggil Rafki." Balasnya.


"Baiklah Rafki." Ucap Lina lagi.


"Mana ponselmu?" Tanya Rafki.


Lina memberikannya kemudian Rafki mengetikkan nomor teleponnya dan menelepon nomor tersebut agar ada jejak di hp Rafki.


"Ini sudah aku simpan nomor ku disini. Kalau ada apa apa cepat hubungi aku." Ucap Rafki kemudian mengembalikan telepon milik Lina.

__ADS_1


Lina mengambilnya tanpa ada jawaban sedikitpun. Setelah sampai dirumah kemudian Lina turun dari dalam mobil milik Rafki dan pamit untuk masuk kerumah.


__ADS_2