Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Ujian Berat


__ADS_3

'Kamar Mayat.'


Ruangan gelap yang kedap udara, buram tiada pencahayaan.


Terletak di paling ujung Gedung Rumah Sakit itu.


Rasya berdiri tegap menghadap ruangan itu dan seorang Suster berhasil memecah lamunan Rasya.


"Mari Pak saya antar." Ucapnya sopan.


Rasya hanya mengangguk dengan beribu ribu luka yang ia bawa di pundaknya. Melangkah masuk langkah demi langkah.


Pikirannya kian membisu tidak berani berpikir apapun. Karena terlalu perih baginya.


Hingga tak sadar ia pun lupa mengabari Rina dan adiknya juga sekalipun. Bagaimanapun mereka harus tau kondisi ini.


Mengambil ponsel yang berada di saku kanan celana formal yang ia pakai itu.


Mengetik nomor yang akan ia tuju.


"Assalamualaikum Nak." Panggil Rina.


Rasya hanya diam.


"Nak. Ada apa?" Tanya Rina seolah mengerti ada yang tidak beres dengan anaknya itu.


"Waalaikumussalam Ibu. Segeralah datang ke Rumah Sakit Xxxxxxx. Andini dan Mama disini Bu. Sekalian ajak Rafki juga Lina." Ucapnya memberanikan diri perlahan.


"Kenapa Nak?" Tanya Rina lagi.


Rasya yang tidak lagi menjawab apapun dan Rina seolah paham maksud anaknya itu. Bergegas pergi dan mengabari Rafki.


Rafki terlihat syok karena tidak pun diberi tahu Rina ibunya ia telah mengetahui berita itu melalui TV.


Perlahan ia mulai membuka kain berwarna putih penutup tubuh wanita yang terbujur di atas tempat tidur itu. Sesuai dengan arahan Suster itu. Mengatakan ini adalah Sinta mertuanya.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi Ma. Kenapa secepat ini? Kami sayang padamu Ma? Bagaimana Andini jika mengetahui hal ini Ma? Apakah ia akan bisa menerimanya Ma. Bangunlah Ma. Aku mohon." Tangis Rasya pecah kembali melihat bahwasanya mayat itu adalah Sinta.


Bumi kian berhenti berputar.


"Jadi kapan Bapak bisa urus administrasi tentang pengembalian jenazah Pak?" Tutur Suster itu lagi.


"Tentu Sus. Saya menunggu Ibu saya dulu sebentar." Ucapnya.


Tak lama kemudian Rina sampai dirumah sakit yang Rasya maksud.


"Ada apa Nak?" Tanya Rina.


"Mama Bu. Mama telah tiada." Ucapnya pilu.

__ADS_1


"Jangan becanda Nak. Ada maksudmu?" Rina tidak percaya namun sekali ucapan itu membuat air matanya menetes tak terhenti.


Sahabat karibnya, sahabat akrabnya. Sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.


Saking sayangnya dan saking akurnya ia malah menjodohkan anak mereka berdua agar persahabatan itu kian merapat dan tidak pernah terputus.


Namun haruskah ia pergi secepat itu.


Tidak mungkin. Rina amat tidak mempercayai semua itu.


Tangisnya pecah. Memeluk tubuh tidak bernyawa itu.


"Sinta. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Hanya kamu yang mengerti denganku. Dengan siapa lagi aku akan bercerita. Sinta bangunlah." Ucap Rina menangis sejadi jadinya.


"Ibu. Tenanglah. Andini Bu. Andini masih dalam keadaan koma." Ucap Rasya lagi.


"Kenapa Nak? Bagaimana semua ini terjadi?" Ucap Rina menangis.


"Andini dan Mama mengalami kecelakaan maut Bu. Yang beritanya sudah mendunia Bu." Jelasnya.


"Kenapa Andini bisa pergi tanpa mu Nak?" Rina.


"Tadi aku ada acara Bu. Andini izin pergi kerumah Mama karena Mama mengalami sesuatu Bu. Kata saksi mata Mama Sinta pingsan dirumah. Andini mendapat telepon dari Mama yang membuat pikiran Andini menjadi tidak baik. Makanya Andini lansung pergi Bu." Jelas Rasya panjang lebar.


"Astagfirullah Nak. Kita harus bagaimana sayang. Ini benar bencana kiamat Nak. Ibu tidak sanggup." Ucap Rina lagi.


"Kita harus memindahkan Mama Sinta ke pemakaman Bu. Karena Dokter sudah memperbolehkan Jenazah dipulangkan Bu." Ucapnya lagi.


"Setiap yang bernyawa pasti akan meninggal dunia Bu. Tinggal menunggu giliran kita masing masing. Sekarang kita selamatkan jenazah Mama Bu." Jelas Rasya.


Rasya yang sudah tabah dan ikhlas dengan keadaan ini berusaha memperkuat Rina.


"Baiklah Nak." Ucap Rina lagi kemudian.


Kepedihan itu terasa sangat menjerit bahkan mematahkan semangat di dalam jiwa.


Selesai sudah proses pemakaman almarhum Sinta. Rasya dan juga Rina melangkah pergi meninggalkan setelah semua orangpun telah pergi meninggal tempat itu.


"Kak Rasya, Ibu." Panggil Rafki kemudian lansung memeluk Rasya dan Rina secara bergantian.


"Maaf karena aku terlambat datang Bu, Kak." Ucapnya kemudian.


Lina dengan sopan nya menyalami Rina mertuanya kemudian menyapa Rasya penuh hormat.


"Kenapa kalian baru datang?" Tanya Rina lagi.


"Tadi penerbangan kami ditunda beberapa jam Bu. Makanya jadi terlambat untuk datang." Ucapnya kemudian.


Rina mengangguk paham dengan ucapan Rasya.

__ADS_1


"Bagaimana Kak Andini Bu, Kak?" Tanya Lina.


"Andini masih dalam keadaan koma Lin." Jawab Rasya.


"Astagfirullah. Semoga Allah segera cabut penyakitnya." Lina merasakan pedih yang juga tidak kalah dalamnya.


"Aamiin." Semuanya mengaminkan doa Lina.


"Sekarang kita kerumah sakit lagi. Rafki dan Lina mau barengan apa bagaimana?" Tanya Rina.


"Ibu dan Kakak duluan saya. Kami mampir sebentar di pusara Mama Sinta. Iya kan Lin?" Jelas Rafki.


"Benar Bu, Kak." Timpal Lina kemudian.


****


"Dokter Wilona. Tolong bantu Dokter Aska menangani korban kecelakaan yang masih dalam keadaan koma." Tutur Dokter Wisma selaku pemimpin di Rumah Sakit tersebut.


"Baik Dok." Ucap Wilona sopan.


Sesampainya di ruangan tersebut Wilona sangat kaget karena pasien yang sedang koma tersebut adalah Andini. Andini teman dekat Kakaknya Kevin itu.


Wilona selesai memeriksa Andini kemudian lansung mengabari Kevin dan juga Jena iparnya.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Rasya.


"Eh Dokter Wilona." Ucapnya lagi.


"Untuk saat sekarang ini masih belum ada perubahan Kak. Teruslah berdoa agar kesembuhan Kak Andini segera Kak." Ucapnya lagi.


"Rasya, Ibu." Panggil Kevin dari kejauhan.


"Nak Kevin." Sapa Rina.


"Bagaimana keadaan Andini Rasya?" Tanyanya lagi.


"Masih koma dan belum ada perubahan Kev." Jawab Rasya lemas.


"Jangan menyerah Rasya. Allah bersama kita. Teruslah berdoa dan jangan mengeluh. Kalian hebat kalian mampu. Allah amanah kan ujian ini agar keimanan kalian bertambah kuat. Allah tidak akan menimpakan suatu ujian apapun juga diluar batas kemampuan hambanya. Kalian hamba pilihan dari Allah yang mampu menahan derita ini. Kalian tidak sendirian. Ada Allah dan orang orang yang amat menyayangi kalian." Tutur Kevin panjang lebar.


Kevin memeluk Rasya menepuk punggungnya memperkuat Rasya dalam kondisi seperti ini.


"Terima kasih banyak Kev." Balas Rasya.


Andini yang sekarang merasakan tubuhnya gemetaran hebat, kejang kejang dan Rina lansung memanggil Dokter. Rasya lansung mendekati Andini dan memeluknya.


"Sayang kamu kenapa?" Rasya menangis tidak tega melihat istrinya itu menahan sakit sendirian.


"Andai aku bisa menggantikan sakit mu Ndin. Sungguh hati ini tidak tahan melihat mu seperti ini." Celoteh Rasya merasakan pasrah yang hebat yang amat menyakitkan baginya.

__ADS_1


"Permisi Pak. Biar saya periksa dulu Ibu Andini." Tutur Dokter yang telah datang.


"Baik Dok." Balas Rasya.


__ADS_2