
'Entahlah ada apa dengan pikiranku. Kenapa selalu dia.' Ucap Wilona dalam hatinya.
'Sungguh Dokter tersebut membuatku pangling dan salah tingkah selalu. Rasa berdebar ini sangatlah berbeda. Apakah ini yang namanya cinta?' Celetuk Rafki ketika ia sedang makan siang di ruang rawat Rasya.
Andini yang saat ini masih dalam suara emasnya melantunkan ayat ayat suci al quran.
Memegang erat tangan Rasya sesekali menciuminya memeluknya hingga sampai meneteskan air mata.
Namun kali ini ada yang berbeda. Jari telunjuknya bergerak sebentar. Andini merasakan gerakan tersebut sebab ia masih menggenggam erat tangan Rasya.
"Ki. Lihatlah! Tangan Mas Rasya bergerak." Ucap Andini.
"Tunggu sebentar Kak. Biar aku check." Ucapnya kemudian.
Rafki memang bukan dokter dirumah sakit ini. Tapi ia sudah bisa dikatakan mahir untuk merawat pasien.
Apalagi itu Kakaknya sendiri. Ia sangat antusias dan waspada untuk itu.
"Alhamdulillah Kak. Kak Rasya sudah siuman. Bentar lagi ia akan bangun. Biar aku panggil Dokter yang menanganinya dulu Kak." Ucap Rafki.
"Alhamdulillah Ya Allah. Baiklah Ki." Ucap Andini kemudian memeluk tubuh Rasya yang terbujur itu.
"Sayang ku mohon bangunlah! Sudah sangat lama kamu tidur. Aku benar benar rindu." Rintihan Andini berharap Rasya akan dengar.
Tak lama kemudian Rasya mulai membuka matanya perlahan. Melihat di sekeliling dan berusaha ingin bicara.
"Aa..nn..di..ni.." Panggil Rasya terbata.
"Iya sayang. Aku disini. Aku merindukanmu sayang." Ucap Andini.
"Alhamdulillah suami Ibu sudah sadar. Dan Kondisinya hari ini sudah membaik dan perkembangannya pun sudah jauh meningkat." Ucap Dokter Tengku selesai memeriksa kemudian melepas bagian perawatan yang memang tidak dibutuhkan lagi.
"Alhamdulillah. Terima kasih Dok." Jawab Andini.
Andini sangat bahagia melihat Rasya sudah bangun dari komanya. Seminggu lamanya sungguh tidak ada harapan untuk Andini tanpa Rasya. Ia hanya merasakan kacau sedih dan terpuruk yang dalam.
Hingga sampai saat ini berkat sabarnya untuk menunggu Rasya bangun lagi akhirnya di wujudkan Allah. Sungguh penantian yang sangat berharga. Andini semakin merasakan ia sangatlah cinta kepada Rasya. Melihat kondisinya kemaren membuatnya begitu kehilangan arah.
"Kak Aku pamit pergi ke tempat kerja. Ibu dan Mama sebentar lagi kesini." Ucap Rafki selesai memastikan Rasya sudah sadar dengan baik.
"Baiklah Ki. Kamu hati hati." Jawab Andini.
Rafki kemudian melangkahkan hatinya keluar karena akan pulang kerumah bersiap siap berangkat kerja.
Sesampainya diluar ketika Rafki sedang berjalan terburu buru. Kemudian ada seseorang yang bangun dari jongkoknya mengambil sesuatu. Kepala seseorang itu menyentuh dagu Rafki. Bentrok hingga kesakitan.
__ADS_1
"Aduh." Pekik Wilona.
"Dokter Wilona." Panggil Rafki.
"Iya Kak Rafki. Maaf ya aku nggak sengaja. Tadi kunci mobil aku hilang terjatuh disini. Aku cari tidak ketemu." Ucap Wilona kemudian.
"Biar aku bantu cari." Ucap Rafki.
"Tidak perlu Kak. Merepotkan. Biar aku saja." Jawab Wilona menolak.
"Tidak merepotkan sama sekali." Balas Rafki kemudian.
Wilona hanya terdiam berdiri melihat Rafki yang tengah sibuk mencari cari kunci mobil.
Dan akhirnya ketemu didekat semak semak ditepi jalan. Dugaannya terjatuh ketika akan masuk Rumah Sakit.
"Ini kuncinya Dok." Rafki mengulurkan tangannya memberi kunci mobil yang Wilona cari dari tadi.
"Terima kasih banyak Kak." Ucap Wilona mengambil kunci mobil tersebut dan lansung pergi meninggalkan.
'Aku tunggu yang ketiga kalinya Dok. Kata orang jika tabrakan dengan orang yang sama sebanyak tiga kali kemungkinan itu jodoh.' Ucap Rafki yang membuat Wilona mengingat kejadian itu.
'Ada ada saja itu orang.' Ucapnya di dalam hatinya menggelengkan kepala.
Sesampainya di Rumah Sakit tempat praktek Rafki.
"Baik Sus." Ucapnya kepada Perawat atau Suster tersebut.
Ketika Rafki sudah memasuki dan disana sudah banyak para Perawat yang mengambil tindakan siap siaganya. Kemudian Rafki menghampiri dan segera menangani dengan juga bantuan Perawat tersebut.
*
"Mas kita lihat keadaan Andini yok!" Ajak Jena.
"Baik Dek. Tapi Mas mau pergi ngajar dulu sebelum zuhur. Nanti kalau sudah pulang baru kita kerumah sakit." Ucap Kevin.
"Tentu Mas." Jawabnya Jena.
*
"Sin." Panggil Rina ketika sudah berada dirumah Sinta.
"Iya Rin. Duduklah dulu!" Ajak Sinta mempersilakan Rina duduk kemudian ke dapur mengambilkan segelas air teh manis.
"Ini minumlah dulu!" Lanjut Sinta.
__ADS_1
"Terima kasih Sin. Kamu ah repot repot." Ucapnya Rina.
"Masak besan sendiri datang jadi repot. Nggak lah Rin." Balas Sinta kemudian.
"Aku dapat telepon dari Andini kalau Rasya sudah bangun dari komanya Sin." Ucap Rina.
"Aku juga sudah dapat kabar dari Andini Rin. Aku juga akan bersiap pergi ke Rumah Sakit." Balas Sinta kemudian.
"Kita lansung ke Rumah Sakit ya abis ini. Biar Andini bisa istirahat dirumah. Kita jagain anak anak kita. Biar Aku jagain Rasya. Kamu dirumah saja dengan Andini. Lagian Andini sedang tidak baik baik saja. Sebab dikarenakan ia sering mual bahkan muntah." Ucap Rina.
"Baiklah Rin."
Sesampainya di Rumah Sakit.
"Assalamualaikum." Panggil Sinta.
"Nak. Kamu sudah sadar." Sapa Rina kemudian lansung memeluk Rasya.
"Ibu rindu denganmu Nak." Lanjutnya.
"Aku sudah jauh lebih baik Bu. Lagian orang yang aku sayang semua bersamaku, menguatkan ku Bu. Aku akan baik baik saja." Ucap Rasya dengan yakin.
Kondisinya yang sudah semakin membaik semenjak tadi pagi ia sudah sadarkan diri.
Jika kondisinya selalu menaik dan semakin membaik. Besok Rasya sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Andini. Kamu pulanglah dengan Mama. Disini biar Ibu yang jagain Rasya. Kamu butuh istirahat." Ucap Rina.
"Benar sayang." Jawab Rasya.
"Tapi Mas. Aku masih mau disini. Nungguin kamu sampai benar benar pulih." Ucap Andini.
"Lihatlah aku sayang. Sekarang aku sudah sangat baik. Berkat doa dan keteguhan hati istriku tercinta. Aku sudah melewati masa koma yang menegangkan itu sayang. Pulanglah! Calon baby kita butuh Ibunya yang kuat dan selalu sehat." Jelas Rasya.
Andini hanya menurut apa kata suaminya itu.
Kemudian Andini pergi bersama dengan Sinta keluar dari ruangan Rasya setelah membereskan keperluan juga menyediakan keperluan Rasya sampai Andini kembali kesini.
"Jangan sampai tidak makan Mas." Ucap Andini masuk lagi kedalam ruangan Rasya. Ketika Andini sudah sampai didepan pintu namun ada yang kurang ia rasakan. Meninggalkan suaminya berat rasanya meskipun hanya sebentar.
"Tentu sayang. Hati hatilah untuk pulang." Jawab Rasya.
Kemudian Andini memeluk Rasya dan menciumi punggung tangannya. Dan berpamitan berucap salam untuk meninggalkan suaminya beberapa saat dulu.
"Ma aku masih ingin disini." Ucap Andini melangkah di samping Mamanya.
__ADS_1
"Nak. Dengarkan Mama. Tidak hanya suamimu yang butuh kamu. Calon anak kalian juga membutuhkan kamu Nak." Ucap Sinta.
Lagi dan lagi Andini hanya menuruti.