Suami SHOLEH Untuk ANDINI

Suami SHOLEH Untuk ANDINI
Anak


__ADS_3

Seketika Rasya yang masuk membuka pintu kemudian lansung ke atas menuju kamarnya.


Terlihatlah Andini yang sedang sibuk membereskan beberapa pakaian merapikan ke dalam lemari.


"Assalamualaikum istriku sayang." Panggil Rasya memeluk Andini dari belakang.


Andini yang kaget memalingkan tubuhnya.


"Waalaikumussalam suamiku. Kapan datang? kok aku tidak tau." Jawab Andini karena memang benar ditengah kesibukannya Andini yang tidak menyadari kapan suaminya masuk rumah bahkan masuk kamar sekalipun.


"Habis dari tadi aku panggil nggak ada yang ngejawab. Aku pikir kamu sedang tidur sore. Makanya aku lansung masuk." Jelas Rasya.


"Maaf. Dari tadi aku merapikan pakaian ini." Tunjuk Andini ke beberapa pakaian yang masih menumpuk di atas kasur. Dan mengambil tas jinjing Rasya lalu menaruhnya di lemari tempat biasanya.


"Kamu pasti lapar. Maaf aku belum masak. Aku pikir kamu akan terlambat pulangnya. Sebentar aku masak dulu sementara kamu mandi dulu."


"Tidak perlu masak. Kita makan diluar saja yok! lagian sudah lama tidak keluar." Ajak Rasya.


"Baiklah kalau kamu mau. Aku juga akan bersiap siap. Setelah magrib kita berangkat." Jawab Andini.


"Oke sayang."


Setelah selesai sholat magrib dan berkemas dandan yang sangat cantik dan sopan.


Kali ini Andini memakai gamis berwarna abu sesuai dengan Rasya memakai kemeja setelan abu.


"Sudah selesai sayang?"


"Sudah. Kita lansung berangkat."


"Mari tuan putri." Ajak Rasya mengulurkan tangan kanannya kemudian disambut hangat oleh tangan Andini. Mereka yang bergandeng menuju parkiran mobil di luar. Setelah Rasya membukakan pintu mobil Andini masuk dan kini duduk di bangku depan disamping suaminya.


Beberapa saat diperjalanan Rasya membuka kata dengan menanyakan sesuatu.


"Bagaimana tadi di Pondok sayang?" Tanya Rasya


"Alhamdulillah menyenangkan sayang."


"Semoga dengan demikian kamu bisa sedikit lebih merasa baik."


"Tentu. Disana ada banyak hal yang membuatku agak tenang sayang. Ketika panggilan kerjamu menghubungimu." Jelas Andini.


"Ia sayang. Maafkan aku yang kadang sibuk dengan pekerjaanku."


"Tidak mengapa sayang." Jawab Andini.

__ADS_1


Sesampai di sebuah cafe, tempat favorit yang biasa mereka kunjungi. Makanan disini sudah menjadi makanan terbaik di lidah mereka berdua.


Memesan makanan dan memakannya kemudian disela pembicaraan ketika makan sudah selesai dan Andini yang sekarang merasa ingin kembali pulang. Disetujui Rasya. Setelah membayar makanan tadi mereka lansung pulang.


"Terima kasih sayang. Sudah mengajakku keluar."


"Iya sayang. Semoga senang."


"Aku selalu senang denganmu." Goda Andini.


"Cie yang sudah berani menggoda." Lanjut Rasya bersemangat kemudian sedikit menggelitik pinggang Andini yang tertutupi gamis lebar di tubuhnya.


"Uuu sayang. Geli, ku mohon hentikanlah!" pinta Andini sambil mengelakkan tubuhnya dari gelitikkan Rasya.


Rasya merasa kasihan kemudian menghentikan aksinya.


Sesampai dikamar dan mereka berdua lansung membaringkan tubuh bersamaan. Bertatapan, dan kini Andini kembali mengingat kejadian pahit itu dipikiran nya. Kemudian Andini membuka suara dan berkata


"Maafkan aku tidak bisa menjadi istri sempurna untukmu Rasya. Maaf jika mungkin aku tidak akan bisa memberimu anak" ucapnya kemudian membuatnya kembali menangis terpuruk.


"Jangan berburuk sangka istriku. Jika bukan hari ini mungkin saja nanti. Mungkin Allah sedang menguji mu dan sedang memantaskan ku juga. Tugas kita hanya percaya, masih ada harapan untuk kita berdua. Jangan pikirkan keadaan ini. Aku akan selalu ada untukmu sayang."


"Jika kamu ingin menikah lagi dan mempunyai anak. Silakan Rasya! Aku ikhlas menerimanya."


"Menikah lagi. Belum tentu itu Allah akan menganugerahkan anak. Tidak harus poligami untuk bahagia sayang. Denganmu aku sudah sangat bahagia, meskipun tanpa adanya buah hati diantara kita. Aku mencintaimu karena Allah sudah mengamanahkan mu untukku sayang." Jelas Rasya


Andini yang terpukau mendengar ucapan Rasya membalas pelukan hangat suaminya itu.


"Terima kasih sudah menerima setiap kekuranganku suamiku. Terima kasih sudah menjadi penyemangat juga penasehat dalam hidupku. Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku."


"Alhamdulillah sayang." Ucap Rasya mengecup kening istrinya itu.


"Jadi aku mohon jangan lagi bicara seperti tadi." Lanjut Rasya memperingatkan.


"Iya nggak lagi." Jawab Andini masih berada di pelukan suaminya.


"Sayang, bagaimana kalau besok kita kerumah Ibu dan Mama. Mereka pasti merindukanmu." Ucap Rasya.


"Baiklah. Aku juga sangat merindukan mereka."


***


"Ibu." Panggil Andini melihat ibunya sedang memasak untuk makan siang nanti di dapur. Setelah sampai dirumah Rina tadi pagi karena hari ini Rasya libur bekerja. Waktu mereka berkunjung kerumah orang tua.


"Iya nak. Kami mau ngapain ke dapur. Duduklah! temani saja suamimu didepan." Pinta Rina.

__ADS_1


"Tidak mengapa Bu. Aku membantu Ibu memasak saja. Lagian Rasya sudah cukup dewasa ditinggal sendiri dulu sebentar." Icap Andini sedikit tertawa membuat Rina pun tertawa senang mendengarnya.


"Ibu mau masak apa?"


"Kamu mau makan apa nanti nak?"


"Apa saja Bu. Semuanya pasti enak."


"Kita buat tahu kecap dulu gimana nak. Rasya suka sekali dengan itu."


"Baiklah Bu. Biar aku saja yang buat. Ibu duduklah istirahat!"


Selesai memasak beberapa macam masakan dan menghidangkannya di meja makan dan waktu makan siang pun datang.


"Rasya. Ke sinilah, mari makan dulu!" Ajak Andini.


"Baiklah Andini. Ini perangkap ku hampir selesai. Tunggu sebentar." Jawab Rasya yang sibuk membuat berbagai macam perangkap. Ia Rasya termasuk hobi beternak ayam kampung. Dan lagian dirumah Rina ada beberapa ekor ayam kampung namun sudah beberapa hari ini ada sedikit kendala bahwasanya ada banyak tikus dan hampir memakan anak anak ayam itu keluhan Ibunya.


Rasya yang menyelesaikan tugasnya dan kembali masuk ke ruang makan yang sudah ada Rina dan Andini duduk disana.


Andini yang menyendok kan nasi beserta lauk pauk ke atas piring Rasya kemudian menyodorkan nya ke depan suaminya duduk.


"Makanlah dulu!"


"Terima kasih sayang."


"Sama sama Sayang."


Rina yang senyum senyum sendiri mendengar anak dan menantunya itu berbicara hanya bisa berharap dan berdoa semoga rumah tangga mereka selalu dianugerahkan kebahagiaan yang tiada pernah habis.


Setelah selesai makan datanglah Rafki mendekati.


"Makanlah dik. Maaf karena kami makan duluan." ucap Andini melihat Rafki iparnya itu.


"Tidak mengapa kak. Aku akan makan sebentar lagi. Sebelum itu aku mau mandi dulu. Tadi ada jadwal olahraga disekolah membuat tubuhku berkeringat semua." Ucap Rafki kemudian meminta izin pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Anak itu." Ucap Rasya kemudian.


"Kenapa adikmu nak?" Tanya Rina.


"Masih seperti bocah sekali. Padahal dia sudah dewasa."


"Itulah adikmu." Lanjut Rina.


Rafki memang sudah bisa dibilang cukup dewasa di segi umur. Umurnya sudah hampir masuk ke delapan belas tahun 5 bulan lagi. Dia juga sudah memasuki bangku kelas 12 SMK Otomotif.

__ADS_1


__ADS_2