
Kini seorang wanita super cantik dan sexy dengan rambut hitam pekat dan tubuh mempesona miliknya telah berdiri di Legolas Arena.
Wanita tersebut yang tak lain merupakan salah satu komandan perang Raja Elven langsung memasuki lapangan pertandingan entah dari mana dan langsung menantang Shin yang berada di sana.
“Sisa sisa dari clan Carpet ya, aku tak tau kau belajar dari mana teknik berpedang itu, tapi hari ini takdirmu hanya ada dua.”
“Yang pertama mati dan menjadi santapan peliharaanku atau yang ke dua menjadi budakku.”
Dalam sekejap mata dari gerakan jari Salamandina, topeng yang Shin pakai langsung terbelah menjadi dua. Kini wajah pria isterius tersebut langsung terlihat jelas.
Rambut yang di ikat, mata putih bagai berlian khas dari keturunan Carpet dan rambut abu abu yang terlihat sangat indah sekarang terlihat jelas oleh semua orang.
“Heh, apa yang terjadi?”
“Di-dia...dia seorang wanita?”
“Sialan, jadi dia wanita ya...”
“Hemmm, sudah ku duga, tubuhnya sangat ramping dan gerakannya sangat anggun dan elegan.”
Saat topeng yang menutupi wajahnya tiba tiba saja terbelah menjad dua, Shin alias Shinoe langsung menatap wanita yang ada di depannya dengan tatapan dingin.
Dari tatapannya itu bisa terlihat dendam mendalam dan tatapan penuh kebencian.
“Ba-baiklah nona nona cantik, sekarang pertandingan akan segera di mulai.”
“Untuk mempersingkat waktu langsung saja kita mulai pertarungan di babak kedua ini.”
[Tingggg]
Dengan cepat setelah bel tanda di mulainya pertandingan berbunyi, Shinoe langsung mengambil ancang ancang dan menggunakan salah satu seni berpedang miliknya.
Dengan aura membunuh yang sangat mengerikan dan juga kecepatan bagai kilat, Shinoe langsung menyerang Salamandina dengan kecepatan yang mengerikan.
“Pedang surgawi teknik ke 2, tebasan kematian.”
“Sriingggg.”
Dalam kecepatan yang melebihi apapun, Shinoe menebas kepala Slamandina dengan pedang unik miliknya. Pedang itu terlihat bening bagai berlian dan terlihat sangat tipis tapi juga tajam.
Dengan sekali gerakan yang tak dapat di lihat oleh semua orang yang ada di sana termasuk Evan, Shinoe dengan mudahnya memotong kepala Salamandina.
__ADS_1
Kini darah langsung bercucuran dari kepala yang telah terputus dari tubuhnya. Tubuh wanita cantik dan super seksi itu kini terpisah dengan halus dari tubuhnya.
Semua orang yang melihat itu terdiam dan tak dapat berkata kata lagi. Sesaat bel pertandingan berbunyi, saat itu juga kepala Salamandina langsung terpisah dari tubuhnya.
Kecepatan serangan pedang milik Shinoe benar benar sudah di level yang berbeda dan itu membuat semua penonton termasuk Evan hanya bisa diam dan tak bersuara.
Kini seorang wanita cantik yang di juluki penyihir api yang merupakan salah satu komandan terkuat Raja Elven dan terkenal suka mengoleksi wanita wanita cantik dan menjadikan mereka budaknya tewas seketika saat pertandingan itu baru saja di mulai.
Saat semua orang diam dan tak bersuara, secara mengejutkan darah dan tubuh Salamandina yang sudah tergeletak di lantai bergerak kembali.
Kini tubuhnya yang sudah terpisah dari kepalanya berdiri kembali dan kepala wanita itu yang sudah terpotong langsung tertawa.
“Hahahaha, ternyata kau orangnya sangat tidak sabaran ya manis.”
Lalu dari kepalanya yang sudah terputus itu semua orang bisa mendengar dan melihat dengan jelas kalau wanita itu ternyata masih hidup.
Kini kepala Salamandina yang sudah terputus langsung terbang dan menyatu membali ke lehernya. Dalam beberapa detik saja tubuh wanita cantik dan sexy itu utuh kembali seperti tak pernah terjadi apa apa padanya.
“Ehhh...kau bohong kan?”
“Ja-jadi kabar yang ku dengar kalau para komandan divisi Raja Elven itu abadi benar adanya ya?”
“Hebat, jika orang biasa sudah pasti tak akan selamat ketika menerima serangan mematikan seperti itu.”
Shinoe yang melihat serangan miliknya tak bisa membunuh wanita itu terlihat makin kesal dan mengambil ancang ancang menyerang.
Kini dari aura yang ia keluarkan bukan hanya hawa membunuh saja, tapi juga hawa mengerikan yang terlihat akan menghancurkan segalanya ia keluarkan.
“Dasar iblis sialan.”
“Dengan ini matilah kau.”
Dengan konsentrasi yang mendalam dan teknik berpedang tertinggi, Shinoe langsung menyerang Salamandina dengan sebuah serangan yang sangat mematikan.
Kekuatan aura yang ia pancarkan kini sudah melebihi apapun dari yang pernah Evan lihat dan rasakan.
Sebuah kekuatan aura yang sangat tenang dan mematikan. Itu seperti sebuah pembatas tak kasat mata yang jika kau berada dalam radiusnya maka sudah dapat di pastikan kematianlah yang akan datang padamu.
Itulah yang Evan rasakan ketika ia merasakan aura yang di keluarkan oleh Shinoe dan itu membuat seluruh bulu kudupnya merinding.
Dengan hanya menggunakan sebilah pedang, wanita kurus dan rampng itu berhasil membuat Evan ketakutan bukan main.
__ADS_1
Mungkin dari semua orang yang ada di sana hanya beberapa yang dapat melihat dan merasakan kengerian dari aura yang Shinoe pancarkan, salah satunya adalah Evan dan itu sukses membuatnya terdiam dan tak bersuara sedikitpun.
“Pedang Surgawi teknik ke 8, tebasan penghancur semesta.”
Dengan kecepatan yang sudah tak bisa di lihat dan di rasakan lagi, Shinoe langsung menyerang Salamandina dengan kecepatan yang luar biasa.
Kini tubuh Salamandina yang baru saja menyatu langsung menghilang tak bersisa, jika ada yang tersisa dari dirinya itu hanyalah debu yang bahkan sudah menghilang tersapu oleh angin yang berhembus kencang.
Bukan cuman tubuh Salamandina yang hilang. Sekarang sebagian Legolas Arena juga menghilang tak bersisa beserta semua penonton yang berada di radius serangan Shinoe.
Evan dan penonton lainnya yang melihat kejadian super cepat yang bahkan mata mereka saja tak bisa lagi mengikuti pergerakan super cepat dari pedang Shinoe hanya bisa diam dan merinding.
Untung saja aku tak duduk di sana, itulah yang ada di benak para penonton yang menyaksikan pertandingan brutal tersebut.
“Aaaa...aa-apa apa ini...”
“Woah, dia...dia membunuh setengah penonton dengan mudahnya...”
“Sialan...selamatkan diri kalian...”
“Monster...dia benar benar monster.”
Para penonton yang selamat kini lari berhamburan karna ketakutan. Mereka berlarian kalang kabut dan sudah tak mempedulikan pertandingan bodoh tersebut.
Semua penonton kini hanya sibuk menyelamatkan diri mereka masing masing. Mereka yang pada dasarnya juga para petarung kuat menjadi sangat ketakutan dan kepanikan langsung melanda isi kepala mereka karna serangan Shinoe yang membunuh sebagian penonton langsung membuat kekacauan besar saat itu juga.
Helen yang juga sudah merasa tak aman langsung mengajak Evan untuk segera pergi dari sana.
“Evan, ayo kita pegi...tempat ini sudah tidak aman lagi karena pertarungan mereka.”
“Evan...kenapa kau diam saja, ayo cepat pergi dari sini.”
Tapi mau apapun yang Helen katakan pria bernama Evan Adams itu hanya diam dan melihat ke arah gadis kecil dengan tubuh ramping yang tak lain adalah Shinoe.
Dari raut wajahnya yang di penuhi kekaguman tiada tara itu mengalir keringat deras yang memenuhi tubuhnya.
Terlihat Evan bukannya takut tapi justru sangat tertarik dengan kekuatan dan seni berpedang milik Shinoe.
Lalu tanpa sadar Evan berbicara dengan bibirnya. Ia yang sudah tak mempedulikan sekitar dan hanya terfokus pada kekuatan puncak dari seni berpedang yang ada di depan matanya bertanya pada sistem.
“Sistem, apa aku juga bisa menggunakan seni berpedang seperti tiu?”
__ADS_1
[Tentu saja, apapun bisa sistem berikan pada tuan tapi itu semua akan memakan banyak biaya]