
Evan yang mendengar jawaban dari sistem langsung bertanya tentang bayaran yang di perlukan untuk memiliki skill sekelas itu.
“Berapa banyak biaya untuk membuat skill seperti milik wanita itu?”
[Heemm, berapa ya, setidaknya tuan harus menyediakan satu juta CP jika ingin memiliki skill berpedang tingkat tertinggi]
“Satu juta?...kenapa mahal sekali?”
[Itu akan lebih murah jika tuan ingin mempelajarinya secara mandiri, tapi itu membutuhkan waktu bertahun tahun apa tuan mau mempelajarinya]
“Tidak, aku tak mau.”
[Benarkan, karna itu harganya akan menjadi lebih mahal karna pemahaman tuan tentang teknik dan seni berpedang masih sangat minim]
Lalu Helen yang melihat Evan berbicara sendiri hanya duduk kembali di sebelahnya. Terlihat kini di bangku penonton sangat sepi dan hanya ada beberapa orang yang masih tetap tinggal dan menonton pertandingan.
Mereka yang saat ini menonton sudah bisa di pastikan adalah petarung kuat dan tak takut mati. Atau bisa di bilang adalah orang orang gila yang tak sayang pada nyawa mereka sendiri.
Shinoe yang melepaskan serangan super mematikan kini terlihat langsung ngos ngosan.
Tentu saja menggunakan serangan hebat seperti itu akan memakan banyak mana miliknya. Lalu seni berpedang seperti itu juga tak bisa di gunakan secara terus menerus.
Itu karna tubuh Shinoe yang sejatinya hanyalah tubuh manusia biasa memang tak dapat menanggung efek dari kecepatan yang ia kerahkan.
Mungkin bagi sebagian orang itu terlihat hebat. Tapi bagi mereka yang benar benar memahami seni berpedang tingkat tertinggi itu bagaikan pedang bermata dua yang jika di gunakan sembarangan justru akan berbalik menyerang si penggunanya.
Teknik berpedang milik Shinoe sendiri telah ia pelajari sejak kecil dan merupakan seni berpedang yang sudah di turunkan sejak ribuan tahun yang lalu dan di teruskan dari generasi ke generasi sampai akhirnya itu hancur oleh kekejaman Elven dan pengikutnya.
Kini Shinoe yang terlihat kelelahan berdiri dengan pedang yang ia tancapkan di lantai pertandingan. Bahkan untuk berdiri tegak saja wanita cantik super ramping itu sudah kesulitan.
“Dengan ini, kau sudah pasti mati.”
Saat Shinoe tersenyum karna berhasil membunuh Salamandina dan mengubahnya menjadi debu, saat itu juga hawa mencekam langsung menyelimuti Legolas Arena.
Kini aura super kuat dan panas menyelimuti Legolas Arena. Evan yang dapat merasakan itu menjadi teringat kembali dengan aura yang ia rasakan.
“Ini...inikan aura wanita itu.”
Lalu dari tempat yang sudah hancur lebur itu mulai muncul energi luar biasa. Dari energi yang awalnya sebesar butiran debu kini makin kuat dan membesar.
Energi itu makin membesar dan mulai membentuk darah merah. Shinoe yang melihat itu menjadi sangat terkejut. Ia di buat seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Energi kuat tersebut yang tak lain adalah energi Salamandina mulai muncul dari titik awal ia berdiri dan makin menguat. Kini dari darah yang muncul mulai muncul tulang dan saraf, lalu daging mulai terbentuk dan dengan cepat tubuh wanita cantik super sexy itu muncul kembali.
“Selamat, kau benar benar berhasil membuatku kagum gadis kecilku.”
Kini Salamandina tersenyum ala psikopat ke arah Shinoe, dengan santainya ia tersenyum dan tak terlihat sama sekali tanda tanda di tubuhnya jika ia menerima luka.
Shinoe yang melihat itu menjadi makin kesal dan kembali berdiri tegak. Kini gadis mungil itu terlihat makin marah dan frustasi.
__ADS_1
“Ba-bagaimana caranya kau bisa selamat?”
“Aku jelas jelas sudah membunuhmu...”
“Hahahaha, yahh...ekspresi itu...ekspresi yang sama dengan para bajingan dari kerajaan Jiang yang menganggap diri mereka Dewa.”
“Aku ingat dengan jelas Ekspresi itu...itu sama percis dengan ekspresi yang mereka perlihatkan saat teknik berpedang yang mereka bangga banggakan itu tak dapat memenangkan mereka dalam perang.”
“Lagi...ayo benci aku lebih dalam lagi...”
Terlihat Salamandina justru sangat suka di lihat oleh Shinoe yang terlihat makin marah. Shinoe kini menggengam erat pedang miliknya dan mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Tapi kali ini Salamandina tak tinggal diam dan wanita cantik super sexy itu langsung memanggil dan mengeluarkan sesosok monster yang terlihat seperti kadal dengan empat kaki dan mengeluarkan api merah super panas dari seluruh tubuhnya.
Evan yang melihat api itu langsung tau kalau itu adalah Api Surgawi.
“Itukan api surgawi...lalu level peliharaan wanita itu sama dengan levelnya, hebat juga dia bisa menundukkan monster kuat seperti itu” ucap Evan sambil terus menonton pertandingan.
“Aku bisa saja menerima serangan milikmu lagi, tapi itu membuatku kehilangan lebih banyak, jadi kali ini aku akan menggunakan salah satu peliharaanku.”
“Salamander, telan wanita ini.”
Dengan cepat monster berbentuk kadal berwarna coklat setinggi lima meter dengan tubuh yang di penuhi api surgawi langsung menerjang ke arah Shinoe.
Tapi Shinoe yang sudah dalam ancang ancang menyerang langsung bergerak bagai kilat dan menyerang monster kadal besar yang bernama Salamander tersebut.
“Grrroooaaaahhhh...”
“Pedang Surgawi, teknik ke 10, Domain Dewa pedang.”
Dalam sekejap mata Salamandina dan seluruh penonton yang termasuk dalam lingkaran aura milik Shinoe langsung berpindah ke tempat aneh.
Tempat tersebut seperti berada di ruangan khusus dan ada banyak pedang di sana. Bisa di lihat ada ribuan atau bahkan jutaan pedang menancap ke tanah dan setiap orang yang memasuki domain kuat milik Shinoe tak bisa bergerak sama sekali.
Bukannya tak bisa bergerak, hanya saja saat ini Shinoelah yang sudah bergerak melebihi kecepatan waktu itu sendiri. Karna cepatnya gerakan Shinoe semua orang merasa tak bisa bergerak padahal mereka hanya tak bisa merespon kecepatan yang sudah berada di tahap dewa tersebut.
Dengan mudahnya Shinoe bergerak dengan anggun dan dalam sekejap mata kadal besar berlevel 700 itu di cincang cincang menjadi bagian kecil.
Lalu setelah membunuh sang kadal, Shinoe kini berjalan dengan cepat dan langsung menebas leher Salamandina.
Tidak cukup sampai di situ, dalam domain Dewa Pedang, Shinoe menyerang dan membelah Salamandina menjadi bagian bagian kecil sampai di serangan terakhir miliknya ia langsung mengambil ancang ancang baru dan berniat melenyapkan tubuh wanita yang sudah terpotong potong tersebut.
“Dengan ini matilah.”
“Pedang Surgawi Teknik ke 12, Tebasan Penghancur Jiwa.”
“Sriinggggg.”
Dalam sekejap Salamandina mati dan tak berkutik di domain Dewa pedang milik Shinoe. Serangan yang di khususkan untuk menyegel atau bahkan menghancurkan jiwa seseorang yang memiliki keabadian tepat menyerang Salamandina dan membunuhnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya aura Shinoe mulai menipis dan menghilang. Lalu dari habisnya mana miliknya maka berakhir juga domain Dewa pedang.
Kini semua orang dapat bergerak kembali dan hanya terlihat Shinoe yang masih berdiri sendirian di tengah tengah lapangan.
“Ueeekkk.”
Dari bangku penonton Evan dapat melihat wanita kecil itu memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
Padahal dia sama sekali tak menerima serangan oleh lawannya tapi anehnya dia justru terlihat terluka parah.
Saat Shinoe tetap berusaha berdiri sambil memangkukan tangannya pada pedang kecil miliknya, saat ia melihat ke arah tubuh Salamandina dan peliharaannya yang sudah lenyap tak tersisa, Gadis itu lagi lagi di kejutkan dengan kehadiran Salamandina yang kini tepat berdiri di belakangnya.
Dari hawa kehadirannya saja Shinoe sudah tau kalau itu adalah Salamandina dan langsung berniat menebas wanita tersebut.
Tapi dengan mudahnya serangan miliknya di tangkis. Dengan habisnya mana dalam tubuhnya maka juga habislah kesempatan menang dirinya.
“Ka-kau...bagaimana caranya kau masih tetap hidup?”
“Hahahaha, apa kau pikir dengan menghancurkan jiwaku kau bisa membunuhku gadis kecil?”
“Sialan, ka-kau...”
Dengan sekuat tenaga Shinoe mencoba menyerang Salamandina dengan sisa tenaga miliknya. Tapi itu semua percuma, ia yang terlalu banyak menggunakan mana sudah kehabisan energi dan langsung pingsan di pelukan musuhnya.
Salamandina yang saat itu menjadi pemenang di pertandingan Legolas Arena langsung memangku dan membawa Shinoe pergi.
“Kon, yang satu ini milikku, jadi jangan menghalangiku.”
“Yah...bagaimana ya, semua petarung yang kalah akan menjadi...”
Dengan tatapan tajam dan di penuhi niat membunuh yang kuat, Salamandina langsung mengancam Kon si kadal kecil.
Kon yang saat itu di ancam hanya bisa merelakan santapan tuannya dan melepaskannya.
“Baiklah, karna tuanku nampaknya tak keberatan maka kau boleh membawanya.”
Dengan potal aneh Salamandina membawa Shinoe pergi dan kini mereka berdua menghilang dari lapangan pertandingan.
Dengan ini Salamandina memenangkan pertandingan. Gelar dan julukannya sebagai salah satu komandan Raja Elven dengan julukan Sang Salamander Abadi bukan hanya pajangan. Dengan kekuatan miliknya ia bisa di katakan abadi dan mustahil untuk di bunuh.
Evan yang menyaksikan keanehan itu lagi lagi bertanya pada sistem.
“Sistem, kenapa wanita bernama salamandina itu tak mati?...padahal aku bisa merasakan detak jantungnya berhenti saat itu.”
[Sistem sudah tau tuan akan bertanya, mangkanya sistem telah menganalisa tubuh wanita tersebut]
[Yang tuan rasakan memang benar, wanita itu sudah di pastikan mati]
[Saat itu ia sudah tiga kali mati karna serangan milik Shinoe]
__ADS_1
“Huh, apa maksudmu?...kalau dia sudah mati, kenapa dia masih hidup?”
[Itulah kehebatan dan rahasia dari tubuh miliknya tuan]