
Di Freedom Arena, Lilia yang sudah dalam mode raja iblis terlihat kesulitan menghadapi Vivian. Dengan adanya cahaya super terang dari langit saat itu, energi dan mana Lilia seakan di hisap secara paksa dengan sangat cepat.
“Ka-kau...”
Di saat saat terakhir, Lilia yang sudah kehabisan banyak mana langsung menerjang ke arah Vivian dan menyerang dengan cambuk miliknya.
Saat ini ia bahkan sudah tak dapat menggunakan serangan magic karna mananya tinggal sedikit dan terus di serap secara cepat. Bahkan untuk mempertahankan wujud raja iblis miliknya saja sudah cukup sulit.
Lilia menyerang Vivian dengan seluruh tenaga yang tersisa. Terlihat wanita yang tengah menggunakan armor dan setelan khas raja iblis itu di buat kesulitan.
Bahkan Vivian yang saat itu ada di hadapannya seakan bertambah kuat berkali kali lipat karna di berkati oleh cahaya terang yang menyinari seluruh Freedom Arena.
Penyihir Senja, sebuah gelar yang tak main main. Sebuah gelar yang hampir di lupakan oleh sebagian orang. Dengan skill rank SSS miliknya yaitu "Twilight Sky" membuat seluruh mana yang di serap saat itu mengalir deras ke tubuh Vivian.
Lilia yang sudah mulai kehabisan energi karna mananya terus di serap secara cepat mencoba bertahan tapi saat ia sudah hampir pada batasannya tiba tiba saja cahaya terang yang menutupi Freedom arena saat itu menghilang secara perlahan.
Lilia yang akhirnya dapat bergerak kembali karna tekanan dari cahaya terang itu yang perlahan menghilang tak melewatkan kesempatan dan langsung menerjang ke arah Vivian.
Dengan serangan dan pergerakan super cepat itu, dalam sekejap ia menyerang Vivian. Dengan Whip Bloodfallen, Lilia menangkap tubuh Vivian yang seperti tak bergerak dan membantingnya dengan keras ke tanah.
Kini tubuh Vivian yang menerima serangan telak dari Lilia hanya tergeletak di tanah dan tak bergerak. Karna keanehan itu banyak orang yang merasa aneh dan curiga. Terutama anggota Guild Spriggan.
“Vivian...”
“Kenapa dia diam saja...” Ucap Joseph karna Vivian yang sudah dapat di pastikan menang kini malah tergeletak dan tak bergerak di tanah.
Bahkan tubuhnya tidak menghilang dan muncul kembali dari portal aneh seperti sebelumnya. Hedon yang melihat Vivian diam tak bergerak mulai mnghitung mundur.
“Tiga...”
“Dua...”
“Satu...”
“Pertandingan selesai, pemenangnya adalah Lilia Draculea dari Guild Adams."
Saat melihat Vivian yang harusnya sudah di pastikan menang kini tergeletak tak berdaya di lapangan, banyak penonton dan kontestan lainnya merasa bingung.
“Heh...selesai?”
“Hoi...hoi...apa apaan ini."
“Vivian apa yang kamu lakukan, cepat bangun.” Terlihat beberapa anggota Guild Spriggan terlihat kesal.
Tentu saja mereka kesal, Vivian bisa di bilang adalah salah satu anggota terkuat Guild mereka. Bahkan kekuatannya sudah bisa di sandingkan dengan ketua guild itu sendiri yaitu Joseph Porla.
Karna tubuh Vivian yang terbaring di lapangan pertandingan tak kunjung bergerak, akhirnya tim medis langsung mengobati dan membawanya ke tempat perawatan.
Saat itu seluruh orang hanya bisa menerima fakta bahwa Lilia Draculea dari Guild Adams yang berhasi memenangkan pertandingan.
__ADS_1
Setelah membereskan dan memperbaiki lapangan pertandingan, lalu Hedon melanjutkan pertarungan berikutnya. Lilia yang kini sudah kembali dan berada di ruangan vip langsung di sambut oleh Chloe dan Alucard.
“Lilia.”
“Kakak...”
Dengan cepat Lilia yang tiba di sana di tolong oleh mereka. Lilia yang tak merasakan kehadiran Evan yang belum kembali mulai bertanya tanya kemana sebenarnya tuanya itu pergi.
“Kemana?”
“Dimana Evan?”
“Evan katanya pergi untuk mengurus sesuatu dan akan segera kembali.”p
“Kakak, lebih baik sekarang pikirkan kondisi kakak dulu.”
Akhirnya Lilia yang memang sudah kelelahan itu di bantu dan di obati sambil menunggu kembalinya Evan. Walaupun Lilia sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang jelas kemenangannya ini sudah pasti berkaitan dengan tuanya yaitu Evan yang saat ini entah berada di mana.
*******
Di tempat lain, kini Evan yang sebelumnya pingsan terbangun kembali. Dengan samar ia mulai dapat melihat keadaan sekitar dan secara cepat mengigat kejadian yang sebelumnya. Kejadian yang hampir saja membuatnya mati.
“Ahh...apa yang terjadi? Kupikir tubuhku sudah meledak.”
Saat terbangun, Evan yang mulai mendapatkan kesadarannya kembali mulai mendengar suara tawa dari seorang wanita.
“Hahaha, maaf.”
Mendengar suara dari orang yang membuatnya sampai pingsan seperti itu, Evan yang awalnya tak menyangka akan di kalahkan dengan cepat langsung melihat statistik wanita yang berhasil mengalahkannya.
Nama : Deluna Vordie
Ras : High Elf
Level : ?
HP : ?
MP : ?
STR : ?
AGI : ?
INT : ?
Skill : ?
Title : ?
__ADS_1
“Huh...lagi lagi tanda tanya.”
Sebenarnya Evan pernah bertanya pada sistem kenapa beberapa orang tak muncul statistik dirinya. Lalu jawaban sistem adalah karna mereka mungkin menggunakan artefak untuk menutupi atau menyembunyikan kekuatan mereka atau karna level yang terpaut cukup jauh.
Jadi di dunia itu bukan hanya Evan yang dapat melihat kekuatan musuh seperti itu. Lalu Evan yang kini sudah baikan langsung berdiri kembali dan meregakan badanya.
“Sepertinya aku sudah meremehkanmu Deluna.”
Ketika mendengar Evan mengetahui dan memanggil namanya, wanita elf yang ada di sana hanya tersenyum tipis sambil menjawab pertanyaan Evan.
“Benar benar hebat, aku tak tau skill atau artefak apa yang kamu gunakan, tapi sampai tau nama asliku, sepertinya kamu bukan manusia biasa ya.”
Terlihat wanita Elf yang sudah keriput itu merasa sedikit senang ketika ia di panggil dengan nama aslinya.
Sudah hampir sepuluh ribu tahun lamanya ia terkurung di tempat itu dan setelah waktu yang sangat lama tersebut ia tak menyangka akan mendengar nama yang hampir ia sendiri lupakan.
“Lalu apa yang sebenarnya kamu lakukan padaku saat itu?”
“Kenapa aku tak bisa mengontrol tubuhku sendiri dan terus menyerap energi kehidupan yang memenuhi ruangan saat itu?”
“Tentu saja kamu tak bisa, itu adalah energi dari pohon kehidupan dan energi itu tak bisa di kendalikan dengan mudah.”
“Aku saja sampai terperangkap di sini karna mencoba menyerap seluruh energinya sepuluh ribu tahun yang lalu.”
Mendengar pernyataan dari Deluna, Evan akhirnya tau kenapa tubuhnya seakan tak dapat ia kendalikan saat pohon kehidupan itu mengeluarkan kekuatannya.
Evan yang sejatinya sangat ahli dalam mengendalikan mana juga tak dapat mengontrol energi kehidupan yang terlalu banyak saat itu dan hampir saja kehilangan nyawanya.
“Baiklah aku mengaku kalah jadi sekarang bagimana?”
“Tenang saja, temanmu yang bernama Lilia itu sudah menang kok.”
Mendengar Lilia sudah menang, Evan pun lega karna ia tak perlu sampai memaksa wanita yang ada di hadapannya.
“Begitu ya, baguslah kalau begitu, lalu kenapa kamu masih belum keluar dari sini?”
“Bukankah saat ini kamu dapat mengendalikan energi kehidupan di tempat ini?”
Mendengar pertanyaan Evan, Deluna hanya tersenyum tipis. Jika ia bisa tentu saja ia sudah keluar. Tapi keadaanya yang sekarang sudah tak tertolong lagi.
“Jika bisa tentu saja aku sangat ingin keluar dari tempat ini, walaupun aku sudah dapat mengendalikan kekuatan hebat dari pohon ini, tetap saja tubuhku yang sudah terjebak sepuluh ribu tahun lamanya sudah menyatu dengan pohon ini. Mungkin karna itu juga aku dapat mengendalikannya dan apapun yang ku lakukan tetap saja tubuhku tak dapat meninggalkan tempat ini, bahkan kalau bukan karna artefak milikku mungkin sudah lama aku mati.”
Mendengar jawaban Deluna, Evan yang di dunia lamanya di penjara selama tiga puluh tahun dan merasa sangat tersiksa tak dapat memikirkan bagaimana rasanya terpenjara selama sepuluh ribu tahun.
Baginya yang di kurung selama tiga puluh tahun saja sudah seperti di neraka dan sangat menderita. Tapi wanita yang kini ada di hadapannya bahkan nasibnya jauh lebih parah dari dirinya.
Evan yang merasa kasihan dan simpati tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu sampai menitihkan air matanya.
Sebuah kata yang selama ini sering ia mimpi mimpikan.
__ADS_1
“Apa kamu ingin keluar dari sini?”