
“Akhirnya selesai.”
Dalam sekejap mata Evan mengeluarkan senjata yang baru saja selesai ia buat. Lalu kini di tangan kanannya muncul pedang sepanjang satu meter berwarna biru kehijauan dengan desain unik dan ada ukiran kepala naga di ganggangnya.
“Sekarang saatnya pembalasan robot sialan...”
Evan yang sejak tadi hanya menahan dan menghindari serangan Ravaria semaksimal mungkin dan mati matian kini langsung menyerang robot itu dengan bringas.
Dengan senjata barunya yaitu Dragon God Sword yang merupakan gabungan dari tulang dewa naga kehancuran dan cakar singa Namean, lalu juga berbagai material lainnya yang juga bercampur Oriharukon Shard mulai melakukan serangan baik.
Kini terlihat Dragon God Sword yang Evan perkuat dengan gabungan lima dasar elemen yaitu api, tanah, air, petir dan angin dapat menyerang tubuh Ravaria dan serangannya tak terserap seperti sebelumnya.
Dengan senjata Rank SS itu, Evan menyerang Ravaria secara terus menerus dan membuat robot itu kini terdesak. Bahkan tubuh lapis bajanya kini seperti kertas yang dapat Evan serang dengan mudah.
Walaupun Ravaria dapat memulihkan dirinya dan meregenerasikan tubuhnya yang terkena serangan Evan, tetap saja serangan bertubi tubi Evan dapat mengenai telak Ravaria dan menyebabkan dampak yang besar.
Dengan skill pasif rank S miliknya yaitu Weapon Mastery membuat semua serangan Evan berada pada tahap mengerikan dan mustahil untuk di hindari.
“Hahaha....rasakan seranganku ini robot jelek...”
“Sekarang kau tak akan bisa lagi menahan seranganku...”
Secepat kilat Evan menyerang Ravaria tanpa henti dan itu membuat hp milik Ravaria berkurang dengan drastis sampai akhirnya robot itu makin melemah dan mulai hancur.
Evan yang menyadari kini sudah hampir mendekati kemenangan terus menyerang Ravaria tanpa henti sampai tiba tiba sebuah suara aneh terdengar dan mengagetkannya.
“Jangan bunuh aku...”
“Kumohon...aku masih belum boleh mati...”
“Setidaknya sampai dendamku terbalaskan...”
Karna mendengar suara bisikan di kepalanya, Evan akhirnya bertanya pada sistem dan tersadar kalau yang berbicara padanya itu adalah Roh yang ada didalam dada robot tersebut.
“Sistem, suara apa yang ku dengar barusan?”
[Sepertnya itu suara Roh yang ada di dalam tubuh robot itu tuan]
“Kumohon tuan, jangan bunuh aku...”
Lagi lagi suara bisikan itu terdengar di kepala Evan, tapi Evan yang tak punya pilihan karna ia harus menaklukan dungeon tersebut untuk kepentingannya terus menghujani tubuh robot Ravaria sampai akhirnya robot itu kehabisan hp dan meledak.
“Tuan, kumohon jangan hancurkan jiwaku...”
“Tolong beri aku kesempatan kedua...”
Tapi sebelum meledak, Evan bertanya pada sistem apakah ia bisa menyelamatkan roh yang ada di dalam robot itu sebeum menghancurkannya.
“Apakah ada cara untuk menyelamatkan roh itu sistem?”
[Apakah tuan yakin ingin menyelamatkannya]
“Ya...aku merasa kasihan padanya, setidaknya jika aku bisa memberikannya kesempatan kedua seperti yang di berikan sang pencipta padaku maka aku akan dengan senang hati menolongnya.”
[Jika itu keinginan tuan maka sistem menyarankan cara terbaik saat ini untuk menyelamatkan roh tersebut]
[Yaitu dengan cara memberikan tempat di dalam lorong jiwa tuan untuk ia tinggal sementara sebelum ia meledak di dalam tubuh robot itu]
“Bagaimana caranya beritahu aku...”
Atas saran sistem, Evan langsung menarik roh kecil itu ke dalam alam bawah sadarnya lebih tepatnya di lorong jiwanya dan menempatkannya di sana untuk sementara sampai akhirnya tubuh robot itu hancur dan meledak...
“Terima kasih tuan karna sudah menolongku...”
Dan kini terdengan suara yang paling Evan sukai terdengar jelas dan berulang ulang di kepalanya.
__ADS_1
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan menerima kotak hadiah misterius]
[Selamat tuan menerima kotak hadiah misterius]
[Selamat tuan telah menyelesaikan dungeon rank S Valey Of Obivilium]
[Selamat tuan telah menyelesaikan misi]
[Selamat tuan telah mendapatkan 50.000Gold dari hadiah menyelesaikan misi menaklukan dungeon rank S]
Ketika mendengar notifikasi tanpa henti di kepalanya, Evan hanya bisa tersenyum puas.
Bahkan ia tak tau kalau ada misi menyelesaikan Dungeon karna sifatnya yang malas untuk membaca tebel misi yang ada sangat banyak.
“Hahaha...sekarang aku sudah level 150 dan dapat 50.000Gold.”
Terlihat Evan kini sangat senang karna ia telah berhasil menyelesaikan dungeon pertamanya yang bisa di bilang membutuhkan banyak rintangan dan perjualangan untuk menyelesaikannya.
Lilia yang melihat Evan berhasil mengalahkan last bos langsung melompat ke arah Evan dan memeluknya dengan erat.
“Aku tau itu...aku tau kalau tuan pasti bisa mengalahkan robot aneh itu.”
“Ahhh...Lilia, pelukanmu terlalu kuat...”
“Hehehe...tak apa...anggap saja ini hadiah dariku karna pertarungan hebat tuan tadi benar benar membuatku senang.”
“Sekarang dendamku pada dungeon yang sudah merebut dan membunuh seluruh teman dan pengikutku sudah terbalaskan.”
“Sekali lagi terima kasih tuan...”
Evan yang melihat Lilia memeluknya dengan sangat Erat seperti berterima kasih karna membebaskannya dari semua dendam dan masa lalunya hanya bisa tesenyum sampai gadis itu sendiri lelah dan melepaskan pelukannya.
“Hiuh...lelahnya.” ucap Evan sambil berbaring di bongkahan emas yang menggunung di bawahnya.
“Lilia, apa keadaan Chloe sudah aman?”
__ADS_1
“Sudah tuan, dengan bantuan potion yang tuan berikan tadi kondisi Chloe membaik dengan cepat dan sebentar lagi dia mungkin akan terbangun.”
“Hemmm baguslah, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
“Apa maksud tuan?”
“Kita sudah menyelesaikan dungeon ini, jadi sudah tak ada alasan bagimu lagi untuk terus bersamakukan?”
Ketika mendengar ucapan Evan, Lilia yang saat itu sedang berbaring juga di atas tumpukan emas langsung beranjak dan mendekat ke arah Evan kembali.
“Apa tuan akan membuangku?”
“Tolong jangan buang aku tuan...aku sangat ingin tetap bersama tuan.”
“Bu-bukan begitu, maksudku apa kamu tak ingin kembali ke kerajaan iblis?...kamu kan raja iblis jadi pasti banyak bawahanmu yang menantikan kepulanganmu.”
Ketika mendengar penjelasan lebih lanjut dari Evan. Lilia yang memang juga memikirkan nasib bawahannya yang lain terutama keluarganya di kota Everest, juga berencana untuk menemui mereka.
“Kalau masalah itu tentu saja aku akan menemui mereka semua.”
“Tapi aku juga tak ingin berpisah dengan tuan.”
“Aku sangat ingin tetap bersama tuan, apa lagi setelah mencicipi darah tuan yang rasanya tiada banting itu, aku menjadi makin tak ingin menjauh.”
Terlihat kini Lilia yang mendekat pada Evan mulai bertingkah manja seakan menggodanya. Lilia kini naik secara perlahan dari tumpukan emas itu dan menindih tubuh Evan yang kelelahan.
Evan yang di perlakukan sepeti itu hanya bisa menahan hasratnya yang sudah mengebu gebu. Bagaimana tidak, pria lajang yang sudah di penjara 30 tahun lamanya itu saat ini sedang di tinding oleh seorang wanita cantik dengan tubuh super seksi.
Lalu mata merah menyalanya dan senyum manja kemerahan yang menghiasi wajah cantiknya itu di sertai rambut keemasannya membuat wajah cantik Lilia saat itu seakan menghipnotis Evan.
Bahkan Lilia yang juga mempunyai skill penggoda tak perlu menggunakan skill miliknya itu untuk membuat Evan terpesona oleh kecantkannya.
Sampai akhirnya kedua mulut mereka makin mendekat dan makin mendekat seakan sudah siap untuk memadu kasih dan terdengarlah suara yang seakan mengahalangi hasrat mereka.
“Hooi....”
“Permisi, apa yang kalian mau lakukan....”
“Evan....aku tak percaya kamu bisa seperti itu.” Terlihat Chloe yang sudah terbangun langsung menghentikan Evan dan Lilia yang hampir saja berciuman.
“C-Chloe...”
“Hihihi...apa kamu cemburu gadis kecil?”
“Berhentilah bersifat manja padanya...dasar Raja Iblis cabul.”
Terlihat kini Chloe yang memanjat tumpukan emas kemudian langsung menarik tangan Lilia dan menjauhkannya dari Evan. Evan yang melihat itu mencoba untuk membela diri dan menenangkan suasana.
“Chloe...tak perlu marah begitu, aku dan Lilia tak melakukan apa apa kok.”
“Benarkan Lilia...”
Tapi bukanya membenarkan apa yang di katak Evan, Lilia justru memanasi Chloe dengan jawaban yang membuat gadis mungil itu makin marah.
“Entahlah...sepertinya kita tak harus membahas soal itu di depan orang lain kan tuan.”
“Ehhh...”
Chloe yang mendengar itu makin di buat kesal karna kelakuan mereka berdua di belakangnya.
“Aku tak percaya ini, ku kira kamu bukan orang yang seperti itu tapi ternyata aku salah.” Ucap Chloe dengan ekspresi cemberut dan marah.
“Ayolah Chloe...kamu taukan kalau Lilia hanya sedang memanasimu.”
Lalu sesuatu tiba tiba saja terjadi. Tempat itu bergetar hebat seakan akan menghentikan perdebatan mereka dan menyuruh mereka untuk segera pergi.
__ADS_1