
Akhirnya Evan di ikutin Chloe masuk ke dalam dungeon Valey Of Obivilium. Dungeon itu sendiri terbilang cukup unik dengan dinding dan lantai bagaikan kaca berwarna warni. Serta ada banyak batu Crystal memenuhi seisi lantai tersebut.
Evan yang baru pertama kalinya memasuki dungeon di buat sangat terpukau oleh keindahan dungeon rank S tersebut.
“Hebat...di lantai pertama saja kita sudah bisa mengambil banyak batu berharga serta tempat ini terlihat sangat keren dengan cahaya dan desain aneh yang mengililingi dungeon ini.” Terlihat Evan berjalan sambil berbicara sendiri. Sampai Chloe membalas ucapannya itu.
“Keren dari mananya?...apa kamu lupa tragedi berdarah 10 tahun yang lalu?”
“Huh...tragedi berdarah apa?”
“Heeeh...sepuluh tahun yang lalu pasukan raja iblis Lilia dan beberapa aliansi dari ras lainnya mencoba untuk menaklukkan dungeon ini.”
“Tapi bukannya menaklukkan mereka semua yang jumlahnya lebih dari 1.000 kesatria dan petualang kuat malah hilang dan tak pernah kembali.”
“Heeeh...jadi karna itu dungeon ini sangat sepi?”
“Bukan cuman sepi, malah semenjak tragedi itu makin banyak monster yang berkeliaran di dungeon sampai membuat orang yang berniat menambang batu Crystal di lantai satu saja harus mempertaruhkan nyawanya.” Jawab Chloe.
Dan secara mengejutkan, baru beberapa langkah saja Evan dan Chloe masuk ke sana terlihat sudah ada rombongan monster yang mendekati mereka.
Monster monster itu ada banyak sekali, ada laba laba berbentuk robot dengan nama Ex- Spider. Lalu ada monster mutan setengah robot dengan badan besar dan terlihat ada bekas jahitan di tiap baju baja yang melindunginya, monster itu bernama Skuld Cpo.
Lalu ada monster aneh dengan hanya ada dua tangan untuk berjalan dan juga setengah robot dengan kisaran level mereka adalah 60-80.
Evan yang menyadari kehadiran monster itu langsung melemparkan skill Chain Frost. Dalam hanya beberapa detik saja Chain Frost memantul dan membekukan mereka lalu menghancurkan mereka seketika.
[Selamat tuan telah naik level]
[Selamat tuan telah naik level]
Chloe yang melihat Evan melepaskan sihir kuat tanpa merapalkan mantra langsung bertanya padanya.
“Evan sihir apa yang barusan kamu gunakan?...kenapa kamu bisa menggnakan sihir kuat seperti itu tanpa merapal mantra?”
__ADS_1
Evan yang mendengar ocehan Chloe menjadi bingung harus menjawab apa. Sebenarnya di dunia itu. Baik manusia ataupun ras lainnya yang belajar ilmu sihir harus setidaknya merapalkan mantra mereka untuk mengaktifkan sihir berdaya hancur besar seperti yang Evan baru keluarkan.
Bukan hanya itu. Untuk mempelajari sihir ranks D atau C saja biasanya memakan waktu sampai bertahun tahun apalagi rank B atau A maka akan memakan waktu puluhan tahun untuk mempelajarinya dan menyempurnakannya.
Lalu yang tertinggi sihir rank S biasanya hanya dapat di pelajari bagi mereka yang di takdirkan. Atau bisa di bilang sudah bawaan mereka sejak lahir dan itu sangatlah langka.
Sebagai contohnya adalah skill Rank S “Mystic Eyes” milik Victoria yang dapat melihat kehebatan dan manfaat semua benda yang di lihatnya, itu sudah ia dapatkan sejak ia masih kecil dan sudah menjadi skill bawaan sejak lahir.
“Bukan apa apa kok, itu hanya sihir biasa.” Evan yang tak ingin pusing hanya menjawab sebisanya sambil terus berjalan masuk ke dalam dungeon. Sedangkan Chloe yang mendengar itu hanya cemberut sambil tetap mengikutinya.
“Lagi lagi kamu merahasiakan sesutau dariku...”
“Bukannya merahasiakan, cuman itu memang skill biasa saja dan tak ada yang spesial dari itu.”
“Baiklah ayo kita masuk ke dalam.”
Sambil berjalan masuk, Chloe lagi lagi di buat penasaran karna Evan kali ini dapat menyimpan semua Crystal dan mayat monster yang bertumpuk itu dengan mudahnya.
“Skill apa yang kamu gunakan kali ini Evan, kenapa kamu bisa menghilangkan semua batu Crystal dan mayat mayat monster ini, lalu kemana mereka semua pergi?”
“Aku hanya menyimpannya di salah satu skill milikku, jadi kita tak perlu repot repot menambang atau mengumpulkan material berharga dari monster yang ada di sini.”
Setelah mendengar jawaban dari Evan, Chloe makin di buat kagum dengan pria muda yang kini ada di depannya.
Bagi Chloe yang sudah sering menjelajahi Dungeon, baru kali ini ia melihat ada orang yang dapat melakukan segala halnya sendiri.
Bukan karna apa apa, sebenarnya para petualang harus memisahkan barang barang berharga dari monster secara manual untuk mendapatkan material yang berharaga seperti taring, tanduk atau bahkan tulang mereka.
Dan itu memakan waktu yang sangat lama dan terkadang mereka sampai harus membawa beberapa petualang spesialis yang di khususkan untuk melakukan perkerjaan tersebut.
Atau jika tak ingin repot mereka hanya akan mengambil inti Beast Corenya saja yang memang merupakan material termahal jika di jual. Itu karna Beast Core dapat di gunakan untuk berbagai macam hal seperti membuat Senjata, Armor, Potion bahkan untuk menciptakan skill atau untuk memperkuatnya dll.
Akhirnya Evan dan Chloe masuk makin dalam ke dungeon Valey Of Obivilium. Di lantai satu mereka banyak di jegat oleh monster seperti di awal tadi dan ada beberapa yang berbeda.
__ADS_1
Tapi level mereka hampir sama yaitu berkisar level 60-80 dan Evan dapat mengalahkan mereka dengan mudah. Bahkan Chloe juga terlihat dapat mengalahkan beberapa dari mereka dengan sihir miliknya.
Lalu Evan memutuskan beristirahat sejenak karna melihat Chloe yang sepertinya sudah mulai kelelahan.
“Apa kamu lelah?...jka iya maka kita bisa beristirahat terlebih dahulu.”
“Ehehehe, jadi kamu menyadarinya ya, kalau boleh aku ingin beristirahat sebentar sambil memulihkan energiku.”
“Tentu saja boleh, aku juga tak terlalu terburu buru kok untuk menyelesaikan dungeon ini.”
Akhirnya Evan dan Chloe beristirahat di lantai satu dekat sebuah altar pemujaan. Di tempat itu sepertinya menjadi tempat para monster paling banyak berkumpul sebelum Evan membantai mereka semua.
Evan yang beristirahat duduk di bawah sebuah patung besar yang sangat aneh dengan cahaya yang terus keluar dari tubuh patung itu. Tapi karna sistem tak mendeteksi bahaya, Evan hanya duduk sambil melihat dan merapikan Inventory miliknya.
Sedangkan Chloe terlihat menggunakan sihir penyembuh pada dirinya sendiri. Evan yang melihat Chloe mengembalikan kekuatannya dengan sihirnya sendiri yang berwarna terang dan menghangatkan itu merasa tertarik dengan skill miliknya dan iapun bertanya.
“Chloe, skill apa yang kamu gunakan itu?”
Chloe yang melihat Evan akhirnya tertarik pada skill miliknya langsung menjawabnya dengan rasa bangga dan percaya diri.
“Ini adalah skill Greates Healing.”
“Dengan skill ini aku dapat menyembuhkan luka, mengembalikan stamina, dan menciptakan pelindung cahaya dari skill ini.”
Ketika mendegar penjelasan yang di berikan Chloe, Evan langsung tau kalau itu adalah skill untuk seorang babu atau bisa di bilang suport.
Dan dalam dunia sihir seperti ini, skill milik Chloe bisa di bilang sangat di butuhkan dan menjadi salah satu elemen terpenting dalam sebuah party.
Tapi itu semua tak berlaku bagi Evan. Evan yang memiliki potion yang dapat mengembalikan hp dan mp miliknya secara cepat tak membutuhkan skill seperti itu.
Kenapa skill seperti itu masih di perlukan di dunia tersebut adalah karna potion penambah hp dan mp di dunia itu sendiri masih terbilang langkah dan jarang di jumpai.
Bahkan kualitas terbaiknya saja hanya bisa di beli oleh beberapa orang yang memang memiliki koneksi dan uang.
__ADS_1