
Di bimbing oleh Bell, Evan dan Ravaria kini memasuki pohon kehidupan yang besarnya bukan main. Setelah beberapa saat berjalan mereka memasuki sebuah portal aneh dan dalam sekejap mata mereka tiba di puncak pohon itu.
Di sana terlihat ada banyak harta dan artefak yang menumpuk memenuhi tempat tersebut. Sambil jalan mengikuti Bell, terlihat Ravaria yang melihat banyak benda berkilauan mulai gatal dan ingin mengambil satu.
“Jangan coba coba mencuri di sini dasar manusia.”
Mendegar perkaatn Bell, Evan langsung menatap Ravaria yang ingin mengambil perhiasan berkilauan yang ada di sana.
Karna takut di marahi masternya, Ravaria pun hanya menunduk dan mengikuti Evan dari belakang. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pintu yang sangat besar.
Pintu itu terlihat sangat kuno dan banyak akar pohon yag memenuhi dindingnya sampai sampai hampir menutupi pintu itu sampai keseluruhan.
Ketika sampai di sana, Bell dengan hormat tunduk dan mulai berbicara dengan orang yang ada di balik pintu tersebut.
“Ratu, saya sudah membawa orang yang ratu inginkan.”
Lalu dari dalam sana terdengar suara yang mengizinkan Evan untuk masuk dan yang di perolehan masuk hanya Evan sendiri dan yang lainnya hanya boleh menunggu di luar.
“Silahkan masuk sendirian dan temanmu itu harap tunggu di luar karna aku tak ingin ia sampai merusak ruangan pribadiku.”
Ketika mendengar itu, Evan langsung mendorong pintu besar itu dan dengan sekuat tenaga ia membuka pintu tersebut.
Karna sudah terlalu lama tak di buka, terlihat Evan sedikit kesulitan untuk membukanya. Tapi dengan tenaga dan kekuatannya, akhirnya pintu besar itu terbuka dan Evan pun masuk ke dalam sendirian.
Sesaat setelah Evan masuk, pintu besar itu menutup kembali dan kini di hadapan Evan terlihat ruangan yang sangat tua dan lumayan besar lalu di tengah tengahnya ada sebuah pohon kecil yang memancarkan energi kehidupan super besar.
Bahkan sangking besarnya, Evan yang hanya berdiri di depannya dapat merasakan kalau tubuhnya menerima banyak energi dari pohon tersebut.
Lalu secara samar ia mendengar sebuah suara. Sebuah suara yang sangat halus dan lembut seperti suara wanita yang sedang sakit dan sekarat.
“Aku di sini...”
“Kemarilah...”
Mendengar suara yang pelan dan halus itu, Evan mencoba mendekat dari asal suara tersebut dan kini di hadapannya ada sesosok wanita ras Elf yang sudah hampir menyatu dengan pohon kehidupan yang ada di sana.
Jika di lihat wanita elf itu hampir tertelan oleh pohon kehidupan dan saat ini hanya tersisa wajahnya saja yang terlihat pucat dan keriput.
“Ka-kau...”
“Siapa kau?...di mana Vivian?”
Melihat sosok aneh di hadapannya, Evan sangat terkejut dan di buat bertaya tanya. Lalu wanita yang ada di hadapannya itu berbicara kembali dengan suaranya yang halus.
“Kenapa kamu malah bingung? Orang yang bernama Vivian itu sekarang ada di hadapanmu.”
__ADS_1
Mendengar itu, akhirnya semua pertanyaan yang ada di kepala Evan terjawab sudah. Dengan ini sudah di pastikan kalau wanita yang ada di hadapan Evan itu adalah Vivian, walaupun sangat berbeda dengan penampilannya yang ada di Freedom Arena.
“Apa yang kamu inginkan sampai sampai datang ke tempat ini dan bagaimana kamu mengetahui kalau aku adalah yang asli.”
Evan yang langsung di ajukan pertanyaan oleh wanita itu mencoba menjawab sebisanya sambil tetap menyembunyikan keberadaan sistem.
“Aku mengetahuinya karna salah satu skill milikku.”
“Lalu untuk tujuanku ke sini adalah untuk...”
Awalnya Evan yang bertujuan untuk mengalahkan wanita itu jika tak ingin bekerja sama merasa sedikit kasihan ketika melihat kondisinya.
Evan yang awalnya membayangkan kalau Vivian yang asli sangat hebat dan kuat karna memiliki sebuah artefak kelas tertinggi yang bahkan ia saja tak mempunyainya akhirnya mengurungkan niat awalnya untuk bertarung dan mengalahkan Vivian jika terpaksa.
“Aku ingin meminta tolong padamu, tolong buat Vivian yang ada di sana kalah.”
Ketika mendengar alasan Evan sampai jauh jauh kesana hanya untuk meminta hal aneh seperti itu, Vivian pun hanya tertawa. Kini wajah pucat wanita itu tersenyum tipis seperti tak kuasa menahan rasa tawanya.
“Hahaha...kamu lucu juga.”
“Huh? kenapa kamu malah tertawa?”
“Sudah sepuluh ribu tahun aku terperangkap di sini dan saat ada yang datang menemuiku ternyata hanya meminta hal aneh seperti itu...hahahaha, manusia itu memang makhluk yang aneh ya.”
Kini wajah pucat dan mengkerut itu terlihat berusaha menahan tawanya karna mendengar permintaan yang Evan minta padanya.
Setelah berusaha menahan tawanya, wanita itu kini terlihat tenang kembali dan mulai menjawab permintaan Evan barusan.
“Huh, aku pikir kamu datang ke sini ingin meminta sesuatu yang berharaga atau mungkin melawanku tapi ternyata kamu ke sini hanya meminta hal aneh seperti itu.”
“Jika kamu segitunya ingin menang maka aku akan mengabulkannya.”
Mendengar akhirnya permintaanya akan segera di kabulkan, Evan hanya bisa lega. Mungkin awalnya ia ingin memkasa Vivian yang ada pohon kehidupan untuk mengalah di Freedom Arena atau yang terburuknya harus mengalahkannya agar Lilia bisa menang.
Tapi karna semuanya sudah selesai dengan damai dan Vivian sendiri sudah setuju, Evan pun hanya bisa tersenyum saat itu.
“Baguslah jika kamu pengertian, dengan ini aku tak perlu menggunakan kekuatanku untuk memaksamu.”
Ketika mendenar perkataan Evan yang sedikit sombong itu, Vivian justru menantang Evan dengan sedikit menggodanya.
“Hooo, apa kamu pikir aku yang seperti ini tidak dapat melawanmu ha?”
“Apa kamu mencoba mengujiku?...jujur saja awalnya aku kira kamu penyihir jahat yang mengerikan, tapi ketika melihat kondisimu begini aku jadi sedikit kasihan.”
“Begini saja, biar adil kita akan mengadakan permainan.” Ucap Vivian dengan ekspresi percaya diri.
__ADS_1
“Jika kamu bisa bertahan dari seranganku selama satu menit saja maka aku akan mengabulkan keinginanmu itu.”
“Satu menit?...beneran hanya satu menit?”
“Iya, itupun jika kamu berani menerima tantanganku, jika tidak juga tak apa apa kok karna aku sendiri tau kalau kau tak akan mampu.”
Mendengar perkataan Vivian yang seakan akan yakin kalau Evan tak akan bisa menahan serangannya selama satu menit saja, Evan pun menjadi tertantang dan menerima tantangan tersebut.
“Baiklah biar sama sama adil maka aku terima tantanganmu.”
Kini Evan langsung menjauh dan bersiap siap menahan serangan yang akan Vivian lancarkan.
“Ayo serang aku, aku tak memiliki banyak waktu, selagi kita mengobrol di sini, Lilia sedang bertarung dengan waktu di sana.”
“Baiklah jika itu maumu maka coba tahan seranganku ini.”
Dalam sekejap seluruh ruangan itu berubah warna menjadi bercahaya. Energi kehidupan memenuhi tempat itu secara cepat. Bahkan sangking banyaknya energi kehidupan yang ada di sana, saat itu sistem langsung memperingati Evan kalau dirinya dalam bahaya.
[Lapor tuan, situasi darurat]
“Huh apa maksud-.”
Sebelum Evan menanyakan situasi darurat yang sistem sebutkan. Tubuhnya yang terlalu banyak menerima energi kehidupan menjadi panas. Panasnya tubuh Evan kini sampai membuatnya tergeletak tak berdaya di bawah lantai.
“Ahhh...sakit....”
“Apa ini...bagaimana caranya kamu...”
[Tuan bertahanlah, jangan menghisap energi kehidupan lebih dari ini atau tubuh tuan akan meledak]
Mendengar peringatan sistem, Evan mencoba mengontrol kekuatannya dan mencoba untuk tak menyerap energi kehidupan yang sangat besar di sana.
Tapi karna memang banyaknya energi kehidupan yang ada di sana, Tubuh Evan dengan sendirinya menghisap semua energi dan itu membuat tubuhnya yang sudah terlalu penuh akan energi kehidupan mulai merasakan dampaknya.
“Sialan...kenapa aku tak bisa mngontrol tubuhku.”
“Sakit...tolong hentikan...”
Ketika mendengar rengekan dari Evan, Vivian langsung bertanya kepada Evan yang sudah menggeliat di lantai karna tak kuat lagi menerima energi kehidupan yang hampir membuat tubuhnya meledak.
“Ini baru tiga puluh detik, apa kamu ingin menyerah?"
Karna sudah tak kuat lagi Evan bahkan sudah mendengar suara Vivian secara samar samar.
“A-aku menyerah...”
__ADS_1
Saat melihat Evan yang sudah tak kuat lagi dan tubuhnya yang hampir meledak, Vivian dengan cepat melepaskan kekuatannya dan dengan cepat energi di sana netral kembali.
Bahkan karna sedikit kasihan kepada Evan yang saat itu sudah pingsan, Vivian langsung membantunya dengan mengeluarkan sebagian energi yang memenuhi tubuh Evan yang kini terbaring tak berdaya.