
Akhirnya hari itu Evan menghabiskan malamnya di rumah Duke Berta. Terlihat seluruh orang yang ada di sana sangat bahagia.
Mereka semua makan malam bersama sambil bercerita tentang Evan yang tak lain adalah pahlawan yang sudah menyelamatkan kerajaan Igrassia.
"Terima kasih Pahlawan karna sudah menolongku."
"Yah...untuk sekarang kamu lebih baik banyak banyak istirahat saja."
Lalu sambil mengobrol, Evan mengeluarkan sebuah potion dari Inventory miliknya dan menyerahkannya pada Angelica saat mereka semua sedang makan malam bersama.
"Ambil ini..."
"Huh... Apa ini?."
"Itu hanya potion biasa yang akan membantu mempercepat proses penyembuhanmu."
Karna penasaran, Victoria yang juga ada di sana langsung melihat keaslian dan keunikan potion berwarna hijau yang baru saja Evan berikan pada Angelica.
Dengan kemampuan khususnya yaitu Mystic Eyes, Victoria dapat melihat kehebatan dari senjata atau armor bahkan juga potion hanya dengan sekali lihat.
"Astaga...Potion apa itu Evan, dari sejak aku menjadi petualang aku tak pernah melihat potion dengan kemurnian sampai seperti itu."
Karna teriakan dari Victoria, seketika itu juga semua orang langsung menatap Evan. Mereka semua seakan ingin tau bagaimana cara Evan memiliki potion yang bisa membuat Victoria sampai kaget bukan main seperti itu karna kemurniannya.
"Bukankah sudah ku bilang kalau itu hanya potion biasa."
Melihat Evan yang lagi lagi mengatakan kalau itu hanya potion biasa sambil menyantap makanannya, akhirnya mereka semua hanya bisa menerima fakta bahwa Evan tak ingin membahas lebih jauh tentang kehebatan potion miliknya.
Dan sebenarnya memang benar kalau itu hanya potion biasa yang Evan beli dari toko sistem. Lalu efek dari potion itu adalah sebagai obat untuk menyembuhkan luka dan mempercepat proses penyembuhan yang di jual dengan harga 1.000CP.
Tapi satu hal yang Evan tak tau adalah potion dan barang barang biasa yang di jual di toko sistem adalah barang barang kelas atas jika di dunia itu.
Sampai waktu pun berjalan sangat cepat dan kini pagi hari telah tiba. Mentari pagi terlihat menyinari kota Berne dan terlihat kesibukan masyarakat mulai memenuhi kota tersebut.
Evan yang sudah terbangun dari tidurnya pun berniat untuk pamit dan lanjut leveling.
Evan yang baru selesai mandi dan bersiap siap langsung pergi menemui Reinhard yang kini sedang berada di kamar Angelica.
“tok tok tok.”
“Siapa?....”
“Ini saya Evan.”
“Ohhh...masuklah Evan.”
Evan yang di berikan izin untuk masuk tanpa basa basi lagi langsung masuk ke kamar itu. Dan kini terlihat dua orang kekasih yang sedang kasmaran sedang berduaan.
“Kenapa mencariku pagi pagi begini?.”
“Aku mau izin untuk pergi...”
“Huh...mau kemana memangnya?...jika bisa biarkan aku mengantarmu.”
__ADS_1
“Tak perlu, aku ingin pergi sendirian saja.”
“Baiklah jika itu maumu, sekali lagi terima kasih...dan benar kau tak ingin hadiah?.”
Kemarin malam Reinhard dan Berta sudah mencoba untuk memberi Evan hadiah, tapi Evan yang sebelumnya sudah mendapatkan banyak hadiah yaitu gelar pahlawan terhormat dan sebuah Rumah mewah di pinggir danau kota Berne merasa sudah cukup.
Evan sendiri saat ini lebih memikirkan agar dirinya bisa bertambah kuat. Dan jawaban dari itu semua adalah hanya dari kerja kerasnya sendiri.
“Tak perlu memberiku hadiah, jika ingin memberiku hadiah maka berikanlah pada masyarakat kerajaan ini yang saat ini lebih membutuhkan.”
Dan itu memang benar. Saat ini di kerajaan Igrassia sendiri banyak para pengungsi dari Kota Dawin dan lebih memerlukan pertolongan.
Lalu dengan kerennya Evan pergi meninggalkan kamar itu.
“Sayang, jadi benar dia orang yang membunuh monster pembawa malapetaka sendirian?.”
“Iya...dia adalah anak yang sangat hebat dan misterius.”
“jika di lihat lihat, umurnya mungkin masih 18-20 tahun tapi kekuatannya sudah melampaui petualang rank S lainnya.”
“Hehhh...benar benar pria kuat dan misterius ya.”
“Ya, asal usulnya juga belum di ketahui, yang jelas kita harus tetap berhubungan baik dengannya.”
“Di dunia ini mungkin hanya dia yang dapat menghadapi Zakiro secara solo...mungkin saja dia sama kuatnya dengan cerita para legenda yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.”
“Sampai membuat Raja Igrassia menyandingkannya dengan para legenda, kelihatannya dia masih banyak menyembunyikan kartu hebat lainnya."
Lalu Evan yang sudah berpamitan langsung bersiap siap untuk teleport ke sebuah Dungeon yang sebelumnya sudah ia pilih berdasarkan levelnya.
Tapi sebelum ia pergi terlihat ada gadis cantik memanggil manggil namanya dari jauh...
“Evan...”
"Evan tunggu aku.”
Karna mendengar suara yang familiar itu, Evan pun menahan skill teleportasinya dan melirik ke arah suara tersebut.
Dan terlihat jelas kini seorang gadis cantik dengan rambut biru selehernya sedang lari tergesa gesa tepat ke arah Evan.
“Chloe...”
“Ada apa...”
“Huh...huh...huh...” Nampak Chloe yang berlarian kencang terlihat sangat kelelahan.
“Ada apa.... apanya...”
“Kenapa kau mau pergi tanpa bilang bilang padaku?.”
Terlihat kini wajah cemberut Chloe mengarah tepat ke arah Evan seakan akan dia tak rela Evan main pergi saja meninggalkannya.
Tapi Evan yang ingin pergi ke tempat berbahaya memang sejak awal tak ingin mengajak satu orangpun. Ia merasa membawa orang lain justru hanya akan menambah beban untuknya.
__ADS_1
Dan memang ituah kebenarannya. Walaupun level Chloe sudah mencapai 92 tapi tetap saja ia memiliki perbedaan besar dengan Evan yang punya banyak skill kuat dan equipment tanpa tanding membuat jurang pemisah antara dirinya dan petualang rank S lainnya.
“Aku ingin pergi ke dungeon, jadi aku tak bisa membawamu.”
“Kenapa tak bisa...aku kan juga petualang rank S.”
“Tolong bawa aku bersamamu...aku berjanji tak akan menjadi beban untukmu.”
Terlihat raut wajah imut Chloe yang sedang memohon untuk ikut berpetualang bersama Evan.
Evan yang melihat itu mencoba untuk tak terpancing dan tetap fokus pada tujuannya. Tapi ketika Chloe menarik tangan kanan Evan dan makin menunjukkan sifat imutnya. Pria bernama Evan Adams itupun luluh dan menyerah pada keimutan gadis yang ada di depannya.
“Huh...yasudahlah, tapi ingat...kita akan pergi ke tempat yang berbahaya jadi kau harus tetap waspada.”
“Siap boss...hehehe...”
Lalu Evan yang kini sedang di peluk oleh Chloe langsung mengaktifkan skill Map Teleportasi dan berteleport ke sebuah Dungeon Rank S yaitu Valley Of Obivilium.
Chloe yang sadar Evan dapat menggunakan skill teleportasi langsung bertaya padanya ketika sampai di tempat yang berbeda.
“Woah...jadi kamu juga bisa menggunakan skill teleportasi ya...hebat.”
“Biasa saja...ayo masuk.”
“Evan sebelum masuk kita sebenarnya sedang berada di mana sih dan juga Dungeon ini terlihat sangat besar dan aliran mana yang keluar dari dalamnya juga sangat kuat.”
“Kita berteleport ke benua Rodinia lebih tepatnya ke bagian utara kerajaan Spade dan saat ini tepat berada di dungeon Valley Of Obivilium.”
Ketika mendengar nama benua Rodinia dan kerajaan Spade lalu juga dungeon Valley Of Oblivilium seketika itu juga Chloe langsung terkejut bukan main.
"Be- benua Rodinia."
“Va-Valley Of Obivilium”
“Huuuhhh....jadi kita berteleport jauh sekali ya, terus apa kamu yakin kita mau masuk ke dungeon Rank S ini berdua saja?.”
“Evan ini dungeon Rank S dan biasanya jika ingin masuk ke dalam dungeon seperti ini kita harus membawa sedikitnya satu guild besar agar lebih aman di dalam sana.”
“Santai saja, aku sudah mengukur kekuatan milikku jadi aku pasti bisa menaklukan dungeon ini.”
“Me-menaklukan?...jadi kita bukan hanya berburu Core Beast tapi juka menaklukkannya?.”
“Iya dong...emang kenapa?...”
“Ta-tak apa apa, aku hanya masih syok dengan keberanianmu ini.”
“Kalau tak berani ikut kamu bisa menunggu di luar kok.” Terlihat Evan sedikit bergurau dengan Chloe sambil berjalan meninggalkannya.
“Ahhhh...jangan bilang begitu...aku ikut, aku ikut.”
"Jangan meninggalkanku...."
Akhirnya Evan dan Chloe berjalan masuk ke dalam dungeon Rank S tersebut.
__ADS_1