
Evan yang tak bisa bergerak mencoba sekuat tenaga untuk terbebas dari kekangan domain milik Zeno.
Naraka yang terlihat kebingungan juga melakukan hal yang sama. Tapi mau apapun yang mereka lakukan tetap saja di domain kuat milik Zeno itu semua percuma.
“Jangan buang buang tenaga kalian, di dalam domain pribadiku ini hanya aku yang dapat bergerak bebas.”
Lalu dalam jentikan jarinya Evan dan Naraka kini sudah bisa bergerak kembali. Evan yang merasa jengkel dengan orang yang ada di hadapannya langsung bertanya pada sistem.
“Sistem, apa yang sebenarnya Zeno lakukan? Kenapa semuanya diam mematung?”
[Sepertinya dia menggunakan skill atau Artefak yang sangat kuat dan dapat menghentikan waktu tuan]
“Skill atau artefak? yang mana yang benar?”
[Sistem tidak tau pasti karna pria ini menggunakan semacam penghalang yang sangat kuat untuk menutupi dirinya tuan]
[Tapi jika tuan mau sistem bisa menganalisa tubuh pria ini walaupun akan memakan waktu yang lumayan lama]
“Hemmm, tak perlu, aku tak ingin lama lama melihat wajahnya.”
Mendengar perkataan Zeno untuk menyudahi pertarungan itu, Naraka yang merasa tak bersalah dan ingin tetap melanjutkan pertarungan mencoba membela dirinya.
“Aku tidak tau apa yang kau lakukan, tapi manusia idiot ini yang menyerangku duluan jadi tak ada alasan bagiku untuk melepaskannya.”
“Heh, melepaskanku? Maaf saja, aku tak peduli kau siapa tapi jika kau berani macam macam padaku dan Chloe lagi maka akan ku pastikan kau dan kerajaanmu itu akan musnah.”
“Apa kau bilang bajingan...ku bunuh kau sekara-.”
“Tuan tuan, aku tak peduli dengan perlesisihan di antara kalian berdua, tapi di sini, di kota Skypea akulah penguasanya, jadi jika kalian masih ingin tetap mengikuti seleksi memasuki menara langit maka harap patuhi peraturan yang berlaku di sini.”
“Atau jika kalian tetap bersikeras ingin bertarung maka bertarunglah di luar tempat ini atau aku sendiri yang akan mengeluarkan kalian...”
Setelah mendengar ancaman dari Zeno, Naraka yang juga sangat ingin memasuki menara langit akhirnya mencoba untuk tenang.
Ia yang merasa tak bersalah karna semua ini terjadi karna Evan yang tiba tiba saja memasuki lapangan pertandingan akhirnya kembali ke wujud semulanya.
Evan yang melihat itu juga akhirnya menyudahi pertarungan mereka kala itu.
“Untuk sekarang kau bebas, tapi kau tak akan bisa lari dariku.” Ucap Naraka kepada Evan dengan senyum sombongnya.
Evan yang melihat itu hanya balik tersenyum dan menjawab pernyataan Naraka.
__ADS_1
“Lari? Maaf saja, tapi kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa, jika aku jadi kau maka aku akan pergi bersembunyi ke ujung dunia.”
“Tapi itu semua percuma karna kau tak akan bisa lari dariku, ingat perkataan terakhirku ini, jika kau berani sedikit saja melukai Chloe maka kau dan seluruh kerajaanmu itu akan ku musnahkan.”
Akhirnya karna Evan dan Naraka tak lagi berniat bertarung di sana. Zeno lalu melepaskan kekuatannya dan semua orang di Freedom Arena kini dapat bergerak kembali.
Semua orang di buat bingung dan bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi karna mereka masih memiliki kesadaran tapi tak bisa menggerakkan tubuh mereka sedikitpun.
Zeno yang sudah menghentikan pertarungan Evan dan Naraka tiba tiba saja menghilang dari hadapan mereka berdua dan kembali ke tempat duduknya.
“Apa tuan yakin membiarkan dua orang itu begitu saja?”
“Menurutku tuan harus membunuh mereka secepatnya, apa lagi pria bernama Evan itu, aku merasakan sesuatu yang aneh hanya dari auranya saja.”
“Tak perlu buru buru, pada akhirnya semuanya akan berjalan sesuai rencana.”
Karna hari sudah malam dan banyak penonton sudah kelelahan, akhirnya Hedon yang berada di lapangan pertandingan menutup acara hari itu.
“Hohoho, maaf karna ada sedikit insiden, tapi semuanya sudah terkendali.”
“Jadi para penonton dan semuanya yang hadir di sini sudah bisa beristirahat dan besok kita akan lanjutkan acara Selamat, hohoho.”
“Heh, sudah selesai?”
“Cih, padahal aku sangat ingin sekali meliat pertandingan mereka.”
“Iya benar, kenapa tiba tiba saja mereka berhenti bertarung dan tadi juga tubuhku tak bisa di gerakkan.”
“Hemm, aku tak tau apa yang terjadi tapi semuanya sudah pasti tau kalau itu adalah ulahnya."
“Ya, tak di ragukan lagi sudah pasti yang dapat melalukan hal gila seperti itu hanya dia.”
Akhirnya semua penonton dan perwakilan kerajaan lainnya serta guild yang ada pergi meninggalkan Freedom Arena. Evan yang kini berjalan ke arah Chloe yang tengah terduduk mencoba menenangkan gadis mungil tersebut.
“Chloe ayo kembali, acara hari ini sudah selesai.”
“Maaf, sepertinya aku hanya menjadi beban saja bagimu.”
“Apa yang kamu bilang, kamu bukanlah beban bagiku jadi jangan berfikir seperti itu.”
“Tapi...”
__ADS_1
“Tak ada tapi tapian, ayo pergi aku sudah ngantuk dan lapar.”
Lalu Evan dan Chloe kembali ke tempat vip mereka. Di sana kelompok Evan akhirnya pulang ke hotel tempat mereka menginap dan beristirahat.
Evan yang sudah mandi dan makam malam akhirnya pergi ke kamarnya dan ingin segera tidur. Hari itu sudah banyak hal yang memuat otaknya lelah.
Untungnya besok akan ada babak tambahan di mana setiap perwakilan yang kalah masih bisa mengikuti satu lagi kesempatan untuk memasuki menara langit.
“Huh...hari ini banyak sekali hal yang terjadi.”
“Sistem, apa menurutmu aku sudah cukup kuat atau masih ada orang yang lebih kuat dariku di dunia ini?”
[Dunia ini sangat luas dan sistem tak tau pasti jawabannya tuan]
[Tapi untuk sekarang mungkin pria bernama Zeno itu masih cukup berbahaya]
“Benar, aku tak tau kekuatan aneh apa yang ia gunakan, tapi dapat menghentikan waktu, itu benar benar kekuatan yang hebat]
“Sistem, apa aku juga bisa membuat skill seperti itu?”
Lalu Evan memikirkan skill yang mirip seperti milik Zeno.
[Bisa tuan, semua imajinasi tuan dapat sistem ubah menjadi skill tapi saat ini poin tuan tidak cukup untuk membuatnya]
“Hahaha, begitu ya, sepertinya aku harus lebih banyak berburu monster lagi dan di menara langit nanti aku akan leveling gila gilaan.”
Evan yang sudah mulai mengantuk mulai menutup matanya. Tapi sesaat ia menutup matanya hawa keberadaan seorang gadis langsung membangunkannya seketika.
Dengan samar samar di keadaan kamar yang gelap, Evan bisa melihat sesosok wanita dengan rambut pirang dan tubuh putih mulusnya berdiri di sebelah tempat tidurnya.
“Lilia, ada apa?”
“Tuan, maaf karna tadi siang saya sudah merepotkan tuan.”
“Tidak apa apa, itu bukan salahmu.”
“Tapi...biarkan saya membayar kesalahan saya tuan.”
Lalu Lilia membuka baju tidurnya yang sangat tipis itu dan bergerak mendekati Evan. Kini tubuh wanita Vampire itu hanya tertutup oleh dua kain tipis berwarna merah yang menutup bagian atas dan bawah miliknya.
Evan yang saat itu sedang berbaring hanya bisa menelan ludahnya dan menerima permintaan maaf gadis itu dengan lembut.
__ADS_1