
Evan yang sudah menungu lama akhirnya di beritaukan sistem rahasia apa yang sebenarnya yang di miliki oleh wanita bernama Vivian itu.
“Oke sistem, jadi apa rahasia dari tubuhnya yang aneh itu?”
[Sepertinya tubuh wanita bernama Vivian yang ada di sini bukanlah tubuh aslinya tuan]
“Huh? Apa maksudmu?...jika ini bukan tubuhnya, lalu di mana tubuh aslinya?”
[Sebenarnya ini juga tubuh asli tapi yang sebenarnya berada di benua Nuna{benua ras Elf} di dalam pohon kehidupan]
Mendengar perkataan sistem, Evan benar benar syok dan bingung harus melakukan apa. Jika tubuh asli Vivian ada di benua Nuna yang sangat jauh dari sana jadi tubuh yang sekarang ini ada di hadapanya tubuh siapa dan bagaimana cara ia melakukan trik hebat seperti itu bahkan dari tempat yang sangat jauh.
Evan yang belum mengerti akhirnya mulai mendengarkan penjelasan sistem kembali.
“Aku benar benar bingung, apa aku yang terlalu bodoh karna tak bisa membedakan tubuh asli dan palsu dari wanita bernama Vivian itu atau apa, jadi tolong beritahu aku seluruh rahasia dan cara mengehentikan wanita itu.”
[Itulah yang saat ini akan sistem jelaskan tuan]
Akhirnya sistem mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi Vivian, penyihir wanita yang sudah hidup ribuan tahun itu, saat ini tubuh aslinya sedang berada di benua Nuna lebih tepatnya di dalam pohon kehidupan di hutan besar Miamasa.
Tapi walaupun begitu tubuh yang saat ini ada di hadapan mereka juga merupakan tubuh asli dan bukan bayangan saja. Bisa di bilang Vivian memiliki sebuah Artefak kelas tertinggi yang dapat membuat Clone dari tubuhnya.
Bukan clone, lebih tepatnya tubuh paralel dan dengan tubuh itu ia bisa menjelajahi seluruh dunia dan bertambah kuat dari tiap tubuh yang bisa ia sebar di manapun ia mau.
Kenapa itu tubuh paralel dan bukan clone atau bayangan, karna tubuh itu memiliki kesadaran sendiri dan dapat bertindak sendiri layaknya tubuh manusia normal walaupun tak sekuat dan sehebat tubuh aslinya.
Lalu jika tubuh itu mati, maka Vivian akan menerima semua pengetahuan dan ingatan dari tubuh yang mati dan saat itu juga dapat mengirimkan tubuh lainnya sebagai pengganti melalui portal khusus yang hanya dapat di masuki dan di kendalikan olehnya berkat artefak kelas tertinggi miliknya itu.
Jadi walaupun ada penghalang atau skill dan artefak yang memblokir dimensi di tempat matinya tubuh Vivian, ia tetap bisa mengirimkan tubuh baru karna portal dimensi miliknya itu adalah ciptaan dari artefak itu sendiri dan tidak terikan oleh hukum ruang dan waktu dari dunia lainnya.
Dan hebatnya lagi Vivian yang asli dapat membunuh dan membuat ulang tubuh paralel dari dirinya sendiri sebanyak apapun yang ia mau dengan bentuk, kelamin dan ras apapun yang ia inginkan dan dapat menanamkan juga ingatan baru dan skill baru pada tubuh paralel miliknya.
Bahkan jika tubuh paralelnya mati kehabisan mana atau sebagainya, itu sama sekali tak berefek padanya dan ia hanya perlu membuat tubuh baru melalui artefak kelas tertnggi miliknya yang berada pada rank SSS.
Setelah mendengar penjelasan dari sistem, Evan akhirnya mulai mengerti kenapa sejak awal ia melihat Vivian tak merasakan kalau tubuh itu adalah banyangan atau clone. Karna tubuh itu sendiri memiliki kapasitan mana yang besar dan banyak. Berbeda jika hanya clone atau bayangan yang memiliki mana yang sangat sedikit.
“Hemmm, aku mengerti sekarang, jadi bagaimana cara kita mengalahkan wanita itu?”
[Cara satu satunya tuan harus mengalahkan tubuh aslinya yang saat ini ada dalam pohon kehidupan]
Ketika mendengar cara mengalahkan wanita itu, Evan hanya bisa gigit jari karna saat ini saja ia tak bisa mengeluarkan mana karna penghalang yang ada.
__ADS_1
Lebih tepatnya bukan tidak bisa, tapi tak ingin karna jika ia memaksa mengeluarkan mana miliknya maka penghalang itu berkemungkinan rusak dan itu malah membahayakan banyak orang.
“Jadi bagamana caraku untuk membantu Lilia sekarang..."Terlihat Evan kini hanya bisa duduk sambil memikirkan cara untuk membantu Lilia agar ia bisa memenagkan pertandingan itu.
Sampai akhirnya Evan memutuskan untuk pergi meninggalkan Freedom Arena dan menemui langsung Vivian di pohon kehidupan.
“Huhhh, sepertinya aku tak punya pilihan lain.”
“Ravaria, ayo ikut denganku sebentar."
Ketika mendenar perkataan masternya, Ravaria hanya mengangguk sambil bertanya mau kemana. Chloe yang mendengar itu juga bertanya pada Evan.
“Mau kemana memangnya di saat saat seperti ni?” ucap Chloe dengan rasa penasaran.
“Aku akan segera membereskan kekacauan ini, pokoknya guild kita harus menang.”
“Kamu dan Alucard tunggu saja di sini.”
Akhirnya Evan pergi berteleport bersama Ravaria ke depan Pohon kehidupan di hutan besar Miamasa. Jika di lihat hutan itu sangat besar. Mungkin ukurannya lebih besar lima kali lipat daripada hutan pemburu atau hutan hutan lainnya yang pernah Evan jelajahi.
Sebelum pergi Evan berbicara pada Lilia untuk jangan sampai kalah sampai ia kembali nanti.
“Lilia, gunakan segala cara agar kamu tetap bertahan.”
Mendengar perkataan tuanya, Lilia hanya bisa menahan rasa bersalahnya karna dengan kemampuannya yang sekarang ia bahkan masih menyusakan tuannya itu.
“Baik tuan, saya akan bertahan sampai titik darah penghabisan.”
Lalu dalam sekejap mata Evan yang sudah berpegangan tangan dengan Ravaria berteleport ke depan Pohon kehidupan. Saat ini sebuah pohon setinggi gedung pencakar langit berdiri kokoh di hadapan mereka.
“Master kemana kita pergi?"
“Kita saat ini berada di hutan miamasa.”
“hutan miamasa? Di mana itu?”
“Sudahlah jangan banyak tanya, kita sekarang tak memiliki banyak waktu.”
Akhirnya Evan langsung masuk kedalam lubang pintu yang berhasil ia temukan dengan kemampuan mengendalikan mana miliknya dan dengan itu ia dapat dengan mudah menemukan pintu masuk ke dalam pohon kehidupan.
Pintu masuk itu ada di dasar pohon kehidupan. Evan dengan cepat berjalan masuk di ikuti oleh Ravaria. Saat masuk Evan langsung merasakan energi yang sangat besar di sana dan seekor peri kecil langsung menghampirinya.
__ADS_1
Peri kecil dengan empat sayap terbang mendekat ke arah Evan seakan ia sudah tau kedatangan Evan.
“Tunggu...”
“Tolong jangan masuk lebh jauh lagi dasar manusia...”
Ketika mendengar suara itu dan cahaya kecil yang tak lain ada peri penjaga pohon kehidupan, Evan berhenti sejenak sambil menjelaskan tujuannya datang ke sana.
“Tolong antarkan aku ke tempat wanita bernama Vivian itu.”
Saat mendengar perkataan Evan, Peri itu terlihat sedikit marah dan tak senang karna kehadiran Evan di sana.
“Dasar manusia, dari mana kamu tau nama itu dan bagaimana caranya kamu bisa menemukan tempat ini?”
“Aku bilang bawakan aku ke tempat wanita bernama Vivian sebelum aku mengacak acak tempat ini.”
Saat mendengar perkataan Evan yang sombong itu. Si peri kecil langsung menyerang Evan dan menahannya dengan akar rumput yang sangat kuat.
“Dasar manusia tak beretika...”
“Sekarang juga keluar dari tempat ini sebelum aku berbubah pikiran dan membunuhmu.”
Evan dan Ravaria langsung tertangkap dengan mudah oleh akar yang terlihat kokoh tersebut sampai akhirnya Evan mengeluarkan Aura mana mengintimidasi miliknya dan seketika itu juga peri kecil itu ketakutan bukan main dan menjauh darinya.
“Haaa....mon-monster."
“Ba-bagaimana caranya manu-.”
Sebelum peri kecil itu menyelesaikan omongannya. Suara berbisik yang sangat halus terdengar di kepalanya dan seketika itu juga ia langsung tunduk dan mengantar Evan ke tempat tujuannya.
“Jangan berprilaku tidak sopan pada tamu yang sudah datang jauh jauh ke sini."
“Sekarang antarkan dia menemuiku Bell...”
“Ba-baiklah ratu."
Akhirnya setelah mendapatkan persetujuan dari penguasa tempat itu, Evan langsung di bimbing oleh peri kecil bernama Bell ke tempat tujuannya.
“Silahkan ikuti saya manusia.”
“Ratu sudah memberi ijin dan mengijinkanmu untuk menemuinya.”
__ADS_1
Lalu di anatar oleh Bell, Evan dan Ravaria berjalan memasuki pohon kehidupan yang sangat besar tersebut.