
“Christine...”
Evan yang melihat wanita yang paling ia cintai tepat di hadapannya hanya diam tak bergerak. Wanita cantik dengan rambut shor hair berwarna abu abu dengan pakaian trendy dan sporty kini berdiri di hadapannya.
Mata biru khas keturunan barat dan tubuh ramping dan super mulus itu membuat Evan kini tak dapat memikirkan apa apa lagi kecuali kebahagiaan.
Kini Mata Evan memerah dan mengeluarkan air mata dengan sendirinya. Tubuhnya benar benar tak dapat ia kontrol lagi dan dengan cepat Evan memeluk sang kekasih.
“Christine...aku...aku...”
Evan memeluk sang kekasih dengan erat seakan akan ia tak ingin melepaskannya lagi.
“Kenapa Evan?...ada apa?...kenapa kamu tiba tiba saja menangis?”
Evan yang kini dapat melihat dan memeluk wanita yang paling ia cintai menangis sekencang kencangnya di pelukan wanita tersebut.
Christine yang melihat Evan menangis seperti bayi di pelukannya hanya mengusap ngusap kepala Evan.
“Kenapa memangnya?”
“Kenapa kamu menangis?”
“Aku...maafkan aku...”
Evan yang kini untuk berbicara saja sudah kesulitan hanya memeluk sang kekasih dengan erat. Tubuhnya yang lemah itu membebani tubuh sang kekasih sampai mereka terjatuh di tanah.
“Evan...ada apa?”
Evan yang selalu memimpi mimpikan saat saat terindah dalam hidupnya itu mulai melupakan segalanya dan hanya berbaring di sana.
Ia dapat dengan jelas mencium aroma yang paling ia sukai. Aroma segar sang kekasih yang membuat Evan jatuh cinta padanya.
Evan sendiri mulai menyukai gadis belasteran itu saat pelajaran olahraga, tak sengaja ia yang lengah di jam olahraga terpeleset dan menindih tubuh Christine yang basah oleh keringat.
Aroma wanita itu yang di penuhi hormon feminim khas ras wanita membuat Evan jatuh hati pada saat itu juga.
“Syukurlah...aku sangat ingin bertemu denganmu.”
“Aku senang sekali...”
Evan yang sudah jatuh dalam ilusi dan delusi sudah tak bisa memikirkan kebenaran lagi dan tersenyum bahagia. Evan yang sudah tak tau lagi kenyataan dan khayalan sudah tak mempedulikan itu semua dan hanya melihat wajah sang kekasih yang kini memandanginya.
“Sudah selesai menangisnya?”
“Hemmm,Christine maafkan aku, waktu itu aku terlambat dan...”
“Tak apa...aku tau itu, jadi jangan salahkan dirimu lagi...”
“Sekarang kita hanya harus menjalani hidup bahagia di sini selamanya...”
__ADS_1
Evan kini dapat melihat senyum cerah sang kekasih tepat mengarah ke arahnya. Tapi sebuah suara di kepalanya tiba tiba saja memecahkan kebahagiaan sesaat Evan dan menghancurkan itu semua.
[Tuan]
[Tuan bertahanlah, jangan termakan ilusi monster itu]
Evan yang mendengar suara sistem menjadi teringat kembali dengan semua kenyataan. Ia yang sudah berada di surga di jatuhkan kembali ke bumi dengan kejam dan tanpa ampun. Kini semua ingatannya yang samar samar kembali seutuhnya.
“Evan...ada apa sayang?”
Kini Evan yang merasa di permainkan hanya terdiam dan tak bersuara sedikitpun. Wajah merah dan air matanya berhenti seketika.
Wajahnya berubah dingin dan terlihat dari pandangan matanya ekpresi yang tak dapat di ungkapkan dengan kata kata.
“Christine, maafkan aku.”
“Aku berjanji akan mengungkap kebenaran dari kematianmu.”
“Beristirahatlah dengan tenang....wahai kekasihku tersayang."
kini Evan untuk terakhir kalinya tersenyum ceria ke arah sang pacar. Ia yang sudah di berikan kesempatan kedua bertemu dengan sang kekasih tanpa pikir panjang langsung menciumnya.
“Apa maksudmu?...apa kau tak ingin bersmaku di sini?”
Evan yang di dorong oleh sang kekasih karna tiba tiba menciumnya hanya tersenyum.
“Kenapa kau malah terseyum, aku ada di sini sekarang...kau tak perlu melakukan hal melelahkan lagi, serahkan saja hidupmu padaku.”
“Sialan...bagaimana caranya kau bisa lepas dari ilusiku.”
Kini wajah manis sang pacar berubah menyeramkan dan terlihat sangat marah. Evan yang melihat perubahan ekspresi itu langsung mengaliri tangan kanannya dengan energi bintang dan bersiap siap menyerang sang kekasih.
“Kau...apa kau akan membunuhku lagi?...”
“Dasar pria tak berguna...kau lebi-.”
Dalam sekejap mata tinju kuat Evan mengarah ke tubuh sang pacar dan menghancurkan dunia ilusi tersebut. semua kenangan dan kebahagiaan sekejap itu hancur seketika dan kesadaran Evan kembali ke titik semula.
Evan yang tersadar kembali dan menyadari dirinya berada di dalam perut belut besar itu langsung mengeluarkan energi yang sangat kuat.
“Kau....”
“Berani sekali kau menodai kenangan wanitaku...”
“Booooommm.”
Tinju super kuat Evan menghancurkan dan membelah tubuh belut laut itu dalam seketika. Tinju yang di perkuat elemen bintang itu menghancurkan dan membelah tubuh belut itu.
Kini bagian bawah belut besar itu mulai terjatuh ke bawah danau dan secara tiba tiba kepala besar belut itu dengan cepat mengarah ke arah Evan dan bersiap melahapnya kembali.
__ADS_1
“Ssssrrrkkkkkk.”
Kepala besar dengan gigi tajam itu meluncur bagai peluru ke arah Evan. Tapi Evan yang sudah di buat marah hanya menatap belut itu dengan dingin dan mengarahkan tinju miliknya.
Dalam sekejap mata mereka beradu seragan. Evan dengan tinju yang di perkuat elemen bintang langsung melepaskan pukulan yang maha dahsyat.
Pukulan super kuat Evan itu menerbangkan ular besar itu ke angkasa dan menghancurkan kepalanya berkeping keping.
Kini langit sore itu menjadi gelap dan mendung akibat darah belut besar itu yang menghujani Evan dengan deras.
Suara sistem yang paling Evan sukai juga terengar berbunyi nyaring dan memenuhi kepalanya.
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
[Seamat tuan telah naik level]
“Berisik, diamlah...”
Atas aba aba Evan, suara notifikasi langsung berhenti berbunyi. Evan yang kini bermandikan darah belut raksasa itu membasuh dirinya di danau besar itu dan langsung meninggalkan tempat tersebut.
Ia dengan cepat terbang dari tempat itu dan mengaliri energi kehidupan miliknya secara sembarangan. Karna itu banyak monster yang mengikutinya dan ingin menyantapnya.
Mulai dari yang terbang di udara dan yang berlarian di darat. Semua monster itu mengejar Evan layaknya lebah yang mencari madu.
Evan yang saat itu masih kesal melampiaskan semua kekesalannya dan membunuh semua monster yang ada di sana. Semua monster di habisi tanpa pandang bulu mau yang kecil atau besar semuanya di bunuh.
Mau yang berbahaya atau tidak semuanya menjadi debu. Kini hutan hijau dan indah itu berubah menjadi lautan darah yang mengalir deras akibat perbuatan Evan.
Evan yang saat itu seperti orang gila membunuh semua monster yang ada di sana sampai secara tiba tiba sesosok monster berbentuk pohon yang sangat besar menghentikan aksi gilanya itu.
__ADS_1
Kini di hadapanya berdiri sesosok monster yang mirip seperti manusia pohon raksasa. Monster itu mengeluarkan aura yang sangat pekat dan mengerikan.
Tapi Evan yang melihat itu hanya tersenyum seperti psikopat dan langsung menerjang ke arah monster tersebut.