
Mendengar perkataan sistem, Evan di buat pusing dan tak mengerti maksudnya.
“Apa maksudmu sistem?”
“Jelas jelas aku tadi melihat wanita itu mengeluarkan sebuah artefak berbentuk kotak dan seketika itu juga tombak petir milik Lilia mengenainya dengan telak, tapi anehnya wanita itu muncul melalui portal aneh entah dari mana dan tak terluka sama sekali.”
[Itulah yang sistem katakan kalau tuan sudah salah paham]
[Wanita itu memang mengeluarkan Artefak miliknya , tapi itu hanya artefak pertahanan biasa]
“Huh?...jadi kenapa dia tak bisa di kalahkan dan terus memunculkan tubuh baru ketika tubuhnya hancur?”
[Sistem saat ini juga tak tau pasti apa yang sebenarnya wanita itu lakukan]
[Tapi jika tuan mau sistem dapat memindai dan menganalisa tubuhnya, lalu mencari tau apa sebenarnya rahasia dari kemampuan wanita itu]
Ketika mendengar sistem bahkan belum tau pasti kemampuan Vivian, Evan langsung merasakan kalau ada yang tidak beres dengan wanita yang saat itu sedang di hadapi Lilia.
Karna khawatir dan ingin menang, Evan pun akhirnya meminta sistem untuk mulai mencari tau kemampuan apa sebenarnya yang di miliki oleh Vivian.
“Baiklah sistem, tolong bantu aku mencari tau trik apa yang sebenarnya wanita itu gunakan.”
[Perintah di terima, sistem akan mulai memindai tubuh target...]
Sebenarnya bukan karna apa apa Evan ingin setidaknya memastikan kemenangan dari pertandingan Lilia kali ini. Itu karna di guild Adams sendiri hanya ada empat orang.
Lalu akan di pilih tiga secara random. Jika di lihat dari level orang orang yang berpartisipasi rata rata memiliki level tinggi yaitu 120-190. Lalu dari empat anggota guildnya, jujur saja yang bisa di andalkan hanya ia dan Lilia.
Sedangkan Chloe dan Ravaria masih membuat Evan ragu dengan kemampuan mereka. Bukannya Evan menganggap Chloe lemah, tapi untuk kali ini musuh musuh yang berpartisipasi memiliki level yang tinggi bukan main.
Jika ia sial dan berhadapan dengan orang yang levelnya jauh lebih tinggi darinya maka chance kemenangan bisa di bilang tidak ada.
Walaupun Chloe sendiri dalam sebulan itu sudah berkembang pesat dan berkat buku sihir kelas atas miliknya membuat Chloe akhirnya memilik beberapa kartu AS yang sangat kuat.
Tapi balik lagi karna musuh yang mengikuti kompetisi ini adalah orang orang kuat yang mewakili banyak kerajaan dan guild besar membuat Evan sedikit waspada.
Apalagi Ravaria yang sampai sekarang masih belum bisa mengontrol kekuatannya, mungkin muridnya itu sangat kuat karna menyalin kekuatan darinya, tapi Ravaria sendiri hanyalah sebuah roh yang tak memiliki banyak ingatan dan itu menjadi sebuah kelemahan tesendiri.
Di lapangan pertandingan, kini dua wanita cantik dan sexy itu saling jual beli serangan. Terlihat serangan mlik Lilia lebih kuat dan dapat menghancurkan serangan milik Vivian.
Tapi mau bagaimanapun ia berusaha, tetap saja setelah ia mengalahkan Vivian, wanita itu muncul kembali dengan tubuh baru dan itu terus berlanjut sampai Lilia mulai kehabisan mana dan kini sudah hampir satu jam mereka jual beli serangan.
“Apakah Raja Iblis dari ras vampire hanya seperti ini?”
__ADS_1
“Ayolah hibur aku lebih lama lagi, gunakan mode raja iblismu yang kamu bangga banggakan itu.”
Kini Vivian yang berdiri dengan anggun tanpa lecet sedikitpun mulai memprovokasi Lilia.
Liila yang di buat bingung dan stres harus bagaimana akhirnya memutuskan memasuki mode raja iblis.
Ia akhirnya memutuskan serius dan akan mengalahkan wanita itu bahkan sebelum tubuhnya muncul kembali.
Tapi sebelum ia mengaktifkan mode Raja iblis Lustfull king Asmodeus yang merupakan skill andalanya, Evan yang melihat Lilia hampir termakan provokasi musuhnya langsung berbisik padanya melalui lorong jiwa mereka yang sebelumnya sudah terhubung.
“Lilia, jangan buang buang manamu, aku saat ini sedang menganalisa kemampuan wanita itu jadi tunggu sampai itu selesai dan jangan termakan perkataanya.”
Sesaat setelah mendengar suara tuanya itu, Lilia merasa dia sudah gagal dan sedikit lengah. Vivian yang menyadari itu langsung menggunakan salah satu sihir andalan miliknya.
“Toxic Flower Bane.”
Lalu di sekeliling Lilia muncul bunga aneh setinggi dua meter berwarna orange kemerahan yang mengeluarkan racur super mematikan.
Dalam sekejap sekeliling Lilia di penuhi oleh Racun dari tanaman itu. Lilia yang sadar dengan udara yang sudah tercampur racun langsung mencoba menghindar dengan mengeluarkan serangan angin dan menjauh dari area racun tersebut.
“Whirwind.”
Seketika itu tornado besar muncul dan menerbangkan bunga besar itu beserta seluruh racun yang ada.
Melihat lagi lagi sihir miliknya tak membuahkan hasil. Vivian akhirnya berniat mengunakan kekuatan pamungkasnya.
“Jika kau tetap tak mau menggunakan mode raja iblismu maka biar aku akhiri pertarungan ini sekarang juga.”
Kini terlihat di wajah Vivian yang putih berserih itu mulai bosan dan sepertinya wanita yang di juluki sebagai salah satu dari penyihir abadi itu akan melancarkan serangan pamungkasnya.
Dalam seketika Vivian mengangkat kedua tangannya ke atas langit sambil memegang tongkat yang selama itu sudah ia pegang.
Tongkat itu dengan cepat mengeluarkan dan menyalurkan seluruh energi yang Vivian keluarkan dan saat itu juga langit yang memang sedikit mendung akibat sihir milik Lilia di awal tadi mulai memancarkan cahaya berwarna emas yang sangat hangat bagaikan matahari senja di sore hari.
Para penonton dan ras lainnya yang merasakan efek cahaya hangat itu merasa kalau cahaya itu membuat tubuh mereka yang kelelahan menjadi berenergi dan bersemangat kembali.
“Apa apaan ini...”
“Wah tubuhku seperti di berkati.”
“Benar, semua lelah dan keringatku hilang seketika."
“Ahhhh...ini benar benar nikmat.”
__ADS_1
Terlihat para penonton mulai merasakan efek yang luar biasa pada tubuh mereka.
Tapi itu berbanding terbalik dengan mereka yang berasal dari ras iblis.
Saat langit berubah warna, seketika itu juga seluruh ras iblis merasakan seluruh mana di tubuh mereka seperti di tarik keluar secara paksa.
“Sialan, apa apaan wanita itu...”
“Di-dia menghisap mana kita keluar.”
“Hoi, dasar brengsek, apa yang kamu lakukan, cepat hentikan sihir aneh ini.”
Di arah bangku penonton banyak penonton ras iblis yang merasakan efek mengerikan lalu mana dan energi kehidupan mereka di tarik keluar secara paksa.
Bahkan pelindung tingkat atas yang harusnya melindungi mereka yang ada di dalam seperti tak ada gunanya ketika cahaya super terang dan hangat itu menerangi seluruh area Freedom Arena.
Saat ini jika bukan karna efek pelindung tingkat tinggi yang melindungi tempat itu, mungkin efek yang di timbulkan akan jauh lebih parah lagi.
“Sialan, penyihir itu...”
“Sepertinya gelar salah satu dari lima penyihir abadi dengan julukan “Penyihir senja” bukan hanya pajangan saja ya.”
“Benar, bahkan auraku saja tak dapat menahan efek dari sihir miliknya.” Ucap beberapa bangsawan dari ras iblis.
Terlihat beberapa bangsawan bahkan raja dari berbagai ras iblis mulai merasa resah karna saat ini mereka juga bisa merasakan efek sihir skala besar itu bahkan dari dalam ruangan vip sekalipun.
Kini lebih parahnya lagi Lilia yang menjadi tarket utama cahaya itu sekarang sedang di sinari oleh cahaya super terang dari langit itu tanpa bisa melakukan apa apa. Ia di buat tak bisa bergerak.
Walau sudah menahannya dengan pelindung mana yang berelemen kegelapan, tapi pelindung itu justru menghilang secara perlahan seperti di serap oleh cahaya terang dari atas langit tersebut.
Melihat itu Evan sedikit panik dan bertanya pada sistem apakah sudah selesai menganalisa tubuh Vivian.
“Sistem, apakah belum selesai?”
[Sebentar lagi tuan, karna penghalang ini sistem sedikit sulit untuk menganalisa tubuh wanita itu]
Melihat Lilia yang merasa kesakitan karna cahaya itu, Evan yang melihat dari ruang vip di buat tak berdaya. Bahkan jka dia ingin menolong Lilia, tak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain menunggu jawaban dari sistem.
“Sialan....cahaya apa sih ini, kakak bertahanlah.”Alucard yang melihat kakaknya kesakitan karna cahaya itu mulai berdiri dan terlihat khawatir.
Sedagkan Evan hanya bisa duduk dan menunggu hasil analisa tubuh Vivian dari sistem.
Sampai akhirnya suara yang ia tunggu tunggu itu mulai terengar.
__ADS_1
[Lapor tuan, sistem telah selesai menganalisa tubuh Vivian]
“Baguslah cepat beritahukan padaku.....”