
Rey menatap Jiang Xia dan ingin dia untuk membantunya melawan Deng Yuro. seperti yang diharapkan dari Rey, Jiang Xia dengan cepat faham dan bersiap bertarung.
"Aku tidak tahu siapa kau, tapi aku berterima kasih karena sudah mau membantuku" Kata Jiang Xia sambil tersenyum yang membuat Rey sedikit terpesona.
'Wanita ini sangat cantik, aku bahkan sampai terpesona oleh wajahnya' Gumam Rey sambil tersenyum.
"Aku terima ucapan terima kasihmu bila kau selamat dari pengepungan ini" Balas Rey dengan cepat mengeluarkan pedangnya lagi.
"Bagus karena kalian ingin mati aku akan mengabulkannya!!" Teriak Deng Yuro mengeluarkan Roh Bela Dirinya yang berbentuk makhluk humanoid dengan dua pedang ditangannya.
'Xuan Tingkat Empat' Gumam Rey sambil sedikit terkejut namun, Rey masih menganggap bisa mengalahkannya.
"Pria bertopeng aku akan melawan Deng Yuro" Kata Jiang Xia kemudian memunculkan Roh Bela Diri berbentuk makhluk humanoid dengan sayap yang tidak begitu panjang dan nampak telinga yang runcing.
'Xuan Tingkat Lima' Gumam Rey lagi kemudian tersenyum. Jiang Xia memiliki kultivasi Ranah Keilahian Bintang Sembilan dan Deng Yuro hanya berada di Ranah Keilahian Bintang Delapan.
Jiang Xia kini melawan Deng Yuro dengan cepat semua orang mulai bertarung lagi dan Rey dengan cepat mengincar musuh yang paling lemah terlebih dahulu.
"24 Lighning Slash".
Rey dengan cepat menebas dua orang yang berada di Ranah Keilahian dengan sangat cepat dan dua kepala menggelinding. dua orang yang tertebas dengan cepat mati dan nampak jejak petir.
Rey bisa dengan mudah membunuh dua orang itu karena, Rey menyerang secara diam-diam dan menebas mereka saat ingin mengeluarkan Roh Bela Diri.
"Bajingan ini menyerang diam-diam, murid Sekte Api Membara ikuti aku" Perintah seorang pemuda lain yang nampak seperti pemimpin murid Sekte Api Membara.
Rey kini dikelilingi oleh tujuh murid dari Sekte Api Membara dan nampak mereka sangat ingin membunuh Rey. Rey dengan cepat melesat kearah salah satu murid Sekte Api Membara namun sialnya pemimpin murid Sekte Api Membara dengan cepat menyeerang Rey dengan api yang kuat.
"Api Biru Malapetaka".
Api berwarna biru dengan cepat menyebar kearah Rey dan membuatnya kepanasan. Rey sendiri dengan cepat mengeluarkan auranya namun sayang sekali ia tidak bisa menghentikan konaran api disekitarnya.
"Jangan berfikir bisa lari dari Api Biru Malapetaka, kau akan sia-sia saja bila berfikir bisa membinasakan Api Biru Malapetaka, inilah akhirmu kawan" Ejek pemuda itu sambil tertawa.
__ADS_1
Pemuda itu memiliki kultivasi Ranah Keilahian Bintang Tujuh dan orang lainnya berada di Ranah Keilahian Bintang Dua sampai Bintang Lima.
Mereka menyerang Rey dengan Api Biru Malapetaka terus menerus dan membuat Rey harus bertahan. Rey saat ini bertahan dengan membuat pelindung dari energi Qi dan terus menerus energi Qinya terkuras.
'Sepertinya tidak ada pilihan lain' Gumam Rey.
Rey dengan cepat mengeluarkan Roh Bela Dirinya, Pedang Dewa Petir, Kilat Zisi, semua orang sedikit terkejut karena Rey memiliki Roh Bela Diri Xuan Tingkat Enam.
Rey dengan cepat menebas kobaran api biru itu, tidak ada yang menyangka bahwa api biru itu dengan cepat tertebas dan perlahan-lahan menghilang.
"B-bagaimana mungkin bisa padam" Kata pemuda itu tidak percaya karena api biru malapetaka yang dinilai tidak akan bisa dipadamkan dengan mudah.
Rey tersenyum jahat saat melihat semua orang menatapnya dengan ekspresi bingung dan beberapa nampak takut.
"Jangan takut, dia hanya berada di Ranah Surga dan kita bertujuh berada di Ranah Keilahian" Teriak pemuda itu kemudian semua orang mengangguk dan bersiap menyerang Rey.
"Yare-yare, kalian benar-benar gigih dalam ingin membunuhku" Kata Rey dengan rendah dan bersiap menebas para murid Sekte Api Membara.
'Xuan Tingkat Tiga' Gumam Rey rendah.
"MATILAH!!" Teriak pemuda itu kemudian seluruh badannya menjadi api dan yang lainnya juga dengan cepat melesat kearah Rey.
"Terlalu dini untuk mengatakan itu" Balas Rey kemudian bersiap melawan para musuh. Rey nampak cukup kesulitan untuk menangkis seluruh serangan dari murid Sekte Api Membara dan nampak terkadang Rey terbakar.
"24 Lighning Slash".
Rey dengan cepat menebas para murid Sekte Api Membara, namun masih belum sampai untuk membunuh mereka dan hanya menggores.
"Kicauan Api".
Nampak api seperti ombak dengan cepat melesat kearah Rey dengan ganas dan Rey sendiri tertekan karena ini merupakan serangan gabungan dari tujuh Ahli Ranah Keilahian.
"Heaven Splitter".
__ADS_1
Dengan cepat Rey menebas dengan bentuk sabit dihadapan ombak api itu, namun Rey juga mengonsumsi banyak energi Qi dan mungkin ia hanya bisa melakukannya selama tiga kali lagi.
Ombak api dengan cepat terbelah oleh tebasan Rey, namun Rey tidak berhenti dari situ saja karena melihat murid Sekte Api Membara masih terfokus dengan ombak api yang terbelah, Rey dengan cepat menebas beberapa murid Sekte Api Membara.
"24 Lighning Slash".
Rey dengan cepat menebas tiga murid Sekte Api Membara dan membuat pemuda seperti pemimpin itu marah. Rey dengan cepat mundur beberapa langkah dan mencoba untuk mencari celah lagi.
Namun disisi Jiang Xia nampak seluruh murid Sekte Hati Es telah dibantai oleh murid Aula Kekosongan dan menyisahkan Jiang Xia yang terluka.
Rey dengan cepat menuju Jiang Xia yang terluka untuk membantunya, Rey sebenarnya bukan pahlawan yang akan menyelamatkan sembarangan orang namun Rey tidak ingin seorang yang secantik giok mati dihadapannya dan dirinya tidak bisa melakukan apapun.
"Pria bertopeng apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jiang Xia yang melihat Rey sudah berada didekatnya dan Jiang Xia sendiri terengah-engah.
"Membawamu pergi" Balas Rey singkat kemudian menggendong badan Jiang Xia.
"Kyaa".
Jiang Xia kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rey, namun dia memahami bahwa dirinya terluka dan tidak bisa berlari cukup cepat.
Rey dengan cepat berlari sambil menggendong Jiang Xia dan Aula Kekosongan beserta Sekte Api Membara dengan cepat mengejar Rey.
"32 Pedang Kekosongan".
Deng Yuro dengan cepat melesatkan 32 pedang dengan bentuk aneh dan menancap dipunggung Rey. "Aaa!!!!". Teriak Rey kesakitan dan mencoba untuk menahan.
"Lepaskan aku, pergilah ini urusanku, pedang itu selalu mencabik-cabikmu bila tidak mencabutnya" Kata Jiang Xia yang nampak kawathir.
Rey tersenyum kecut namun ia tetap terbang dengan cepat melarikan diri dari Deng Yuro beserta yang lainnya dan memilihi untuk kabur.
To Be Continued
Makasih Readers yang sudah membaca Novel saya jangan lupa Like sama Komen dan Favorit ya Readers makasih 😁😁
__ADS_1