
.
.
.
Sampai di sekolah, kali itu Ira tidak ikut dengan Iki ke parkiran motor dia turun di gerbang depan.
Berjalan menuju kelasnya di lantai dua, sesepi apapun sekolah tetap saja akan terlihat ramai. Ada dari mereka yang sedang duduk berkumpul di depan kelas. Makan di kantin, diam di parkiran, nongkrong di warung belakang dan sisanya masih di perjalanan. Mereka semua akan masuk jika bel sekolah sudah berbunyi.
Ira termasuk murid yang memiliki rasa percaya diri. Meskipun harus berjalan jauh ke kelas tidak perlu ada orang untuk menemaninya sekalipun dia lewat di kelas senior yang selalu memberi tatapan sinis tetapi ira selalu biasa saja. Terkadang jika moodnya buruk dia selalu menatap balik mereka yang pada akhirnya di hari esok akan ada sindiran-sindiran pemicu terjadinya percekcokan kecil.
Menurut Ira kenangan masa SMA yang akan melekat itu bukan hanya kenangan indah dan kenakalan tetapi adanya pertengkaran antara sesama terutama dengan senior di sekolah bahkan mereka yang memiliki keberanian tinggi bertengkar dengan guru.
Itu akan menjadi cerita yang sangat menarik ketika telah lulus sekolah nanti.
"Kiwww!" teriak seorang lelaki dari lantai 2.
Menatap ke atas ternyata Ari.
"Apa?" tanya Ira.
"Cantik?" menggodanya sambil tersenyum.
"Kiw ah kiww!" balas seorang pria di seberang kanan Ira (dia adik kelas tapi masih sepupu jauh Ira).
"Apasi gak jelas?" balas Ira tertawa.
"Bentar (melirik jam tangan pukul 06:35) tumben Ari udah ada di atas?" gumam Ira.
Setelah menaiki tangga melewati beberapa kelas. Terlihat dari kejauhan Anggi dan Ari berdiri di depan pintu menunggu Ira.
"Pagi (menghampiri memeluk Ira)." sapa Anggi.
"Bentar, mana Iki? ko sendiri? berangkat bareng kan?" sambungnya bertanya.
"Iya Iki di belakang, gue gak ikut ke parkiran males." balas Ira.
Ari memegang tangan Ira menariknya ke dalam kelas dan duduk di kursi pojok paling belakang.
"Bentar bentar, ada apa ini? Udah mau go public hubungan?" tanya Anggi mengikuti.
"Apasi Nggi? ada urusan nih tuh pacar lo udah dateng!" balas Ari sambil menunjuk pada seorang pria yang masuk ke kelas.
"Iya deh terserah kalian!" balasnya pergi sembari menghampiri pacarnya.
"Ra gimana? semalam udah di BC ada nginvite gak?" tanya Ari penasaran.
"Iya ada, tapi belum ngping!!! " balas Ira.
"Hhmmm gimana iya?" tanya Ari terdiam.
"Aku gak tau apa-apa sama hubungan ini cowok sama pacar lo, tapi foto bareng yu gue mau posting siapa tau ada sesuatu." ucap Ira.
"Iya yu lagi pula ibu cantik hari ini." Ari tersenyum menggoda.
"Oh jadi hari-hari sebelumnya aku jelek gitu?"
"Bukan, cuma hari ini lebih cantik."
"Masa?" balas Ira tersenyum meledak.
"Kau tidak cantik, tapi aku tidak bisa memilikimu."
"Ari emang?"
__ADS_1
"Asik drama romantis akan di mulai." ucap Iki yang ternyata diam-diam berdiri di belakang Ira.
"Lo nguping Ki?" tanya Ira menengok.
"Tadinya nguping dikit, tapi tanggung haha." Iki tertawa.
"Ki fotoin kita berdua dong, mau ganti foto profil BBM mumpung akur." ucap Ira memberi ponsel pada Iki.
"Perasaan tiap hari juga akur? sini (membuka kamera) 123 krek! " Iki memotret.
Beberapa gambar sudah di ambil hampir selesai.
"Ikutan dong?" ucap Anggi duduk di tengah-tengah Ira dan Ari.
"Ikutan sini Ren!" Anggi menarik tangan pacarnya dia bernama Rendi.
"Curang lo semua, kamera depan aja lah selfi gue juga mau ikuta." ucap Iki.
"Bentar, ko gak ngajak-ngajak sih." ucap dua perempuan yang baru memasuki kelas.
Menghampiri ikut duduk bersama mereka. Di antara beberapa kelas, kelas Ira yang paling menarik karena dari 30 murid hanya ada 5 perempuan. Anggi, Ira, Susan, Santi dan Dewi sisanya laki-laki.
"Bentar Ki." ucap Dewi.
Mereka semua duduk berdekatan.
"123, 123, 123, 123." (Iki memotret).
"Iki mah ngasal, udah udah!" ucap Ira.
Melihat beberapa foto bersamaan.
"Anjir gue belum siap, Iki sialan lo!" ucap Anggi.
"Gue juga hih." sambung Santi.
Satu persatu murid masuk ke dalam kelas memenuhi ruangan. Beberapa dari mereka ada yang sudah mencoret buku dan duduk fokus pada hp masing-masing.
*
*Ping!!!* Pesan masuk.
Ira melihat hpnya lalu di tutupi oleh buku karena sekarang masih jam pelajaran. Ternyata benar pesan itu dari pria yang di tunggu-tunggu.
"Iya"
"Orang mana ka?" Tanyanya.
"Masih di bawah atap langit yang sama hehe." balas Ira sengaja membawa perkataan yang mengarah pada candaan.
"Hehe masih dalam planet yang sama juga iya?"
Ira mengganti foto profilnya yang bersama dengan Ari mungkin pria itu akan tau sesuatu.
"Foto profilnya langsung di ganti ka? kalo punya pacar gak maksain buat balas ko hehe." ucapnya.
"Oh, gak papa dia bukan pacar juga cuma temen sekelas."
"Tapi keknya kenal deh sama cowonya, Ari bukan?
"Iya itu Ari, ko tau? kenal iya?" tanya Ira sangat penasaran.
"Gak kenal cuma itu temennya pacar."
"Bentar, pacar kamu Rani (nama pacar Ari) bukan?"
__ADS_1
"Iya. Ko tau? kenal iya?"
"Kenal sih enggak, cuma dia kan temennya Ari. Kepo nih udah lama pacarannya? hehe." tanya Ira.
"Oh mereka emang sedekat itu iya? enggak sih baru satu bulan paling."
"Oh iya, aku di sekolah dan lagi jam masuk juga nanti lagi iya?"
"Iya silahkan nanti aku chat lagi."
Ira terdiam bingung sendiri. Bagaimana mengatakannya pada Ari, jika tidak di katakan kasihan Ari.
"Haha tumben iya gue punya perasaan kasihan sama orang lain, padahal gue gak pernah ngasihani diri sendiri!" ucapnya dalam hati.
"Apa Ra?" tanya Anggi yang sebangku dengannya.
"Enggak."
Kali ini dia akan mengatakan langsung pada Ari nanti setelah pelajaran selesai. Kembali memperhatikan guru yang sedang menjelaskan meskipun dalam hati dia sedang bicara sendiri.
"Itulah mengapa cinta itu menyakitkan."
Beberapa menit berlalu bel berbunyi jam pelajaran telah selesai, guru keluar murid-murid langsung berhamburan keluar mengosongkan kelas, hanya ada beberapa orang saja. Kebetulan sekali setelah ini jam pelajaran kosong karena gurunya tidak akan hadir dan tidak memberikan tugas
"Sayang kantin yuk?" ajak Anggi.
"Duluan aja!"
Ari masuk ke kelas Ira menghampirinya.
"Ra" sapanya duduk di samping.
"Ada kabar Ra?"tanyanya penasaran karena memang tidak ingin kabar yang lain selain dari kepastian masalahnya saat ini.
"Iya ada."
"Mana gue liat?"
"Gak bakalan ngerti soalnya ada percakapan bercandaan, mending gue jelasin langsung aja."
"Ri menurut gue mending lo putusin aja tuh cewek lu, jadi cowok ini emang pacarnya. Mereka udah pacaran sekitar satu bulanan, terus ceweknya bilang kalo misalnya lo itu temen deketnya." Ira menjelaskan.
Terlihat jelas raut wajah Ari langsung berubah kecewa.
"Sini gue liat hp lo." ucapnya seolah tak percaya dan ingin meyakinkan.
Ira memberikan hpnya pada Ari dan dia melihat semua pesan.
"Tadinya gue berusaha buat yakin kalo ini gak bener, tapi iya udah."
"Sabar iya Mas?"
"Iya ibu negara" ucap Ari mencubit pipi Ira lalu beranjak dari duduknya.
"Makasih iya." sambungnya sembari berjalan meninggalkan Ira keluar kelas.
Ira hanya terdiam melihat pria yang sering menggodanya itu sedang dalam masalah percintaan yang membuat hatinya patah. Di umur 17 ini memang sedang banyak-banyaknya masalah entah itu dari keluarga, pertemanan dan percintaan.
Kata orang biasanya yang paling membuat seolah dunia runtuh adalah masalah keluarga terutama percintaan kisah kasih di sekolah. Apapun masalahnya, saat inilah yang akan membuat masa remaja itu tumbuh dan bagaimana mereka akan menghadapi proses pendewasaannya masing-masing.
Itulah mengapa peran orang tua dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh pada pertumbuhan sikap anak. Banyak anak yang tertutup tentang semua masalahnya pada orangtua karna tidak nyaman untuk berbicara. kadang juga ada anak yang ingin bercerita tetapi orangtuanya yang sulit untuk di ajak berbicara.
Setelah mengatakan semua masalahnya orang tua bukannya memberi masukan yang tepat dan memberi support tetapi ada dari mereka yang justru menyalahkan anak. Hingga nantinya anak jadi malas untuk berbicara terutama tentang konflik pribadi.
Orang bilang anak di usia balita adalah masa emas-emasnya, sebagai orangtua mereka harus berhati-hati dalam mendidik dan memperlakukan, karna anak bisa merekam baik apa yang telah orangtuanya lakukan dan menirunya nanti.
__ADS_1
Tapi justru menurut ira masa yang paling emas adalah masa remaja. Dimana remaja selalu ingin menggali apa yang sedang mereka cari tau. Kadang masalahnya bukan hanya di anak tetapi dari orangtua. Akan tetapi orangtua tak ingin tersalahkan untuk masalah yang anaknya lakukan sehingga mereka sendiri yang menyadari dan mengatakan bahwa anak mereka nakal dan sulit di atur begitu pula anak akan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak bisa mengerti atau mendengarkan tetapi hanya bisa menyalahkan.
***