
.
.
.
Sampai di kosan terlihat Dewi dan Susan sedang duduk di depan pintu menunggu mereka datang.
"Dari mana Ra?" tanya Dewi.
"Aku kan dari tadi di kelas." duduk sambil membuka sepatunya.
"Beneran? kirain bareng Ari."
"Ari kerja Dew."
Adzan Ashar berkumandang.
"Mau makan apa guys?" tanya Susan pada semuanya.
"Guemah apa aja San, sate juga boleh.
Haha." jawab Ira masuk ke kamar Susan membuka kerudung dan menyimpan tasnya di samping ranjang.
"Beneran San, gak papa sate juga haha." tambah Anggi mengikuti Ira ke dalam.
Ira membuka satu persatu kancing bajunya, "Ada kaos gak?"
Anggi membuka tasnya membawa kaos pendek polos berwarna ungu. "Nih pake!"
"Makasih sayangku." Ira mengganti dengan kaos lalu menggantung atasan seragamnya di gantungan.
"Beneran mau makan apa nih?" tanya Dewi yang duduk di depan kamar.
"Kita masak gimana?" jawab Anggi.
"Nah,,, kalo itu gue males Nggi. Beli aja lah!" Ira rebahan di atas ranjang.
"Gimana kalo beli seblak?" tanya Susan.
"Itu gue mau." jawab Anggi sambil memainkan ponselnya dan bersandar pada paha Ira.
"Makan seblak sama nasi gitu? yang bener aja?" tanya Dewi berdiri di ambang pintu.
"Terus mau makan apa? gue udah laper!" tanya Susan.
"Udah, udah,, karena gue juga udah laper mending masak mie instan aja!" ucap Ira memutuskan.
"Iya udah,, gue beli. Mau ikut gak?" tanya Susan pada semuanya.
"Sana deh,," Ira menutupi wajahnya dengan bantal.
"Sama gue aja San." ucap Dewi.
Mereka berdua pergi meninggalkan Ira dan Anggi di kamar kos dengan pintu terbuka.
*
"Nggi?" ucap Ira di keheningan.
"Apa Ra?"
"Sekarang gue merasa takut kehilangan Ari Nggi."
Anggi tersenyum mendengar apa yang baru saja Ira katakan. Meskipun dia tahu Ari bukan lelaki baik, tapi dia merasa senang dan yakin bahwa Ari akan berhenti menjadi lelaki brengsek yang selalu mempermainkan wanita ketika bersama dengan Ira.
"Ko malah senyum?" menatap Anggi.
"Haha enggak sih,,, itu normal Ra kalo lo udah beneran jatuh cinta sama dia."
"Tapi gue takut Nggi, gue takut berharap lebih sama Ari."
"Berharap lebih gimana maksudnya?"
"Berharap dia bisa menerima gue apa adanya, jika dia tidak bisa lalu ninggalin gue gimana Nggi? saat ini gue benar-benar menyadari bahwa dia satu-satunya obat untuk segalanya. Dia penenang."
"Gue gak ngerti maksud lo, tapi denger! meskipun Ari bukan pria yang baik, tapi dia mencintai lo. Percayalah, dia akan menerima baik buruknya lo. Lagi pula kita sudah sama-sama dewasa sekarang, sadar gak sih? bentar lagi lulus sekolah. Kita bukan anak kecil lagi." menepuk tangan Ira.
"Apa hubungannya sih?" dengan raut wajah kebingungan sambil tersenyum.
"Jika memang dia mencintai lo, dia gak akan mungkin ninggalin lo karena tidak bisa menerima baik buruknya lo!"
"Hmm,,, mungkin waktu yang singkat. Tapi gue merasa apa yang telah kita lewati ini akan menjadi kenangan yang hebat nantinya. Boleh gue jujur?"
"Apa Ra?"
__ADS_1
"Sejauh ini gue merasa, hanya dia yang mampu membuat diri ini jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan ikhlas."
"Ari?" Anggi benar-benar merasa senang tetapi dia berusaha menutupinya.
"Dia pria yang sederhana. Tapi menurut gue,,, dia terlalu istimewa untuk di ceritakan secara sederhana." Ira tersenyum salah tingkah dengan perkataannya sendiri.
"Waahh sepertinya ada kisah cinta yang manis di sini,, haha."
"Seriusan Nggi. Untuk gue,, dia adalah kesederhanaan semesta yang sulit di terjemahkan oleh logika karena dia terlalu istimewa." Ira menutupi senyumnya dengan satu tangan.
"Ari? seriusan? hahaha." Angi beranjak dari rebahannya duduk tertawa.
"Iya,, ternyata gue juga bisa lebay sama urusan cinta hahaha."
"Hahaha!!!" mereka berdua tertawa dengan terbahak-bahak sampai tidak sadar Dewi dan Susan telah kembali.
"Apa sih? ketinggalan nih." ucap Susan masuk ke kamar di susul oleh Dewi.
"Tau gak San?" jawab Anggi.
"Apa?
"Ira bilang Ari pria yang hahaha." Anggi tertawa.
"Haha apa sih penasaran gue? malah ngikut ketawa duluan."
"Apa sih Ra kepo?" tanya Dewi.
"Enggak-enggak sumpah haha. Udah! yuk masak?" Ira beranjak dari rebahannya lalu mereka semua menuju ke dapur di samping kamar kos.
Setelah masak mie dan mereka semua makan, satu persatu mandi secara bergantian. Mereka sengaja mempercepat waktu luang agar bisa saling bercerita.
**
Tidak terasa waktu sudah sore. Menjelang senja mereka semua pergi ke Indomaret belanja cemilan dan makanan untuk bekal bergadang nanti malam.
Setelah berkeliling melewati alun-alun kota mereka kembali. Jam menunjukkan pukul 18:12 mereka sampai di kosan. Susan dan Ira duduk di depan kamar kos menunggu Anggi dan Dewi yang sedang melaksanakan sholatnya, lalu bergantian. Karena tidak ada alasan untuk menolak ketika ada Anggi di sana.
"Mau di mana?" tanya Dewi menentukan kamar siapa yang akan mereka jadikan tempat bercerita.
"Udah di sini aja!" ucap Ira bermaksud di kamar Susan.
"Iya udah, bentar gue mau ambil bantal." Dewi pergi ke kamarnya dan kembali membawa bantal, guling dan selimutnya.
"Lo semua tidur di sini kan? gue ikut lah!" ucap Dewi.
"Mulai nih?" tanya Susan.
"Iya boleh,, tapi beresin cowo dulu biar gak ganggu!" jawab Ira rebahan di lantai.
"Oh iya benar." jawab Anggi.
Keadaan menjadi hening karena fokus pada ponselnya masing-masing. Hanya terdengar suara kipas angin di sana.
Setelah selesai, mereka semua menyimpan ponselnya dan saling bertatapan. Ira duduk bersandar pada dinding, lalu Anggi yang memeluk lutut ira, begitu pula Dewi duduk bersandar pada lemari baju dan Susan yang duduk tegak menatap ketiga temannya itu.
"Hahahaha!!" mereka semua tertawa melihat keadaan yang serius itu.
"Jadi siapa yang mau mulai duluan?" tanya Ira.
"Lo aja Ra!" jawab Dewi.
"Gue akan membuka diri sampai tidak tersisa sedikitpun rahasia lagi, tapi gue bicara terakhir. Silahkan."
"Kenapa harus terakhir?" tanya Susan.
"Karena kisah gue yang paling panjang disini! jadi kalian duluan." ucap Ira tersenyum mengangkat sebelah alisnya.
"Gue bingung masa harus cerita lagi, soalnya udah sama Ira haha." ucap Anggi.
"Apa? kan kita gak tau, iya Dew?"
"Dengar! apa yang akan gue ceritain di sini itu realita, membuka diri, membuka rahasia,,, begitu juga kalian. Tapi inget ini! sesakit dan seperih apapun nanti, gak boleh ada air mata. Kita sudah dewasa, have fun guys! setuju iya?" ucap Ira.
"Oke deal!" jawab susan.
"Jadi apa Nggi?" tanya Dewi.
"Sebenernya gue juga udah cerita sama Anggi haha." ucap Ira.
"Ihhh curang lo berdua!" jawab Susan dengan raut muka kesal.
"Tapi yang gue ceritain ke Anggi itu masalah keluarga, bukan pribadi. Anggi juga belum tau gue mau cerita apa?"
"Oke denger! gue aja duluan,, karena emang dari kemarin udah pengen bilang." ucap Dewi.
__ADS_1
Mereka semua menatap Dewi menunggu apa yang akan dia katakan.
"Lo semua udah tau belum kalo gue deket sama Beni?"
"Gue pikir sama Sandi, soalnya gue liat lo sama dia terus!" jawab Ira.
"Gue udah denger dari Rendi." jawab Anggi.
"Heum,,, gimana iya?" Dewi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jadi beberapa hari lalu gue pergi bareng sama Beni dan temen-temennya."
"Pergi kemana?" tanya Susan.
"Pergi ke karaoke lalu minum bareng sampe gue sedikit mabuk."
"Cerita aja Dew gak usah setengah-setengah!" ucap Ira.
"Gue mabuk, setelah pulang dari karaoke gue nginep di penginapan bareng Beni. Gue tidur dan berhubungan dengannya. Kenapa gue mau cerita? kali ini agak lain, gue ngerasa takut karena saat itu kita gak pake pengaman dan Beni juga setengah mabuk. Dia nggak ngontrol dirinya, gue takut hamil sumpah. Jadi gimana?"
Ira, Anggi dan Susan saling bertatapan.
"Hamil juga kan ada bapaknya." ucap Ira dengan dinginnya.
"Bukan jawaban seperti itu yang ingin gue denger!"
Ira tersenyum menatap Dewi yang kebingungan. "Lo udah haid belum?"
"Belum sih,, ngelakuinnya juga 2 hari yang lalu."
"Iya udah belum apa-apa Dew,,," ucap Anggi.
Mereka semua berbalik menatap Anggi.
"Kenapa? bener kan?"
"Iya sih bener yang di bilang sama Anggi. Gini aja Dew, tunggu satu mingguan lo coba tespek." Susan memberi saran.
"Iya gue tunggu,, soalnya gue ngerasa takut karena sekarang itu udah masuknya waktu haid gue."
"Telat beberapa hari atau bahkan minggu itu belum tentu hamil, gue juga sering." ucap Anggi.
"Tapi jujur. Gue sukanya bukan sama Beni."
"Terus siapa?" tanya Ira.
"Sandi!"
"Heum,,, sama Beni gimana?"
"Iya deket juga sih haha."
"Dewwww,, inget karma!" ucap Anggi melempar bantal ke arahnya.
"Tapi Dew, kalo bisa dua kenapa haru satu! haha." Ira tertawa menatap Anggi.
"Raaa,, lo juga sama aja!" Anggi memukul lutut Ira.
"Lo harus bisa memutuskan kalo sama Beni iya Beni. Kalo sama Sandi iya Sandi. Jangan ngasih harapan. Gak perlu merasa canggung juga, kita semua kan berawal dari temenan." ucap Anggi.
"Iya gue ngerti,,,"
"Tapi ngomong-ngomong, lo karaoke gak ngajak kita Dew? udah lama banget." ucap Susan.
"Iya lama iya?" sambung Ira.
"Gue di ajak Santi sih bareng sama cowoknya."
"Jadi kapan pergi karaoke lagi? pengen rasanya minum sampai setengah mabuk lalu duduk di tepi pantai merasakan angin laut."
"Besok Santi pulang karena gak ada orang yang bisa datang ke rapatnya. Besok malem gimana?"
"Boleh tuh,, udah lama juga." jawab Ira.
"Goblok lo semua!" ucap Anggi bersandar pada dinding.
"Apa sih sayang?" Ira tersenyum menatap Anggi.
"Kalo lo mau ikut gak masalah ko Nggi?" ucap Susan.
"Iya,, asal jangan ngikutin apa yang kita lakuin aja."
"Enggak deh,, udah Dew itu aja masalah lo?"
"Udah sih,, gak ada masalah lain sama rahasia lain juga kan kalian udah tau semuanya."
Mereka semua terdiam saling menatap sambil menunggu siapa yang akan bercerita.
__ADS_1
*****