
.
.
.
Langit yang cerah membuat pagi itu sudah terasa sangat panas, setelah selesai makan, Ira langsung mandi karena dia akan pulang untuk menemui kaka dan berpamitan kepada keluarganya.
"Gak bawa baju ganti kan? buka aja lemari pake baju gue," ucap Susan yang bersandar pada pundak Teguh dan mereka berdua sedang menonton film.
"Gak usah lah, mau pulang gue"
Ari yang sibuk dengan handphonenya sering kali menatap Ira lalu melihat hpnya kembali, seperti itu berulang-ulang kali. Ira yang sebenarnya merasa sangat kesal dan ingin mengetahui sedang apa pria itu, akhirnya bersikap bodo amat, dia akan membalasnya dengan meminta oranglain mengantarkannya pulang tidak peduli Ari akan mengijinkannya ataupun tidak.
Setelah selesai berdandan dan membereskan barang bawaannya, Ira duduk di samping tv menelpon Wahyu.
Tuut tuut
"Iya?" pria itu menjawabnya dan Ira langsung beranjak ke teras kosan melewati Ari yang menatapnya.
"Dimana?"
"Sekolah, kenapa bu?"
"Belajar gak?"
"Enggak, guru sibuk ngurusin kalian yang mau berangkat PKL kan?"
Ari berdiri di hadapan Ira menatapnya, awalnya wanita itu merasa takut dan ragu ketika nanti justru Ari yang marah kepadanya jika dia di antarkan oleh orang lain.
"Jemput gue dong, anterin pulang. Ini di kosan Susan," ucap Ira lalu pria itu langsung merebut ponselnya, "Enggak usah ada gue!"
Mereka berdua saling menatap tanpa berkata, lalu Ira mengalihkan pandangannya masuk ke kamar membawa tasnya.
"San gue pulang iya?"
"Sekarang?" Susan beranjak mengikutinya keluar kamar.
"Iya, mau ganti baju dulu soalnya nanti mau pamitan"
"Hati-hati," Susan kembali ke kamar dan menutup pintunya.
"Maaf," ucap Ari merangkul pinggangnya sambil berjalan ke arah motor.
"Anterin aku pulang"
"Mau langsung pulang?"
"Anterin aku pulang," ucapnya menatap pria itu.
"Yuk?" naik di motornya.
**
Sepanjang perjalanan mereka berdua terdiam, Ira yang masih merasa kesal berpikir apakah hidup begitu membosankan? jika kisahnya di tuliskan dalam sebuah novel mungkin akan sangat membosankan dan tidak menarik perhatian pembacanya. Jalan kehidupan yang tidak jelas, kehidupan malam yang selalu terencana tanpa gangguan apapun, hubungan percintaan, keluarga yang tidak terlalu berpengaruh dan kenakalan remaja, **** bebas, seolah sudah menjadi hal umum yang di anggap wajar.
Dan jauh di dalam hati dan pikirannya dia bertanya-tanya bagaimana mungkin selama ini dia menjalani peran sebagai kupu-kupu malam tetapi tidak di ketahui oleh siapapun? bahkan selalu berjalan mulus dan tidak pernah ada masalah berat apapun. Apakah ada seseorang yang diam-diam melindunginya? atau mungkin Alloh yang melindungi dan memperlancar semuanya? "Tidak mungkin, ini dosa. Mana mungkin Alloh akan memberikan kemurahan hatinya untuk seorang pendosa menambah dosanya?"
Sebenarnya Ira sendiri menyadari bahwa apa yang di lakukannya itu salah, bahkan dia sudah merasa sangat bosan dengan semuanya. "Bagaimana akhir dari kisah ini? apakah akan berakhir begitu saja? gue yang menjalani peran sebagai wanita malam akan berakhir dengan sempurna tanpa di ketahui oleh orang lain? atau semua orang akan mengetahui dan menghancurkan segalanya di akhir kisah? kapan itu terjadi? apa gue bisa menghadapinya nanti?" dalam pikirnya, tanpa sadar dia melupakan rasa kesalnya perlahan memeluk Ari.
Pria itu mengusap-usap tangannya, sontak Ira tersadar bahwa dirinya sedang kesal. Belum ada penjelasan apapun darinya tentang pesan dari Rani, wanita itu berpikir mungkin mereka harus membicarakannya agar dia tidak berpikir dengan berlebihan jika memang mereka tidak berhubungan, dan jika mereka berhubungan mungkin harus ada kejelasan dari Ari tentang hubungan keduanya.
"Aku mau bicara," ucap Ira mengawali percakapan.
"Kita bicara di rumah"
__ADS_1
"Di rumah selalu ada nenek dan yang lain"
"Di rumahku"
"Aku mau pulang"
"Kita bicara di rumah, udah!" ucap Ari menegaskan membuat wanita itu terdiam.
*
Mereka sampai di rumah Ari, wanita itu turun dari motornya terdiam mematung. Dia membuka tas mencari handphonenya, "Loh dimana?" teringat si brengsek itu yang memegangnya.
Ari berjalan lebih dulu membuka pintunya, seperti biasa ibunya tidak ada di rumah. Dia akan segera menikah dan sekarang sibuk dengan banyaknya menghadiri undangan dan mempersiapkan pernikahannya.
Tanpa di persilahkan, setelah pintu terbuka Ira masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamar.
Duduk di atas ranjang menatap dirinya di cermin, jika dengan penampilan dan makeup yang seperti ini dia terlihat seperti mahasiswa bukan lagi anak SMK.
"Sebenernya gue cantik, mungkin lo yang kurang bersyukur dan tidak cukup dengan satu wanita. Di luar sana banyak pria yang memohon dan berharap bisa mendapatkan gue, tapi lo?" ucapnya pada Ari yang sedang membuka baju akan menggantinya, pria itu lalu langsung menatap Ira dan dia hanya memalingkan pandangannya.
Dia terdiam menunggu penjelasan dari Ari, tetapi justru pria itu juga terdiam sambil merokok.
"Apa maksud dari chatnya Rani? kamu masih berhubungan sama dia?" ucap Ira setelah mengumpulkan keberanian untuk menanyakan, karena feeling-nya merasa setelah ini mereka tidak akan baik-baik saja.
Pria itu masih terdiam menatap Ira yang semakin membuat perasaannya tidak karuan.
"Ri aku tanya, kamu masih berhubungan sama dia? semalam kamu langsung ke kosannya Teguh kan? diam kamu seperti ini membuatku berpikir jauh kemana-mana"
Mematikan rokok, dia membuka sebotol air putih lalu meminumnya.
"Maaf," ucapnya singkat membuat tubuh Ira bergetar, kali ini dia merasa yakin dengan dugaannya.
"Tadi malam kamu kemana?" berusaha untuk mendapatkan penjelasan dan berharap keyakinan dari dugaannya salah.
"Aku nganterin Rani pulang kerja"
Seketika dia merasa jantungnya terhenti, badannya menjadi lemas dan emosi yang tidak bisa di tahan.
Wanita itu tersenyum menatapnya, "Kamu nganterin Rani?"
"Maaf tapi," Ira langsung memotong perkataannya, "Nganterin kemana kamu?"
"Dengerin aku dulu"
"Aku tanya nganterin kemana?"
"Ke kosannya, aku cuma nganterin dia gak lebih," ucapnya meyakinkan Ira.
"Nganterin doang?"
"Aku cuma nganterin dia"
"Liat aku," pria itu menatapnya, dua bola mata yang Ira yakini dia menyembunyikan sebuah kebohongan.
"Kamu cuma nganterin dia?" tanya Ira dengan sengaja menatap kedua mata Ari dan dia justru mengalihkan pandangannya.
"Iya," pria itu mengangguk.
"Ri liat aku? kamu cuma nganterin dia?"
"Sumpah aku cuma nganterin dia"
"Yakin?" pria itu memalingkan pandangannya dan terdiam.
"..."
__ADS_1
"Ngapain aja kamu sama dia?" tanya Ira menahan emosinya.
"..."
"Ri aku tanya, ngapain aja kamu sama dia?" dengan suara yang sudah terdengar berat karena menahan tangisnya.
"Aku tidur sama dia," ucap pria itu menundukkan kepalanya.
Seketika air matanya terjatuh membasahi pipi, dia beranjak menjauh dari pria itu. Ingin sekali rasanya berteriak dan marah, "Bagaimana mungkin? apa yang kurang dari gue?" pertanyaan yang ada di benaknya, dia sangat membenci.
Terdiam beberapa saat, Ira menghapus air matanya lalu menghela nafas panjang.
"Sebentar, kau bercanda? apa aku saja tidak cukup?"
"Aku mabuk"
"Haha aku tau kamu mabuk, tapi kenapa kamu mau jemput dia? kenapa kamu mau nganterin dia? padahal kamu sedang mabuk. Mikirin gak gimana kalo aku sampai tau? mikirin gak gimana perasaan aku?" ucap Ira tidak bisa menahan amarahnya.
"Maaf, tapi aku beneran mabuk"
"Dengan alasan mabuk? aku tanya sama kamu, apa aku gak cukup? apa kamu benar-benar pria yang tidak cukup dengan satu wanita?"
"Cukup, kamu cukup buat aku. Aku tau dia Rani, tapi aku merasa berhubungan sama kamu"
"Oh jadi hal yang kamu lakukin ke aku, kamu lakuin juga ke dia? anji*ng lo brengsek"
"Maaf," dia menghampiri Ira yang berdiri di sisi jendela.
"Aku mau kita putus!"
Pria itu menatapnya, "Enggak"
"Lo nyakitin gue Ri"
"Aku tau aku salah, tapi maaf," ucapnya mendekat tetapi Ira menghindarinya.
"Gue cantik Ri, tubuh gue juga bagus, lo sendiri juga tau banyak pria yang mau sama gue, tapi semua itu masih kurang buat lo? kita tidur dan menghabiskan malam, bahkan gue kasih lo kebebasan melakukan apapun yang lo mau untuk sebuah kesenangan, tetapi itu semua masih belum cukup?"
"Cukup, kamu lebih dari cukup. Sumpah aku mabuk dan maaf aku gak bisa," Ira memotong nya, "Brengsek lo," wanita membawa hpnya yang tergeletak di atas kasur lalu keluar kamar menuju ruang tamu.
Tuut tuut
Dia menelepon seseorang, "Iya?" jawabnya.
"Dimana Gun?" Guntur pria yang Ira telepon.
"Di rumah Ra, gimana?"
"Boleh minta tolong gak? jemput gue dong di rumah Ari"
"Loh emang si Ari kemana?"
"Nanti aja, tolong jemput iya? di jalan raya, nanti gue ke sana"
"Lo serius Ra?"
"Gun tolong, iya?"
"Iya gue ke sana," ucapnya lalu mengakhiri panggilan.
Ari keluar dari kamar menghampirinya, "Bu tolong maaf," ucapnya menatap Ira dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu terdiam, "Lo beneran nangis karena gak mau kehilangan gue, apa emang sebenarnya lo cengeng?" tanyanya dalam hati.
Dia memalingkan badan membelakangi, hatinya benar-benar sakit. Terbayang dalam rongga kepalanya, pria yang dia cintai dan mereka sudah melakukan hubungan ternyata dia melakukannya bersama dengan wanita lain.
__ADS_1
"Kebodohan cinta yang sesungguhnya, menyerahkan apa yang seharusnya tidak harus di serahkan. Entah terlalu percaya ataupun tidak menyadari, bahwa ketika dia melakukannya denganmu tidak ada jaminan dia tidak melakukannya dengan yang lain" wanita itu menyalahkan apa yang telah terjadi dengan mencaci dirinya sendiri dalam hati.
****