
.
.
.
Suara bising dari motor yang berlalu lalang di luar tidak bisa menutupi kisah perih yang sedang di ceritakan oleh wanita itu. Air mata yang berusaha di tahan dengan senyuman akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Haha lucu kan?" ucap Ira dengan suara gemetar.
Anggi yang duduk di sampingnya memeluk Ira dan menangis, "Kamu hebat sayang."
Dewi dan Susan hanya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Udah dong, katanya gak ada air mata?" ucap Anggi merengek.
"Haha oke, oke,,, hmmmmhhh huuuhh!!" Ira mengusap air matanya dan mengehela nafas panjang.
"Lucunya setelah kejadian itu ada masalah, banyak masalah dalam hidup gue, tapi hanya ini yang benar-benar gue gak bisa lupain hingga saat sekarang.
"Apa Ra?"
"Gue di diskriminasi oleh satu sekolah karena fitnah dari seseorang. Sebenarnya itu bukan fitnah, itu kenyataan. Tapi mereka gak tau apa-apa."
"Didiskriminasi?" Anggi merasa heran.
"Dari kelas satu SMP sampai mau lulus gue sahabatan sama 5 orang, indah banget masa-masa pertemanan kita ber-6. Bahkan salah satunya udah berteman sama gue dari sejak kelas 1 SD, tapi semuanya rusak karena masalah itu dan bahkan menurut gue sebut saja si Cantik, dia benar-benar berhasil menghancurkan nama baik gue."
"Masalahnya apa Ra?"
__ADS_1
"Bentar, perkenalan tokoh dulu dong! si cantik : Teman sefrekuensi yang gue temui pada saat kelas 1 SMP. Dia tidak baik, pergaulannya buruk dan jujur gue terbawa olehnya tapi itu membuat kita merasa saling nyaman karena tidak ada yang harus di tutupi. Sebut dia si Imut : Teman kecil gue dari sejak kelas 1 SD. Dia baik, pinter dan imut, hanya saja dia munafik dalam segala hal. Dan teman lainnya hanya pengikut yang mudah terbawa arus.
"Haha Ra lo ada-ada aja,, terusin!" ucap Dewi menggelengkan kepalanya.
"Yang paling berperan saat itu adalah si cantik . Gue paling sering main bareng sama dia, dan terbuka dengan masalah gue. Bahkan dia pernah memberi penawaran pada gue untuk menjual tub*h ini pada teman lelakinya. Padahal saat itu gue gak anggap serius dan tidak meng-iyakan yang dia bilang. Gue persingkat,, intinya cowoknya suka sama gue, gue gak respon sama sekali. Tapi dia udah tau kalo cowoknya suka kirim chat sama gue. Ehh ternyata saat ujian nasional itu, dia nyebarin rumor ke temen-temen sekolah bahwa gue seorang pelac*r. Gede kan nyalinya?"
"Nyebelin iya?" ucap Susan sambil memakan keripik.
"Banget! oh iya gue ceritain,, Hari Seninnya gue sekolah lalu melunasi pembayaran yang nunggak. Badan gue, perasaan gue, benar-benar gak enak. Gak karuan, seolah gue gak bisa mengerti dan merasa apa yang sebenarnya terjadi sama diri gue. Yang gue inget cuma, persetan dengan kehidupan : gue udah bukan lagi gadis perawan, gue menjualnya demi uang! gue mikir, ini kehidupan yang kejam atau diri gue yang lemah? saat itu pertemanan gue udah renggang, rumor sudah tersebar dan orang-orang menatap gue dengan aneh. Banyak yang membicarakan gue bahkan di depan secara langsung, banyak temen cowo yang menghina gue dengan perkataan : sejam berapa Ra? lucu bukan? gak ada yang mau deket sama gue, gak ada yang bicara sama gue dan itu sulit banget. Terutama saat setelah ujian, praktek yang seharusnya berkelompok seolah gue hanya terdaftar nama dan mengerjakan semuanya sendirian."
"Pasti lo di panggil ke BK iya?" tanya Dewi.
"Iya,, gue di interogasi dan sampai pada akhirnya salah satu guru perempuan yang baik ingin bicara empat mata sama gue. Di sini gue sedih banget sih,, saat dia tanya : Tapi Ira masih perawan?. Awalnya gue bersikeras jawab masih! sampai dia mau ngajak gue ke rumah sakit buat cek, akhirnya gue nyerah dan bilang bahwa gue udah gak perawan. Dia tanya alasannya dan untuk pertama kalinya gue jujur, bilang ke dia bahwa gue menjual tub*h ini demi uang."
"Lalu respon guru lo gimana?"
"Dia nangis lah,, gadis secantik ini harus kehilangan keperawanannya demi membayar tunggakan sekolah. Dia berkali-kali bilang : kenapa gak bilang ke ibu? kenapa melakukan itu? ibu akan berusaha untuk bantu."
"Iya gue jawab apa lagi? sampai nangis darah sekalipun tidak akan bisa mengembalikan keadaan, gue udah bukan lagi gadis yang perawan."
"Iya juga sih,, bingung deh! tapi gue gak bisa bayangin gimana dengan lo yang sendirian ketika menghadapi situasi buruk itu" ucap Susan melihat ponselnya.
"Anji*g banget! bahkan gue benar-benar bingung, oranglain kenapa sih? walaupun rumor itu benar, apa gue seburuk itu? sampai orang yang bertabrakan dengan gue bahkan cuma natap doang tanpa berbicara sedikitpun! bisa bayangin gak?"
"Padahal itu romur kan?"
"Itu memang rumor, tapi kenyataan sebenarnya memang gue udah menjual tub*h ini meskipun mereka gak tau. Lanjutin, inget banget,, mungkin gue beruntung dengan adanya 4 pria yang sudah di cap buruk di sekolah karena kenakalnnya tapi mereka mau bicara sama gue seperti biasa. Ngebantu praktek yang seharusnya di kerjakan bersama kelompok, nemenin di saat orang lain menghindar dan mereka tidak pernah membicarakan tentang rumor yang ada. Aahh terimakasih orang buruk yang sebenarnya baik." ucap Ira sambil membuka botol minum dan meneguknya.
"Ada alasan gak untuk mereka baik sama lo?"
__ADS_1
"Dulu gue pernah tanya ke salah satunya ketika pelulusan, dia bilang : emang ada orang yang gak punya salah? yang suci? gak usah berlebihan! intinya gue sama mereka itu gak ada bedanya. Mereka lebih ngerti dan mungkin kasihan sama gue yang didiskriminasi oleh satu angkatan, bahkan guru."
"Iya gue ngerti, sama-sama pendosa kenapa harus bersikap so suci?" ucap Anggi.
"Betul banget Nggi!" tambah Susan.
"Terus hubungan lo sama temen lo itu gimana sekarang?" tanya Dewi.
"Karena lulus dan gue sekolah sementara dia enggak, kita jarang ketemu dan saling berkomunikasi jadi gue gak tau. Gak dendam juga sih, kan udah berlalu."
"Iya,, lalu gimana dengan si imut?"
"Jujur ini yang membuat gue benci sama dia hingga sekarang. Mungkin kalian tau sebelum gue pindah ke sini, gue pernah bersekolah di SMA favorit... Saat itu gue merasa sangat frustasi karena suleng tidak bisa di hubungi mungkin selama satu bulan, sedangkan selain bersama dia gue belum pernah melakukan hubungan dengan orang lain lagi. Keadaan benar-benar buruk, bayaran sekolah gue, uang jajan, uang makan, kebutuhan lain, gak ada yang nanggung. Uang yang gue tabung juga lama kelamaan habis! berusaha nyari kerjaan halal, tapi sulit. Pekerjaan apa yang bisa di dapatkan oleh seorang siswi SMK tanpa putus sekolah?"
"Iya sih, itu tidak bisa di pungkiri!" ucap Anggi.
"Setelah lulus dan masuk SMA, gue kenal dengan seorang wanita cantik bernama Lisna. Dia sama seperti gue, bedanya dia berani secara terbuka dengan nongkrong di sebuah tempat pelac*an sudah setahun lamanya."
"Maksud lo dia tidak menyembunyikan identitasnya gitu?" tanya Dewi.
"Iya, awalnya kita hanya saling mengenal, sampai akhirnya gue tau dari Lisna bahwa ternyata si Imut ini menjadi kupu-kupu malam. Kaget, gak percaya, dan bertanya-tanya kenapa? padahal gue tau. perekonomian keluarganya cukup."
"Lo ketemu dia? lo nanya gak alasan dia apa?" tanya Dewi.
"Karena kita bersekolah di SMA yang sama kita kembali berhubungan, saling terbuka, menjalani hari-hari seperti biasanya, lebih sering bertemu, meluangkan waktu bersama. Karena setelah lulus SMP kita tidak pernah bertemu, sampai akhirnya gue tanya alasan dia melakukan itu? lalu dia bilang : uang yang orangtua gue kasih gak cukup, gue banyak keinginan!"
"Ceritanya masa kangen-kangenan antara 2 sahabat, itumah dia yang gak bener Ra." ucap Susan.
"Iya sih,, sebenarnya bareng si imut ini ada cerita yang gue sendiri tidak tau antara sedih atau senang. Mungkin peran Kupu-kupu Malam yang sebenarnya. Rasa yang sangat jelas melekat. Yang dimana ketika gue mengingatnya, bukan hanya merasakan rasanya tetapi suasana dan keadaannya. Gue melihat jelas pedihnya kehidupan sebagai seorang wanita malam, kejamnya manusia yang memiliki kuasa, dan perempuan malam yang di anggap begitu hinanya sebagai seorang manusia.
__ADS_1
*****