Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 35


__ADS_3

.


.


.


*Kreek!!* membuka pintu kamar terlihat Ari sedang duduk di atas ranjang bersandar pada dinding sambil bermain ponselnya.


"Kirain udah tidur?" menggantung pakaian di belakang pintu dan menyimpan tasnya di atas meja.


"Ngobrol dikit sama tante." sambung Ira mengambil sisir di dalam tas dan menyisir rambut panjangnya.


Ari hanya menatap tanpa berkata apapun.


"Terimakasih telah menjadi penenang." mengusapkan bodylotion ke tangan dan kakinya.


"Sekarang lebih baik,,, semoga hingga besok atau mungkin nanti." Ira tersenyum menatap Ari.


"Tapi kenapa diem Ri? jadi horor!"


"Cantik, punggungmu indah sekali."


"Aku tau itu!"


"Hhmmhh,,,"


"Seketika perasaanku lebih baik semenjak kau datang menemui. Yang tadinya aku ingin menangis sepanjang malam dalam pelukanmu, sekarang berubah. Mungkin aku masih ingin tidur dalam pelukanmu, tapi tidak untuk menangis melainkan untuk merasa dan menikmati pelukan hangatmu." ucap Ira dalam hati.


"Aku tidak yakin dengan ini?"


"Hah?"


"Tidak!"


"Aku mengantuk." Ira mematikan lampu dan berbaring di samping Ari.


"Aku tau tidak semua hal harus aku ketahui, tapi bolehkah aku bertanya?"


"Bicaralah."


Ari memeluk tubuh Ira dari belakang dan menciumi pundaknya.


"Kenapa kau menangis? ada masalah apa?"


"Aku tidak yakin, ada lelaki di luar sana yang akan memberiku pelukan sehangat dan senyaman ini."


"Karena hanya aku. Seperti kamu yang hadir hanya untukku!"


"Oh iya?"


"Kenapa?"


"Aku bertengkar dengan ibu, dia mengatakan hal yang buruk."


"Kenapa kalian bertengkar?"


"Hmmm,,,, banyak alasannya. sudah!"


"Perasaanmu akan tetap sama bukan?"


"Untuk mencintaimu Ri?"


"Iya,,, aku bukan lelaki yang baik, tapi aku sedang berusaha. Entah kenapa aku sangat mencintaimu dan tidak pernah berpikir bagaimana jika aku tidak bersamamu."


"Aku juga mengharapkan itu Ri."


Ira mengusap tangan Ari yang memeluk tubuhnya, "Bahkan aku takut kehilanganmu Ri, aku takut jika kau tidak bisa menerima aku lalu pergi meninggalkanku" ucapnya dalam hati.


"Ri kau tidur?"


"Tidak,"


"Dengar,,,,jika suatu hari nanti aku membuat kesalahan dan kau tidak bisa menerimanya, lalu kau pergi meninggalkan aku. Percayalah aku masih mencintaimu."


"Kau ingat? aku pernah mengatakan bahwa aku tak ingin menyakitimu. Tapi jika suatu hari nanti aku menyakitimu entah itu di sengaja atau tidak, maaf Ri. Kau tau aku bukan seseorang yang banyak bicara bukan? mungkin aku akan mengakhiri perdebatan kita tanpa memberi penjelasan."


Ira memalingkan tubuhnya menatap Ari.


"Sejauh apapun kamu pergi tolong kembalilah padaku. Aku mencintaimu, aku ingin menjadi rumahmu." mengecup dahinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi."


Kembali memalingkan tubuhnya.


"Kau tau? dari dulu aku ingin melakukan ini."


"Apa?"


"Memeluk wanitaku dalam tidur lalu mengutarakan perasaanku."


"Apa kau tidak pernah melakukannya?"


"Aku akan sedikit bercerita, tapi ibu jangan marah iya?"


"Aku tidak janji."


"Haha iya,,, kau tau? aku banyak berhubungan dengan wanita sekalipun aku memiliki pasangan."


"Apa sekarang kau juga berhubungan dengan wanita lain selain aku?"


"Tidak bu sumpah!"


"Oh,,,iya."


"Serius bu, kan ini dulu."


"Iya,,,lanjutin."


"Gak jadi, nanti ibu marah."


"Enggak."


"Iya,, mungkin karena aku sering berhubungan dengan banyak wanita hingga akhirnya aku merasa lelah dan ingin memiliki hubungan yang serius. Kau tau? entah kenapa ketika dengan Rani kemarin bahkan aku merasa jikapun dia hamil aku akan langsung menikahinya. Aku berusaha melakukan segala hal yang bisa membuat dia nyaman agar perasaannya tidak akan berubah. Awalnya aku pikir normal saja jika dia sering berhubungan denganku, tapi ternyata dia melakukannya dengan orang lain juga. Mungkin dia adalah aku dalam versi perempuan. Dia bahkan tidur dengan Teguh."


"Teguh? haha kapan?"


"Ketika dia masih pacaran sama aku, tiba-tiba si Teguh nanya gini. 'Ri lo yakin sama ceweklu?' gitu."


"Terus Ari jawab apa?"


"Karena hari itu gak ada pikiran macam-macam iya aku iya'in."


"Ehh taunya, pas udah putus si Teguh baru ngomong 'Dia udah tidur sama gue Ri' brengsek gak?"


"Terus gimana?"


"Iya gak papa sih kan udah putus, tapi sekarang Teguh lagi deket sama Susan."


"Kata siapa?"


"Dia sendiri."


"Ohh iya."


"Lanjutin,,,mungkin karena dulu aku yang sering nyakitin cewe jadinya perasaan saat itu benar-benar sakit. Di selingkuhin, di tinggalin, padahal udah ada niatan serius."


"Niatan serius? masih sekolah loh."


"Maksudnya mau nikah muda. Karena dari mulai main perempuan, main nongkrong, kerja banting tulang haha, semuanya udah ngalamin. apa lagi sih? yang di butuhin hanya pasangan buat ngurus aku, ngatur keuangan aku, berbagai keluh kesahnya aku. Mungkin karena dari sejak SMP keadaan rumah kaya gini mamah yang jarang di rumah, jarang masak suka beli, nyuruh orang buat beresin rumah sama nyuci baju. Aku ngerasainnya kaya bukan keluarga gitu haha."


"Mau punya keluarga sendiri gitu?"


"Gak salah kan kalo berkeinginan membangun rumah tangga?"


"Enggak, karena terkadang aku juga berkeinginan seperti itu. Normal sih karena kita terlahir dari keluarga yang tidak seperti keluarga sesungguhnya."


"Ibu juga pernah berkeinginan seperti itu?"


"Iya,, itu normal."


"Udah lulus nikah yuk bu?"


"Hahaha,, Ari, Ari,, menjalani pernikahan itu bukan hal yang mudah loh?"


"Aku tau, hei aku juga cukup dewasa untuk mengerti apa itu pernikahan. Terutama memperhatikan pernikahan orangtua sendiri."


Memalingkan tubuhnya menatap Ari. "Udah,, jangan membicarakan hal yang berlebihan." mengusap rambut.


"Ini tidak berlebihan ko, masih normal."

__ADS_1


"Enggak, jika suatu hari nanti entah kau atau aku yang pergi meninggalkan pembicaraan ini akan menyakitan."


"Jika aku berbuat salah maaf iya."


"Sebanyak apapun kau berbuat salah jika kau mau menerima aku sebagai perempuanmu, mungkin aku bisa memaafkanmu."


"Aku menerimamu."


"Tidak, kau ingat? kau tidak tau mana diriku yang asli."


"Bicaralah, terbukalah padaku."


"Aku menunggu waktu yang tepat."


"Aku akan menunggu waktu itu."


Ari menind*h tubuh Ira dan mencium bibirnya dengan lembut, satu tangannya menahan tangan Ira agar dia tidak bisa mendorong tubuhnya.


"Awas gak?" ucap Ira pada Ari yang sedang menatapnya.


Mencium kembali, hingga di akhir dia menggig*t bibir bawah Ira.


"Udah ko bu." berbaring di samping Ira.


"Dasar!" memalingkan tubuhnya.


"Nyium doang gak papa kan? aku gak nyetuh bagian tubuh yang lain."


"Gak papa, tapi gak izin dulu."


"Haha maaf." memeluk Ira dari belakang menciumi punggungnya.


"Aku masih ingat, aku tak akan menyentuh tubuhmu jika bukan kamu sendiri yang mempersilahkannya."


"Kau harus mengingatnya!"


"Tapi lain kali aku akan meminta langsung padamu."


"Hmmm,,"


"Gimana besok?"


"Gak tau, gak usah masuk kali."


"Mau seharian di rumah bareng aku?"


"Gak mau sih,, bentar aku mau nlp Sindi dulu."


"Jam berapa ini bu? udah mau jam 3 pasti tidur lah."


"Oh iya,, bentar."


Ira mengirim pesan pada Sindi dan Iki.


*Isi pesan*


"Sin, tteh gak di rumah. Besok pagi ke kamar iya bawa baju seragam, tas sekolah, sama sepatu tteh, jangan lupa makeup nya. Titipin sama Ka Iki."


"Ki gue cekcok sama ibu, gue gak pulang ke rumah. Besok bawa seragam sekolah gue di nenek iya. Gue udah bilang sama Sindi, tapi tolong lo cek lagi baju seragam+kerudung, tas sekolah, sepatu sama makeup gue. Iya? Love you Iki."


"Haha belum pernah ibu kek gitu sama aku."


"Apa?"


"Love you Iki."


"Apaan si? udah."


"Tidur bu, selamat malam." mencium pundak Ira.


"Iya, terimakasih telah menjadi penenang."


"Semoga bukan hanya penenang, tapi pemenang."


"Iya, aku berharap itu."


Ari tidur lebih dulu, wanita itu masih membuka matanya. Pandangan lurus ke luar, terlihat dari sela gorden jendela tampak dedaunan kering berjatuhan di terpa angin dan hujan.


*****

__ADS_1


__ADS_2