Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 23


__ADS_3

.


.


.


"Aku tau, tidak ada laki-laki yang tulus dan setia di mata wanita yang sudah trauma!" ucap Ari mengusap wajahnya.


"Aku bukan trauma pada lelaki, tapi trauma akan yang namanya membangun sebuah hubungan."


"Bu?"


"Tidak ingin mencari yang baik, tetapi kita sama-sama belajar menjadi yang terbaik bolehkah?"


Ari diam terheran berusaha memahami apa yang baru saja Ira katakan


"Bu kau serius?"


Ira hanya mengangguk.


"Bisakah kau pergi? aku sedang ingin sendiri!"


"Kenapa?"


Ira hanya diam menatap.


"Aku pergi!" bangun dari duduknya.


Ira memperhatikan punggung lelaki itu meninggalkannya.


"Arghh persetan dunia!" ucap Ira membungkuk ke meja.


"Kenapa lo? ada masalah sama Ari?" tanya Iki.


"Hidup gue aja udah banyak masalah, masa gue harus nambah masalah."


"Terserah!"


Ira diam melihat ke luar jendela lalu memejamkan matanya.


"Orang bilang, carilah lelaki yang memperlakukan dirimu sebaik ayahmu. Lalu bagaimana dengan aku yang bahkan tidak tahu sama sekali tentang ayahku?" Ira berkata dalam hati.


*


"Bu?" Rezki membangunkan Ira yang tertidur.


"Hmmm?" menoleh.


"Tidur?"


"Iya ketiduran." Ira tersenyum sambil berkaca pada ponselnya.


"Pengennya gak belajar, tapi seharian ini gak ada guru yang masuk boseen sumpaaahh!!!" teriak Anggi.


Satu persatu mereka memasuki kelas, yang tadinya sunyi sepi menjadi berisik tak karuan. Beni yang menyanyi sambil memainkan gitar. Di bantu oleh Arif memukul meja dan Anggi yang bernyanyi dengan kencang.


Tapi Ira tidak melihat Ari. Di dalam hatinya bertanya-tanya kemana dia


"Sayang kamu tidur? haha" tanya Anggi karena meskipun kelas sering mendapat jam kosong Ira jarang tertidur seperti yang lainnya. Dia selalu pergi ke warung belakang atau abang. Tapi kali ini Ira tertidur di kelas.


"Iya ketiduran haha."


"Tumben bu?" tambah Rezki.


"Abis mikirin sesuatu." Ira tersenyum.


"Melamun iya lo?" tanya Sandi.


"Mungkin lo yang gak tahu, bahwa melamun adalah healing paling sederhana." Ira berdiri "Ki misi," melewati Rezki yang duduk di sebelahnya.


"Kemana Ra?"


"Mau cuci muka!" membuka tas dan membawa sabun pencuci muka.


"Mau di anterin yuk?" ajak Beni.


"Gak perlu!"


"Nanti ada yang ngintip loh adek kelas."


"Masa? di anterin lo nanti malah lo yang ngintip."


"Haha tau aja nih anak."


"Beniiii lo suka ngintip?" teriak anggi memukul pundaknya.


"Fitnah lo Nggi. Senakal apapun gue gak sampai ngintip."


"Oh kirain, Sorry."


"Kalo iya?"


"Gue bunuh lo cowok brengsek Plak!Plak!" Anggi memukulnya dengan buku.


"Hahaha."


Lalu Ira berjalan keluar melewati beberapa kelas dan berpapasan dengan Ari di tangga.


"Mau kemana bu?"


"Mau cuci muka."


Ari mengikuti Ira turun.


"Kemana?" tanya Ira menoleh.


"Nganterin!"


"Aahh gak usah Ri."


"Gak takut di intip sama adek kelas?"


*Emang beneran suka ada yang ngintip?"


"Mungkin."


"Hmmm iya udah diem di sini!" ucap Ira menyuruh Ari berdiri di depan pintu kamar mandi.


Setelah selesai Ira mengusap wajahnya dengan tisu lalu memakai lip blam dan merapihkan kerudungnya.


"Udah?"


"Udah yuk?" Ira keluar.


"Ri sehat lo?" tanya Teguh yang melihat Ari dan Ira berjalan bersama dari arah toilet.


"Apa sih? lo mau kemana?"


"Ini sekolah Ri, lo gak usah ngelakuinnya di sini anj*ng!"


"Waras lo anj*ng gue cuma nganter doang!"


"Ra, hati-hati sama si brengsek ini. Bahaya modelan kek ginimah!" ucap Teguh pada Ira.


Ira hanya tersenyum mengangguk lalu menaiki tangga

__ADS_1


"Diem lo banyak ngomong!" ucap Ari menyusul Ira.


"Bu? tolong biasakan jika ada yang mengatakan hal yang seperti itu."


"Suuttt!!"


"Haha!"


Memasuki kelas.


"Dari mana lo Ri?" tanya Pras melihat Ari yang baru masuk ke kelas.


"Abang!"


"Banyak cewek dari sekolah lain iya?" ucap Beni.


"Lo tau?*


"Sama kayak kita gurunya gak masuk."


"Cantik-cantik liat Ben!" ucap Ari sambil memandang Ira tersenyum.


Ira hanya memasang muka datar biasa saja.


"Ki pulang kapan?" bisik Ira.


"Kenapa emang?"


"Gue ada janji, nanti malem sih."


"Gue tanggung lagi nonton film, tapi kalo lo ada yang nganterin pulang duluan gak papa."


"Bentar, nanti kalo ada yang nganterin gue pulang duluan iya?"


Iki hanya mengangguk.


Ira memakai masker dan jaketnya.


"Kemana?" tanya Anggi.


"Mau pulang Bu?" tanya Pras.


"Apa si? biasa aja liatnya kenapa jadi kepo gini haha?" Ira tertawa melihat semua wajah temanya itu. Seolah heran melihat Ira akan pulang lebih dulu termasuk Ari.


"Mau kemana?" bisik Ari menghampiri.


"Mau pulang!"


"Sama siapa?"


"Siapa aja."


"Bener bu?"


"Beneran."


"Aku anterin!"


"Kok?"


"Emang tadinya mau sama siapa?"


"Hmmm adek kelas mungkin haha."


"Gak ada!" Ari memakai kemejanya.


"Sayang aku pulang duluan iya?" ucap Ira memeluk Anggi.


"Hmm iya deh, emang boleh?"


"Sama lo Ri?" tanya Rendi melihat Ari yang bersiap pulang.


"Dari pada di anterin orang yang gak jelas!"


"Gak jelas dari mananya?" Ira tersenyum.


Ira keluar dan melihat kelas lain yang sedang belajar.


"Gue duluan!" ucap Ari pada yang lain.


"Aman lah." gumam Ira sambil berjalan lalu di ikuti oleh Ari.


Keluar gerbang sekolah.


"Nunggu di sini?"


"Gak usah ikut aja." ucap Ira berjalan mendahului Ari menuju warung belakang mengambil motor.


Sampai di warung belakang.


"Anj*ng bosen sumpah gue ketemu lo terus!" ucap Teguh yang sedang duduk di atas motor sambil meroko.


"Aahh jangan-jangan jodoh haha?"


"Bener kayaknya, udah lepasin aja si Ari yuk bareng gue?"


"Sparing lo anj*ng sama gue?" ucap Ari.


"Tenang Ri, gue juga gak mau bekas lo udah rusak kayaknya haha." ucap teguh tertawa.


Perkataan seperti itu sedikit menyakitkan tapi Ira berusaha untuk biasa saja karena meskipun bukan oleh Ari, dirinya memang sudah rusak.


"Diem anj*ng gak semua gue sentuh!"


"Yakin gak mau sama gue?" tanya Ira pada Teguh.


"Boleh di coba dulu kali iya?"


"Gak usah di ladenin dia bukan manusia." Ari tersenyum menatap Ira.


"Lo anj*ng yang bukan manusia!"


"Gimana Ra mau sama gue?"


"Boleh, tapi sejago Ari gak?" Ira membalas perkataannya.


"Hahaha anj*ng sumpah cewek lo Ri!!" Teguh tertawa karena pertanyaan seperti itu sedikit menggoyah harga diri lelaki.


Ari hanya tersenyum memperhatikan Ira yang membalas perkataan tidak menyenangkan itu dengan caranya.


Mereka berdua meninggalkan lingkungan sekolah dengan motornya.


"Katanya tadi ada janji nanti malam, ko pulang sekarang? ini baru jam 11:25 loh."


"Iya emang nanti malam, tapi pengen santai-santai dulu rebahan. Senyaman apapun sekolah tapi kan buat rebahanmah gak bebas."


"Mau mampir dulu ke rumah gak?"


"Rumah?"


"Rumah aku lah!"


"Ada siapa di rumah?"


"Ada mamah sih, tapi gak masalah kayaknya."

__ADS_1


"Oh berarti pernah bawa cewek lain juga ke rumah iya?"


"Ih sumpah demi Alloh belum pernah Bu, baru kamu yang mau aku ajak."


"Hmmm,,"


"Gak percaya?"


"Emang enggak!"


"Iya udah pokoknya mampir, masalah gak nyaman nanti pulang!"


"Gak apa bu pengen tau juga reaksi mamah gimana haha?"


"Dihh..."


"Kali ini aku maksa, tapi sumpah gak pernah bawa cewek manapun ke rumah!"


"Hmmm,,"


"Gitu doang?"


"Terus?"


"Enggak deh."


*


Beberapa menit memasuki daerah kampung seperti Ira yang hanya ada beberapa rumah berjarak jauh. Membelokan motornya ke gang kecil dan menuju rumah yang paling ujung.


Ini pertama kalinya Ira tau rumah Ari.


Terlihat nyaman karena ada pohon buah mangga yang besar di depan rumahnya. Menurut Ira pasti tenang di sini apalagi Ari hanya tinggal berdua dengan ibunya karena dia seorang janda. Tetapi justru menurut Ari dia kesepian di sini.


"Gak turun?"


Ira turun dari motor mengikuti Ari yang memasuki rumah.


"Tok tok!! maaah?" Ari sambil membuka pintu.


"Udah pulang?"


"Iya, bawa seseorang juga."


"Siapa?" keluar melihat Ira yang sedang berdiri melihat pohon mangga yang menjulang tinggi.


"Ehh neng?" sapa Ibunya Ari.


Ira menoleh "Tante?" tersenyum menyalaminya.


"Masuk sayang?" ucapnya mempersilahkan.


Ira memasuki rumah terbayang sepinya rumah ini terutama ketika Ari bekerja dan pulang larut malam.


"Tante jarang masak, gak ada apa-apa di rumah!"


"Gak papa tante. Gak minta makan juga hee."


"Haha bisa aja si Neng."


Ari di kamar, mungkin sedang membersihkannya.


"Oh iya, tidak perlu merasa canggung sama tante, karena tante juga pernah muda. Santai-santai aja iya, tante mau mandi dulu ada janji." ibunya tersenyum dan kembali ke kamarnya.


Ira diam mematung memperhatikan rumah itu.


"Hei masuk?" ucap Ari mengiring ke kamarnya.


"Lumayan rapih untuk kamar seorang pria."


Melihat kamar Ari yang biasa tetapi sedikit rapih sehingga suasananya terasa nyaman.


Ira menggantung tas dan membuka kerudungnya.


Menatap cermin menyisir rambutnya dan melihat Ari tidak memakai bajunya, hanya masih menggunakan celana sekolah.


"Ehh!"


"Hah?" Ari kaget menatap.


Ira menghampiri "Ahh pake kaos dong!"


"Emang kenapa? gerah bu, biasanya juga gini!"


"Aku tidak bisa melihat punggungmu tanpa baju seperti ini haha."


Ari tersenyum bangun dari tidurnya membuka lemari baju mengambil kaos putih polos.


"Tapi bentar dulu iya gerah."


Ira hanya mengangguk.


"Rambut jangan di potong iya?" ucap Ari yang memperhatikan Ira menyisir rambutnya.


"Emang kenapa?"


"Lebih cantik dengan rambut panjangmu."


"Apa aku boleh berbaring?"


Ari menganggukkan kepalanya.


"Tapi tidak lupa kan apa yang pernah kamu katakan?"


"Aku tidak akan menyentuh tubuhmu jika bukan kamu yang mepersilahkan!"


Ira tersenyum berbaring di dekat Ari.


"Bu, aku jarang salah berkata."


"Hah?"


"Aku berusaha untuk menahan nafsuku terhadapmu, tapi percayalah suatu hari nanti bukan aku. Justru kamu yang akan memintaku."


Ira menoleh "Oh iya?" lalu mengecup bibirnya.


"Aahhh aku tidak tahan jika seperti ini haha!" Ari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Ira hanya tersenyum.


"Bentar ada bbm dari Guntur." Ari memperlihatkan ponselnya.


"Mungkin pekerjaan." sambungnya.


Ira memandang Ari yang sedang bermain ponsel.


"Lagi dan lagi kau melukis kenangan manis." ucap Ira pelan.


Kemudian,


Memalingkan pandangan terdiam memperhatikan rak meja yang berisi bekas berbagai macam botol alkohol yang telah tersusun rapi, Ari menyimpan itu untuk koleksinya.


Tidak bisa membohongi diri bahwa tempat ini, orang ini, membuatnya merasa lebih nyaman.


"Semoga ini tidak akan menyakitiku suatu hari nanti, karena terkadang waktu yang singkat memiliki kenangan yang hebat." Ira berkata dalam hati.

__ADS_1


*****


__ADS_2