Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 69


__ADS_3

.


.


.


Siang hari yang panas wanita itu tidur di ranjang sendirian, kipas angin yang menyejukkan tubuhnya membuat dia tertidur lelap.


Sementara Ari berbaring di lantai sambil diam-diam mengambil kesempatan untuk menghubungi mereka yang berharap mendapat kabar darinya. Dia akan mengakhiri dan meminta mereka untuk tidak lagi menghubungi, kali ini rasa sayangnya benar-benar hanya untuk wanitanya.


Dan dia sengaja tidak tidur di samping Ira karena sedang berusaha menjauh dan mengontrol keinginannya untuk tidak memperlakukannya dengan berlebihan. Seperti apa yang wanita itu inginkan, hubungan layaknya remaja pada umumnya, hubungan tanpa ****. Entah mereka akan bisa melakukannya atau tidak, tetapi kali ini keduanya sepakat untuk mencobanya perlahan.


Ira terbangun mendapati Ari yang tidak ada didepannya, sebelum tidur pria itu mengusap-usap lembut rambutnya, "Kemana dia?" dalam pikirnya beranjak duduk.


"Loh? udah bangun?" tanya Ari membuat Ira terkejut karena tidak mengetahui jika pria itu berbaring di lantai.


Dia hanya mengangguk dan pergi ke kamar mandi mencuci mukanya. Dengan cepat Ari menyimpan kembali handphonenya agar wanita itu tidak lagi salah paham.


"Gak kerja kamu?" tanya Ira kembali dengan wajah basahnya.


"Bentar lagi, mau berangkat tapi kamu tidur"


Dia menyisir rambut dan memakai bedak, "Aku pulang sendiri," ucapnya sambil mengoleskan sedikit lipstik.


"Hah? sama siapa? aku anterin"


"Kau bawa motor kamu, gak di pake kan?" tanyanya menatap pria itu.


"Beneran gak mau di anterin?"


"Gak usah, sana berangkat kerja. Masalah motor gimana nanti"


"Nanti aku telpon lewat Guntur, bareng sama dia hari ini"


"Pake handphone kamu aja"


"Gak jadi di bawa?"


"Enggak, kamu pikir aku gak tau? pas aku tidur kamu sibuk dengan handphone"


Pria itu tertawa, "Haha, tau aja," memeluknya, "Aku sendiri yang mengakhiri, nanti kamu marah"


"Justru aku semakin marah sekarang, sedikit kecewa"


"Nih kalo mau di bawa gak papa. Tadi sedikit ada pertengkaran sama Rani, kalo yang lain belum aku hubungi"


"Gak usah, aku beneran marah!" ucapnya memakai jaket dan masker, dia keluar kamar dengan membawa tasnya, duduk di kursi ruang tamu sambil merapikan rambutnya.


"Maaf Bu, mau pulang sekarang?"


"Iya aku pulang, mana kunci motornya?"


Ari masuk ke kamar untuk mengambil kunci motor, "Nih bu," memberi kunci sambil menarik Ira dan memeluknya.

__ADS_1


"Maaf untuk semua kesalahan, aku sayang kamu," ucapnya mencium kening Ira.


Wanita itu hanya terdiam sambil menyembunyikan senyumnya di balik masker yang menutupi mulut.


Pelukan keduanya harus terlepas dengan kedatangan Guntur yang tidak terdengar suara apapun, tiba-tiba dia membuka pintu sambil memanggil-manggil nama Ari.


"Ri? dimana lo?" sambil membuka pintu.


"Wah, ganggu gak gue?" ucapnya yang mendapati keduanya sedang berpelukan.


"Ganggu lo," ucap Ari membuat pria itu tersenyum-senyum sambil duduk di kursi.


"Aku pulang iya?" Ira mencium pipinya dan berjalan keluar rumah. Ketika melewati Guntur, "Gue pulang Gun, awas lo berdua kalo macem-macem!" ucapnya melempar Guntur dengan bantal kursi.


"Macem-macem apaan sih? laki lo tuh yang gak cukup dengan satu wanita, haha"


"Ngomong lo, udahlah cape gue mohon-mohon!" jawab Ari mengantar Ira ke depan.


"Hati-hati iya," mencium keningnya.


"Kamu juga jangan gatel sama cewe lain, kalo gini lagi aku beneran pergi"


"Ngomong apa sih bu? sumpah enggak, aku sayang kamu"


"Naj*s kek anak SMP yang baru pacaran kalian!" ucap Guntur keluar rumah.


"Berisik gobl*k!"


Tanpa berkata apapun Ira berjalan ke halaman dan menghidupkan motor, lalu perlahan melaju meninggalkan rumah Ari.


**


Dia sampai di depan rumah nenek, nampak beberapa ibu-ibu yang sedang duduk sambil mengobrol di teras rumah.


"Ko gak pake seragam neng?" tanya seorang wanita menatapnya.


"Assalamualaikum," menyalami nenek, "Gak ke sekolah bi, udah nyari kontrakan untuk tidur nanti kalo berangkat PKL"


"Oh, Ira mau berangkat PKL? dimana?"


"Di Samsat sih"


"Berapa bulan neng?" tanyanya lagi.


"3 bulan biasanya, makan sama apa nek?" menatap neneknya lalu masuk ke rumah lewat pintu belakang, dia sengaja menghindar karena malas rasanya berurusan dengan mereka yang diam-diam membicarakan Ira di belakang.


"Ko udah pulang ka?" tanya Hesti yang sedang duduk sambil bermain handphone di kursi.


"Iya, kakek kemana?" tanyanya yang biasa mendapati kakek duduk di depan tv.


"Gak tau, mau jalan-jalan katanya"


Ira kembali ke dapur, dia membawa sepiring penuh nasi, dengan goreng ikan dan sayur bening.

__ADS_1


"Sindi mana?" duduk di kursi.


"Gak tau dan gak mau tau"


"Loh kenapa? lagi berantem nih yee"


"Apa sih ka Ira,"


Wanita itu makan dengan lahap sambil menonton tv film kartun, sesekali dia melihat keluar jendela. Para tetangga yang sedang duduk berkumpul itu tidak mungkin rasanya jika tidak membicarakan orang lain, jika tidak ada nenek mungkin cucunya ini sudah menjadi pembicaraan yang hangat karena seringkali keluar rumah terutama di malam hari.


"Wah," Ira beranjak dengan piring yang masih penuh dengan nasi berjalan ke teras, dia sengaja akan memintanya izin pada nenek untuk pergi di depan para tetangga.


"Makan nek? makan bi?" ucap Ira menawari dan duduk di samping neneknya.


"Sama apa neng?"


"Sayur bening bi"


"Sama asin enak neng," tambah seorang wanita yang paling muda, mungkin umurnya sekitar 26tahunan.


"Sama ikan goreng ini, oh iya nek nanti sore Ira mau belanja kebutuhan dan langsung nyamperin ka Ayu buat pamit. Kalo pulang pasti malam dan kalo enggak pasti nginep di ka Ayu," ucap Ira sambil mengunyah makanannya.


"Kamu ada uang buat belanja?" tanya nenek.


"Kan nanti di kasih sama ka Ayu hehe"


"Sibuk banget sama sekolah neng? akhir-akhir ini bibi liat kamu sering banget keluar, apalagi malam," ucapnya membuat nafsu makan Ira hilang seketika.


"Tapi beneran bi, dulu juga saya pas mau PKL sibuk banget, harus ngurusin ini itu. Sampe pulang sekolah malam dan sering cekcok sama ibu gara-gara banyak orang yang ngomong jelek"


Ira menatap wanita yang bernama Irma itu, setidaknya dia merasa senang dan ingin mengatakan terimakasih karena sudah sedikit membantunya dalam pembicaraan ini.


"2 hari ini juga gak kesekolah karena pergi ke Samsat menemui pembimbingnya," ucap Ira.


"Kalo menurut saya sih mending gak usah peduli sama omongan orang Ra, mereka gak tau apa-apa. Toh kita cape bulak-balik kaya setrikaan, otak mikir gak berhenti-henti, orang lain cuma mengomentari tanpa bantu apa-apa," ucap Irma lagi, membuat semua orang terdiam. Ira tersenyum menatap Irma, tatapan yang hanya di mengerti oleh keduanya.


"Iya sih, dulu juga saya kalo misalnya pulang sekolah telat sedikit bapak pasti marah. Dia marah bukan karena saya, tapi karena mendengar pendapat orang lain yang berbicara buruk. Mereka bilang saya main dulu sama laki sebelum pulang ke rumahlah, saya sekolah cuma berangkat dari rumah tapi gak sampailah. Banyak deh, padahal senakal- nakalnya saya waktu sekolah tidak melakukan itu. Tapi ada saja yang membicarakan, jadi seorang wanita lajang memang serba salah," tambah seorang wanita yang sedang hamil, dia tetangga baru.


"Karena menurut orang, memiliki seorang anak perempuan itu seperti memiliki sebuah permata. Orangtua harus bisa menjaganya agar tidak di curi oleh orang lain, dan harus bisa merawatnya dengan baik agar tetap bersih," tambah Irma yang sontak di seru oleh Ira, "Betul sekali ka, betul deh," ucapnya yang masih mengunyah makanan.


"Lucu saja, saya pikir pembicaraan itu hanya berlaku untuk gadis remaja. Tetapi ketika saya kuliah pembicaraan itu semakin menjadi-jadi, mereka bilang: ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti kalo udah nikah jadi ibu rumah tangga, ngurus anak sama bau dapur," belum selesai Irma memotong,


"Nah bener banget, pas saya udah nikah dan beberapa bulan belum punya anak di tanyain: kapan punya anak? ehh lucunya pas sekarang udah punya 1 di tanyain: kapan nambah lagi?"


"Haha bener banget neng Irma, pas udah nambah anak ada yang bilang: kasihan masih kecil udah punya lagi. Gak ada akhir kayanya jadi perempuan salah terus"


"Karena aku belum ngalamin, tapi setelah mendengar ini waah gak ke bayang gimana nanti, ihh ngeri!" ucap Ira selesai makan dan masuk ke dalam menyimpan piringnya.


"Haha Iya Ra, hidup memang selalu ada aja masalahnya. Wajar sih, mereka punya mulut untuk bicara," jawab seorang wanita yang sedang hamil itu.


"Tapi bukan berarti buat ngomongin orang juga ka, kadang suka aneh sama orangtua yang ngomongin anak orang, seolah anaknya sempurna aja gitu. Padahal mereka aja yang gak tau dan mungkin bodoh bahwa di belakang, anaknya bahkan ada yang lebih nakal dari kita, hahaha," tambah Irma mengakhiri percakapan dan mengalihkannya agar tidak memanjang.


Begitu pula dengan Ira yang sudah makan, dia duduk di ruang tamu sambil bermain handphone menghubungi Gadun untuk menanyakan kepastian tentang pertemuannya malam ini.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kabar yang pasti, dia mengisi baterai ponselnya dan sengaja berbaring sambil menonton tv. Perlahan kedua matanya tertutup dan wanita itu tertidur.


*****


__ADS_2