
.
.
.
2 Tahun yang lalu
Malam yang dingin di sertai dengan hujan deras membuat siapapun enggan keluar dari tempatnya berteduh, begitu pula dengan Ira yang pergi bersama dengan Gadun dan berhenti di sebuah tempat perbelanjaan, pria itu sedang membeli apa yang istrinya minta dan Ira hanya terdiam duduk di dalam mobil menunggunya kembali.
Tok tok tok
Seorang wanita berumur sekitar 33 tahunan berdiri di samping mobil, sambil memegang payung berwarna hitam, mengetuk beberapa kali kaca seolah meminta Ira untuk membukanya.
Awalnya Ira terdiam menatap dan bertanya-tanya siapa dia? karena wajah yang tidak sama sekali di kenali. "Mungkin dia perlu sesuatu," dalam pikirnya perlahan membuka pintu mobil lalu wanita itu langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Apaan sih?!" Ira melepas tangannya dengan paksa.
"Saya yang harusnya tanya apaan? lo tau gak itu mobil siapa?" bentaknya menatap Ira.
Degg
Seketika tubuhnya lemas, seluruh badannya gemetar dan dia tidak tau harus berbuat apa. "Apa dia istrinya Suleng?" dalam pikirnya sambil memandang ke arah sekitar, terlihat banyak orang yang sedang meneduh dari hujan.
"Itu mobil suami saya, lo siapa?" tanyanya dengan bentakan sambil menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Ira menarik pusat perhatian mereka dan menjadikannya tontonan.
Dadanya terasa sangat sesak, tenggorokan yang kering membuat dia merasa peras ketika beberapa kali menelan air ludahnya.
"Bagaimana ini?" pertanyaan dalam pikirnya tidak tau harus berbuat dan menjawab apa?
Baru Ira akan menjawab wanita itu membentaknya lagi, "Apa hubungan lo sama Suleng? dasar pelakor gak tau malu!"
"Apa Pelakor? maaf iya mbak, anda salah paham"
"Salah paham? seorang wanita muda dengan pakaian terbuka, satu mobil dengan suami saya, lo pikir gue bodoh? mana ada wanita murahan seperti lo mau ngaku"
Dengan gemetar dan amarah yang Ira rasa sudah tidak bisa di tahan, dengan repleks dia menampar wajah wanita itu.
Plak
__ADS_1
"Dasar murahan!" bentaknya sambil mendorong tubuh Ira hingga terjatuh.
Tidak ada rasa yang dia rasakan selain dari malu, semua orang di sekitar menatapnya dengan tatapan intimidasi seolah hanya dia satu-satunya orang yang bersalah.
"Ada apa mah? ko di sini?" tanya Suleng berlari kecil menghampiri istrinya yang terlihat sudah melayangkan tangan kanannya untuk menampar Ira.
"Siapa wanita ini? kalian berada dalam satu mobil, siapa dia?" bentaknya selangkah maju menatap suaminya itu.
"Salah paham, dia bukan siapa-siapa," jawab Suleng sambil menarik-narik tangan istrinya agar dia masuk ke dalam mobil, tetapi dia bersikeras ingin menampar Ira.
Ira terbangun berdiri merasa kesakitan pada sikutnya yang berdarah karena dorongan yang membuatnya terjatuh.
Dia yang di penuhi dengan amarah, menjambak rambut Ira dan menariknya dengan sangat keras. Tidak bisa menjelaskan rasa sakitnya, yang pasti begitu menyakitkan.
"Dasar jal*ng sialan! gue bunuh lo!" teriaknya menarik keras rambut Ira.
"Tarik aja sampe putus mbak"
"Masih muda sudah berhubungan dengan suami orang, gak tau malu!"
"Injek, bunuh saja wanita murahan seperti dia"
Dari berbagai arah terdengar suara oranglain ikut campur dan menghakiminya, sekarang wanita itu tidak peduli karena yang dia inginkan hanya pergi dari sana.
"Cukup mah cukup!" Suleng menarik-narik tangan istrinya yang justru semakin kuat, sampai tiba-tiba dia melepas tangan yang menjambak rambut Ira ketika seorang wanita paruh baya datang dan menampar wanita itu.
Plak
Semua orang menatapnya, termasuk Ira yang masih merasakan sakit memaksa mengangkat dagunya untuk melihat siapa yang telah menghentikan wanita yang ingin membunuhnya.
"Lo siapa berani-beraninya melukai ponakan gue?" bentaknya membuat keadaan menjadi hening seketika, di sana tidak terdengar apapun selain dari suara hujan yang deras dan motor mobil yang berlalu lalang di jalan.
"Dia ponakan gue yang baru pulang dari luar negeri, gue minta Suleng untuk menjemputnya karena kebetulan dia lewat dan mobil gue belum datang. Apa maksud lo mencemarkan nama baiknya?" bentaknya selangkah demi selangkah memojokkan wanita itu.
"Gue yang nyuruh suami lo, gue yang akan bayar dia karena mau bawa ponakan gue. Masalah lo apa?" teriaknya membuat wanita itu merasa malu karena kesalahpahaman yang telah terjadi, yang sebenarnya itu adalah sebuah kebenaran.
"Siapa wanita paruh baya itu? kenapa dia mau nolong gue? dan ada hubungan apa dia dengan Suleng? apakah mereka saling mengenal?" pertanyaan yang Ira simpan di balik rasa sakit dan malunya dengan kejadian yang telah terjadi.
"Gue gak terima dia di perlakukan seperti ini, dia gak salah apa-apa. Sujud lo sama dia minta maaf?" bentaknya membuat wanita itu terdiam dengan rasa malu dan amarah yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
"Maaf Ma, saya bawa dia pulang," ucapnya menarik tangan istrinya, tetapi wanita paruh baya itu menghentikannya.
"Ini sudah keterlaluan, nama baiknya sudah tercoreng. Liat semua orang melihat dan sudah menjadi tontonan, apa yang akan lo lakuin?" tanyanya menatap tajam wanita itu.
"Dia tidak tau ini soal pekerjaan," ucap Suleng dengan tatapan penuh khawatir pada Ira.
"Maaf, saya tidak tahu jika ini pekerjaan," ucap wanita itu dengan wajah murung dan tertunduk. Ira yang sudah lebih baik justru menjadi merasa bersalah. Dia yang di lukai olehnya, tetapi dia yang harus meminta maaf. Apakah manusia selicik itu? tidak ada jalan terbaik selain dari dia yang harus meminta maaf. Orang-orang yang berada di sana sudah menganggap dia wanita murahan perebut suami orang, meskipun semua itu benar, tetapi Ira tidak terima jika harus di permalukan di depan umum seperti ini.
Tanpa banyak berkata, wanita paruh baya yang menolongnya menarik tangan Ira masuk ke mobilnya. Sebelum masuk, dia merapihkan pakaian dan rambutnya yang
semrawut karena pertengkaran tadi.
"Masuk sayang," ucapnya dengan lembut.
Ira duduk di sampingnya, terdiam beberapa saat menatap wanita itu yang sedang merokok
"Lebih baik sekarang?" tanyanya membuat Ira tersadar dari lamunannya yang masih memikirkan tentang kejadian tanpa di duga sebelumnya.
"Terimakasih tante," ucapnya berulang kali melihat sikutnya yang terluka.
"Haha rasanya terlalu muda jika kamu memanggilku dengan sebutan itu"
"Mungkin terlalu tua jika aku memanggilmu dengan sebutan ibu?" ucapnya sambil mengusap-usap lukanya dengan tisu.
"Mama Tati, kamu bisa memanggilku dengan sebutan itu"
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tetapi mungkin kali ini dia hanya bisa menyimpannya.
"Aku akan pulang," ucap Ira menatapnya yang sibuk dengan handphone.
"Kemana kamu pulang?"
"Ke rumah, aku akan meminta teman untuk menjemputku," jawabnya membuka pintu mobil.
Sebelum dia turun wanita paruh baya itu menghentikannya, "Sebentar! berikan saya nomor handphonemu"
Karena dia wanita dan sudah menolongnya, tanpa ragu Ira memberikan nomor handphonenya. Karena jika orang lain yang meminta Ira selalu menolak, terutama pria. Setelah itu dia turun dan berjalan ke arah tempat duduk sambil menelpon Iki memintanya untuk menjemput.
Tiit Tiit
__ADS_1
Terdengar suara klakson dari arah belakang, Ira menoleh wanita itu pergi dengan mobilnya. Dia tersenyum memaksa dengan pikiran yang masih di penuhi pertanyaan, "Siapa dia dan apa alasannya membantu?"
*****