Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 43


__ADS_3

.


.


.


"Di dunia ini banyak orang baik dan aku bukan salah satunya." ucap Ira mengawali pembicaraan karena mereka semua masih bungkam sambil menatapnya.


"Ra, lo mau cerita? bicaralah sekalipun gue diem. Gue gak tau harus jawab apa dan,,,?" jawab Susan dengan raut wajah yang kebingungan.


"Gini,, kisah awalnya gue udah cerita ke Anggi. Dan gue juga tak ingin terlihat menyedihkan karena hidup yang tidak seberuntung ini." ucap Ira duduk bersandar pada dinding.


"Gak ada orang yang bisa di harapkan dalam hal ini. Saat itu gue masih kelas 3 SMP, seorang gadis perawan yang sama dengan yang lainnya. Heum,, langsung ke intinya. Mungkin sekitar satu minggu sebelum ujian nasional guru selalu negor gue untuk melunasi pembayaran karena nunggak, kalo gak bayar gue gak akan bisa ikut ujian." wanita itu tersenyum, "Sebenernya gue juga gak tau dan tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini, hanya saja gue menyayangkan akan diri gue dan orang tua yang gak bisa di andalkan. Mereka gak bisa bantu di saat gue sedang butuh-butuhnya. Gue juga merasa bersalah akan hal ini karena, gue gak bilang ke siapapun."


Membuka botol air dan meminumnya. "Saat itu kakek sakit keras, nenek yang tanggung semuanya. Ngurus cucu, cari nafkah, ngatur semuanya, intinya keadaan benar-benar buruk. Ayah gue gak bisa di hubungi. Ibu yang berada di luar kota dan semenjak menikah dia tidak peduli. Gue gak mungkin nambah keadaan dengan bilang tentang masalah di sekolah. Gue gak setega itu."


Mereka masih terdiam mendengar apa yang akan Ira bicarakan.


"Gue juga sedikit lupa karena ini sudah 4tahun lalu. Intinya gak orang yang bisa di andalkan dan di harapkan, sampai akhirnya gue bilang ke ka Ayu yang ternyata dia pernah melakukan itu sebelum akhirnya berhenti dan bekerja di restoran."


"Ka Ayu?" ucap Anggi mengerutkan alisnya.


"Kita kesulitan ekonomi saat itu, tapi ka Ayu bisa ngasih bekal jajan adiknya ke sekolah padahal dia belum kerja. Dia bilang secara langsung kalo dia menjual tub*hnya. Sama seperti yang gue rasain sebelum akhir-akhir ini, seolah gue gak ada rasa sakit, rasa kasihan, apalagi rasa bahagia. Mati rasa! gue gak peduli sama diri sendiri, apalagi orang lain.... Ka Ayu gak bisa bantu karena banyak kebutuhan dan dia juga bersekolah di SMA favorit, biayanya lebih besar." wanita itu menghela nafas, "Haha kan gue udah bilang ceritanya panjang?!" ucap Ira menatap mereka.


"Gak usah banyak ngomong, ceritain semuanya!" ucap Susan dengan perasaan campur aduk.


Masih dengan jantung yang berdegup kencang dan badan yang masih gemetar, "Sebenarnya ka Ayu gak minta gue buat ngelakuin itu, dia cuma memberi tahu apa yang dia lakukan. Tapi karena gue gak ada pilihan lain dan yang gue pikir saat itu adalah yang terpenting dapat duit! bayar sekolah, biar bisa ikut ujian dan gak perlu di tegor terus. Gue bilang sama ka Ayu kalo gue mau ketemu sama orang-orang itu."


"Lalu ketemu?" tanya Dewi.


"Iya! Heningnya malam yang dingin, gue pergi di anter sama ka Ayu ke sebuah restoran untuk bertemu pertama kalinya dengan orang yang ingin menemui gue. Inget banget,,, gue berjalan masuk ke tempat makan paling ujung dan dari kejauhan terlihat 2 pria yang berumur sekitar 35tahunan sedang duduk sambil merokok menunggu kedatangan kami. Suleng, memperkenalkan diri. Dia hanya menyebut nama panggilannya, pria yang satu lagi aku tidak tahu siapa karena dia milik ka Ayu. Malam itu kami hanya makan tanpa membicarakan tujuan dari pertemuan itu, berkenalan dengan obrolan yang biasa." wanita itu melihat jam tangan sudah waktu menunjukkan pukul 22:32.


"Gak usah liat jam Ra, terusin aja." ucap Susan.


"Nama aslinya lo tau?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Tau, ini rahasia." Ira tersenyum menatap Anggi yang tidak berbicara sepatah katapun.


"Gue pulang dengan di bekali uang, dia bilang untuk mengganti uang bensin. Ketika perjalanan pulang gue terdiam tidak tau harus berkata apa, gak tau apa yang sebenarnya saat itu gue lakuin. Esok harinya gue sekolah seperti biasa dan masih di tegor karena uang sekolah."


"Lo masih gak bilang sama kakek dan nenek?" tanya Dewi.


"Enggak dew, hari itu pulang sekolah gue sama ka Ayu pergi ke rumah ayah berharap dia bisa bantu masalah kita."


"Dia gak bisa bantu iya?" tanya Anggi akhirnya angkat bicara.


"Ka Ayu bilang tentang masalah gue dan kebutuhan dia. Tapi seperti yang kita duga sebelumnya, ayah bilang 'Ayah gak ada uang, kalo ada juga di pegang ibu' ka Ayu marah dan minta buat di usahain. Mungkin karena antara mengorbankan diri dan tidaknya, dalam hatinya juga dia pasti tidak ingin gue melakukan itu. Dia jarang banget ngajak kita ke rumah ayah, bahkan dia selalu bilang 'Anggap saja kita adalah seorang anak yatim-piatu, jangan berharap pada ibu atau ayah. Itu akan menyakiti diri kita' gue selalu inget dan anehnya sampai saat ini meskipun gue tau akhirnya akan seperti apa, tapi masih saja selalu berharap pada ibu dan ayah. Benar kata orang : Tidak ada yang menyakitiku, aku hanya terluka oleh harapanku sendiri. Itu benar-benar terjadi sama gue."


"Lo adalah seorang anak yang selalu berharap pada orangtua, meskipun lo tau mereka gak akan bisa di harapkan itu normal Ra." ucap Anggi.


"Dan setelah gue pulang ke rumah ka Ayu mencoba menghubungi ibu, tapi gak bisa. Ayah tiri gue seorang penjudi saat itu dia sedang di penjara, lagi pula bila ibu bisa di hubungi tidak menjamin dia bisa bantu. Sampai akhirnya ka Ayu nanya 'Gimana? mau gak?' tanpa banyak berpikir karena besok udah hari minggu dan senin ujian gue iya-in. Beneran udah gelap pikiran gue karena rasa takut dan malu, malu gak sih ketika di sekolah saat lo jajan di kantin atau nongkrong sama temen terus tiba-tiba ada yang bilang 'Ira gimana bayaran sekolahnya? nanti gak bisa ikut ujian' gak enak dan malu juga tau gak sih?"


"Iya sih,, keterlaluan aja gurunya." ucap Susan.


"Awalnya gue pikir gitu, dan membenci juga. Tapi itu normal ko."


"Dunia memang kejam iya?" ucap Anggi.


"Gak harus nyalain ka Ayu, ini keinginan diri gue sendiri."


"Tapi kan setidaknya,," Ira memotong "Ka Ayu udah mati rasa! dia gak peduli apapun selain urusan dirinya sendiri. Itu juga yang gue rasain."


Mereka terdiam.


"Kayanya gak harus detail deh,, gimana iya?"


"Ponsel gue udah pake mode pesawat nih,, terusin Ra." ucap Dewi menyimpan ponselnya.


"Minggu sore menjelang malam, gue pergi ke daerah pantai wisata. Saat itu suleng belum berhubungan kontak dengan gue, hanya melalui ka Ayu. Dua wanita muda pergi ke sebuah hotel tepi pantai untuk bertemu dengan pria yang sebaya dengan ayahnya. Haha lucu bukan? inget banget,,, sampai di sebuah kamar dan gue masuk bersama ka Ayu dan melihat-lihat isi kamar yang elegan itu. Bahkan gue sempet abil gamar dan foto itu gue simpen di akun media sosial, tapi di hapus. Mungkin biasa menurut orang lain, tapi itu perih untuk gue ketika melihatnya. Dan kalian tau? meskipun gue udah hapus fotonya, dalam ingatan gue tergambar jelas. Rambut yang di ikat, memaki celana jeans dan tangtop berwarna hitam yang di tutup jaket levis, seorang wanita remaja yang mungil duduk di atas ranjang sambil tersenyum.. Heumm,,," Ira tersenyum menatap Anggi, tapi mata tidak bisa bohong. Dia berkaca-kaca berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Ra,,kalo gak bisa udah!" ucap Anggi dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Haha santai, ini memang luka. Tapi mungkin ada baiknya di ceritakan karena gak semua luka itu akan sembuh oleh waktu." Ira tersenyum.


"Waah pantas saja Ari tergila-gila dengan wanita ini haha." Susan menggodanya.


"Kalian tau? mungkin ada banyak luka yang lebih dari ini."


"Apa? udah,, yang ini dulu." ucap Dewi.


"Gini,,, terlihat dari jendela pria itu datang menghampiri. Gue dan ka Ayu ke ruang tengah menemuinya, dia datang membawa beberapa cemilan dan minum yang bahkan sampai saat ini menjadi minuman favorit gue."


"Gue tau itu," ucap Susan.


"Tanpa banyak bicara pria itu mengisyaratkan ka Ayu untuk keluar kamar menunggu, dia keluar dan menutup pintu. Saat itu perasaan gue langsung berubah gak karuan antara bingung dan ketakutan, mungkin karena gue berada dalam sebuah ruangan bersama dengan pria yang gak sama sekali gue kenal. Latar belakangnya seperti apa? dia baik atau tidak? sampai pria itu merangkul pundak gue dan menggiringnya ke kamar. Heumm,,, cape iya banyak ngomong?" tanyanya.


"Lalu?" Dewi penasaran.


"Lalu apa lagi? pria itu mematikan lampu kamar dan gue di gendong ke atas ranjang, membuka pakaian gue dan,,,? rasa ini yang sampai saat sekarang gue rasain. Gimana rasanya ketika harus berhubungan badan dengan seorang pria yang tidak kita kenal? yang tidak kita cintai? yang bahkan umurnya sebaya dengan ayah kita? itu,," Ira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum," Saat melakukan hubungan itu, gue gak merasakan apapun selain dari sakit dan perih. Itu pertama kalinya gue melakukan, orang bilang : nikmatnya tiada dua. Tapi kenapa yang gue rasakan berbeda?"


Keringat dingin, dengan badan yang gemetar membuat lutut terasa lemas, wanita itu menghela nafas panjang dan melanjutkan ceritanya.


"Keringatnya bercucuran menetes pada tubuh gue yang telanjang, dalam hati dan pikiran gue saat itu hanya 'Begini rasanya? ini perih, ini pengalaman pertama dan terakhir gue'. Kenyataanya? manusia bisa berencana tetapi Allah punya realita...Huuhhh!" wanita itu mengehela nafas panjang, "Setelah selesai pria itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan gue masih duduk di atas ranjang dengan tubuh telanjang yang di tutupi oleh handuk. Dia keluar kamar mandi memakai pakaiannya dan menghidupkan lampu kamar, lalu nyuruh gue untuk membersihkan diri. Saat itu gue masih merasa malu dan enggan beranjak karena ada dia, pria itu mengerti lalu keluar kamar menunggu di ruang tamu. Gue beranjak dan melihat ada bercak darah di atas seprei,,"


Susan memotong, "Bentar, ada darahnya Ra?"


"Dia kan perawan San." ucap Dewi.


"Gak banyak berpikir dan hanya tau saja gue pergi ke kamar mandi membersihkan diri, di saat gue buang air kecil rasanya perih sekali. Sakit, kebas, gak berasa apa-apa. Gue kembali memakai pakaian dan keluar kamar terlihat pria itu sedang duduk di kursi sambil merokok. Dia menawari gue makanan dan gue hanya minum. Karena rasa sakit dan perasaan yang gak karuan, gue ingin cepat pulang. Dia memberi gue uang dan pergi lebih dulu keluar kamar."


"Ka Ayu dimana?" tanya Susan.


"Dia duduk di luar di temani seorang pria pegawai hotel mungkin,, dari ambang pintu gue liat dia berbicara dengan pegawai hotel dan memberinya beberapa lembar uang begitu pula ka Ayu."


"Ka Ayu di kasih uang gitu?"


"Iya,, dia masuk menatap gue dengan mata yang berkaca-kaca sambil tersenyum. Lalu kita pulang, tanpa berkata apapun tapi gue mengerti hatinya pasti merasa sakit dengan apa yang telah terjadi. Tapi dia tidak bisa apa-apa dan yang sudah terjadi tidak bisa di perbaiki. Semati rasa apapun dia, tidak mungkin dia gak nangis karena melihat adik perempuan yang dia sayangi sudah masuk ke lingkaran gelap meskipun saat itu gue belum terjun sepenuhnya."

__ADS_1


"Sejak saat itu, gue berusaha untuk baik-baik saja, karena semuanya adalah kenyataan dan sudah terjadi. Orang lain gak akan pernah tau, seberapa besar usaha gue untuk mempertahankan akal sehat dan kewarasan diri ini di saat badai masalah terus datang menghantam tubuh yang sebenarnya lemah. Yang mereka tau hanyalah menilai dan mencari kesalahan gue kemudian menghakimi gue." ucap Ira mulai merasa marah karena keadaan.


*****


__ADS_2