Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 16


__ADS_3

.


.


.


"Lucu sekali setidaknya ada perasaan sedikit bahagia hari ini sebelum esok menambah kenangan yang pahit." wanita itu berkata dalam hati.


"Bagaimana caranya mencintai diri sendiri, di tengah-tengah sakitnya kehidupan ini?" ucap Ira memecah keheningan.


"Aku tidak akan mengatakan secara langsung bahwa kau harus mencintai dirimu sendiri karena aku tau itu sulit."


"Tapi terkadang kau harus meyakini dirimu bahwa dari banyaknya kesakitan, pasti akan ada akhir bahagia." sambung Ari


"Kapan itu terjadi Ri?"


"Tidak tau. Kau mungkin lebih tau bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Ketika saat ini kau ada masalah dan kau berhasil menyelesaikannya, bukan berarti kau akan terbebas dari masalah. Coba kau lihat di luar sana banyak sekali orang yang memiliki masalah dan pastinya berbeda-beda. Di dunia ini tidak ada orang yang tidak memiliki masalah Ra." jawab Ari menatap wanita itu.


"Iya aku tau. Aku juga menyadari bahwa di luar sana mungkin ada orang lain yang masalahnya jauh lebih berat."


"Bisa atau tidaknya kamu menyelesaikan masalah itu tergantung bagaimana kamu menghadapinya. Tetapi ingat ini! meskipun hidupmu banyak sekali di timpa masalah dan kamu tidak menjadikan itu sebagai pelajaran untuk kedepannya semua itu percuma. Hanya membuang waktu, tenaga, pikiran, air mata dan sakit hati. Kau pasti mengerti maksudku!"


Ira terdiam mendengar apa yang di katakan oleh Ari. Bagaimana bisa dia berpikir seperti ini di tengah-tengah hancurnya kehidupan dia karena posisinya sama seperti Ira. Dia juga perlu bekerja sebagai pengganti ayah dan memenuhi semua kebutuhannya sendiri.


"Iya memang semua anak tidak ingin menjadi beban orangtuanya tapi terkadang aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya meminta uang jajan, uang sekolah, membeli barang apa yang aku mau arghhh hidup memang adil haha."


"Adil sekali." mengusap rambut Ira.


"Apa aku mabuk?"


"Mungkin antara iya dan tidak, tapi sudah jangan meminumnya lagi besok sekolah!"


"Tapi lapar mau makan."


"Mau makan apa?"


"Bakso seger kayaknya."


"Bukan seger, tapi itu kan favorit kamu."


Ira hanya tersenyum.


Ari melihat jam di tangannya pukul 20:42 "Udah mau jam sembilan. Yuk katanya mau makan bakso nanti keburu tutup?"


"Iya yuk." beranjak dari duduk memakai topi dan maskernya.


Ari berjalan lebih dulu.


"Ini gimana?" tanya Ira mengenai botol anggur dan tikar.


"Udah di bayar tadi sama si amangnya (bapak warung sebrang) nanti kalo kita pulang di ambil."


"Oh iya biasanya kan botolnya suka di minta lagi." Ira sembari jalan menuju motor.


Ari membuka jok motor mengambil jaketnya.


"Nih pake, nanti masuk angin!"


"Iya makasih." memakai jaketnya.


Menghidupkan motornya menunggu Ira naik.


"Bentar rambutnya mau di kuncir dulu." ucap Ira mengikat rambutnya.


"Padahal gak usah bu."


"Udah lah!" menaiki motor.


"Udah?" tanya Ari perlahan maju mengendarai.


"Apakah ini tempat pertama yang kita datangi berdua? tanpa pengganggu?"


"Iya, tempat ini, mungkin aku akan sedikit mengingatnya nanti"


"Bukan kamu, aku juga!"


Ira memeluk Ari dan terdiam melihat pantai yang akan di tinggalkan ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan entah apa itu.


Saat itu dia hanya melihat pantai yang kosong mungkin karena angin yang kencang dan gelombang air yang tinggi tidak ada perahu nelayan yang menangkap ikan saat itu.


Begitu pula dengan keadaan di pinggir pantai biasa ramai di penuhi dengan bule yang menyendiri entah kenapa malam itu benar-benar sepi.


*


Tidak berapa lama motor telah melaju memasuki daerah alun-alun kota nampak begitu ramainya orang dan beberapa pedagang kaki lima.


"Mau di sini apa maju lagi?"


"Ah gak mau di sini ramai, di mang agus aja." balas Ira bermaksud pada tukang bakso yang bertempat di sebelum sekolahnya.


"Iya tau, maksudnya mau jajan dulu gak? banyak tuh tukang jajan tuh!"


"Haha pengertian amat si." menyubit perut Ari.


"Jadi berhenti gak nih?"


"Gak usah, puter balik aja langsung ke mang agus!"


"Iya enteng banget gak minta yang aneh-aneh." ucap Ari lalu berhenti memutar balik menuju arah sekolah.


"Anj*ng diam-diam kencan nih!" ucap seorang pria dari arah samping.


"Lah diamah emang punya gue!"


"Dari mana lu? hotel iya?" tanyanya.


"Bangsat sembarang. Gak usah di samain sama yang lain lah beda inimah!"


"Dih euneuk gue dengernya."


"Lo mau kemana? ngamar iya?" tanya Ari tertawa.


"Anj*ng bener aja lo haha?"

__ADS_1


"Bangsat lo."


"Duluan Ri." pria itu menancap gasnya.


"Siapa? kaget sumpah!" tanya Ira.


"Itukan si Teguh, anak TKR 3."


"Oh iya? gak sadar."


"Jarang masuk sekolah, sekalinya masuk gak pernah keluar kelas paling tidur. Gak guna sih, tapi pinter dia."


"Hmm iya jadi karena pinter meskipun jarang masuk sekolah gak bakalan di do (dropout) gitu?"


"Iya dia kan berguna. Ikut juga beberapa organisasi sekolah."


"Hmmm,," Ira terdiam.


Mereka sampai di tempat bakso. Ari menghentikan motornya dan turun.


"Yuk?"


b.erjalan dan masuk.


"Dari mana Ri? loh bareng sama Ira?" tanya mang agus (tukang bakso).


"Dari pacaran!" balas Ari tersenyum.


"Ayehhh enak anak muda ini."


"Apa sih mang sirik aja?" ucap Ira tersenyum.


"Bakso campur 1, bakso sayurnya 1!" pesan Ari.


"Mau es jeruk juga!" tambah Ira.


Mereka berdua duduk di pojok.


Ira melepas topi dan maskernya kemudian mengatur kembali rambutnya. Membuka kamera ponsel berkaca.


"Cantik!" ucap Ari.


"Emang!" Ira tersenyum.


"Iya makanya suka."


"Udah tau. Suuuttt!!" Ira tersenyum malu.


"Misi neng," ucap mang agus menyimpan baksonya.


"Makasih mang."


Mereka mengaduk baksonya.


"Nih neng." mang agus mengantar es jeruk.


"Neng terus?" ucap Ari.


"Iya nih Riii!"


Ari selesai lebih dulu dan bangun dari duduknya berjalan keluar.


"Kemana?" tanya Ira.


"Kabur!"


"Sana!"


"Ambil roko di motor Bu." ucapnya.


Ira hanya mengangguk.


Ari kembali duduk dan menyulut sebatang roko.


Ira selesai dengan makanya.


"Teh mau salad buah 1!" ucap Ira pada istri mang agus.


"Iya bentar,"


"Abis ini mau langsung pulang?"


"Iya emang?"


"Nanti mampir dulu ke anak-anak."


"Mau apa?"


"Mau pamer haha!"


"Heumm terserah!" jawab Ira tersenyum.


"Ini neng." mang agus mengantar salad buah.


"Aaww makasih."


Kemudian dia memakannya.


"Aaaa" Ira mau menyuapi Ari.


"Lagi ngerokok bu."


"Iyaudah gak usah!" Ira memakannya.


"Aaa mana?"


"Penawaran habis!"


"Loh?"


"Dasar!" balas Ira menyuapinya.


Setelah selesai Ari membayar semuanya dan mereka keluar.

__ADS_1


"Gak usah pake masker bu."


"Kenapa emang?"


"Gak apa sih."


Mereka menaiki motornya dan melaju.


"Ri?" sapa seorang pria berpapasan di jalan.


"Yeu!" balas Ari.


"Gak apa-apa bu mampir dulu?"


"Iya yuk."


Di persimpangan depan Ari belok menuju kontrakan tempat arif dan beberapa teman tinggal.


Dari kejauhan sudah terlihat mereka sedang duduk berkumpul di halaman dengan bermain gitar, minum kopi dan merokok.


"Assekkk!!" Arif menyapa.


Ari menghentikan motornya kemudian turun di susul oleh Ira.


"Dari mana lo?" tanya Rendi.


"Mantai!" balas Ira.


Ari duduk menyulut roko dan menatap Ira mengetuk tangannya pada lantai mengisyaratkan agar Ira duduk di dekatnya.


"Ko tumben gak ngajak Ri? apa emang sering pergi berdua?" tanya Rendi.


"Sering sih cuma kita aja yang gak tau!" jawab Beni.


"Gue gak nanya ke lo Ben." balas Rendi.


"Haha harusnya sih pergi sama gue iya Ra?" ucap Beni.


"Iya nanti kapan-kapan." balas Ira.


"Kapan itu kapan?"


"Iya kapan-kapan haha"


"Oh jadi alesan tadi gak mau pergi ke pantai mau jalan berdua? Oh!" ucap Pras.


"Mungkin haha!" balas Ira tertawa.


Ira lalu diam memperhatikan suasana yang tidak dapat di jelaskan, ada kolam ikan di bawah pohon jambu dengan air terjun kecil yang membuat air kolam itu tidak pernah nampak tenang.


Terdengar Ari sedang berbicara dengan rezki yang sedari tadi memainkan gitarnya. Jika dia sedang berfokus pada sesuatu Ira bisa tidak mendengar percakapan seseorang sekalipun orang itu berada di dekatnya seolah suara itu terdengar jauh


"Heumm." Ari mengusap wajah Ira yang sedang melamun.


"Apa sih?" balas Ira memandang Ari.


"Kebiasaan!"


"Gak, suka merasa tenang aja kalo liat kolam ikan yang airnya mengalir."


"Iya kamu kan suka dengan air."


"Mau kopi bu?" Rezki menawari.


"Enggak makasih."


Ari bangun dari duduknya.


"Yuk pulang?"


"Mau balik sekarang lo?" tanya Beni.


"Iya ngapain?"


"Udah diem aja, Ra mau di anterin sama gue?" tanya Beni tersenyum.


"Haha yakin mau nganterin?"


"Seriusan!"


"Iya yuk?" ucap Ira tersenyum sembari menatap Ari.


"Macem-macem lo!" ucap Ari.


"Apa Ri? Iya silahkan paling nanti ujungnya gue embat haha." ucap Beni tertawa.


"Anj*ng emang!" Ari menghidupkan motor.


"Pulang iya?" Ira memukul pelan pundak Rendi kemudian menaiki motornya.


Rendi hanya mengangguk.


"Gue balik dulu!" ucap Ari pada mereka.


"Iya langsung balik, tapi kalo mau mampir ke hotel juga terserah lu sih haha!" teriak Beni.


"Bangsat mikirnya." balas Ari tersenyum.


Ira hanya tersenyum mendengar itu karena dia tau itu hanyalah sekedar candaan. Justru dari banyaknya teman lelaki berengsek hanya mereka (anak tkr) yang berbicara sembarangan tetapi baik perlakuannya terhadap wanita.


Ari melaju meninggalkan tempat itu menuju arah pulang mengantarkan Ira.


"Dingin gak? udah tengah malem ini."


"Dikit, kan pake jaket. Harusnya aku yang tanya, Ari pake kaos doang."


"Dingin sih, gak ada niatan buat meluk gitu?" ucap Ari yang sadar bahwa dari tadi tangan Ira memegang ponselnya.


"Haha iya iya bentar." menyimpan ponsel pada jaket dan memeluk Ari.


"Jika saja kenyamanan ini akan bertahan lama mungkin kehidupan akan lebih baik. Di setiap harinya tidak ada perasaan yang lebih jelas selain dari rasa takut, kesepian, dan sakit hati. Hmmm..." Ira berkata di dalam hati.


Mereka sudah meninggalkan perkotaan yang ramai. Keadaan jalan justru sepi hanya ada beberapa motor dan mobil yang melaju. Melihat jauh ke depan hanya ada jalan kosong dan lampu merkuri yang menerangi.

__ADS_1


****


__ADS_2