Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 17


__ADS_3

.


.


.


Sekitar satu jam mereka akhirnya sampai. Ari membelokkan motornya dan berhenti di depan rumah nenek Ira.


"Heummm,," gumam Ira sambil turun dari motornya.


"Langsung pulang iya?"


"Iya hati-hati soalnya mendung. Nih pake makasih" balas Ira mengembalikan jaketnya.


"Iya." Ari tersenyum memakai jaket.


"Boleh minta sesuatu gak?"


"Apa?"


"Enggak jadi." Ari tersenyum.


"Muach!" Ira mengecup bibir Ari.


"Haha sebenarnya bukan itu sih." Ari tertawa


"Masa?"


"Lain kali. Iya udah sana masuk!"


"Iya sana pulang dulu!"


"Iya pulang iya?" berangkat dengan motornya.


Ira tersenyum melihat pria itu meninggalkannya.


Setelah hilang di belokkan Ira berjalan menuju rumah.


"Mungkin mereka sudah tidur." ucap Ira melihat rumah nenek yang lampu dalamnya sudah di matikan begitu pula rumah Ira.


"Di kunci gak iya" ucap Ira


Dia berdiri di depan pintu bimbang antara mengetuk dan memanggil ibunya.


"Krek!!" coba membuka pintu.


"Loh gak di kunci? tumben." gumamnya masuk ke rumah dan menguncinya.


Membuka pintu kamar mengganti celana jeans-nya dengan celana pendek. Duduk di depan cermin menyisir rambutnya, pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil dan membersihkan muka.


Mengusap mukanya dengan handuk. Kembali duduk di depan cermin memakai cream malam dan handbody kemudian membereskan kasurnya dan mematikan lampu kamar.


"Bruggg!!" wanita itu berbaring di atas kasur.


Melihat ponselnya belum ada pesan atau panggilan dari Ari.


"Mungkin dia belum sampai." ucap Ira meletakkan ponselnya dam memandang lurus ke langit kamar yang gelap.


Terdengar angin berhembus di luar dan tiba-tiba,


"Dherr ghrudug ghrudug!!!" suara petir.


"Loh hujan?" ucap Ira bangun dari tidurnya melihat ke jendela.


Di luar gerimis ringan dan angin yang berhebus menggoyang kan pohon dan tanaman di luar.


Semakin lama air hujan turun menjadi rapat.


"Dherrrr!!" hujan deras membasahi bumi.


Ira yang sedari tadi berdiri di depan jendela memperhatikan suasana di luar rumah tersentak oleh suara petir.


"Ghrudug ghrudug!!!" suara petir.


Dia menutup gordennya dan melihat ponsel memikirkan Ari yang belum menghubunginya bertanya-tanya apakah dia kehujanan atau sudah sampai sebelum hujan?


"Semoga petirnya tidak semakin keras." ucap Ira kembali tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Wanita muda itu sedari kecil sangat takut dengan suara petir apalagi yang menggelegar keras. Ketika dia tidur harus ada yang memeluknya hanya saja sejak ibunya pergi meninggalkan, dia berusaha untuk melawan rasa takut itu dan dia bisa sedikit mengatasinya sekarang


"Bagaimana bisa dia belum menghubungi?" ucap Ira bangun dari tidurnya dan duduk bersandar

__ADS_1


"Ri udah sampai? disini hujan" Ira mengirim pesan.


Meletakkan ponselnya mengambil nafas panjang.


"Heummm yaalloh kalo hujan turun, cukup hujan aja jangan sama petir aku takut."


"Kalo sama petir, petirnya udah segini aja jangan tambah di perkeras suaranya."


"Ghrudug ghrudug!!"


Perempuan itu kembali tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut


Ponselnya menyala dia langsung melihat dan itu pesan dari Ari.


"Hujan bu, ini baru sampai!"


"Terus hujan-hujanan gitu?"


"Iya dikit. Mau neduh tapi bentar lagi nyampe tanggung."


"Hmmm langsung mandi gih!"


"Udah ko, ini lagi ngopi dulu biar anget."


"Ngebut iya? cepet nyampe."


"Iya dikit."


"Iya udah aku tidur!"


"Gak ada petir kan di situ?"


"Ada, tapi gak keras ko bisa tidurmah."


"Ohh iyaudah. Selamat tidur."


"Hmmm iya."


Wanita itu mengaktifkan mode pesawat dan meletakkan ponselnya.


"Udah udah sekarang harus tidur gak mau mikirin hal yang lain!"ucap Ira mendengarkan suara hujan dan gemuruh petir sebagai lagu penghantar tidur.


**


Tersentak Ira langsung bangun dari tidurnya.


"Iya bi bentar," balas Ira teriak.


Bangun mengambil uang 10 ribu di dompet lalu keluar dengan mata sebelah tertutup dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.


"Teh mau jajan?" tanya Tia yang sudah duduk di depan memilih makanan.


"Nih ada onde?" ucap bi Ita penjual gorengan yang sudah menjadi langganan Ira dari sejak dia kecil.


"Iya bi." Ira memilih beberapa onde, lontong, bakwan dan tahu isi.


"Teh beli banyak?" tanya Tia


"Iya karena Tia udah beli kasih ke ka Sindi iya!" balas Ira memisahkan makanan untuk adiknya itu.


"Makasih iya" ucap bi Ita pergi.


"Tolong anterin iya!" ucap Ira masuk kembali ke kamar.


Wanita itu memakan lontong dan bakwan sebelum mandi. Melihat ponsel dan menonaktifkan mode pesawat. Menunggu pesan dan panggilan siapa yang masuk.


"Waahh,, ternyata aku cantik bahkan di saat bangun tidur dan makan sebelum cuci muka haha." ucap Ira melihat pada cermin memuji dirinya sendiri.


"Astagaa rambutnya kaya singaaaaa hahaha!!" ucap Sindi yang ternyata ada di ambang pintu kamar Ira.


"Hihh kaget Sin!" Ira tersentak.


"Teteh yang beliin ini?" bakwan yang di beli.


"Iya teteh beli."


"Makasih, tapi tadi kakek juga beli terus nyuruh nganterin buat teteh haha."


"Hah? haha gak usah, bawa lagi sana. Ini juga ada teteh lagi makan.


"Iya udah deh!" Sindi pergi keluar kamar.

__ADS_1


"Baru memuji diri sendiri malah malu haarrghhh." ucap Ira memandang dirinya di cermin.


Setelah selesai makan 2 pasang lontong dan bakwan keluar menuju dapur. Minum dan mencuci tangan.


"Bentar dulu lah!" melihat jam tangan baru pukul 05:52.


Masuk kembali ke kamar melihat ada beberapa pesan masuk dan panggilan yang tidak terjawab.


Melihat pesan yang masuk sebagian banyaknya dari gadun. Tapi ada satu pesan balasan dari Ari semalam.


Awalnya Ira pikir itu hanya pesan biasa. Tetapi ketika dia membuka pesan itu perasaannya tidak karuan entah senang atau sedih.


"Hei, ini memang sedikit lebay bahkan mungkin memalukan tapi aku tidak peduli. Selamat tidur dan terimakasih untuk waktu yang telah kamu luangkan. Jika boleh aku jujur, kali ini aku benar-benar berniat untuk memilikimu beri aku kesempatan. Baik buruknya kamu aku akan berusaha untuk menerima apa adanya. Bersandarlah padaku, bahuku cukup kuat untuk berbagi semua keluh kesahmu." pesan dari Ari.


"Hah? haha are you kidding me?" ucap Ira kembali membaca pesan itu seolah tidak percaya.


"Haha ini hanyalah sebuah gombalan biasa. Ira come on!"


"Ini masih pagi dan bisa-bisanya gue haha." Ira yang dari tadi tertawa seketika dia langsung terdiam ketika melihat dirinya di cermin.


"Baik buruknya aku kamu akan menerimaku? are you kidding me? aku bahkan bukan hanya membenci diriku sendiri tetapi dengan semua hal yang telah aku lakukan."


"Aku berusaha untuk melupakan semuanya tetapi aku bahkan belum bisa keluar dari lingkaran gelap ini. Bisa-bisanya kamu bilang mau menerimaku? haha bukan hanya tubuhku yang hina tetapi sebagian tubuhku juga rusak." ucap Ira sembari mengelus paha kanannya yang dimana banyak sekali luka sayatan silet yang telah dia lakukan di kala merasa sudah tidak bisa menanggung semua bebannya.


"Haha ini gila!" tertawa tetapi matanya mengeluarkan air mata terlihat seperti wanita gila yang sedang depresi.


Ira membuka bajunya, melihat dan mengusap luka sayatan di lengan kiri bagian atas (Humerus).


Tersenyum dan air matanya jatuh membasahi pipinya.


Mengambil ponselnya.


"Kau tau? bukan aku tak ingin mencintai atau di cintai. Aku ingin bahkan sangat ingin. Aku ingin berbagi keluh kesahku. Aku ingin meringankan semua beban masalahku. Aku ingin menggapai kebahagiaanku tapi aku tak ingin berharap lebih padamu. Kenapa? karena aku tau berharap pada manusia adalah seni yang paling sederhana untuk menderita." Ira membalas pesan Ari.


"Terimakasih untuk segalanya. Untuk saat ini seharusnya cukup dengan pertemanan tanpa perlu melibatkan perasaan."


"Bisakah tetap saling menyayangi seperti ini? aku tahu ini salah karena tidak ada sebuah kejelasan.


Tapi, untuk saat ini aku tak ingin berharap dan menyakiti siapapun entah itu kamu atau aku. Maaf jika aku egois." sambungnya.


Ira meletakkan ponselnya mematung di depan cermin. Satu yang dia takutkan hanyalah, ketika Ari tahu yang selama ini di lakukan olehnya. Karena Ira juga tak ingin kehilangan pria sebaik Ari begitu pula Ira tidak ingin memilikinya karena dia menyadari bahwa dia perempuan yang seperti apa.


"Kesekolah apa jangan iya? bagaimana jika nanti bertemu dengan Ari? mengapa menjadi canggung seperti ini?"


Perempuan itu bangun dari duduknya. Mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu dan langsung ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit selesai mandi dia langsung bergegas memakai seragam sekolahnya dan berdandan berusaha untuk tidak melihat ponselnya meskipun dia penasaran apa yang akan di jawab oleh Ari.


"Sebentar, tadi gue beneran nangis? haha lucu sekali di saat gue mau nangis air mata seolah kering tak ada yang keluar. Giliran urusan kek gini mudah banget keluar. melibatkan perasaan memang menyakitkan!"


"Tiittt tiitt Raaa ayooo!!" ucap Iki.


"Iya bentar," Ira selesai berdandan memakai kerudung dan masker tidak lupa jaketnya dan menyemprotkan minyak wangi sebelum keluar kamar.


"Bentar," Ira duduk memakai sepatunya.


"Masalahnya gue cuma takut hujan si udah gitu aja, soalnya cuca hari ini tidak mendukung agak mendung tuh!" ucap Iki memandang langit.


"Iya sih." Ira selesai berdiri bercermin di jendela.


Melangkah keluar rumah.


"Ehhh bentar bentar sumpah. Ponsel tidaaak!!" ucap Ira berlari kembali ke kamarnya.


Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kamar. Dia langsung membawa dan menyimpan pada saku tanpa melihatnya.


"Iya yuk?" ucap Ira menaiki motor duduk.


Iki menghidupkan motor dan langsung melaju.


"Nekkk berangkat!!" ucap Ira melewati rumah neneknya.


"Aahh aku paling merasa nyaman dengan keadaan seperti ini."ucap Ira.


"Apa Ra?"


"Pagi yang berangin dengan langit yang luas berwarna putih di penuhi dengan awan bergumpal (cumolunimbus) tidak dapat di jelaskan tapi ini nyaman."


Iki hanya terdiam tanpa membalas apapun, dia fokus mengendarai motornya.


*****

__ADS_1


__ADS_2