
.
.
.
*Duut duut* panggilan masuk membangunkannya dari tidur.
"Iya?"
"Ra lagi apa?" tanya Dewi.
"Lagi tiduran sih, gimana dew?"
"Gimana iya?"
"Cerita aja!"
"Lo kan tau gimana rasanya ketika sebenarnya banyak yang mau di ceritain tapi bingung harus dari mana?"
"Iya sih, besok di sekolah gimana? kita naik ke atas."
"Iya besok ra." Dewi mematikan teleponnya.
Ternyata ada pesan dari Ari.
*Isi pesan*
"Ini langsung kerja bu."
"Lagi apa?"
"Bu?"
"Padahal kalo tidur udah tadi di rumah!"
"Baru bangun" balas Ira.
*Isi pesan*
"Nanti malam kemana?" Gadun 2.
"Gak kemana-mana."
"Boleh ketemu?"
"Jam berapa? dimana?"
"Nanti di kabarin sore."
Dia orang ke-dua yang selama 2 tahun ini bersama Ira. Mungkin karena dia selalu bersikap lembut Ira merasa sedikit nyaman dengannya.
Kali ini Ira mau melakukannya lagi karena di dalam hatinya dia berniat untuk mencoba kembali keluar dari lingkaran gelap ini. Berkali-kali pergi, berkali-kali itu dia kembali sampai akhirnya dia merasa lelah untuk kembali bangkit.
Sekarang.
"Aku akan berusaha, jangan biarkan aku menyerah Ya-Alloh." ucapnya dalam hati.
"Ini tubuhku, aku yang merasakan sakit, aku yang berdosa dan aku juga yang menanggungnya. Aku tidak peduli dengan orang lain. Meskipun mereka menganggap aku wanita yang hina, sampah, menjijikkan!"
"Mereka tidak tahu bagaimana berusahanya aku keluar dari kehidupan ini. Mereka tidak percaya pada semua perilaku dan perkataanku sekalipun aku sudah berusaha untuk jujur. Mereka tidak tahu bahwa ini benar-benar sakit yaalloh."
"Sekalipun aku hanya melac*rkan diri pada dua orang ini mereka tidak akan ada yang mempercayainya. Karena aku seorang pelac*r mereka selalu menganggap aku tidur dengan siapa aja. Memang sebagian orang ada yang seperti itu, tetapi aku tidak. Tapi aku tau seberusaha apapun aku menjelaskan tidak akan ada yang mempercayainya. Terkadang ingin sekali rasanya aku menangis keras, berkata kasar, berteriak bahwa meskipun aku seorang pelac*r tapi aku juga manusia. Aku sama seperti wanita di luar sana yang memiliki hati dan perasaan. Aku juga berhak untuk di hargai, aku berhak untuk di hormati. Tapi mereka semua menghilangkan semua hak itu untukku." ucapnya meneteskan air mata.
"Rasanya sakit sekali (menepuk beberapa kali dadanya yang terasa sesak)."
*
"Teeehh?" teriak Sindi.
"Yeuu?"
__ADS_1
Masuk ke kamar.
"Lagi apa?"
"Gak enak badan."
"Abis nangis iya?"
"Haha iya."
"Makan es kelapa yuk? di tunggu nenek."
"Gak usah, sana aja!"
"Ayo ih, di suruh nenek buat jemput teteh."
Ira beranjak dari duduknya keluar kamar bersama Sindi langsung menuju rumah nenek terlihat Hesti sedang meminum es kelapa.
"Sini neng!" ucap Kakek yang berdiri di ambang pintu.
Ira duduk di dekat nenek yang sedang menuangkan untuk Ira.
"Nih di minum seger Neng!"
Ira menerima dan meminum airnya.
"Neng?"
"Iya?"
"Nangis iya? Kenapa?"
Ira teridam menatap nenek yang justru bertanya seperti itu membuat dada Ira semakin sesak.
Menghampiri nenek dan memeluknya.
Wanita itu menangis tak bersuara.
"Kenapa neng?"
"Salah itu wajar, sengaja atau tidak di sengaja pasti sebabnya." ucap Nenek mengusap kepala cucu perempuannya itu.
"Ira cape nek. capeeek, Ira cape gini terus.
Kapan kehidupan ini berubah?"
"Sabar neng. Nenek gak tau perasaan neng gimana. Tapi sesakit dan sekecewa apapun neng harus bisa sabar."
Wanita itu semakin menangis karena banyak sekali hal yang sebenarnya ingin dia katakan pada neneknya itu.
"Udah udah, di liatin sama adik-adik kamu tuh!"
Ira melepas pelukan mengusap air matanya dan duduk terdiam (melamun).
"Kalo jadi nanti Ira mau pergi lagi nek?"
"Pergi kemana?"
"Ke rumah temen nek, bentar lagi mau praktik kerja lapangan jadi banyak yang harus di diskusikan." ucap Ira merasa bersalah.
"Maaf nek, lagi dan lagi. Sebenernya akupun sudah lelah berbohong." ucapnya dalam hati.
"Iya jangan terlalu malem pulangnya neng! kalo malem mendingan nginep. Gak enak juga di lihat orang, mereka gak tau apa-apa tapi berbicara hal yang buruk."
Wanita itu hanya mengangguk.
"Ira pulang!" berjalan menuju rumahnya terlihat ibunya sedang duduk di depan rumah dengan Tia.
"Dari mana teh?" tanya Tia.
"Dari nenek." nyelonong masuk.
__ADS_1
Ibunya hanya diam memperhatikan.
*2 panggilan tak terjawab* dari Ari.
"Iya?" mengirim pesan.
*Duut duut duut*
"Iya ri?"
"Bu lagi apa?"
"Abis dari nenek, gimana?"
"Enggak sih cuma mau bilang, kalo misalnya besok aku gak masuk berarti belum punya kerja iya. Soalnya ini keluar kota."
"Ohh iya gak papa, makan!"
"Iya kalo udah pulang pasti kesekolah sih, cuma mau ketemu sama kamu haha."
"Kesekolah belajar Ri."
"Belajar itu kewajiban, tapi ketemu kamu adalah keharusan."
"Haha iya iya."
"Aku begitu menyadari bahwa wanitaku ini di sukai beberapa laki-laki di sekolah, jika gue gak masuk banyak kesempatan nih mereka."
"Aku kan pernah bilang, aku cuma mau kamu percaya sama aku!"
"Iya aku tau, tapi khawatir itu hal yang wajar bukan?"
"Iya." tersenyum senang merasa di cintai.
"Iya udah, jangan lupa makan iya. Ini lagi nyetir."
"Iya hati-hati!" mematikan teleponnya.
Melihat jam sudah pukul 14:38.
"Kenapa dia belum mengabari (Gadun)?" ucap Ira.
Jika mengingat tentang ini, untuk Pria tua itu (gadun 1) Ira seolah membencinya tetapi dia tidak bisa apa-apa, dia masih membutuhkannya karena pria itu tidak pelit soal uang.
Untuk Pria ini (gadun 2) Ira jarang sekali bertemu dengannya. Tapi Ira merasa lebih nyaman dan bahkan ketika pergi bersama lalu istrinya menelpon, ada rasa ingin mengangkat teleponnya memberi tahu bahwa suaminya sedang bersama dengannya. Lucu bukan? pikirnya dalam hati.
*Klik* Pesan masuk
"Yang benar saja?" ucap Ira karena itu pesan dari Gadun 2.
*Isi pesan*
"Nanti ketemu di penginapan daerah selatan aja!"
"Ko? jauh juga."
"Mau di jemput?"
"Boleh."
"Iya nanti, tapi pukul 8an masih ada kerjaan juga."
"Iya."
Sebenarnya daerah selatan itu bukan tentang jauhnya. Tetapi di sana gudangnya tempat pelac*ran. Dan *Mama rani* kenalan Ira, memiliki satu tempat yang dimana Ira pernah kesana bersama dengan beberapa temanya tapi dia mendapat penghianatan di sana.
Hanya karena pria miliknya mendekati Ira yang bahkan Ira sama sekali tidak meresponnya, lalu dia membenci Ira menjebaknya dengan memotret Ira yang sedang berada di tempat itu dan menyuruh temannya untuk menyebarkan fotonya dan akhirnya menyebabkan Ira di drop out dari sekolah.
Awalnya Ira tidak tahu siapa dalang dari kekacauannya itu, tapi setelah mengetahui dan ternyata teman dekatnya membuat dia begitu membencinya.
"Teman sialan!" ucap Ira.
__ADS_1
Padahal mereka sudah berteman dari sejak SD. Sama-sama memiliki kehidupan yang sulit, sama-sama terjerumus dalam dunia malam. Mungkin bisa saling mengerti keadaan satu sama lain. Tapi hubungan mereka menjadi tidak baik hanya karena sebuah kesalahpahaman.
*****