
.
.
.
Pria paru baya yang menatapnya membukakan pintu gerbang menyuruh Ira untuk masuk dan memarkirkan motornya di garasi.
Ada beberapa mobil dan motor yang terparkir di sana, wanita itu terdiam beberapa saat mendengar kegaduhan dari dalam rumah. Suara musik DJ dan orang-orang yang sedang mengobrol membuat perasaannya menjadi tidak nyaman.
"Hai sayang?" sapa Mama Tati dari arah samping berlari kecil menghampirinya.
Ira tersenyum menatapnya, "Ini tempat Mama?"
"Kita bicara di dalam, Suleng sudah menunggumu di sana," ucapnya merangkul pundak Ira.
Pintu terbuka, langkahnya terhenti ketika melihat ruang tamu yang begitu luas dan banyaknya orang di dalam.
Meja dan kursi tersusun rapi di setiap sudut, di duduki oleh beberapa pria dan wanita dengan pakaian terbuka, di setiap meja terdapat alkohol dan apa yang Ira duga sebelumnya tidak salah. Wanita ini bukan orang biasa. Dia sudah mengetahui tanpa bertanya, tempat ini adalah rumah pelac*an. Siapa sangka dia akan datang ke tempat ini sekarang? setelah mendapat masalah dari tempat yang sama seperti ini sebelumnya.
Perlahan melangkah mengikuti Mama Tati, semua mata tertuju padanya. Para pria menatapnya dengan senyuman yang sudah Ira mengerti, begitu pula dengan wanita yang hanya terdiam dan ada dari mereka memberi senyuman seolah menyambutnya.
Satu persatu kaki menaiki anak tangga, Ira pikir hanya di bawah tapi di lantai 2 terdapat ruang tamu dengan beberapa meja dan kursi di sudutnya. Dari kejauhan terlihat Suleng sedang duduk dengan seorang pria menunggu kedatangannya.
"Apakah di belakang gue dia pergi ke tempat ini? dan berhubungan dengan yang lain?" dalam pikirnya merasa sedikit kesal, bukan takut kehilangannya, tetapi takut dia membawa penyakit dari orang lain yang akhirnya akan merugikan untuk Ira.
"Duduk sayang," ucap Mama Tati lalu dia dan pria yang duduk bersama Suleng beranjak pergi.
Duduk pandangannya tertuju ke arah sudut, seorang gadis mungil berkulit putih memakai dres pendek menatapnya dengan sinis. Nampak usianya lebih muda darinya, Ira merasa tatapan itu sebuah kebencian, tapi bukan untuk dia. Mungkin terhadap dirinya sendiri karena keadaan dan tokoh yang sedang dia perankan.
"Baik-baik saja?" tanya Suleng menatapnya.
"Sejak kapan aku baik-baik saja?"
"Saya ingin bicara"
Ira menatapnya, "Apa yang akan dia bicarakan?"
"Aku yang ingin bertanya lebih dulu, siapa Mama Tati?"
__ADS_1
Suleng terdiam beberapa saat menatapnya, "Kau mungkin sudah tau siapa dia"
Wanita itu menghela nafas panjang, "Apakah dia seringkali pergi ke sini? perset*n, pria memang tidak bisa hanya dengan satu wanita!" dia memaki dalam hati.
"Untuk sementara ini saya tidak akan menemui atau menghubungimu, ada masalah dalam rumah tangga dan sekarang saya sedang memperbaikinya. Jika kamu merasa kesulitan, tinggallah di sini. Wanita itu akan bertanggungjawab sepenuhnya," ucapnya bermaksud pada Mama Tati.
Perkataan yang tidak pernah Ira duga, "Apakah dia akan mengakhiri hubungan ini?" selalu tenang rasanya jika Suleng tidak akan menghubunginya, tetapi kali ini tidak. Bagaimana dengan semua kebutuhannya?
"Tinggallah di sini, setidaknya di sini lebih baik di bandingkan dengan di luar. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui tempat ini, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke sini. Saya harus segera pergi, ada urusan. Jika butuh sesuatu bicaralah pada wanita itu," ucapnya beranjak pergi meninggalkan Ira yang masih duduk terdiam.
Ingin sekali Ira mengatakan untuk jangan pergi dan meninggalkannya di tempat seperti ini, tetapi bibir seolah terkunci, dia tidak berkata sepatah katapun, begitu pula tubuh enggan beranjak dari tempat duduk seolah sesuatu mengikatnya untuk tetap diam. Mungkin pria itu bermaksud menitipkannya pada Mama Tati, tetapi Ira merasa ragu karena tidak mengetahui jelas bagaimana peraturan di sana dan sikap orang di sana, bagaimana jika lebih buruk di bandingkan dengan dugaannya?
Memang akan sulit jika Suleng pergi darinya, karena saat itu dia tidak pernah berhubungan dengan oranglain. Dia tidak mengenal banyak orang dan rasanya tidak nyaman jika harus pergi ke tempat seperti ini, tetapi kenapa justru kali ini pria itu sengaja meninggalkannya di sana? apakah sebagai ucapan terimakasih pada Mama Tati karena telah melerai pertengkaran kemarin?
Ira memandang punggung pria itu yang hilang di telan tangga, dia benar-benar turun meninggalkannya yang masih terduduk diam. Ingin sekali rasanya berteriak mencaci maki keadaan, tetapi dia hanya bisa menelan ludahnya.
**
"Ayo ikut dengan Mama sayang," ucap Mama Tati yang sudah berdiri di sampingnya.
Berjalan mengikutinya ke sebuah lorong meninggalkan ruang tamu, dia sampai di tempat dengan beberapa pintu saling berhadapan di kanan dan kiri, mungkin ada 6 kamar jika di lihat dari pintunya.
"Masuk sayang," Mama Tati membukakan pintu kamar yang kosong, nampak rapi dengan jendela ukuran besar menghadap ke jalan, kamar itu terletak di bagian depan lantai 2.
"Mulai sekarang kamu bisa tinggal di sini," ucapnya tanpa bertanya lebih dulu bahwa Ira akan setuju ataupun tidak.
"Maaf, mungkin Mama salah. Aku tidak akan tinggal di sini," belum selesai Mama Tati menyelanya.
"Apakah kamu pikir pertolongan kemarin tidak perlu di bayar? jika saya tidak membantumu mungkin bukan hanya wanita itu, tetapi para wanita yang ada di sana akan ikut menyakitimu karena geram," ucapnya membuat Ira terdiam.
"Tinggalah di sini, sampai seseorang datang menemuimu," ucapnya meninggalkan Ira sendirian menutup pintu kamar.
Sedih, kesal, kecewa dia rasakan sekarang. Entah Suleng atau Mama Tati, dia merasa di jebak untuk tinggal di tempat itu sekarang.
"Gak bisa," ucapnya beranjak dari duduk membuka pintu kamar, tidak di sangka, "Apa? gak salah?" beberapa kali mencoba membuka pintu kamar tetapi terkunci dari luar.
"Anji*g!" melempar tasnya di atas kasur.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Masih mencoba membuka dan mengetuknya, "Mam tolong jangan seperti ini, aku gak kemana-mana dan untuk apa menguncinya?" ucapnya dengan badan gemetar, ingin sekali menangis tetapi mata tidak mampu mengeluarkan airnya.
"Sial*n!" dia membuka tasnya mencari hp untuk menelpon Suleng.
Beberapa kali pria itu tidak menjawab panggilan sampai akhirnya nomor Ira di blokir, dia mengirimnya pesan entah di baca ataupun tidak, kenyataannya tidak ada respon apapun dari Suleng.
"Dasar baj*ngan!" ucapnya mendekat ke arah jendela dan membuka gordennya, bahkan kaca jendela di sana terkunci permanen semakin membuatnya membenci keadaan.
Di luar gelap, gerimis mulai turun membasahi. Rumah dan warung yang sebelumnya sepi sekarang terdapat beberapa orang, seperti dugaannya bukan hanya rumah ini, tetapi tempat di sekitar juga terdapat wanita-wanita dengan pakaian terbuka.
Mereka duduk di teras sambil merokok dan berbincang, wajah cantik dan tubuh mulusnya tetap terlihat meski mereka berada di bawah lampu remang yang tidak terlalu terang. Di sebelah kiri seberang jalan, terdapat tempat yang cukup besar. Sebuah ruangan dari kaca terlihat jelas dari luar, pandangan Ira tertuju pada mereka yang sedang berjingkrak-jingkrak dengan alunan suara musiknya.
Tanpa dia duga, tempat terpencil jauh dari perkotaan ternyata pusatnya para manusia tidak bermoral untuk menyimpang. Rumah dan warung yang berjejer ketika malam tiba semua berubah, hampir di setiap tempat terdapat beberapa wanita duduk menunggu siapa yang akan tertarik padanya.
Motor mobil yang terparkir di samping tempat itu membuka senyuman wanita di sana, mereka menyambut tamunya dengan candaan yang sebenarnya menyakiti dirinya.
Duut Duut
Mengalihkan pandangannya ketika hp bergetar, dia melihatnya berharap panggilan itu dari Suleng.
"Hesti?" terdiam beberapa saat menatap layar hp.
"Iya?"
"Emang ka Ira nginep bawa baju? perlu di titip gak?" ucap Hesti membuat Ira terdiam heran.
"Maksudnya?"
"Tadi ada Mama Tati deh kalo gak salah nelpon ke sini, aku gak kenal karena ka Ira gak pernah cerita tentang dia sebelumnya. Tapi dia minta izin ke nenek, beberapa hari dari mulai malam ini ka Ira nginep di rumahnya. Terus aku pikir bajunya gimana? gitu," Ira terdiam merasa sangat kesal, dadanya terasa sesak ingin sekali berteriak memaki, "Mama Tati? dia bahkan sejauh itu? set*n!"
"Ka Ira?"
"Hmmm, masalah baju besok. Udah iya?"
"Berisik banget gak kedengeran apa-apa,"
"Udah, lagi main ini," dia mengakhiri panggilannya.
"Lagi?" dalam pikirnya dia duduk di atas ranjang dan menyerah dengan keadaan, "Benar, tidak ada pertolongan tanpa imbalan"
__ADS_1
*****