Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 24


__ADS_3

.


.


.


Ira memejamkan matanya perlahan tidur, tapi dia masih bisa mendengar ibunya Ari berbicara.


"Rii?" Ibu Ari memanggil.


"Yaaa?" balas Ari tidak beranjak.


Ibunya menghampiri dan berdiri di ambang pintu.


"Tidur?" tanya ibunya yang melihat Ira tertidur.


"Iya kenapa?"


"Mamah mau pergi ada janji sama seseorang, hmmm awas!"


"Awas apanya? pergi sama siapa? pacar?"


"Hmm gak apa-apa sih, cuma kalo mau sesuatu jangan lupa kunci pintunya haha!"


"Sesuatu apa dih? haha."


"Hei mamah juga pernah muda, asal kamu harus bisa mengatasinya saja!"


"Sedang berusaha menahan diri agar tidak bangsat, oh mah jujur jangan?"


"Apa? mamah juga akan pergi."


"Dari sekian banyaknya hanya dia yang tidak berani aku sentuh tanpa seijinnya."


"Oh jadi akhirnya wanita ini pemenangnya? oke mamah do'ain semoga hubungannya baik-baik dan udah, mau pergi nih." ibunya meninggalkan.


"Ri, hujan nih motornya naikkin dulu sama kunci aja rumah!"


Ari beranjak dari kasur menghampiri ibunya.


Ira membuka matanya, melihat dari sudut gorden jendela di luar memang hujan lalu ibunya pergi jalan kaki memakai payung mungkin seseorang menjemputnya di depan.


Melihat ponselnya sudah ada pesan masuk dari gadun.


*Isi pesan*


"Nanti malam di jemput, kalo naik motor nanti kehujanan."


Ira melihat jam baru pukul 13:17 karena hujan deras langit menjadi gelap, siang itu terlihat seperti sore hari.


"Ddeerrrnn!!" Ari menaikan motornya.


Dari tadi pagi langit memang terlihat mendung, bahkan ketika di sekolah sudah terdengar pelan gemuruh petir.


Ira beranjak dari tidurnya, meminum sebotol air putih yang tadi dia bawa. Menatap cermin.


"Seseorang yang mencintai dan aku cintai berusaha untuk tidak menyentu*ku, tetapi nanti malam seseorang akan menyent*h dan bahkan mengoyakan tub*h ini." Ira berkata dalam hati.


Ira tau jelas karena kali ini dia (gadun) akan pergi ke luar kota mungkin dengan waktu yang cukup lama. Sudah terbayang nanti malam akan berperilaku lebih dari biasanya. Ibarat Ira istrinya mungkin pria itu akan memu*skan dirinya untuk bekal rindu di sana nanti.


"Hmmm..." menghela nafas panjang.


"Bu? bangun?" tanya Ari masuk kamar.


"Heeum.." minum.


"Di luar hujan bu, deres lagi." Ari kembali rebahan di ranjang.


"Iya tau, tadi aku liat tante pergi."


Ira keluar kamar menuju kamar mandi mencuci muka dan buang air kecil.


Kembali ke kamar dan minum, "Emangnya mau kemana?"


"Dia akan pergi bersama kekasihnya."


Ira mengangguk.


Diam sejenak memandang keluar jendela.

__ADS_1


"Bu? suka melamun!" Ari menyentuh tangan Ira mengambil botol minum yang dia pegang lalu meminumnya.


"Ri?"


"Apa?" Ari menyimpan botol minum di atas meja.


"Momen di kala hujan itu gak pernah gagal!"


"Maksudnya?"


Ira menatapnya.


"Waktu yang singkat tapi membuat kenangan hebat. Bisakah?"


"Bu, kurang ngerti. Pikiran aku malah salah arah."


"Gak salah arah, ini memang tentang itu."


"Kau serius? jangan mengujiku!"


Ira yang berdiri di hadapan Ari memb*ka satu persatu kancing bajunya.


Ari terdiam menghela nafas menatap Ira.


Kancingnya setengah terbuka Ira terdiam.


"Kau bercanda? ini tidak lucu!"


"Kau yang akan membuk*nya untukku."


Ari mengusap wajahnya "Haha kau memang benar-benar membuatku gila!"


Ari berdiri dan langsung menci*m bibir Ira, tangannya mengusap lembut punggung wanita itu.


Ira melepasnya dan menatap cermin.


"Kenapa?"


"Tub*hku rusak, ada beberapa bekas luka yang sengaja ku buat."


"Apa?" Ari terheran.


Perlahan Ari memb*ka satu persatu kancing baju Ira dan melepasnya.


"Apa ini? kau melakukannya?" melihat bekas luka say*tan di lengan kiri bagian humerus.


"Bukan hanya ini, kau akan melihat semuanya."


"Aku kecewa melihat ini. Bagaimana bisa kau melukai dirimu sendiri?"


​Ira tersenyum lalu menci*m bibirnya.


"Bisakah menjelaskannya?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, bisakah aku mendapat perlakuan yang lembut?"


"Aku tidak yakin bisa, terutama ini dirimu."


"Bisakah aku mendapat perlakuan yang lebih dari sekian wanita yang pernah bersamamu?"


"Aku selalu berusaha memperlakukanmu lebih dari siapapun." Ari menci*m halus leher Ira.


Membuka baju Ari dan mengusap pundaknya pelan.


"Ini pertama kalinya aku benar-benar sadar tanpa di bantu oleh apapun."


"Oh iya? di bantu apa?"


"Maksudnya alkohol bu bukan apa-apa!" Ari membuka pelan slet*ng rok Ira.


"Sebentar," Ari menutup gorden jendela sehingga kamar sedikit gelap.


"Kau menutupnya? bukankah ada tirai transparan yang tidak akan terlihat dari luar?"


"Kau memang wanita yang berbeda." Ari tersenyum.


"Aku suka melihat punggungmu." Ira mem*luk Ari dan menci"m tulang selangkanya.


"Begitu pula aku ingin kau bukan hanya melihat wajahku tapi tub*hku. Setidaknya aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang terekam sangat mendalam di memori ingatanmu." Ira berkata dalam hati.

__ADS_1


Ari merangkul pinggang Ira. Menci*m halus pundak, leher sampai payud*ranya. Tidak membodohi diri hembusan nafas dan usapan lembut di pinggang memberikan kenikmat*n yang akan membekas terutama kali ini melakukannya tanpa paksaan.


kemudian Ira membuka bra menggunakan satu tangannya, lalu Ari menghis*p payud*ra dan lidahnya menggelit*k pelan puti*g payud*ra membuat gairah keduanya semakin memuncak.


"Hssssshhmmm" Ira menarik nafas.


"Rasanya aku ingin menggigitmu." ucap Ari lalu menci*m bibir Ira mengiringnya ke ranjang.


Pasangan itu memang masih muda tetapi soal hubungan **** mereka berpengalaman atau sudah di level yang sama.


Di katakan dengan jelas, wanitanya seorang pelac*r yang menju*l tub*hnya dalam waktu yang cukup lama. Sementara prianya seorang lelaki brengsek yang menikmati ****, memiliki wajah tampan membuatnya mudah merayu wanita manapun lalu berhubungan dan memutuskannya.


**


Ira yang masih telanj*ng Itu menutupi tubuhnya dengan selimut dan duduk bersandar pada pundak Ari.


"Bagaimana bisa punggungmu begitu indah?"


"Jangan menci*mnya, aku berkeringat!"


"Ini keringatku juga" Ari menyentuh p*ha kanan Ira


"Apakah ini tidak sakit?"


"Sakit sekali!"


"Kenapa kau melakukannya?"


"Hanya aku yang tau bagaimana sakitnya, itulah kenapa aku hanya berbagi rasa sakit dengan diriku sendiri!"


"Jangan melakukannya lagi bu!" ucap Ari merem*s payudar*nya.


"Apa kau tidak melihatnya ini luka yang sudah lama."


"Jangan ada luka yang baru!"


"Hmmm.." Ira mengangguk "Aku ingin minum."


"Sebentar," Ari beranjak dari keluar kamar menuju dapur.


Ira tidak bisa membohongi dirinya bahwa pria itu memang menggoda. Tubuh kurus tinggi dan warna kulitnya sawo matang.


Kembali membawa air putih dingin, beberapa roti dan makanan ringan.


"Mau makan gak?"


"Nanti." Ira minum dan memakan roti sambil melihat keluar jendela hujan masih deras, entah kapan akan berhenti.


Ari duduk di sampingnya menyulut sebatang roko dan memandang Ira.


Tidak tau apa yang ada di pikirannya, tapi dia benar-benar hanya memandang tanpa menggangu, lalu mengambil ponselnya mengambil beberapa foto Ira yang sedang memperhatikan hujan.


"Bu?" Ari memecah keheningan.


"Iya?" Ira menoleh.


"Kamu milikku bukan?"


Ira terdiam karena ini benar-benar rumit. Hubungan macam apa ini? dia juga ingin memiliki Ari, tapi apakah Ari akan menerimanya? meskipun sekarang dia tau Ari bukan pria yang baik, tapi yang menjadi masalahnya adalah bagaimana jika Ari nanti tau dia wanita yang seperti apa?


"Bu melamun?"


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa?"


"Kenapa? aku mencintaimu dan aku juga tau kau mencintaiku."


"Terkadang tuhan hanya mempertemukan bukan mempersatukan. Karena yang hadir belum tentu menjadi takdir."


"Bentar, tadi?"


"Tentang hubungan kita, aku tidak akan menyebutkan bahwa kamu milikku atau aku milikmu. Tapi kita sama-sama berusaha menjadi lebih baik iya?"


"Bu tolong?"


"Aku tak ingin menyakiti Ri"


"Kau yakin itu alasannya?"


"Kamu gagal memahami caraku mencintaimu." Ira memalingkan pandangannya melihat keluar jendela hujan yang belum juga reda.

__ADS_1


*****


__ADS_2