Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 14


__ADS_3

.


.


.


Pantai yang di tuju berjarak cukup jauh. Motor yang di kendarai Ari berjalan pelan, sehingga belum tiba di pantai sudah terlihat warna oranye keemasan (lembayung senja) memenuhi langit.


Mereka akan terlambat melihat matahari terbenam. Meskipun begitu tidak masalah, karena yang mereka inginkan bukan hanya sekedar menikmati senja tetapi waktu berdua yang sama-sama di luangkan.


"Gak bawa jaket iya?" tanya Ari.


"Enggak kan ada Ari."


"Hmmm." Mencium tangan Ira.


"Jangan berlebihan!" ucap Ira yang awalnya menggoda Ari tetapi dia sendiri yang merasa malu.


Sampai di tujuan. Sore hari berpadu dengan angin laut membuat Ira merasa kedinginan.


Ari menghentikan motornya, Ira turun, tapi pria itu tidak melepas genggamannya.


"Apasi?" ucap Ira mencoba melepas genggamannya.


"Nanti lepas!" jawab Ari semakin mempererat genggamannya.


"Yu ke sini?" menarik tangan Ira.


"Dasar pria aneh!"


Mereka berdua berjalan di tepi pantai, karena sore itu sudah menjelang malam sorotan sinar matahari sudah tidak terlihat lagi. Mega di langit yang luas dan hamparan lautan yang sudah tidak berwarna biru, jelas sekali pemandangan ini menjadi penyembuh dari semua rasa sakit dan kekhawatiran terutama bagi Ira.


Di bawah pohon ketapang yang tidak terlalu tinggi, tetapi rindang Ari melepaskan genggamannya.


Ira hanya menoleh, ketika akan bertanya dia sudah melihat bahwa Ari mengambil tikar untuk alas duduk mereka.


Menghamparkan tikar kemudian dia duduk.


"Duduklah bersandar padaku!" ucap Ari tersenyum.


Ira melepas sandalnya duduk bersebelahan dengan Ari.


Ari menempatkan kepala Ira di pundaknya.


Ira hanya tersenyum.


"Sebentar," ucap Ari.

__ADS_1


"Apa?"


"Mau minuman biasa, bir apa alkohol?"


"Lebih baik kopi hangat." balas Ira tersenyum.


"Gak bir atau alkohol?"


"Enggak ah, nanti nambah lagi dan lagi terus mabuk. Ari lagi kesepian meskipun kita berdua memiliki keinginan yang sama, tapi aku gak mau kalau harus menjadi pelarian."


"Aku sayang kamu bukan hanya saat ini, dari dulu hingga entah aku tidak tahu?"


"Aku tau itu!" Ira tersenyum.


Ari pergi meninggalkan. Ira melihat punggung pria yang berhasil membuat dia merasakan besarnya rasa sayang yang di tahan sekarang. Sebagai wanita Ira merasa tidak memiliki hak untuk menjadi kekasih Ari, dia sangat menyadari bahwa dia siapa dan orang seperti apa? terkadang dia takut Ari mengetahui apa yang dia lakukan, dan kemudian dia menjauh meninggalkan kenangan manis yang berujung pahit nantinya.


*


Ari tiba dengan kantong belanja dan dua cangkir kopi di tangannya. Di lihatnya ada botol minum dan beberapa cemilan.


"Awas panas!" memberikan pada Ira.


"Makasih."


"Boleh minta tolong gak bu?" ucap Ari sembari duduk.


"Apa?"


"Iya aku akan coba." Ira mengangguk tersenyum.


Kali ini pria itu mengusap-usap rambut Ira.


"Boleh tanya? gimana hubungan Ari sekarang?"


"Gak ada hubungan."


"(Ira tersenyum) Paling besok udah jalan bareng lagi."


"Enggak bu beneran!"


"Iya-in."


"Kemarin udah di lurusin mau apa dan gimana? dia bilang gak bisa lanjutin hubungan, intinya dia milih cowok itu." ucap Ari memperjelas.


"Iya." balas Ira bersikeras tidak percaya, karena tau bahwa dari banyaknya wanita yang pernah dekat dengannya Ari hanya mencintai wanitanya itu. Sekalipun dia tidak terpilih sekarang, jika besok wanita itu datang menghubungi lagi Ari bisa langsung menerimanya tanpa berpikir.


"Bu?"

__ADS_1


"Iya?"


"Bisa ngasih waktu lebih banyak gak?"


"Maksudnya?"


"Udah ngerasa risih ngurus percintaan, minta waktu kamu iya buat nerima Ari?"ucapnya serius.


"Enggak, jangan ngomongin itu. Gue gak mau merubah hubungan antara kita. Gimana kalo nanti ada masalah kedepannya? bakalan akrab kaya biasanya apa enggak? udah!" balas Ira.


Ari tersenyum, dia tau pasti bahwa Ira akan seperti itu.


"Tapi jangan pernah berpikir bahwa hari ini dan pembicaraan ini adalah sebuah bentuk pelarian. Sebelum ada masalah ini terjadi kamu tau kan? aku sayang kamu." ucapnya.


"Iya." Ira tersenyum.


"Gue jarang nangis, udah gak bisa bedain mana rasa sakit sama rasa senang. Gue ngerasa hati ini udah mati aja gak ada rasa apa-apa, tapi gue sadar ada rasa sayang dan itu cuma berlaku buat lo. Bukan hanya rasa nyaman, tapi seolah lo adalah rumah untuk gue menetap." Ira berkata dalam hati sambil menatap Ari.


"Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu!" ucap Ari menyadarkan Ira.


"Apa sih?" Ira tersenyum.


"Bu, sebaiknya bicara. Tidak semua masalah selesai dengan cara diam."


"Heumm?" Ira merasa heran.


"Walau tidak bisa percaya pada siapapun sehingga membuat dirimu menjadi pribadi yang tertutup, tapi setidaknya bicaralah meski hanya beberapa kata. Pikiran dan kesabaran manusia tidak sesempurna itu untuk menahan semua masalah."


"Terkadang ada sesuatu yang harus di selesaikan secara diam, dan ada pula sesuatu yang ketika diam semua menjadi berantakan."


"Percaya padaku, bolehkah?"


Ira hanya menoleh, menatap Ari dan tersenyum. Dia memalingkan pandangan lurus melihat lautan luas.


"Kau tau?"


"Aku ingin pergi ke suatu tempat, Dimana hanya ada aku dan kesendirian. Aku ingin pergi ke suatu tempat, dimana aku bisa memeluk diriku sendiri. Dimana aku bisa berusaha menyembuhkan rasa sakit di dadaku, dimana aku bisa menangis lepas tanpa ada orang yang tau. Aku ingin pergi ke suatu tempat, dimana hanya ada alam dan kesunyian.


Dimana aku bisa mendengar jelas helaan nafasku, dimana aku bisa memulai semuanya dari awal seolah aku terlahir kembali. Bukan untuk melupakan perjalanan masalaluku, tetapi untuk menyadari dan merelakan bahwa itu telah berlalu."ucap Ira panjang lebar.


Wanita muda itu menjelaskan semua hal yang dia inginkan meski dia tahu kemungkinan itu antara ada dan tiada.


Jauh di dalam hatinya dia merasa tidak terima dengan semua keadaan yang telah terjadi. Dia tahu manusia memang tidak bisa mengubah masalalu karena itu telah berlalu, tapi setidaknya manusia bisa memperbaiki masa depan dan dia sedang berusaha untuk itu. Tapi apa yang telah dia rencanakan dan tekadkan terkadang dia sendiri yang mengkhianatinya.


Di antara banyaknya kesulitan yang dia alami hanya ada satu hal yang tersulit, dia berusaha untuk keluar dari kehidupan yang gelap ini. Dia berusaha untuk menjauhkan hal yang ada hubungannya dengan harga dirinya, tapi dia sendiri tau itu sulit,. Seberusaha apapun dia pergi menjauhi, tetap saja dia akan kembali.


Apa yang dia lakukan saat ini adalah pekerjaan. selama dia membutuhkan uang gaji, selama itu juga dia harus bekerja. Yang dia inginkan saat ini ialah menunggu kelulusan sekolah agar dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan membebaskan dirinya dari ikatan yang hina ini.

__ADS_1


****


__ADS_2