Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 28


__ADS_3

.


.


.


*Krreeek!!*


Suara pintu.


"Bukankah dia sudah pulang?"


Seorang wanita paruh baya masuk.


"Neng di sini? Maaf." dia kembali.


"Bi, mau bersihin kamar? silahkan."


"Mau nginep di sini neng?"


"Iya."


"Aku pergi ke pantai dulu." bangun dari duduknya.


"Ini udah tengah malem neng, pake jaketnya nanti masuk angin!"


"Gak apa bi, sengaja." Ira berjalan keluar rumah menuju pantai.


Dinginnya angin laut menusuk sampai ke tulang, dalam keadaan setengah mabuk wanita itu uduk diam, terlihat tenang meski di dalam hati merasakan dilema yang hebat.


Melihat ponselnya membaca pesan dari Ari.


*Isi pesan*


"Bu?"


"Ini udah di rumah."


"Baru pulang kerja."


"Udah pulang belum?"


"Tuuut!ttuuut!" Ira menelponnya.


"Iya bu?"


"Lagi apa?"


"Lagu tiduran sih nunggu kabar dari kamu?"


"Hmm.."


"Berisik bu, emang lagi dimana?"


Wanita itu langsung terdiam.. "memberi tahunya atau? jika dia pulangpun dia akan meminta teman lelakinya untuk menjemput. Bagaimana jika ada yang melihat dan Ari tau? tidak ada bedanya." pikirnya.


"Bu? pasti melamun?"


"Di pantai!"


"Pantai mana? Belum pulang?"


"Pantai wisata, belum agak mabuk hee."


"Di tempat kemarin kita kesana?"


"Iya, cuma beda tempat."


"Aku ke sana!" Ari mematikan teleponnya.


"Hmmmm.." menghela nafas panjang.


"Aku pikir hanya kehidupan yang rumit, tetapi kisah cinta ini juga menjadi rumit untukku." ucapnya memandang jauh ke tengah laut terlihat sambaran petir menerangi langit sepertinya terjadi badai di sana.


Wanita itu tersadar bahwa tas dan jaketnya masih di kamar itu. Dia harus mengambilnya sekarang, jika nanti apa yang akan dia katakan pada Ari?


bangun dari duduknya bergegas masuk ke rumah.


Membuka pintu nampak semuanya sudah rapih, uang Ira pun masih tergeletak di atas meja dan tidak berkurang.


Memasukkannya pada dompet, mengambil jaket dan keluar mengunci pintu. Ada 3 kunci rumah itu. Satu di Ira, satu ada pada dia dan satu lagi di pegang bibi.


Ira kembali berjalan ke tepi pantai, ini memang sudah malam tapi terdiam di keheningan adalah healing yang paling tepat.


"Menyendiri untuk menenangkan diri." ucapnya.


*


*Ponselnya bergetar*


"Iya?"


"Ibu dimana?"

__ADS_1


"Hmmm aku di pantai turis, ke ujung iya."


"Sebentar."


Kebanyakan hanya turis yang memenuhi kawasan itu, pantai wisata terletak di sebelah barat sementara pantai turis itu terletak di timur.


Ira yang duduk di tepi pantai itu menoleh ke belakang tetapi dia tidak melihat motor yang datang, lalu dia memainkan ponselnya dan menghapus semua pesan dan panggilan dari pria tadi.


"Bu?" panggil seseorang dari arah belakang.


Ira menoleh "Iya? bangun dari duduknya."


Ari menghampiri lalu menatap Ira.


"Kenapa?"


"Udah pukul 1 malam, ngapain disini?"


"Hmmm menyendiri untuk menyadari." ucapnya tersenyum


"Apa kau keluar dengan penampilan seperti ini tanpa aku?" tanya Ari melihat wanitanya yang memakai celana jeans dan tangtop saja.


"Aku memakai jaket."


"Terlalu terbuka bu, bukan payud*ranya tapi tulang selangkamu itu." Ari memakaikan jaket.


Ira hanya mengangguk dan kembali memandang laut


"Pulang yuk? nanti sakit."


"Aku sedang tidak ingin pulang, aku juga tidak memintamu untuk menghampiriku!"


"Baiklah aku pulang!" Ari berbalik.


"Silahkan sana!" ucap Ira.


Ari menoleh.


"Seharusnya kau memintaku untuk tidak pulang?"


"Haha ini bukan drama."


"Dasar." mencubit hidung Ira.


"Ko ke sini?"


"Kau wanitaku. Jika aku membiarkanmu sendiri di luar seperti ini, bagaimana jika ada yang menemanimu selain aku?"


"Pundak ini kokoh bukan?"


"Iya, kau akan menangis?"


"Aku selalu ingin menangis, tapi kadang air matanya tidak keluar. Mungkin kering, karena jika habis itu tidak mungkin. Aku jarang menangis!"


"Kau mabuk iya?"


"Mungkin sedikit hee."


Ari mengusap beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Ira lalu menci*m bibirnya.


Karena Ira mabuk, kali ini justru dia sendiri yang sedikit tidak sabar dan kasar. Biasanya Ira selalu lebih dulu melepas ci*mannya, tapi kali ini dia yang memainkannya hingga berkali-kali menggigit bib*r Ari.


"Bu, jika kau seperti ini aku tidak bisa."


Ira tersadar lalu mematung menatap Ari.


"Pulang yuk?"


"Hmmm, aku sedang tidak ingin pulang Ri. Kita menginap saja!"


"Pulang kerumahku, menginap di sana."


"Tidak, aku lebih baik tidur di penginapan sendirian."


"Aku sudah bilang pada mamah bahwa kau akan menginap."


"Kau serius?"


"Dia tidak akan pulang malam ini!"


Ari menunjukkan pesan.


*Isi pesan*


"Mah cewe nginep di sini, hujan deras juga."


"Iya hati-hati!" balas Ibunya.


Ira terdiam berpikir.. "Jikapun ibunya tidak masalah, bagaimana dengan orang di sekitar? meskipun rumahnya jauh dari rumah lain, tetap saja di sana ada orang lain."


"Dua rumah sebelum masuk gang kosong tidak ada penghuninya, dan beberapa rumah yang lain jauh. Lagipula kita semua sama-sama manusia brengsek. Mereka tidak akan ikut campur urusan orang lain!" ucap Ari menjelaskan mengerti apa yang menjadi pikiran Ira.


"Kita pulang atau aku akan menggigit bib*rmu!"

__ADS_1


Ira tersenyum memeluk Ari dan menggigit lehernya.


"Aku yang akan menggigitmu lebih dulu haha."


Ari merangkul pundaknya dan mereka berjalan menuju tempat motor Ari terparkir.


*


Mereka sampai di rumah.


Ari turun dari motor membuka pintu rumah, di ikuti oleh Ira dan duduk di kursi ruang tamu. Ari pergi ke belakang membuka pintu, dia menyimpan motornya di sana.


"Agak pusing." Ira bersandar pada kursi.


"Kamar bu?" Ari masuk lalu mengunci pintu depan.


Ira masuk ke kamar melepas jaket dan menggantungnya di belakang pintu kamar.


Sementara Ari entah kemana, Ira mengambil sabun pencuci muka dan pergi ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi.


"Ari kemana si?"


Ketika Ira masuk ke kamar Ari sedang duduk di ranjang sambil bermain ponsel.


"Ihh!!"


"Kenapa bu?" Ari yang menatap.


"Kaget, dari tadi gak ada terus sekarang tiba-tiba di sini." ucap Ira menyimpan sabun ke dalam tas lalu menyisir rambutnya.


"Aku tidak bisa jika harus tidur dengan celana jeans seperti ini." ucap Ira yang berdiri di atas cermin.


Ari bangun dari tidurnya tanpa bicara nyelonong ke luar kamar.


"Manusia itu kenapa si?"


Ari kembali ke kamar.


"Nih pake!" memberi celana pendek.


"Ini punya?"


"Punya si mamah!"


"Gak mau ri, gak sopan hih."


"Nih liat!" Ari membuka ponsel menunjukkan pesan dari ibunya.


*Isi pesan*


"Kalo butuh apa-apa terutama pakaian cari yang cocok di lemari kecil mama. Itu semua tidak akan di pakai lagi karena sekarang tubuh mamah semakin gemuk."


"Pengertian sekali bukan?"


"Iya seperti anaknya." Ira sambil mengganti celananya.


"Cape bu!" ucap Ari tiba-tiba.


"Kalo cape kenapa tadi pulang kerja gak langsung tidur, gak usah jemput padahal." Ira sambil mengusap handbody ke tangan dan kakinya.


"Kalo aku gak jemput emang mau pulang sama siapa? sedikit mabuk juga."


"Sekarang udah enggak."


"Mau di jemput sama siapa?"


"Hmm, mungkin antara Hilman dan Irfan" balas Ira tersenyum.


"Aku sudah tidak ingin berkelahi, selagi aku bisa jangan meminta pada siapapun!"


Wanita itu menatap Ari yang tiduran di ranjang, dari wajahnya memang terlihat bahwa dia lelah dan mengantuk.


Ira mematikan lampu dan berbaring di samping Ari. Tidak terlalu gelap, lampu dari luar menerangi sedikit kamar.


"Ini akan melekat!" ucap Ari memeluk Ira dan menci*m lengan bagian atasnya.


Ira terdiam.. Rasa takut akan kehilangan sekarang muncul di benaknya. Tapi dia tidak tahu harus sampai kapan berhasil menyembunyikan identitasnya.


"Ri? (Menatap Ari) Aku tidak menginginkan apapun darimu. Aku hanya berharap kau mau menerima baik buruknya aku. Dan aku ingin kau percaya padaku!"


"Aku mengerti maksudmu."


"Tidak, kau tidak mengerti. Mungkin nanti kau akan mengerti, tapi aku berharap kau percaya padaku."


Ari hanya terdiam menatap. Ira juga tau bahwa dia telah mengantuk.


Ira mengecup keningnya lalu memalingkan badan. Melihat gorden jendela yang bergerak pelan di hembus kipas angin.


"Selamat tidur." ucap Ari mencium punggung dan memeluk Ira dari belakang.


*****

__ADS_1


__ADS_2