Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 67


__ADS_3

.


.


.


Di balik kemarahannya, lagi dan lagi dia mengingat tentang dirinya sendiri. Bagaimana jika Ari mengetahui apa yang dia lakukan? sama sepertinya, semalam dia sudah berhubungan dengan pria lain, yang bahkan mungkin entah nanti malam ataupun besok malam dia akan kembali tidur dengan pria lain.


Bukan cuma Ari, diapun bersalah, hanya saja tidak meninggal jejak sehingga tidak ada pertengkaran antara keduanya. Jika sekarang dia tidak mencoba memaafkan pria yang di cintainya, bagaimana nanti jika dia mengetahui dan tidak memaafkan. Rasanya lebih sakit dari apapun.


Wanita itu tertunduk membungkuk sambil menangis, air matanya mengalir deras hingga membasahi leher. Sekarang rasa sakitnya bukan lagi tentang pria yang di cintainya tidur dengan wanita lain, tetapi tentang rasa sakitnya nanti ketika Ari mengetahui bahwa dia seringkali tidur dengan 2 pria dalam waktu berbeda. Perkataan apa yang akan dia lontarkan? semarah dan sesakit apa dia nanti? dan bisakah dia menguatkan dirinya sendiri?


Pria itu membungkuk di hadapannya, "Maaf sayang maaf," ucapnya mengusap-usap rambut Ira.


Dia menatap Ari, Plak! menampar pipinya. "Sialan, brengsek, setan, anji*ng lo," ucapnya beranjak dan duduk di sofa menghapus air matanya.


*


"Dengar! kamu boleh marah, kamu boleh berkata kasar, untuk saat ini kamu boleh membenci tapi jangan ninggalin dan aku gak mau hubungan kita berakhir," ucapnya duduk di samping Ira.


Dia terdiam beberapa saat, "Hati ini benar-benar sakit, tapi lo jangan egois Ra. Lo harus bisa maafin dia, apa yang saat ini lo rasain suatu hari nanti pasti akan di rasakan oleh Ari, jangan egois," ucapnya dalam pikir sambil menatap Ari yang sedari tadi menatap Ira.


"Kita akan mengakhiri ini," ucap Ira membuat lelaki itu menatapnya dengan serius.


"Maksudnya? aku gak mau kamu pergi dan aku juga gak mau pergi dari kamu"


"Kau tau? aku berhasil membuat semua pria iri sama kamu karena telah mendapatkan aku, tetapi kamu justru membuat aku iri kepada wanita yang masih kau hubungi," ucap Ira emosinya perlahan mereda.


"Sayang sumpah demi apapun, ini pertama kali aku ketemu sama dia. Dia nelepon aku sambil nangis"


"Karena dia nelpon kamu sambil nangis, terus kamu jemput? oke, kenapa setelah anterin dia kamu gak langsung pulang? kenapa kamu masuk dan akhirnya kalian melakukan hubungan?"


"Aku mabuk, dia emang Rani tapi sumpah ketika dia meluk aku rasanya itu kamu"


"Naj*s, jangan samain aku sama dia. Kamunya aja yang gak mikirin aku Ri, semabuk apapun kamu jika mikirin perasaan aku gak mungkin kamu ngelakuin itu. Intinya memang entah kamu yang sebenarnya gak sayang aku atau memang sayang tetapi rasanya telah memudar," ucap Ira mengalihkan pandangannya.


"Ko mikirnya gitu? karena aku membuat sebuah kesalahan bukan berarti aku gak sayang sama kamu, aku memang bukan pria yang baik, mungkin sebaiknya kamu harus menjauh dari pria sepertiku, tapi aku benar-benar sayang kamu"

__ADS_1


"Ingat gak aku pernah bilang apa? jangan sampai aku mengatakan: kita tidak lagi menarik setelah di dapatkan"


Pria itu terdiam beberapa saat, "Aku ingat, tapi jangan berpikir seperti itu," jawabnya sambil menyulut sebatang roko.


"Boleh aku tanya?" ucapnya menatap kedua mata Ari.


Dia hanya mengangguk, sebenarnya pria itu benar-benar merasa sangat bersalah karena kesalahan yang telah dia perbuat. Bagaimanapun perasaannya tidak bisa di bohongi bahwa dia memang mencintai wanita itu.


"Ri, apakah hanya berhubungan denganku saja tidak cukup untukmu?"


Ari yang menunduk itu langsung menatapnya, "Lagi? ngomong apa sih bu?"


Wanita itu terdiam, dia bersandar pada kursi berpikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini. Satu sisi dia masih mencintai dan tidak ingin kehilangan Ari meskipun pria itu telah melakukan sebuah kesalahan, tetapi di sisi lain justru dia merasa mungkin sebaiknya sekarang waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dan menyendiri agar tidak menyakiti siapapun ketika suatu saat nanti identitasnya terbongkar.


"Maaf," ucap Ari di keheningan.


"Kau tau? kamu nyakitin aku brengsek"


"Aku tau, maaf. Aku tidak pernah merendah seperti ini kepada siapapun, aku mau kamu," ucapnya menatap Ira tetapi wanita itu beranjak dari duduk karena melihat dari jendela Guntur sampai di depan rumah Ari.


"Aku mau pulang," ucapnya dengan dingin.


"Bolehkah jika aku meminta kamu untuk tidak pulang? aku akan mengantarmu nanti setelah pembicaraan kita selesai"


Ira terdiam beberapa saat, sebenarnya dia sangat membenci dan ingin sekali rasanya menjauh dari pria itu. Tetapi permasalahan mereka memang belum selesai, jika dia pulang mungkin bisa saja dia tidak akan menghubungi Ari dan perlahan menjauh lalu akhirnya pria itu benar-benar pergi darinya.


Dia duduk di atas ranjang, Ari keluar rumah untuk menemui Guntur dan entah apa yang mereka berdua bicarakan. Mungkin dia meminta Guntur untuk pergi, karena terlihat dari sudut gorden jendela pria itu membelokkan motornya kembali.


Brug!


Wanita itu berbaring, pandangannya lurus ke atas menatap langit-langit kamar yang berwarna putih dan sedikit nampak kusam.


"Masalah apa ini? apakah satu-persatu masalah akan datang sekarang? gue bahkan masih memikirkan dan merasa takut pria tua itu akan berhasil menghubungi atau bahkan dia tiba-tiba datang menemui? sial!" Ira bergumam tentang pria yang dia tinggalkan, tidak mungkin rasanya jika guru itu tidak berusaha kembali menghubungi Ira setelah pertemuan yang tanpa sengaja kemarin malam.


Kreek suara pintu kamar yang terbuka, Ari duduk di sampingnya, dia hanya menatap tanpa beranjak, "Heumhhhh,," menghela nafas panjang lalu menutup kedua matanya.


"Bu?"

__ADS_1


Ira membuka kedua matanya dan beranjak duduk, "Dengar! aku seorang wanita yang terkadang bersikap keras, dan sekarang aku sedang berusaha untuk memperbaiki diri, jangan melakukan sesuatu yang membawa diriku kembali"


"Lain kali kalo mau selingkuh itu milih-milih, kamu yakin mau bandingin aku sama dia? bisa tidak memilih seorang wanita yang lebih dari aku? minimal selevel lah," ucapnya dengan senyuman jahat sedikit menghina.


"Selingkuh itu di lakukan dengan hubungan berjalan di belakang kamu, sementara aku gak tidak sama sekali saling menghubungi dengannya," jawab Ari membela dirinya.


"Aku yang mengatakan atau kamu yang menjelaskan?" tanyanya membuat pria itu terdiam merasa heran.


"Maksudnya apa sih bu? kamu gak percaya sama aku?"


"Percaya dong, tapi apa kamu pikir aku tidak tau jika kamu sedang bekerja dan aku tidak menghubungimu, kau selalu membalas semua pesan ataupun panggilan dari mereka yang berusaha menggodamu?"


"Apa Guntur yang memberitahumu?"


"Guntur itu temanmu, sama seperti Teguh kalian akan saling melindungi. Hmmm,, perasaanku mengatakan itu semua benar, benarkan?" Ira tersenyum menatapnya.


"Mereka hanya mainanku," Ira memotong pembicaraannya, "Oww mereka semua mainanmu? di sela-sela kesibukan kau sempat menghubungi mereka dan bahkan menemuinya. Kau tau? aku sangat berhati baik dengan tidak membalas semua pesan ataupun menjawab panggilan dari mereka yang berusaha mendekat, karena menyadari bahwa priaku ini seorang lelaki yang keras, aku tidak ingin ada pertengkaran antara kamu dan mereka. Tetapi kamu? apakah kamu ingin melihatku berkata kasar kepada semua wanita yang menggodamu? ahh,, aku tidak akan melakukan itu," ucapnya membuat Ari menghela nafas panjang.


"Kamu tau semuanya? kenapa diam saja?"


"Kita sudah dewasa dan aku pikir kau mengingat tentang perkataanmu yang dimana, kamu sudah lelah dengan urusan percintaan dan ingin menjalani hubungan yang serius denganku. Kau melupakannya? haha itu pasti!"


"Dengar! aku salah dan aku mengakui semua kesalahanku, bisakah kita kembali baik-baik saja?"


"Mudah sekali bukan? ahh,, apa kau bersikap seperti ini terhadap semua wanitamu? apa hanya aku yang merasa ingin di perlakukan beda tetapi sebenarnya mendapat perlakuan yang sama? mungkin sebaiknya aku menjalin hubungan dengan Guntur di bandingkan dengan kamu"


"Dia bahkan lebih brengsek dari aku"


"Tapi setidaknya dia tidak menutupi kebrengsekkanya!"


"Bu cukup! sulit untukku mendapatkanmu dan aku tidak akan melepaskanmu"


"Egois bukan?"


"Maaf! ini keinginanku dan aku tidak akan membiarkanmu pergi," ucapnya membuat Ira terdiam menatap tanpa berkata apapun.


*****

__ADS_1


__ADS_2