
.
.
.
Mereka yang saling terdiam beberapa saat membuat keduanya canggung, dan masih bertanya-tanya apakah masalahnya sudah benar-benar selesai atau terpaksa di akhiri dan suatu saat akan terungkit kembali?
Ira beranjak dari duduknya lalu berdiri di hadapan Ari.
"Kamu pilih dia atau aku?" ucap Ira memulai percakapan karena dia sendiri sudah muak dan merasa belum selesai.
"Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia, aku cuma mau kamu," jawabnya dengan wajah serius yang justru membuat Ira menahan tawanya, "Seorang pria brengsek yang banyak di sukai wanita seperti dia sekarang memohon karena tidak ingin kehilangan? dia bahkan berulang kali meminta maaf dan merendahkan dirinya, ini sebuah kenyataan atau hanya pura-pura?" dalam pikirnya.
"Tapi aku tidak percaya Ri, dan mungkin akan sangat sulit untuk percaya kembali"
"Aku tau itu, aku tidak peduli asal kamu tetap milikku"
"Oh iya? bagaimana jika aku tetap milikmu tetapi kita menjalin hubungan seperti remaja pada umumnya, hubungan tanpa ****," ucapnya membuat pria itu menatap heran.
"Jika tidak bisa, kita akhiri ini dan aku tidak akan melarangmu untuk berhubungan dengan siapapun, termasuk Rani"
"Hubungan seperti remaja pada umumnya? tanpa ****? mereka juga melakukannya," jawab Ari.
"Tapi kita sudah terlalu jauh Ri, hubungan kita bukan lagi seperti anak remaja"
"Kau pikir aku tidak bisa?" jawabnya membuat Ira merasa heran, apakah pria haus sepertinya bisa melakukan hubungan hanya dengan cinta?
"Kau tau? aku rela menjadi wanita bodoh yang mengikat dirimu dengan melakukan hubungan, hubungan yang mungkin berbeda dari hubungan yang pernah kau lakukan dengan wanita lain, aku sengaja melakukannya karena aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang mencukupi rasa hausmu, sehingga kamu tidak membutuhkan atau mungkin tidak tertarik lagi dengan wanita lain selain aku. Tetapi sayang, itu semua hanya inginku bukan inginmu"
"Apa harus aku jelaskan? aku khilaf, sumpah demi apapun aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Rani. Kau pikir aku tidak menyesal? jujur seketika aku menyadari bahwa kita melakukan hubungan dan mengingatmu, aku langsung pulang meninggalkan dia. Bahkan dari sejak tadi pagi dia mengirimku banyak pesan merasa tidak terima dengan sikapku semalam, aku menjelaskan padanya bahwa aku memilikimu dan meminta maaf jika semalam aku mabuk. Dan pesan yang kau baca, itu memang dia yang sengaja melakukannya karena dia tau aku akan menemuimu," Ari menjelaskan panjang lebar.
"Kau bercerita telah di sakiti olehnya yang melakukan hubungan dengan pria lain, lalu sekarang kau menyakiti aku karena melakukan hubungan dengannya. Lucu bukan?"
"Maaf,,," Ari memeluk pinggang Ira dengan erat dan menatapnya dengan penuh harap.
"Terlihat bodoh tapi gue jangan egois, bisa saja dia juga memaafkan gue nanti," dalam pikirnya sambil mengusap-usap rambut Ari.
"Kenapa kau mau merendah seperti ini Ri?" tanyanya.
Pria itu melepas pelakunya dan berdiri di hadapan Ira menyudutkannya ke dinding tepat di samping cermin.
"Aku brengsek tapi aku mencintaimu, percayalah!"
Tanpa berkata wanita itu langsung mencium lehernya dan sengaja meninggalkan bekas kecupan untuknya.
Ari tersenyum dan menatap dirinya di cermin, "Kau sengaja melakukannya? apa kah pikir aku akan menemui wanita lain setelah ini?"
"Silahkan temui wanita lain dan biarkan aku menemui pria selain dirimu malam ini," ucap Ira sambil tersenyum yang sebenarnya itu adalah sebuah kenyataan.
__ADS_1
"Apa?"
"Aku tidak akan menghubungimu dan biarkan aku menemui pria lain malam ini, impas bukan?"
Ari mendorong tubuh Ira lalu menindihnya. Sama seperti Ira, pria itu melakukan hal yang sama, dia meninggalkan bekas kecupan di lehernya yang membuat wanita itu marah.
Plak! menampar dan mendorong tubuhnya, "Maksud kamu apa sih? jangan egois dong!"
Dia menatapnya dengan tajam, "Sumpah jika kau akan menemui orang lain?"
"Apa aku terlihat becanda?"
"Hemmhhh,," dia menghela nafas.
"Sekali lagi aku tanya, kau serius?"
"Apa kau pergi bekerja?"
"Aku tanya bu?"
"Menemui ka Ayu"
"Kemarin kau bilang akan menemuinya, apa tidak?"
Deg
Dia merasa jantungnya terhenti lalu berdegup dengan kencang.
"Boleh aku bertanya? tolong jujur"
"Apa?"
"Kemarin ketika kamu di jemput oleh Susan, ada seseorang yang bilang kalo kamu turun dari mobil dan di antar seorang pria, bener? siapa?"
Seketika tubuh Ira bergetar, dia merasa sangat lemas dan sulit sekali rasanya bernafas. "Siapa yang mengatakannya? darimana dia tau?" dalam pikirnya sambil berusaha agar tidak terlihat panik.
"Iya, itu beneran ko"
Terlihat dari raut wajah Ari yang langsung berubah, sudah pasti pria itu kecewa.
"Aku tidak bicara karena dia teman kerja ka Ayu, dan aku sama sekali tidak mengenal dan bahkan mengetahui namanya. Itulah kenapa aku meminta Susan untuk menjemput karena takut kamu akan salah paham sebelum di jelaskan, udah sih"
Ari terdiam menatapnya, entah apa yang sedang pria itu pikirkan yang jelas jantung Ira semakin berdegup kencang seolah dia sudah tidak bisa menahan guncangannya.
"Kau percaya? jika tidak jangan memaksa," tambah Ira mengalihkan pandangan yang sebenarnya akan terlihat panik jika Ari terus menatapnya.
"Percaya, cantiknya aku tetap milikku," ucapnya mengusap-usap rambut Ira.
Meskipun dia merasa takut, tetapi dengan Ari yang mengatakan percaya membuat perasaanya sedikit lebih baik, dia hanya tetap berharap bahwa pria itu benar-benar percaya tanpa ada rasa curiga.
__ADS_1
Ira tersenyum menatap, lalu dia mengangkat dagunya, "Cium?"
Dia yang meminta sebuah kecupan, tetapi pria itu justru menciumnya dengan lembut. Lagi dan lagi Ira terhanyut dan melupakan semua masalah yang sedang mereka berdua bicarakan . Tidak bisa membodohi diri, ciuman lembut dari pria itu membawanya pada kenyamanan yang berujung dengan kenikmatan.
"No **** sayang" dia mendorong tubuh Ari sehingga pria itu tersenyum-senyum.
"Aneh, ada aja," gumamnya menatap Ira yang sedang berdiri di depan cermin sambil memakai lipstick.
*
"Kau bekerja?" tanya Ira pada Ari yang sedari tadi menatapnya.
"Kau mau aku bekerja atau tidak?"
"Terserah!"
"Bekerja, aku meminta Guntur untuk menjemput"
"Gak bawa motor?"
"Enggak, nanti kamu curiga," ucapnya sontak Ira yang sedang bercermin itu menghampiri dan duduk di depannya.
"Aku tidak akan curiga karena kita sudah mengakhiri pembicaraan ini, entah jika nanti"
"Aku tidak akan membalas ataupun menjawab panggilan dari mereka"
"Oh iya? apa ku pikir aku akan percaya?"
"Bu? sudah!"
"Temui aku setelah pulang kerja dan hubungi aku melalui handphone Guntur ataupun Teguh"
"Hah? maksudnya?"
"Aku akan membawa handphonemu"
"Kau serius? kita baru saja mengakhiri pembicaraan ini dan aku tidak ingin jika harus kembali merendah"
"Aku mengerti maksudmu, tapi aku akan tetap membawanya"
"Biar aku yang mengakhirinya"
"Aku, sudah!"
"Tapi tolong jangan kembali marah, karena pasti akan ada yang menghubungiku nanti"
"Aku tau itu"
"Maaf"
__ADS_1
Ira hanya mengangguk lalu bersandar di pundaknya.
*****