Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 42


__ADS_3

.


.


.


"Ada orang yang gak pernah mengeluh tentang semua masalah dalam hidupnya, gak pernah curhat, cerita sana sini, tapi tiba-tiba bunuh diri." ucap Anggi menarik perhatian ke-tiga temannya itu.


"Memang tidak semua masalah pribadi harus kita bicarakan kepada orang lain, tapi setiap manusia mempunyai batas sabarnya masing-masing. Kalo cape iya cape, kita manusia biasa dan sekali-sekali boleh mengeluh sama keadaan. Jangan selalu maksain diri buat kuat. Nanti bisa-bisa gila!" sambungnya.


Ira, Susan dan Dewi saling bertatapan. Mereka merasa heran dengan Anggi yang biasanya selalu ceria dan bersikap tidak peduli dengan semua masalah, kini wanita itu bersikap seolah sedang mencaci keadaan.


"Lo sebenarnya ada apa Nggi?" tanya Ira.


"Ra,, gue kan udah cerita ke lo."


"Iya. Tapi bukan hanya itu deh kayanya? ada masalah apa Nggi?"


"Emang masalah Anggi apa?" tanya Susan.


"Gue yang jelasin!" ucap Ira menatap Anggi yang akan bicara."Langsung ke intinya,,, Anggi ngalamin pelecehan dari guru pembimbingnya."


"Haahh?!!" jawab Dewi dan Susan bersamaan tersentak kaget.


"Dia di cium sampe di remas payudar*nya. Gila kan?" sambung Ira.


"Anji*g sumpah inimah Nggi. Kapan itu?"


"Udah lama sih, tapi...?" Anggi mulai berkaca-kaca.


"Gak boleh ada air mata dong tolong?!" ucap Ira.


Anggi menatapnya dan tertawa, "Haha iya ngerti. Nanti jadi nangis semua kan?"


Ira hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Terus gimana Nggi?" tanya Dewi.


"Intinya gue gak lupa sampai hari ini. Mungkin karena belum ada penyelesaian dan orangtua gue gak tau."


"Kita harus selesaikan ini Nggi." ucap Ira.

__ADS_1


"Gimana? ayah bahkan selalu bersikap kasar Ra,, dia sering nampar gue hanya karena masalah yang spele." ucap Anggi berusaha menahan air matanya.


"Haaah?!!" mereka semua merasa sangat heran tidak menyangka.


"Kenyataan,,, dari sejak SMP ayah sering berlaku kasar terutama hal yang tidak seberapa." ucap Anggi menutupi wajahnya yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Bener Nggi?" tanya Dewi.


"Kalian mungkin tau selain sekolah gue juga jualan online. Nah saat itu gue abis belajar dan makan di dapur sendirian, karena tanggung ada yang tanya² gue balesin sambil makan. Terus ayah bilang 'jangan main ponsel sambil makan', naah gue jawab 'iya udah ko' maksudnya bentar lagi karena nanggung. Ehh tiba-tiba dia nyamperin terus nampar gue. Itu pertama kalinya gue makan sambil main ponsel di rumah."


Susan, Dewi dan Ira saling menatap tidak percaya karena mereka tahu bahwa ibu dan ayahnya Anggi sama-sama seorang guru yang terkenal baik dan alim.


"Terus gimana dengan ibu lo Nggi?" tanya Dewi.


"Ibu hanya melerai,, karena jika ayah bersikap seperti itu terhadap gue iya gak ada jaminan kalo dia juga gak kasar sama ibu. Terkadang gue juga bingung? entah ibu yang berusaha menjadi istri solleh dengan jadi seorang penurut terhadap ayah, entah karena dia juga takut terhadap ayah. Seolah dia tidak mempunyai hak untuk berpendapat tentang keadaan."


"Nggi? kekerasan itu tidak bisa di toleransi, sekalipun itu ayah sendiri. Sekarang dia hanya menampar, bagaimana jika suatu hari dia tidak bisa mengontrol emosinya lalu melakukan hal yang lebih? jika ibu dan ayah tidak bisa membantumu bahkan mereka juga tidak lebih baik, bilang pada nenek atau kakek dari ayahmu. Keluargamu di kenal sebagai orang baik dan terhormat, tapi jika berlaku kasar seperti itu terhadap anaknya ini benar-benar sudah melewati batas." ucap Ira menjelaskan.


"Bener kata Ira Nggi, meskipun berusaha untuk kuat tetap saja perempuan akan lemah jika di bandingkan dengan pria. Mengadu akan hal ini terhadap kakek dan nenekmu adalah hal yang wajar." sambung Susan.


"Memang semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi mendidik dengan kekerasan itu tidak baik. Kesehatan mental adalah yang utama, sampai kapan akan seperti ini? memang benar tidak ada orang tua yang ingin menyakiti anaknya, mereka akan merasa bersalah dan sangat menyesal ketika telah melakukannya. Tapi jika mereka tetap mengulanginya apa itu benar?" Ira menatap Anggi dengan serius.


"Kita harus selesaiin ini, bisa kan Ra?" tanya Susan.


"Aku akan mencari cara." Ira tersenyum menatap Anggi.


Anggi hanya tersenyum.


"San gimana dengan lo?" tanya Dewi.


"Kalo masalah pribadi gue gak ada. Hubungan gue sama Teguh juga baik-baik aja. Tapi,, masalah gue sekarang itu di keluarga. Baru-baru inu gue tau bahwa ayah ternyata selingkuh dengan seorang wanita yang seumuran sama gue, anak SMA anj*ng."


"Hah?!! haha bener aja San?" jawab Ira tertawa.


"Seriusan Ra,, hari itu gue pergi sama Teguh dan gak sengaja liat ayah sama perempuan muda pergi ke sebuah penginapan. Awalnya gue pikir mungkin dia hanya bersenang-senang dengan membelinya, tapi pas gue tanya langsung ternyata ayah bilang mereka sudah lama berhubungan. Dia mencintai wanita itu sejak dia kelas 2 SMA hingga sekarang. Gila gak?"


"Dia hanya menjadikan simpanan kali San?"


"Enggak Ra! ayah gue sendiri yang bilang dia bukan simpanan, tapi memang ayah dan dia saling mencintai. Jika di katakan dengan jelas ini perselingkuhan."


"Waaahh ternyata ayahlo menolak tua iya hahaha." ucap Ira membuat semua temannya itu tertawa.

__ADS_1


"Haha gue juga bingung gimana? mau marah tapi lucu juga gitu. Kenapa harus gadis SMA yang seumuran sama anaknya? emang gak ada wanita lain?"


"Terus gimana? ibu lo udah tau?" tanya Anggi.


"Heumm,, udah. Itulah gue gak pulang-pulang, keadaan rumah benar-benar kacau. Mereka ribut terus dan gue benci dengan hal itu."


"Gimana iya?,,, Ira belum selesai berbicara Susan sudah memotongnya. "Udah Ra! ini masalah rumah tangga, gak usah di pikirin. Gue juga berusaha buat nenangin diri seolah tidak terjadi apapun."


"Beneran San?" tambah Dewi.


"Iya udah! oke,, jadi sekarang tinggal Ira yang cerita." ucap Susan menatapnya.


Ira menatap ke-tiga temannya. Jantungnya berdegup kencang, dia mulai berkeringat dingin. Dalam pikirnya bimbang antara diam atau berbicara yang sebenarnya.


"Heummmhhhh,,,,," menghela nafas panjang, "Gue gak akan cerita, tapi akan membuka diri. Jadi akan panjang, diri gue yang sebenarnya, diri gue yang asli."


"Feeling gue gak enak, dengar Ra! gak semua hal harus di bicarakan. Lo udah mikirin ini?" tanya Anggi.


"Udah,, gue percaya sama kalian ko."


"Emang lo tau apa yang akan dia ceritain Nggi?" tanya Dewi.


"Enggak sih, cuma feeling gue gak enak aja."


"Sebelumnya gue minta maaf kalo apa yang kalian denger itu bukan yang di harapkan. Gue juga tidak mengharapkan itu, gue selalu berusaha menutupi dan berpegang teguh untuk tidak bercerita kepada siapapun. Tapi semakin lama prinsip yang gue pegang semakin rapuh. Bukannya menyembuhkan luka, tetapi justru menambah luka. Dan jujur gue capek banget selalu berpura-pura kuat tapi sebenarnya banyak sekali keluhan dalam diri gue." ucap Ira serius.


"Gak papa Ra, cerita aja." ucap Susan meyakinkan.


Badan wanita itu mulai lesu dan jantung berdegup semakin kencang.


"Gue seorang pelac*r....Bukan dalam waktu yang singkat, tapi cukup lama. 4 tahun gue menjalani peran sebagai seorang pelac*r." ucap Ira langsung membungkam ke-tiga temannya itu.


Sekitar 2 menit mereka semua diam membeku, "Feeling gue gak salah, itu hal yang paling gue takuti dari sekian banyaknya masalah remaja." ucap Anggi memecah keheningan.


Ira hanya menatap mereka dengan tersenyum begitupun mereka menatap Ira dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Tidak percaya, kaget, sedih, tetapi mulut mereka tersenyum.


Ira memalingkan pandangannya ke luar jendela. Terlihat beberapa motor lalu lalang melewati jalan gang di depan kosan.


Wanita itu berkali-kali menghela nafas panjang, dia sendiri merasa tidak percaya telah mengatakan itu. Tapi sekarang sudah terlanjur dan dia tidak mungkin menarik perkataannya kembali. Mau tidak mau dia akan menceritakan semuanya, berharap bisa menyembuhkan luka yang selama ini dia pendam sendirian dan dalam hati kecilnya dia berdo'a semoga mereka bisa di percaya.


*****

__ADS_1


__ADS_2