Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 20


__ADS_3

.


.


.


Jam pelajaran selesai, waktunya istirahat.


Biasanya Ira diam duduk di bangkunya. Tapi saat itu justru dia langsung keluar kelas berjalan terburu-buru.


Mungkin Anggi tidak terlalu mengenal Ira. Tetapi mereka sudah berteman sejak dari masuk smk, jadi dia memahami sedikit tentang perasaan Ira hanya dari gerak geriknya.


Anggi langsung bangun dari duduknya, mengikuti Ira dan di susul oleh Iki.


"Kemana?" tanya Iki.


"Paling ke atas, diem kayanya ada masalah!" ucap Anggi berlari kecil.


Kemudian Iki kembali ke kelas tidak mengikuti mereka berdua.


"Anggi kemana? tanya Rendi pada Iki.


"Nyusul Ira sih ke atas, tapi eehh suruh diem! lagi penyelesaian masalah."


"Masalah apa?"


"Gak tau sih, nanti juga Anggi bakalan cerita."


Rendi hanya mengangguk dan duduk di luar kelas bersama dengan yang lain.


*


Ira berjalan ke rooftop, dia seringkali datang kesana ketika merasa tidak ada tempat yang nyaman di sekolah.


Saat perasaannya sedang tidak baik terutama penuh dengan kesedihan yang berujung amarah. Satu-satunya alasan dia menghindar adalah agar, ketika ada yang mengajaknya bercanda dan Ira sedang tidak ingin bercanda, tidak ada kata-kata buruk yang akan keluar dari mulutnya.


Ira berdiri terdiam menatap langit. Kebetulan cuaca hari itu agak mendung, jadi meskipun duduk lama di atas mereka berdua tidak akan kepanasan.


"Raaa?" teriak Anggi.


Ira menoleh ke arah Anggi.


"Ko kesini?"


"Ada apa Ra?"


"Gak apa-apa."


"Duduk." Anggi menarik tangan Ira ke arah pojok di sebelah pohon beringin tua yang tumbuh dari bawah mencapai atas (rooftop). Itu tempat biasa mereka duduk, setidaknya jika panas ataupun hujan pohon itu bisa menjadi tempat berlindung.


"Ahhh cuaca mendung dan berangin. Ini benar-benar membuat perasaan sedikit nyaman."


"Ada apa Ra?" tanya Anggi lagi.


"Gak papa ko."


"Inimah ada apa-apa!"


"Gak ada apa-apa Nggi!"


"Membohongi dunia, berlindung di balik kata "Gak papa." memaksakan diri untuk terlihat senang. Mau sampai kapan?"


"Denger ini!" Ira menatap Anggi.


"Pernah gak sih berada dalam posisi bertahan sakit, tapi pergi hal yang sulit?" sambungnya.


"Aku gak tau masalah kamu apa dan maksud kamu apa? tapi ini memang pilihan yang sulit."


"Aku capek kalo semuanya harus aku pendem sendirian, aku juga capek dengan pikiran yang enggak harusnya aku pikirin."


"Jangan munafik, kamu hanya manusia, kamu juga butuh pelukan, butuh bercerita, wajar saja jika kamu merasa lelah, sesekali teriaklah pada dunia bahwa kamu "sedang tidak baik-baik saja". ucap anggi.


Ira terdiam menatap Anggi.


"Aku lelah, aku butuh pelukan." Ira dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku ingin mengeluh, aku sedang tidak baik-baik saja." sambung Ira.


"Hmm jangaaann!!" Anggi mendekat dan mereka berdua langsung berpelukan.


"Aaahhhhh hhuuhhuuhh capeeee!!" Ira menangis sesenggukan.


"Iya menangislah." Anggi mengusap punggung Ira.


Saat itu Anggi ikut menangis karena ini pertama kalinya semenjak mereka berteman dia melihat Ira menangis, apalagi sekarang di pelukan anggi.


Meskipun di dalam hati Anggi masih bertanya-tanya ada apa dan masalahnya apa? tetapi kali ini dia menahan itu membiarkan Ira menangis dulu untuk ketenangannya.


*


Ari keluar dari kelasnya, langsung pergi ke kelas Ira dan melihat bahwa dia tidak ada di sana. Kembali lagi menghampiri Rendi yang sedang duduk di depan kelas.


"Si Iki kemana?" tanya Ari pada Rendi.


"Kantin kali, lo nanya Iki apa Ira?"


"Iya Ira sih, gak ada di kelas. Kemana?"


"Atas sama Anggi."


"Oh iya gue nyusul!" Ari berjalan ke atas.


Dan Rendi hanya membiarkannya.


Setelah sampai, dari kejauhan terlihat Anggi dan Ira yang sedang berpelukan.


Ari terhenti membiarkan mereka berdua, karena dia juga melihat bahwa Ira sedang menangis.


"Kenapa sih?" ucap Ari terheran.


Terdiam menunggu. Karena dia menyayangi Ira dan ini juga pertama kalinya melihat Ira menangis membuat dia frustasi. Ingin tau penyebabnya dan merasakan kesedihannya pula.


*


"Lelah bukan berarti menyerah bukan?" ucap Ira.


"Makasih udah berusaha untuk mengerti."


Melepas pelukan dan kembali duduk mengusap air mata, menarik nafas dalam-dalam.


"Aku tetep cantik gak?" tanya Ira sambil berkaca pada ponselnya.


"Haha bisa-bisanya."


"Beneran tanya ih?"


"Kamu cantik, kamu berharga."


"Ahh perkataan itu semakin membuat aku ingin menangis!"


"Jangaaaaann udahlah, ada yang nunggu tuh!" yang ternyata Anggi sudah melihat Ari.


"Apa?" tanya Ira melihat ke arah yang sama.


"Ada Ari, aku pergi iya?"


"Ko?"


"Udah jangan nangis!" Anggi berdiri dan menjadi isyarat untuk Ari bahwa urusan mereka sudah selesai.


Anggi tersenyum berjalan meninggalkan Ira.


Ketika berpapasan dengan Ari.


"Kenapa?"


"Tanya aja!"


Ira melihat Ari yang berjalan menghampiri.


"Harus jawab apa?"

__ADS_1


"Hei?" Ari duduk di sampingnya.


"Apa?"


"Kamu bisa nangis?"


"Aku manusia."


"Hmmm mau makan bakso gak?" Ari tersenyum.


"Haha mau lah." Ira tertawa karena tidak menyangka itu yang akan Ari katakan.


"Ko ketawa?"


"Enggak biasanya orang-orang tuh suka banyak pertanyaan kalo liat orang nangis?"


"Sebenarnya banyak sih, tapi aku tau itu akan memperparah rasa sakitmu."


"Makasih." Ira memandang tersenyum.


"Jadi gimana? mau makan bakso sekarang?"


"Bentar dulu ih ini mata masih merah nanti jadi pusat perhatian."


"Kamu udah jadi pusat perhatian."


"Oh iya? kenapa?"


"Banyak wanita yang cantik di sekolah ini, tapi kamu yang paling menarik!" Ari menggoda yang sebenarnya bermaksud menghibur.


"Oh iya?"


"Itulah kenapa aku mau kamu."


"Haha iya udah!"


"Bentar, kasih aku waktu beberapa menit. Jangan ngajak ngobrol iya?" Ira memandang ke sekeliling.


Ari hanya terdiam menatap Ira.


"Manusia kuat ini menangis." Ari berkata dalam hati.


Meskipun Ira tertutup untuk masalah pribadinya, tetapi semua teman mengetahui masalah di rumahnya. Terutama soal hubungan dia, ibu dan ayahnya. Sering kali mereka menyangka bahwa ketika Ira sedang dalam masalah itu pasti soal orangtuanya.


Mereka teridam melihat pohon beringin yang bergoyang-goyang di terpa angin, lalu langit luas mulai gelap menandakan hujan kali ini mungkin akan sangat deras. Kemungkinan akan di iringi dengan petir.


**


"Kenapa?" tanya Rendi pada Anggi.


"Enggak sih, nanti aja." balas Anggi masuk ke kelas.


"Mana ira?" tanya Iki.


"Sama Ari di atas."


"Kenapa?"


"Belum cerita apa-apa sih nangis doang."


"Ira nangis?" tanya Iki terheran-heran.


"Ira nangis?" tanya Rendi juga.


"Iya sesegukan, tapi belum cerita apa masalahnya?"


"Hmmm iya, nanti nunggu dia cerita aja. Kalo di tanya gak bakalan jawab."


"Iya aku merasa bahwa masalahnya berat. Memang semua masalah itu pasti sulit tapi yang membuat Ira semakin sulit adalah dia memendam semuanya sendirian, tidak pernah bercerita kepada siapapun.


Iya gue juga tau, terkadang ada manusia yang sulit mengungkapkan semua masalah di hidupnya hanya karena dia kebingungan harus mulai dari mana?"


"Terlihat biasa saja namun menyimpan segalanya!" ucap Iki.


*****

__ADS_1


__ADS_2