Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 51


__ADS_3

.


.


.


Seorang kaka menatap adik perempuannya yang sedang tertidur, entah apa yang dia pikirkan. Dari caranya menatap terlihat bahwa dia khawatir dengan adiknya itu.


"Masih tidur dia?" tanya Nenek pada Ayu yang sedang mengusap-usap rambut Ira.


"Titip dia nek, suruh di sini dulu."


"Udah tidak perlu khawatir, adikmu kuat." jawab nenek duduk di samping Ayu.


Samar-samar terdengar percakapan ka Ayu dan Nenek membangunkan Ira, membuka matanya dan beranjak duduk.


"Nenek?" Ira menyalaminya.


"Udah makan belum neng?" tanyanya.


"Nanti nek, kakek mana?" melihat ke sekeliling tidak melihat kakek.


"Disini sama nenek iya? teteh pulang, besok ada rombongan." ucap Ayu sambil menyisir rambutnya.


Ira mengangguk, di dalam hatinya ada perasaan tidak tenang karena kakanya akan pergi. Meskipun di sana ada nenek dan adiknya, dia tetap merasa kesepian. Terutama ketika pulang ke rumah ibu.


"Sindi dan Hesti kemana nek?" tanya Ayu.


"Mereka sedang pergi." jawab nenek.


Menatap Ayu yang sedang bersiap-siap untuk pulang, "Gak bisa nginep?" tanya Ira.


"Sibuk, kalo enggak pasti bakalan nginep." beranjak dari duduknya di ikuti oleh Ira.


"Pulang iya nek?" mengalaminya.


Ira mengantar kakanya ke depan rumah, "Jangan dengerin omongan ibu, anggap saja angin lalu. Dia marah tanpa mau menerima alasannya." ucap Ayu menenangkan.


"Iya, makasih. Hati-hati!" Ira menyalami kakanya yang sudah duduk di atas motor.


"Deerrnn!!" suara motor di hidupkan, "Berangkat iya?" nenek keluar rumah, "Hati-hati neng!"


"Iya,, assalamualaikum." pergi dengan motornya.


Menoleh ke arah rumah, pintu masih terbuka. Terlihat Tia sedang duduk bermain pasir di depan rumah, sementara ibu mungkin berada di kamarnya.


"Pulang gak iya?" dalam pikirnya. "Jika pulang dia tidak ingin harus bertemu ibu, atau mungkin berdebat. Tapi jika tidak? dia tidak nyaman jika harus tidur di rumah nenek.


"Kemana aku harus pulang?" berkata dalam hati menghela nafas panjang.


Kembali ke dalam rumah, masuk ke kamar Sindi wanita itu berbaring.


"Nenek ke belakang dulu, mau petik daun singkong." ucapnya berdiri di ambang pintu.


"Ira mau tidur lagi, kepalanya agak pusing."


Nenek pergi, "Blleegg!" suara pintu tertutup.


Melihat jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 14:08. Siang hari yang tenang, tidak terdengar suara apapun di sana. Entah itu manusia ataupun hewan, dari kejauhan hanya terdengar suara motor dan mobil yang berlalu-lalang di jalan raya.


"Hei ayah? apa yang belum hancur sekarang? apakah aku akan menjalani kehidupan yang kacau seperti ini hingga akhir?" berkata dalam hati.


"Duut duuut!!" ponselnya bergetar.


Dia melihatnya dan kaget, bukan Ari. Panggilan itu dari gadun.


Langsung beranjak duduk menatap ponselnya, "Untuk apa dia menelpon?"


Terdiam menatap hingga panggilan itu berakhir, "Ada perlu apa iya? apakah gue egois karena sekarang tidak membutuhkannya dan menjauhinya?"


"Duut duut!!" kembali menelpon.


"Iya?"


"Apa kabar?"

__ADS_1


"Lebih baik, ada apa?"


"Saya sudah pulang, bisa bertemu?"


"Maaf apa aku belum bilang sebelumnya?"


"Bilang apa?"


"Tolong mengerti iya, untuk sementara ini aku mau berusaha untuk pergi. Aku tidak akan berharap lebih, apalagi keadaannya sekarang tidak tepat. Tapi aku sudah berniat, semoga bisa."


"Jadi sekarang mau mencoba kembali?"


"Iya, tolong mengerti."


"Sekarang tidak bisa bertemu?"


"Mengertilah."


"Seharusnya kamu bilang dari awal. Kamu tau perkara seperti ini, saya kecewa dengan keputusan kamu yang tidak memberitahu saya dahulu."


"Iya saya salah, maaf."


"Jika itu sudah keputusan kamu saya tidak akan memaksa. Pertemuan kita kemarin itu yang terakhir?"


"Semoga itu pertemuan terakhir kita."


"Selamat berjuang."


"Iya terimakasih." Ira mengakhiri panggilannya.


"Tidak apa untuk sementara pria itu marah, jika gue kembali dia akan bersikap seperti biasa lagi." dalam pikirnya.


Menyimpan ponselnya di samping, "Brugg!!" kembali berbaring.


"Duut duut!!" ponselnya kembali bergetar.


"Siapa sih?" ucapnya melihat ponsel tetapi itu dari Ari.


"Iya."


"Nelepon sama siapa? ko sibuk?"


"Tadi aku nelpon kamu tapi sibuk, sama siapa?"


"Gak sama siapa-siapa Ri," jantungnya berdegup kencang, setelah menjalin hubungan rasanya berat bagi Ira jika berbohong kepada pria ini.


"Sama siapa? aku tanya?"


"Gak percaya sama aku?"


"Terserah!" mengakhiri panggilannya.


Ira tercengang, "Hah? ini beneran? Ari marah?"


Pria itu mengirimkannya pesan.


*Isi pesan*


"Gak usah ngelak Ra, aku tau nomor kamu sibuk karena sedang menelpon."


"Apalagi ini? tumben sekali Ari." ucapnya merasa kacau dengan hari ini.


"Tuut tuut!!" 3 kali menelpon Ari tetapi dia tidak menjawabnya, lalu mengirimnya pesan.


*Isi pesan*


"Angkat telepon aku gak?"


"Aku nelepon sama orang, kamu ngira selingkuh gitu?"


"Nelpon sama si Wahyu di suruh nenek."


"Lama karena ngobrol dulu, gak masalah kan?"


"Kamu beneran marah? terserah!"

__ADS_1


membanting ponselnya di kasur dan keluar kamar menghampiri dua adiknya yang baru datang dengan membawa makanan. Ada cilok, cimol, hingga seblak.


Duduk di teras rumah, membuka bungkusannya lalu makan bersama.


*


"Hes, punya nomornya Wahyu gak?" ucap Ira pada adiknya karena dia belum menelpon Wahyu, dalam diam dia khawatir Ari menanyakannya langsung pada Wahyu.


"Ada, di suruh nenek iya?"


"Iya,,," meminjam ponsel Hesti menelepon Wahyu.


"Tuut tuut!!"


"Yeu?" suara seorang pria menjawab panggilannya.


"Dimana? ini Ira."


"Oh,, lagi di luar. Kenapa emangnya?"


"Bilang sama emak lo, besok nenek ke sana."


"Iya nanti di bilangin,, ko pake nomornya Hesti?"


"Hp gue mati."


"Rusak?"


"Sengaja di matiin, Ari marah."


"Ari bisa marah sama ceweknya? di cemburuin lo?"


"Mungkin."


"Bagus kalo gitu, beneran kali dia."


"Beneran taee!"


"Dasar gak jelas lo, iya udah."


"Iya." mengakhiri panggilannya.


Tidak terasa adzan ashar berkumandang, wanita itu mandi dan langsung sholat.


*


Nenek datang ke rumah, melihat cucunya yang sedang melaksanakan sholat dia tersenyum senang.


Dalam do'anya Ira meminta : "Yaalloh, dari mulai hari ini aku tidak akan meminta lebih. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Kun Fayakun, aku sudah muak dengan harapan yang berujung menyakitkan."


Wanita itu sudah pasrah dari mulai datangnya satu-persatu masalah. Dia sudah tau dengan ketidak peduliannya seperti ini, sedikit demi sedikit bangkai yang dia kubur dalam-dalam akan tercium juga.


Dia keluar kamar menemui nenek di dapur, "Nek?"


"Apa? makan neng?"


"Udah tadi,, Ira cuma mau ngobrol."


"Ngobrol apa?"


"Bentar lagi PKL, akhir-akhir ini pasti bakalan sering keluar dan kalo kemalaman nginep di rumah temen. Cape harus bulak-balik, soalnya mau nentuin kerja dan tinggal dimana nanti." ucapnya menjelaskan.


"Iya tadi kakamu sudah bilang. Sekarang mau kemana?" tanya neneknya melihat Ira mengambil kantong bajunya.


"Mau ke rumah ibu,"


"Gak nginep di sini? baju kotornya simpen, nanti nenek yang cuci." ucapnya menarik tas di tangan Ira.


"Enggak nek pulang aja," Ira keluar rumah dan berjalan pulang.


Membuka pintu, berpapasan dengan ibunya yang berjalan dari arah dapur. Terlihat dari cara ibunya menatap Ira, dia sangat membenci. Membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


"Terserahlah, gue mauk dengan segalanya." ucapnya sambil duduk di atas kasur.


Hubungan rumit antara dia dan ibunya sudah terjadi sejak lama, terbiasa baginya dengan perlakuan ini. "Tapi, kenapa sekarang berbeda? kenapa rasanya begitu sedih?" pikirnya dalam lamunan.

__ADS_1


"Brugg!!" berbaring, "kenapa hari ini begitupun melelahkan? ada apa dengan orang-orang? kenapa mereka semua menempati masalah?"


*****


__ADS_2