Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 57


__ADS_3

.


.


.


Sekitar 1 setengah jam menempuh perjalanan, laju motor yang kencang perlahan melambat. Dari kejauhan sudah terlihat perusahaan Samsat tempat mereka akan bekerja nanti.


Pak Roni yang mengendarai motor paling depan memberi sen kiri, lalu belok di ikuti oleh Santi dan rekan yang lain. Menelusuri jalan besar yang sisinya di penuhi dengan pohon palem menjulang tinggi membuat mata segar memandangnya.


Motor berhenti di parkiran. Mereka turun lalu Ira, Susan, Dewi dan Santi berjalan masuk mengikuti Pak Roni. Sementara yang lain duduk di motornya menunggu urusan ini selesai, setelah itu giliran mereka yang di antar menuju tempat kerjanya.


Membuka pintu kaca di sambut oleh seorang wanita muda yang sudah menunggu kedatangan kami.


"Selamat Siang Pak, perkenalan nama saya Evi. Mari, silahkan masuk menuju ke ruangan Pak Fandi." ujarnya dengan senyuman manis.


Mereka menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai 3 mengikuti wanita yang bernama Evi.


"Cape iya?" ucap Susan pelan.


"Nanti bakalan naik turun tangga nggak iya?" tanya Dewi.


"Suutt!!" jawab Susan membungkam mereka.


"Silahkan duduk." ucapnya mempersilahkan mereka duduk di sofa (ruang tunggu), sementara dia masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Baik-baik saja kan?" tanya Pak Roni membuat mereka tersenyum saling menatap satu sama lain.


"Setelah ini, kalian bisa langsung pulang atau sebaiknya mencari tempat untuk tinggal. Sebenarnya di sediakan, tetapi jika kalian ingin di luar lingkungan tidak masalah. Yang terpenting jaga diri kalian masing-masing." sambungnya.


"Iya Pak, besok kami beritahu." jawab Susan mewakili.


"Kreekk!!" pintu terbuka. Seorang pria keluar dari ruangannya, dia Pak Fandi.


"Pak?" sapa Pak Roni beranjak, begitu juga dengan yang lain.


"Selamat siang pak?" ucapnya mempersilahkan kembali kita untuk duduk.


"Lumayan." ucap Ira dalam hati melihat pria ini yang sepertinya sama dengan pria di luaran sana. Dia cukup berpengalaman, sehingga bisa melihat maksud dari pandangan seorang pria kepada wanita.


Pak Roni menjelaskan semuanya sesuai dengan apa yang telah mereka bicarakan sebelumnya, dia mengenalkan Ira dan yang lain sebagai anak didik yang akan bekerja nanti.


Dengan semua peraturan perusahaan yang ada mereka harus mematuhinya, di hitung dari 5 hari kedepan mereka mulai bekerja sama seperti tanggal yang sudah di tetapkan dari sekolah.


Untuk tempat tinggal Susan mewakilkan agar tidak tinggal di tempat yang sudah di sediakan, dengan alasan mereka sudah membayar kontrakan masing-masing selama beberapa bulan kedepan. Dan mengenai administrasi mereka harus membayarnya ketika masuk bekerja.

__ADS_1


"Degg!" perasaan yang tadinya baik-baik saja mendadak tidak nyaman ketika sudah mendekati tentang pembayaran, Ira terdiam memikirkan bagaimana?


Dia menghela nafas. Menggenggam tangan Susan, lalu tersenyum menatapnya. Susan memberinya isyarat seolah bertanya kenapa?


Setelah semuanya selesai di bicarakan dan tidak ada lagi yang harus di jelaskan, mereka semua pamit dan turun di antar kembali oleh wanita yang bernama Evi sampai ke halaman depan.


"Sampai bertemu 5 hari lagi." ucapnya tersenyum.


"Iya ka, sampai bertemu kembali." jawab Ira yang terus menatapnya.


Ira memang seorang wanita, tapi tidak di pungkiri terkadang dia juga terpesona dengan kecantikan wanita. Terutama mereka yang cantiknya natural tidak berlebihan.


"Bapak akan mengantar rekan yang lain, kalian akan kembali ke sekolah atau mencari tempat untuk tinggal?" tanyanya.


"Keduanya pak!" jawab Susan.


"Iya sudah, bapak pergi? hati-hati iya?" ucapnya lalu menghidupkan motor dan pergi di ikuti oleh rekan yang lain.


Mereka semua menatap Susan, "Sekarang gimana?" tanya Dewi.


"Menurut gue mending pulang dulu deh, kita bicarain ini di kosan!" jawabnya memakai helm dan menghidupkan motor.


Ira hanya mengangkat kedua pundaknya lalu naik di belakang Susan, dan perlahan motor melaju.


"Lo ada apa sih Ra?" tanya Susan sambil mengendarai motornya.


**


Wanita itu masih terdiam memikirkan keuangannya. Bukan tidak bisa dia membayar biaya PKLnya, tetapi jika dia membayar lunas bagaimana dengan kebutuhan lain? biaya makan sehari-hari? dan dimana dia tinggal nanti? biaya kontrakan? "Haaahhhh!!" teriaknya.


Dia bahkan belum mengecek laptop dan motornya, apakah perlu membawa motor? bagaimana dengan sekolah adiknya nanti? dan dengan siapa dia akan tinggal? jika dia kembali dan tinggal bersama yang lain, bagaimana jika dia perlu keluar untuk menemui pria itu? alasan apa agar dia nyaman dan tidak merasa keberatan? mereka memang sudah mengetahuinya, tetapi bagaimana jika ada yang berkhianat dan mengadukan pada Ari? "Dasar hidupppp!" teriaknya lagi.


"Haha kenapa lo?" tanya Susan menyikutnya.


"Pusing gue sumpah!"


"Bentar bentar,," ucapnya membelokan motor, karena mereka sudah sampai ke kosan.


Turun dari motor, "Santi sama Dewi kemana?" tanyanya.


"Gak tau!" jawabnya duduk membuka sepatu, begitu juga dengan Susan yang langsung membuka pintu kamar.


Membuka jaket, melempar tasnya dan "Brugg!!" berbaring di kasur.


"Si Teguh kemana sih?" ucap Susan terdengar menelpon seseorang.

__ADS_1


Tanpa menjawab Ira melihat ponselnya, ada pesan dari Ari yang mengatakan bahwa dia sedang bersama dengan Teguh, Beni, dan Pras. Sama seperti mereka, menemui guru pembimbing dan mencari kontrakan.


"Mereka belum pulang kali, kata Ari dia bareng Teguh." ucap Ira.


"Iya sih tadi dia udah bilang!" Susan melempar ponselnya.


"Dalam hidup gue, gak ada yang lebih sulit selain dari soal duit!"


"Heum,, iya sih. Tapi gue gak bisa bayangin gimana susahnya lo yang sama sekali tidak ada yang bantu. Gue juga gak nyalahin apa yang lo lakuain!" ucapnya membuat Ira beranjak duduk menatapnya.


"Gue punya duit, tapi kalo gue bayarin semua buat biaya PKL besok gimana dengan kontrakan nanti gue tinggal? belanja kebutuhan? makan sehari-hari? dan yang penting! lipstik, minyak wangi sama cream udah abis? aaaahhhhh gimana saan?!" teriaknya sambil menggoyangkan tubuh Susan berkali-kali.


"Haha, minta sana sama Ari. Dia kerja kan Ra?" jawaban yang tidak terpikirkan oleh Ira.


"Malu gak iya kalo gue minta?" tanyanya.


"Denger! Ari tuh kayak Teguh, dia selalu ngasih tapi gak lebih. Tapi kalo lo minta dia pasti ngasih dan lebih. Dan maaf iya? lo tidur sama dia berdasarkan cinta. Pikir dong! tub*h lo aja mereka beli, masa sekarang si brengsek itu menikmati tanpa tau apa-apa. Di dunia ini gak ada yang gratis sayang!" ucap Susan mencubit pipinya, tidak menyangkal apa yang dia katakan semuanya memang benar.


"Haha iya. Udah! mau ke sekolah lagi gak?"


"Nanti!"


"Pusing gue mikirin hidup, gak ada habis-habisnya. Mau tidur!" ucap Ira memalingkan badannya membelakangi Susan dan menutup paksa matanya agar tidur.


"Baru jam 11:26 Ra, lo mau tidur?"


Menoleh, "San? jujur jangan? mungkin gue akan kembali dan menemui pria itu." ucapnya membuat Susan beranjak dari tidurnya.


"Beneran? hmmmm,,,,," Susan terdiam beberapa saat. "Gue ngerti, gak ada yang bisa bantu lo saat ini, dan gak ada yang bisa di andalkan selain dirilo sendiri. Gue gak akan ngelarang lo Ra." ucapnya, Ira memegang erat tangan wanita itu.


"Makasih San lo udah ngerti." belum selesai berbicara Susan memotong, "Bentar, apa gue perlu bantu? suruh Teguh ajak Ari keluar?" tanyanya.


"Haha, pengertian amat lo. Gimana nanti, gue juga harus ketemu Ari dulu." Ira tersenyum menatapnya.


"Haha, gue ngerti banget!"


"Gak salah kan? membahagiakan diri gue sendiri sebelum pria itu merusaknya?" ucapnya.


"Suut! udah!" Susan mengakhiri obrolan itu agar tidak terlalu jauh.


"Suuutt! udah!" ucap Ira memalingkan kembali tubuhnya dan tertidur.


Dia terlelap dalam tidurnya, sementara Susan masih terdiam menatap punggung wanita itu. Dalam pikirnya berusaha untuk memahami dan mengerti apa yang di rasakan oleh Ira. Semenjak dia menceritakan semuanya, membuat Susan memikirkan dan berusaha menjadi tempat untuk berkeluh kesah tentang kehidupan pahit yang saat ini sedang di jalani.


"Semoga semuanya akan lebih baik lagi Ra, meskipun tidak saat ini." ucapnya memalingkan tubuh, saling membelakangi dan perlahan tidur.

__ADS_1


*****


__ADS_2