
.
.
.
Memakai topi, memegang masker dan dompetnya. Wanita itu keluar kamar berjalan menuju rumah neneknya.
"Siinnnn, Heesss?" teriak Ira memanggil adik-adiknya.
"Iyaaa apaaa?"teriak Sindi dari dalam rumah.
"Sini!" ucap Ira sambil melihat keadaan di sekitar.
Di seberang jalan ada beberapa rumah, terlihat ibu-ibu sedang duduk berkumpul saling mengobrol dan mengasuh anaknya.
Mereka memandang Ira dengan tatapan aneh dan Ira tau bahwa mereka pasti membicarakannya, karena memang Ira jarang ada di rumah terutama sering keluar malam.
Bagaimanapun dia seorang anak perempuan yang belum menikah, terlalu sering keluar rumah apalagi malam tidak baik untuk citranya pasti di anggap melakukan hal macam-macam.
"Munafik!"
"Apa teh?" Sindi menghampiri.
"Main ke pantai yuk?"
"Sekarang?"
"Iya ayo bawa kunci motornya!"
"Hesti ikut dong!"
"Iya yuk."
Di rumah kakek ada 2 motor
1 motor Ira yang dia beli dan satunya lagi milik kakek.
Ira sengaja menyimpan motor itu di nenek karena Sindi yang memakainya ke sekolah, lagipula Ira jarang memakai motor.
"Nih kuncinya."
"Ambil motornya dulu!"
"Teteh ko makin cantik." ucap Hesti melihat kakanya yang sedang berkaca pada jendela rumah.
"Iya teteh juga tau.Tapi gak punya receh haha!"
"Mau jajan cilok doang?"
*Tiiitt tiitt!!* Sindi mengendarai motor beat berwarna hitam menghidupkan klakson.
"Emang mau ke pantai mana teh?" tanya Sindi.
"Pantai sini sih haha."
"Ohh kirain mau pergi ke pantai wisata?" ucap Sindi merasa kesal.
Ira hanya memakai baju kaos dan celana kulot, tapi dia memakai topi dan maskernya. Tidak salah jika adiknya menyangka dia akan pergi jauh.
"Kasihan lo udah ganti baju haha." ejek Hesti.
"Diem lo!"
"Udah yuk nanti makan bakso?"
"Beneran teh?"
"Bayar masing-masing sih haha."
"Aaaah teteh!" teriak Sindi.
Hesti dan Ira tertawa lalu nenek keluar rumah.
"Mau pada kemana ini?"
"Mau ke pantai belakang rumah."
"Jangan sore-sore, kakamu suka gak inget waktu kalo udah ke pantai!" ucap Nenek.
"Iya nek." Ira tersenyum.
__ADS_1
Duduk di motor Ira yang akan menyetir.
"Mau naik gak?"
Hesti naik, lalu Sindi.
Menghidupkan motor dan berangkat.
Ira mengendarai motornya pelan sambil melihat kampungnya yang jarang dia lihat seperti ini.
"Rumah siapa ini?" tanya Ira melihat sebuah rumah yang sedang di bangun sebelum jembatan.
"Rumahnya hilda temen Hesti."
"Emang teteh gak pernah liat apa?"
"Kalo lewat sering, tapi jarang merhatiin."
Menepi, lalu belok ke sebrang menuju daerah pelelangan ikan.
"Turun!" ucapnya memarkirkan motornya di dekat warung-warung tepi pantai.
Hesti dan Sindi turun.
Ira berjalan menuruni tangga ke arah pantai di susul oleh kedua adiknya.
"Teh cilok?" ucap Hesti.
"Nih!" memberi uang 50 ribu.
Mereka berdua meninggalkan Ira yang terus berjalan jauh menuju pantai.
"Hmmm lama sekali." ucapnya menghela nafas panjang duduk di atas karang menginjakkan kaki pada lubang dangkal yang membasahi sedikit cenalanya lalu melihat ikan-ikan kecil mondar-mandir berenang memasuki karang.
"Apakah kau tersesat seperti aku? mungkin kau hanya memiliki satu rumah, tapi kau terlalu berjalan jauh sehingga kau kesulitan untuk kembali. Banyaknya rintangan yang menutupi rumahmu sehingga kau merasa kebingungan, akhirnya kau hidup di rumah yang baru dan perlahan lupa akan rumahmu yang sebenarnya."
"Apa kau merasa lelah? akupun. Berusaha untuk mencari rumahmu yang dulu, sehingga kau kelelahan sebelum menemukan apa-apa. Kau menyerah pada kenyataan dan hidup di rumah yang saat ini kau tempati, meskipun kau harus terpaksa untuk merasa nyaman."
"Tapi ini bukan tentang rumah. Ikhlas itu bohong iya, yang ada terpaksa lalu terbiasa!"ucap Ira melihat bayangannya di air yang sedikit bergerak di terpa angin.
"Teeehh?" teriak Sindi yang sedang duduk bersama hesti di bawah pohon Ketapang tua.
Ira menoleh.
Ira bangun dari duduknya "Ah bokongku basah!"
Berjalan ke arah adiknya.
"Nih cilok buat teteh, sama minumanya es jeruk." Hesti memberi.
"Ini tikar dari mana?"
"Pinjem sama si bibi tukang warung di atas."
"Ada yang jualan apa lagi di sana?" tanya Ira sambil duduk.
"Banyak, tapi tukang bakso udah ada ko hehe."
"Mau?"
"Iya!"
"Gih beli, buat tteh bakso sayur iya!" ucap Ira menginjakkan kakinya yang basah di atas pasir.
"Teh ayo anter?" Hesti pada Sindi.
"Sendiri aja siapa yang mau."
"Ohh lo gak mau? yaudah gue beli dua. Yuk ka Ira?"
"Yuk?" Ira bangun dari duduknya.
"Mau ihh!"ucap Sindi bangun dari duduknya.
"Haha anter hesti sana!" ucap Ira tertawa melihat kedua adiknya yang selalu bertengkar tetapi tidak bisa di pisahkan.
*
*Duut duut* ponsel bergetar Ari menelepon.
Ira tersenyum.
__ADS_1
"Iya sayang?"
"Haha lagi apa bu?"
"Dimana? Ko bergemuruh?"
"Di pantai!"
"Pantai mana? Sama siapa?"
"Di belakang rumah, sama Hesti sama Sindi juga."
"Oh iya. Pake masker tapi?"
"Tumben nanya gitu haha?"
"Biasanya kalo pergi, terutama sama aku pasti di masker sama topi. Kalo sendiri gimana?"
"Enggak sih, orang ini di pantai belakang rumah. Simple juga penampilannya, cuma pake celana pendek sama tangtop doang. Paket jaket sih pastinya." Ira menggodanya.
"Beneran? ko curang bu. Enggak-enggak balik sana ganti baju!"
"Buat apa ganti baju udah basah juga."
"Emang berenang? Balik sekarang apa di susul nih!"
"Iya nanti."
"Sekarang bu. Mau denger gak?"
"Haha apaan bohong juga. Kan tau sendiri orang-orang juga nyebut aku misterius karena tertutup." Ira tertawa tidak menyangka bahwa Ari bersikap seperti ini.
"Gak percaya sih."
"Astagaa manusia ini!"
"Bentar," Ira membuka kamera memotret kakinya menghadap laut lalu mengirimnya pada Ari.
"Liat!"
Ari tidak menjawab mungkin sedang melihat foto yang dia kirim.
"Iya, sekarang mungkin kamu heran kenapa aku selalu mengomentari caramu berpakaian. Dengar! sebrengsek apapun seorang pria dia menginginkan wanita yang baik untuk masa depannya."
"Udah mau ngomongin masa depan? Dengar! setidak baik apapun wanita, dia menginginkan lelaki yang baik untuk menjadi pemimpinnya"
"Haha iya ini sedang berusaha."
"Bisa-bisanya."
"Bentar lagi praktik kerja lapangan, ngurusin laporan, ujian, kelulusan. Ada rencana nikah sama aku gak?"
"Jangan ngomongin tentang ini, jangan terlalu jauh. Kita tidak tahu akan sampai kapan hubungan ini bertahan, tapi jangan sampai membuat luka yang dalam."
"Memang, kita sudah dekat dari semenjak smk hanya saja hubungan resminya baru beberapa hari haha."
Ira tersenyum jika harus mengingat tentang hubungan mereka, lama sekali dekat tapi tidak kunjung berpacaran dengan alasan tidak ingin saling menyakiti. Tapi pada akhirnya, sekarang mereka menyerah pada kenyataan dan berpacaran.
"Mungkin aku yang berpikirnya terlalu jauh."
"Apa?"
"Aku ingin kau menjadi milikku bukan cuma saat ini, tapi hingga nanti. Aku ingin menikah di usia muda."
"Waahh ini sebuah candaan yang dimana nanti akan menjadi sebuah rasa sakit yang mendalam."
"Semoga tidak, aku akan berusaha. Kau tau bukan? aku terbiasa bekerja untuk hidupku sendiri, tidak ada bedanya sekarang atau nanti setelah lulus sekolah. Mungkin jika menikah aku bukan hanya memiliki teman hidup, tetapi seseorang yang membantu mengurusku. Entah kenapa aku merasa sama dengan temanku yang seorang duda. hidup sendiri, mengurus semuanya sendiri haha."
"Iya ngerti. Udah, lagi kerja kan?"
"Iya udah aku tutup." Ari mengakhiri panggilannya.
"Mungkin dia hanya bercanda, seharusnya aku tertawa bukan semakin jatuh cinta."
*Dalam pikirannya.
"Jangan berharap kepada manusia, saat ini kau mengatakan hal yang manis dan berandai untuk masa depan. Tapi aku merasa takut, apa yang akan kau katakan nanti jika kau tau apa yang aku lakukan? apakah memiliki diriku hingga nanti itu masih berlaku untukku? apakah ajakan untuk menikah itu akan kau tarik kembali dan menyesalinya? Lucu sekali."
"Aku bahkan tidak ingin berandai untuk masa depan. Karena aku tau, terkadang diriku punya rencana tapi dunia punya realita"
"Ngomong-ngomong, ini mana sih yang beli bakso lama banget?" uap Ira menoleh ke belakang menunggu keduanya adiknya yang belum juga kembali.
__ADS_1
*****