
.
.
.
"Teehh?" teriak Hesti datang membawa satu mangkuk bakso.
Ira menoleh "beli dimana? lama banget!"
"Ngantri, bentar iya." pergi meninggalkan.
"Besok-besok harus hemat nih."
Hesti dan Sindi datang masing-masing membawa mangkok bakso dan botol air minum.
"Lama iya haha?" ucap Sindi.
"Iya emang di atas rame?" tanya Ira sambil mengaduk baksonya.
"Rame."
"Nanti malem teteh mau pergi, bilang sama nenek iya!"
"Kemana?"
"Anak kecil gak harus tau."
"Awas aja."
Ira tersenyum
Melihat air laut yang surut terlihat jelas hamparan karang yang luas menjadi pembatas antara air dan pasir.
*
Tiba di rumah Ira langsung mandi karena dia akan pergi malam ini.
Menatap cermin.
"Aku tidak berjanji bahwa ini yang terakhir, tapi dari mulai hari esok kita harus bisa bertahan. Kau bersamaku bukan? kita pergi dan jangan kembali!" ucapnya memeluk diri sendiri.
Dia membuka lemari dan memegang celenganya "Sepertinya sudah penuh." menyimpan kembali.
*Duut duut duut* panggilan dari Gadun yang akan dia temui sekarang.
"Iya?"
"Udah siap?"
"Udah."
"Iya sebentar, di pinggir jalan gak papa?"
"Iya ini mau jalan ke sana." ucap Ira mematikan teleponnya keluar dari kamar, menguncinya lalu berjalan keluar rumah.
Melewati rumah nenek terlihat dia sedang duduk menonton tv.
"Mau kemana neng pergi terus?" tanya seorang Ibu yang masih tetangga Ira.
"Ada acara makan sama temen!" balas Ira sambil berjalan meninggalkan.
"Sama temen tapi di jemput pria yang berbeda-beda!" ucapnya terdengar oleh Ira.
"Gue gak peduli, gue cape berbohong, gue cape menyembunyikan. Lagipula suatu saat orang-orang akan tau, jadi terserah mau ngomong apa-apa juga. Gue gak minta makan sama mereka." ucap Ira sampai di tepi jalan terlihat mobil Avanza hitam sudah terparkir di dekat rumah kosong.
Ira menyebrang dan langsung masuk ke mobil
yersenyum "udah lama?"
"Baru nyampe."
"Langsung berangkat aja."
Pria itu menghidupkan mobilnya langsung berangkat.
"Besok lusa mau pergi keluar kota, ikut gak? sambil jalan-jalan."
"Enggak makasih."
__ADS_1
"Kenapa? Gak lama ko cuma dua hari."
"Aku tidak tahu akan berhasil atau tidak kali ini, tapi aku akan mencoba untuk pergi. Jangan menghubungi aku iya!"
"Kau akan mencoba lagi? aku mengerti, tapi jika suatu hari kau akan kembali hubungi aku."
"Iya semoga aku bisa."
Pria itu terdiam karena dia tau tidak ada perempuan yang rela hidupnya seperti ini. Dia tau perjuangan Ira yang mencoba berkali-kali pergi meski akhirnya dia kembali lagi.
"Aku lelah."
"Aku tau karena kau tumbuh tidak seperti anak yang lainnya."
"Sulit sekali."
"Mungkin kau harus menikah di usia muda!"
"Kenapa harus menikah?"
"Kau selalu berharap ingin segera lulus dari sekolahmu untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan keluar dari lingkaran ini. Apa kau yakin sekalipun kau sudah bekerja, kau tidak akan melakukan ini lagi? kamu yang terbiasa mendapatkan uang dengan mudah lalu harus bersusah payah bekerja, bahkan uang yang di hasilkan itu jauh lebih sedikit di bandingkan yang biasa kau hasilkan. Pasti butuh proses untuk menyesuaikan dirimu."
"Semakin kau dewasa semakin banyak kebutuhan dan keinginan. Bahkan mungkin kau harus membantu biaya sekolah adik-adikmu." sambungnya.
Ira terdiam .. Apa yang pria itu katakan memang benar. Seperti halnya yang sering di lakukan, seberusaha apapun dia mencoba jika dia masih membutuhkan uang banyak dan tidak ada yang menanggungnya tidak ada jaminan untuk dia tidak kembali lagi.
"Tapi kau jangan berhenti untuk mencoba. Sejauh ini kau sudah melakukan yang terbaik. Itulah kenapa aku tidak berpaling darimu."
Ira hanya membalas perkataannya dengan tersenyum.
"Udah makan?"
"Udah tadi."
"Nanti mau makan apa?"
"Mau sate aja, tapi di bungkus."
Mereka sudah memasuki daerah selatan kota, lalu menuju ke tempat yang di penuhi dengan rumah pelac*an dan penginapan. Melewati tempat itu terlihat gadis-gadis cantik dan seksi duduk di depan halaman rumah masing-masing untuk menarik perhatian pria.
Membelokkan mobilnya masuk ke sebuah penginapan, pria itu turun dari mobilnya memesan kamar dan Ira hanya duduk melihat ponselnya.
Menonaktifkan ponselnya.
Pria itu membuka pintu "Yuk turun?"
Ira turun dari mobil mengikuti pria itu naik ke lantai dua "kenapa harus ke atas?"
"Sebenernya di bawah penuh!"
Ira melihat ke arah parkiran memang ada beberapa mobil dan motor di sana.
Dan di kagetkan,
*Bleeg* mundur punggung Ira menabrak tembok.
"Kenapa?"
"Bentar," melihat kembali ke bawah lalu masuk ke kamar.
"Ada yang di kenal?"
"Iya, temen seangkatan sih." Ira tersenyum seolah tidak percaya wanita yang menyukai Ari itu berada di sana dengan seorang pria tua.
"Jangan ikut campur urusan orang lain!"
"Enggak, cuma liat doang." Ira duduk di kursi.
Seperti kamar biasa tapi ternyata kamar itu cukup luas. Ketika masuk langsung beranda ruang tamu dengan sofa. Lalu lemari tv dan pot bunga besar di pinggirnya.
Ira berjalan masuk ke kamar melihat ranjang yang terletak di sisi jendela menghadap langsung ke pantai. Meja cermin di pinggir ranjang sebelah kanan dan dispenser di atas meja sebelah kiri lalu kamar mandi di sudut sebelah pintu kamar.
"Lumayan."
Kemudian wanita muda itu mengganti bajunya dengan dress pendek dan menatap cermin "seperti iblis!" ucapnya mencaci diri sendiri.
Terlihat pula dari cermin pria itu menghampirinya "kali ini langsung saja, aku ada pekerjaan yang mendadak." ucapnya mengiring Ira ke ranjang.
**
__ADS_1
Ira duduk melihat pria itu yang langsung bergegas ke kamar mandi mendahuluinya.
"Kali ini benar-benar maaf aku ada pekerjaan!" ucapnya merapikan baju.
Ira berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya, di dalam hati merasa senang dan lega karena ini hanya sebentar dan dia akan segera pulang.
Keluar kamar mandi dan memakai bajunya lalu membereskan semuanya dan bercermin.
Pria itu sudah menyimpan uang di tasnya dan Ira menghitungnya ternyata uang itu dua kali lebih banyak dari biasanya.
"Ini?" tanya Ira heran.
"Itu untukmu, untuk prosesmu."
"Kau serius?"
"Iya, semoga berhasil."
Ira menghampiri pria itu memeluk dan mencium pipinya.
"Terimakasih."
Pria itu hanya tersenyum "Udah beres? yuk?"ajaknya keluar kamar.
Ira mengikutinya dan tersadar tadi dia memeluk dan mencium pria itu untuk pertama kalinya atas kemauan sendiri.
Dalam pikirannya dia tertawa dan merasa sangat senang saat ini.
"Mungkin benar jika kita berniat baik maka Alloh akan memudahkannya." ucapnya dalam hati.
Setelah menuruni tangga mereka langsung masuk ke dalam mobil berangkat keluar dari kawasan itu.
"Gak papa agak cepat di jalan iya. Ada yang nunggu."
"Iya gak papa."
"Mau beli sate Dimana?"
"Gak usah, kan buru-buru!"
"Iya buru-buru tapi kamu harus makan, aku tidak ingin di sebut menelantarkanmu."
Ira hanya tersenyum.
Meninggalkan daerah selatan memasuki wilayah pasar utama.
Pria itu menepi di depan tukang sate, turun dari mobilnya membeli.
Ira mengaktifkan ponselnya.
"Benar saja" ucapnya ada 3 panggilan dari Ari.
*Klik* pesan masuk
*Isi pesan*
"Bu?"
"Udah tidur?"
Ira tidak membalasnya takut jika Ari langsung menelepon.
Pria itu kembali dengan 1 pincuk sate dan nasi.
"Ini udah sama nasi, nanti makan iya!" ucapnya berangkat melanjutkan perjalanan.
*
Satu jam perjalanan mereka sampai di daerah Ira.
"Makasih." ucap Ira turun lalu menutup pintu mobil.
Dia menyebrang dan berjalan ke arah rumah.
Melihat mobil itu parkir dan langsung melaju dengan kencang.
"Hhmm dari dulu kamu memang selalu bersikap baik. Terimakasih, setidaknya rasa sakitku tidak terlalu parah." ucapnya berjalan di keheningan malam.
*****
__ADS_1