
.
.
.
Lagi dan lagi, gemercik air dari gerimis yang perlahan rapat dan semakin deras turun membasahi bumi.
Pria itu tidak beranjak dari tidurnya, dia masih memeluk tubuh Ira yang belum berpakaian.
"Hujan, motor tuh." memalingkan tubuhnya menatap Ari.
"Hujan?" beranjak melihat keluar jendela, lalu dia pergi menaikan motornya ke teras rumah.
"Dosa? apa mereka pikir gue tidak pernah memikirkannya? jika dosa bisa di tukar dengan uang. Jangankan untuk semua kebutuhan, gue mungkin udah bisa beli kapal pesiar." gumamnya.
"Heummhh,," menghela nafas panjang jika harus membicarakan tentang dosa. Mereka tidak mengetahui bahwa wanita seperti ini yang menangis paling keras jika harus menyadarinya, bahkan ada dari mereka yang sempat berburuk sangka terhadap Tuhan-nya dengan berpikir mungkin tidak akan ada pengampunan untuk semua perbuatannya.
"Perset*n kehidupan!" ucapnya beranjak duduk.
Melihat dirinya di cermin, tubuh ini mungkin lebih baik dan indah di bandingkan dengan istri mereka di rumah. Tapi, kenapa mereka begitu egois dengan mencari sebuah kesenangan tanpa mensyukuri yang ada? bagaimana mungkin mereka mengabaikan tubuh seorang istri yang dimana tidak pernah di sentuh oleh lelaki lain selain dirinya? justru mereka memilih untuk menyentuh tubuh wanita yang sebenarnya bukan hanya milik dirinya seorang? "Dasar bodoh!" ucapnya sambil memakai bra.
Bukankah kehidupan memang tidak seadil itu? jika kau tidak menyakiti oranglain, di pastikan kau yang akan di sakiti oleh oranglain.
"Krekk!!" Ari membuka pintu lalu duduk di sampingnya.
"Pakai bajumu atau aku akan memaksa." ucapnya menci*mi dada Ira.
"Mungkin aku akan sibuk nanti malam."
Pria itu menatapnya, "Sibuk apa?"
"Akan menemui ka Ayu, dan berpamitan kepada keluargaku." jawabnya meyakinkan.
"Heum,, gak mau ikut sama aku? nanti bareng Susan."
"Gimana nanti iya? aku kabarin." beranjak ke kamar mandi.
Bagaimana rasanya membohongi seseorang? berhasil atau tidak kebohongan itu, tetap akan membawa ketidaknyamanan.
"Gue gak perlu meminta maaf. Karena suatu hari nanti, bukan cuma lo Ri. Mungkin mereka semua dan bahkan Tuhan, akan sulit memaafkan diri yang penuh dengan dosa ini."
__ADS_1
"Dulu gue pikir, jika bunuh diri itu bukan dosa mungkin gue udah lama mati. Tapi sekarang gue tidak ingin bunuh diri bukan karena dosa, tapi perjalanan hidup pahit yang udah gue laluin gak mungkin jika harus berakhir dengan sia-sia. Meskipun gue selalu bersikap bodo amat, tetapi sebenarnya diri ini manusia normal yang berharap datangnya sebuah kebaikan. Gue masih berharap semua ini akan berakhir dan hidup normal layaknya manusia biasa." dalam pikirnya mematung di kamar mandi, menatap air yang mengalir memenuhi bak.
Ira selesai mandi. Sebelum masuk ke kamar, dia melihat keluar jendela gerimis sudah tidak lagi turun. Di lihatnya jam sudah pukul 15:49. Wanita itu harus bergegas pulang karena malam ini dia akan kembali pergi. Setidak peduli apapun dia tentang pendapat oranglain, tapi tetap saja jika dia pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian dan berbohong kepada kakek dan nenek membuatnya tidak nyaman dan merasa bersalah.
"Lelah rasanya harus selalu berbohong, dasar pembohong!" ucapnya memaki diri sendiri.
"Udah?" tanyanya yang sedang duduk memainkan ponsel Ira.
"Langsung anterin pulang iya?" sambil memakai pakaiannya.
"Sekarang?"
"Iya sayang!" merapikan ranjang, "Awas dulu dong!"
Ari beranjak dan memakai kaosnya, dia berdiri mematung menatap Ira yang sedang merapikan ranjang. Setelah selesai dia duduk di depan cermin berdandan.
"Peluk aku!" ucap Ira sebelum di antar pulang.
Ari memeluknya, "Pelukan hangat yang tidak akan pernah aku temui dalam diri siapapun, maaf aku akan menemui pria lain dan tidur dengannya malam ini. Kau tau? aku seorang pelac*r, meskipun kau tidak mengetahuinya, tetapi hatiku sakit dan benar-benar merasa bersalah karena harus selalu berbohong. Kau pria brengsek, tetapi di sini aku yang menyakitimu. Maaf!" berkata dalam hati lalu menciumi wajah pria itu.
"Kenapa tumben?" tanyanya.
"Udah. Yuk?" jawabnya keluar kamar dan langsung menuju teras.
**
Gerimis kecil kembali turun. Perlahan membasahi keduanya yang sedang di perjalanan mengantarkan Ira.
"Tanggung iya?" tanya Ari yang ingin mengajak Ira berteduh tetapi sebentar lagi mereka sampai ke rumah.
"Iya, gak papa ngebut aja."
Tanpa menjawab Ari mempercepat laju motornya. Setelah melewati tanjakan dan beberapa belokan, mereka sampai di depan rumah nenek.
"Yuk?" menarik tangan Ari karena seketika hujan deras turun membasahi.
"Assalamualaikum, nek?" teriak Ira duduk di teras rumah.
"Waalaikumsalam," membuka pintu rumah, "Pulang neng?" tanyanya lalu Ari menyalaminya.
"Hujan yuk masuk?" ajaknya mempersilahkan.
__ADS_1
"Adik-adik kemana?" duduk di ruang tamu di ikuti oleh Ari.
"Tadi mau beli jajan katanya. Jangan di kasih uang lebih terus neng, nanti kebiasaan ada apa-apa minta sama kamu." ucap nenek.
"Gak papa, jangankan mereka Ira aja masih suka jajan."
"Mau ngopi A?" nenek menawari Ari kopi.
"Boleh nek." jawabnya.
"Bikinin neng!" Ira beranjak pergi ke dapur.
Terdengar nenek berbicara dengan Ari, tapi tidak jelas apa yang mereka bicarakan.
"Emang jajan kemana sih mereka?" tanya Ira kembali dengan membawa secangkir kopi, dan menyimpannya di atas meja.
"Palingan ke pesisir pantai. Kasih uang jajan ke mereka secukupnya aja, kamu sendiri gak ada yang biayain." ucap nenek membuat Ira tidak nyaman, karena dia merasa takut Ari akan bertanya-tanya dari mana Ira mendapatkan uang?
"Ira juga ngirit ko." jawabnya mempersingkat.
"Nenek ke rumah paman dulu iya? mau ambil sayur tadi lupa ketinggalan." ucapnya beranjak dan keluar rumah memakai payung.
Mereka berdua hening beberapa saat memperhatikan hujan. "Buat beli minyak wangi." Ari menyimpan uang di atas meja.
"Loh? aku masih punya uang ko." jawab Ira tidak menyangka pria itu akan bersikap seperti ini.
"Aku denger cream sama minyak wangi kamu abis." belum selesai Ira menyela, "Haha, dari Susan?"
Ari mengangguk, "Lain kali bilang sama aku langsung iya kalo butuh apa-apa? aku lelakimu bukan?" ucapnya membuat Ira merasa senang sekaligus sedih karena apa yang akan setelah ini.
"Terimakasih gantengnya aku." ucapnya mencium pipi Ari.
Dia hanya tersenyum menatapnya.
Setelah beberapa saat hujan reda, tanpa menunda waktu Ari pamit pulang karena sebelum menemui Teguh dia harus menyusul Guntur mengenai pekerjaan.
"Aku pulang iya?" mengecup keningnya.
"Hati-hati." jawab Ira mengantar Ari yang akan pergi. Sampai punggung pria itu hilang di belokan, dia masih berdiri mematung melihat dedaunan yang berjatuhan ke tanah.
"Maaf jika aku wanita terburuk yang pernah kau temui." gumamnya merasa bersalah karena terus menerus membohonginya.
__ADS_1
*****