
.
.
.
Dari luar terdengar suara bising knalpot motor yang mendekat dan di susul oleh beberapa motor yang berhenti di depan kosan.
Ke-empat wanita itu saling menatap merasa heran, bertanya-tanya siapa? tapi Susan merasa tidak asing dengan suara bising knalpot motor itu.
"Siapa?" tanya Dewi.
Susan Beranjak dari duduknya membuka gorden jendela lalu wanita itu membuka pintu.
Teguh, Rendi, Beni dan Ari sedang duduk di atas motor sambil memainkan ponsel, menunggu kabar dari wanitanya yang sedari tadi tidak bisa di hubungi.
Mereka menatap Susan yang membuka pintu, "Ngapain?" tanya Susan keluar kamar.
"Aku pikir cuma kamu, tapi yang lain juga susah di hubungi. Jadi ke sini!" ucap Teguh menghampiri Susan.
"Lelaki ini kompak juga." ucap Dewi lalu beranjak dari duduknya keluar kamar dan di hampiri oleh Beni.
Ira dan Anggi saling menatap, "Belum selesai kan? mereka ganggu iya?" tanya Anggi.
"Gak papa." Ira tersenyum melihat Ari di luar yang sedang duduk di atas motor sambil menatapnya.
Anggipun beranjak dari duduknya keluar menyusul yang lain, "San udah jam 00:34, gak papa?" tanyanya.
"Gak papa sih, bebas di sinimah asal jangan ganggu warga!" jawab Susan.
"Kompakan banget gak ada yang bisa di hubungin?" tanya Rendi duduk di samping Anggi.
"Kan saling membuka diri dan rahasia jadi gak boleh di ganggu, iya kan?" Anggi tersenyum menatap Susan.
Ira masih duduk bersandar pada dinding sambil menatap Ari yang sedari tadi menatapnya tanpa menghampiri.
Anggi masuk ke kamar menghampiri Ira, "Kasihan tuh Ari!"
"Biarin aja," Ira tersenyum, "Meskipun tidak semuanya di ceritain tapi setidaknya hati ini sudah sedikit lega, tapi?" ucap Ira menatap Anggi.
"Apa?"
"Ada perasaan takut sekarang, takut bagaimana jika Ari tau?"
"Selagi kita diam, itu tidak akan terjadi. Lo seorang pemain. Lo hebat dalam menyembunyikan, buktinya selama ini gak ada yang tau kan?"
"Iya sih,," Ira melihat ponselnya membaca semua pesan dari Ari.
Anggi keluar, lalu Ari masuk ke kamar menghampiri Ira dan duduk di depannya.
Merebut ponsel Ira lalu melihatnya, "Ko gak di bales?" tanyanya meletakkan kembali ponselnya.
"Kamu gak kerja?"
"Aku tanya? udah pulang bu, sekarang udah mau jam 1 malam."
"Ngapain ke sini?"
"Kamu gak bisa di hubungi, terus Teguh sama Rendi juga nanyain kalian. Iya langsung di susul ke sini aja, takutnya pada pergi tanpa ngasih tau." ucapnya mengusap bibir Ira.
Menepis tangannya, mengacak rambut Ari. "Gak kemana-mana, ceritanya khawatir gitu?"
Ari tersenyum menatapnya, "Udah makan?"
"Udah sih tadi,"
"Bakar-bakar nih?" tanya Ari pada yang lain.
Mereka menoleh, "Bisa? udah makan belum?" tanya Teguh pada Susan.
"Yaudah yuk? kita semua belum makan juga."
"Kamu emang mau makan, apa mau bareng sama aku disini?" tanya Ira mengusap leher Ari.
"Itu udah tau," Ari tersenyum menatapnya.
"Dasar!" mengacak rambutnya.
Susan masuk ke kamar di ikuti oleh Anggi, "Mau bakar ayam Ri?" tanyanya.
Ari hanya mengangguk sambil membuka dompetnya memberi uang 100 ribu pada Susan.
"Beneran ini?" tanya Anggi.
"Iya udah,, bentar." Susan keluar.
"Dew? lo sama Beni beli ayam iya? lo tau kan Ben?"
"Gue aja sama si Rendi, cewek diem udah malem!" Beni menerima uang yang di beri Susan.
"Yuk Ren?" ajaknya.
"Masak nasi liwet nih?" tanya Susan pada semuanya.
__ADS_1
"Emang ada sereh sama daun salamnya San?" tanya Ira.
"Ada di belakang kosan, harus ambil dulu."
"Ambil sana, gue yang masak nasi." ucap Ira sambil mengikat rambutnya dengan cepitan.
"Ehh,, Ben?" teriak Ira. Beni dan Rendi yang sudah duduk di motor menatapnya.
"Apa?"
"Beli ayamnya langsung di potongin di sana iya? udah malem, males ngurusin nanti bau anyir!" ucap Ira.
"Oh iya,," mereka berangkat dengan motornya.
"Dew, lo cuci beras iya? nanti Ira yang bumbuin." ucap Susan keluar kamar berjalan ke dapur yang terletak di belakang kosan lalu di susul oleh Dewi.
"Kita ngapain?" tanya Anggi menatap Ira.
Susan datang dengan membawa pisau di tangannya, "Nggi? temenin si dewi tuh, gue mau ambil sereh sama salamnya."
"Yuk anter?" ajaknya pada Teguh.
Hanya ada Ira dan Ari di sana sekarang, "Mau lihat?" ucap Ira.
"Lihat apa?"
"Ponsel kamu?"
"Tumben?" Ari tersenyum sambil memberikan ponselnya.
"Kan aku gak bales chat sama nolak panggilan kamu, takutnya kamu bosan terus menghubungi yang lain."
Ari tersenyum, "Wanita dari mana? kamu aja cukup!"
"Bohong! di hapus iya?"
"Di hapus apanya sayang?" Ari mengusap rambut Ira.
Meletakkan kembali ponselnya, "Enggak ko, bercanda!" Beranjak dari duduknya berdiri di hadapan Ari.
"Kemana?"
"Masak nasi." berjalan ke luar kamar di ikuti oleh Ari sampai ke dapur.
Terlihat Teguh sedang duduk sambil merokok. Sementara Dewi mencuci beras, Anggi memotong bawang dan cabe, lalu susan sedang mencuci sereh dan daun salam.
"Ko lama iya Beni?" tanya Dewi selesai mencuci beras.
Setelah selesai wanita itu membawanya ke kamar Susan karena magic comnya di simpan di sana.
Tidak lama terdengar suara motor, Teguh dan Rendi datang sambil membawa kantong plastik hitam yang berisi ayam.
"Kemanain ini?" tanya Beni.
"Dapur, mereka di sana. Sekalian langsung numpuk kayu!" jawab Ira.
Wanita itu duduk melihat ponselnya ada panggilan tidak terjawab dari Sindi.
"Tuut tuut!!" dia menelpon balik.
"Iya?" suara wanita dari sebrang.
"Ada apa nelepon?"
"Tadi nenek mau bicara katanya,,,bentar."
Ira bersandar pada dinding, melihat keluar nampak Beni dan Teguh sedang menumpuk kayu untuk membakar daging.
"Neng?" terdengar suara nenek memanggil.
"Iya nek?"
"Tadi nenek udah bicara sama ibu kamu, dia mungkin tidak akan pernah minta maaf dengan perkataan buruknya. Tapi nenek minta,, jangan terlalu di pikirin iya neng? ibumu memang seperti itu."
"Iya gak papa nek, Ira kan kuat." ucapnya dengan perasaan sedih karena teringat kembali apa yang di katakan oleh ibunya.
"Nenek tau ini tidak akan pernah terlupakan, begitu juga dengan rasa sakitnya. Tapi,, berusahalah untuk ikhlas dan memaafkan iya? cucu Nenek kuat."
Tidak terasa, air mata wanita itu jatuh membasahi pipi. "Bohong nek kalo aku kuat, aku sebenarnya lemah nek. Lemah sekali." ucapnya dalam hati.
"Iya nek,," jawabnya menahan dada yang terasa sesak.
"Dengerin nenek! jika untuk saat ini neng gak pulang, itu gak masalah. Nenek percaya sama neng, tapi harus tetap jaga kesehatan iya? makan. Kalian itu tidak beruntung karena memiliki orangtua seperti ibu dan ayahmu, anggaplah mereka mati dan kalian tidak membutuhkan mereka. Kuat kan cucu nenek?" perkataan itu membuat dada Ira semakin sesak.
Tidak bisa membodohi diri, kali ini Ira tidak bisa menahan air matanya. "Dari dulu hingga saat ini aku berusaha untuk tidak berharap kepada ibu ataupun ayah, tapi mereka masih hidup dan terkadang hati selalu meyakinkan bahwa akan ada waktu dimana mereka mengerti dan berusaha untuk memahami apa yang aku inginkan dan aku rasakan. Tapi itu memang tidak akan pernah terjadi." wanita itu berbicara pada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.
"Hehe mungkin nenek tau sekuat apa cucumu ini." menutupi kesedihannya.
Anggi masuk ke kamar melihat Ira menangis, dia bertanya kenapa? tanpa bersuara.
"Dari kehidupan yang pahit ini nenek sangat beruntung, karena memiliki cucu-cucu cantik dan kuat yang tumbuh tanpa orangtua masing-masing. Maaf kalo nenek tidak bisa menjadi orang tua yang neng harapkan iya?" ucapnya sambil menangis.
"Jangan ngomong gitu nek,, nenek sama kakek adalah orangtua yang terbaik. Udah! jangan nangis, neng jadi ikutan sedih hehe. Mau makan nih lagi bakar ayam sama temen." mengalihkan pembicaraan agar air matanya tidak mengalir deras, karena jika di lihat oleh yang lain itu bisa merubah suasana menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
"Iya makan neng biar kuat hehe." berusaha saling menghibur.
Anggi yang duduk di depannya keluar kamar entah kemana.
"Iya nek,, udah dulu, Ira lagi mau bikin sambal ini."
"Iya,, makan neng. Jangan bergadang!"
"Iya." mengakhiri panggilannya.
"Terkadang heran sama diri sendiri kenapa bisa sekuat ini? kalo bukan karena kakek dan nenek mungkin aku tidak akan bisa sekuat ini. Tapi aneh sekali semakin hari hati ini semakin lemah saja, aku lelah selalu meyakinkan diri bahwa aku kuat. Yang sebenarnya tidak." ucapnya menepuk dada yang terasa sesak.
Ari datang menghampiri, wanita itu langsung mengusap air matanya dengan tisu. Dadanya terasa sesak dan satu-satunya cara supaya lebih baik adalah dengan menepuknya berulang kali.
"Udah!" Ari memegang tangan Ira.
Menatap Ari, jika hanya berdua mungkin wanita itu sudah menangis dalam pelukannya. Tapi karena keadaannya yang seperti ini, bersikap biasa adalah hal yang lebih baik dibandingkan dengan merusak suasananya.
"Mau di peluk atau di cium?" tanya Ari menghibur.
"Dasar!" memukul pundaknya tertawa pelan.
"Raa?" teriak Susan masuk ke kamar.
"Apa San?" menatapnya.
"Bikin sambal oke?"
Ira mengangguk lalu Susan kembali ke dapur.
"Bangun,,tuh liat!" Ira menunjuk Beni, Rendi, dan Teguh yang sedang menyalakan api.
Ira beranjak dari duduknya pergi ke dapur meninggalkan Ari, pria itu melihat ponsel Ira tetapi tidak ada pesan apapun yang membuatnya menangis. Dalam hatinya dia penasaran ingin tau mengapa? tapi sekarang dia hanya bisa menyimpan pertanyaan itu lebih dulu.
Anggi, Susan dan Dewi menatap Ira yang baru saja tiba di dapur.
"Ayamnya di rebus dulu kan?" tanya Ira sambil membenarkan rambutnya.
"Bakar ayamnya di oles kecap kan?" tanyanya lagi sambil menatap ke-tiga temannya itu.
"Plaaak!! kenapa sih?" Ira memukul meja.
"Lo nangis? kenapa?" tanya Susan.
"Gak papa sih,, nanti aja kalo masih ada waktu gue cerita."
"Kenapa?" teriak Susan.
Mereka semua menatap Susan yang meneriaki Ira.
"Masalah lo apa sih San?" Ira membentak Susan.
"Masalah gue apa? gue tanya lo kenapa? tapi jawaban lo selalu gak papa, waras lo?"
"Gue gak ngerti San, cuma gitu doang lo nyampe bentak gue kayak gini! pranggg!!!" Ira melempar pisau pada rak piring sehingga menimbulkan suara bising.
"Udah!! kalian kenapa sih?" ucap Dewi menghampiri Susan mengusap pundaknya.
"Lepas!! gak usah ikut campur lo," menepis tangan Dewi. "Gue marah sama lo Ra. Tadi semua hal udah lo ceritain tapi sekarang, bisa-bisanya lo masih tertutup sama gue. Gue cuma tanya kenapa? karena gue peduli sama lo?!" Susan yang benar-benar terlihat marah.
Ari, Teguh, dan Rendi menghampiri mereka karena terdengar suara bising dan bentakkan.
"Tapi gak harus bentak gue juga San, gue juga cape harus selalu nutupin semua masalah gue." Susan memotong, "Makanya gue tanya lo kenapa? apa segitu sulitnya jawab."
"Gue kan udah bilang nanti, sekarang waktunya gak tepat. Gue juga gak mau merusak suasana, tapi kenapa lo yang malah bentak-bentak gue?" ucap Ira sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Yang duluan bentak itu lo Ra bukan gue!"
"Oh iya?" Anggi memotong, "Udah!! lo berdua ada masalah apa sih?"
"Salah paham lo!" Ira meninggalkan dapur menuju kamar.
Anggi, Dewi dan yang lain saling menatap heran, ada apa dengan mereka berdua? untuk pertama kalinya mereka bertengkar dan saling membentak satu sama lain.
Teguh menghampiri Susan mengajaknya duduk di samping untuk menenangkan, begitu juga Ari menghampiri Ira ke kamar.
Wanita itu terdiam mematung, "Apa yang salah di sini?" dalam pikirnya.
Ari menghampirinya, "Bu? kenapa sih? kaget beneran, karena baru pertama kali kalian gini!" ucapnya merangkul Ira.
Ira menatap keluar, terlihat Beni sedang menyiapkan ayam bakar di temani oleh Rendi dan Anggi.
Wanita itu beranjak bangun dari duduknya. Ketika akan keluar kamar, Susan datang. Mereka saling menatap,,, "Maaf gue bentak lo?" ucap Susan.
Ira tersenyum memeluknya, "Gak papa ko, gue ngerti. Lo gitu, karena peduli dan sayang sama gue. Makasih iya."
"Aahh itu lo ngerti, gue sayang sama lo Ra"
Dua wanita itu berbaikan dengan saling meminta maaf dan berpelukan.
Ari dan yang lain hanya menatap dan membiarkannya.
*****
__ADS_1