Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 49


__ADS_3

.


.


.


Melewati warung tante, terlihat banyak murid lain di sana. Mereka sedang bersantai karena sekolah tidak belajar hari ini, mungkin ada beberapa kelas yang di beri tugas.


"Yakin Ari." ucap Irfan yang sedang duduk di atas motor sambil meroko.


"Meyakinkan!" balasnya menepuk punggung Irfan.


"Yang ini kuat Ri?" tanyanya lagi sambil tersenyum meledek.


"Udah!" Ira menarik tangan Ari berjalan ke arah sekolah.


"Ini lagi merokok loh?" langkahnya terhenti.


"Aku duluan iya?"


"Iya, nanti aku nyusul." mengusap lembut punggungnya.


Wanita itu lalu melangkah pergi, "Ri?" ucapnya menoleh.


"Apa sayang?"


"Perasaan aku gak enak."


"Kenapa?"


"Gak enak aja, mungkin butuh pelukan haha." tertawa menutupi wajahnya.


"Hmmhh,, mau sekarang?"


"Dasar!" pergi meninggalkan.


Ari tersenyum sambil memandang punggung Ira yang hilang di belokan.


*


Sekolah sepi, murid-murid berada di kelasnya masing-masing. Dari kejauhan terdengar suara seorang guru laki-laki yang sedang menjelaskan tentang rapat tersebut.


"Kenapa perasaan gue gak enak gini iya?" gumamnya sambil berjalan menaiki tangga.


Anggi dan Susan sedang duduk di depan kelas memainkan ponselnya.


"Astaga baru bangun?" tanya Anggi.


"Haha beneran gak denger apa-apa." jawab Ira sambil duduk di tengah keduanya.


"Haaii?" sapa Santi dari dalam kelas bersama Dewi.


"Udah pulang lo? kapan?" tanya Ira.


"Semalem sih, mau ikut gak? kantin yuk?"


"Mau makan gue mumpung pada belajar." tambah Dewi.


"Iya udah gue ikut." Susan beranjak dari duduknya.


"Mau ikut gak Ra?" ajak Anggi.


"Enggak, duluan aja."


"Bener? iya udah nanti nyusul aja." ucap Susan dan ke-empat temannya itu pergi.


Ira hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya, melihat ke lantai bawah nampak ka Ayu yang sedang berdiri di depan Aula sambil menelepon.


Ponsel Ira bergetar, ternyata Ayu menelponnya.

__ADS_1


"Iya?" jawab Ira.


"Dimana? udah kesekolah belum?"


"Udah, coba liat ke atas sebelah kanan." Ayu menatapnya, Ira tersenyum sambil melambaikan tangannya.


"Nanti selesai rapat turun iya? mau ngomong!"


"Iya." Ira mengakhiri panggilannya.


Wanita itu berpikir dalam diam, "Ngomong soal apa iya? apa dia udah tau tentang masalah gue sama ibu? ko jadi degdegan gini?"


Beranjak lalu masuk ke kelas, menghampiri Iki yang sedang tengkurap di pojok belakang sambil menonton film.


"Baru masuk lo?" tanyanya.


"Iya,," menyimpan tas, lalu rebahan menjadikan punggung Iki sebagai bantal.


"Ki? nanti gue ikut pulang."


"Baru mau pulang lo?"


Ira terdiam tidak menjawab, kelas yang sepi membuat wanita itu menutup kembali matanya.


Dalam pikirnya dia gelisah, merasa yakin sekali bahwa akan datang masalah. Wanita itu tidak pulang sejak bertengkar dengan ibu, Ayu pasti mencari tau. Pertengkaran seperti apa yang membuat adiknya sampai tidak pulang ke rumah? "Apakah akan ada pertengkaran lagi hari ini?" ucapnya dalam hati.


Hidup tidak akan berjalan seperti yang di harapkan, sejauh ini wanita itu berhasil menyembunyikan identitasnya dan semua hal yang dia lakukan selalu berjalan sesuai dengan rencana. Tapi dia sendiri sudah menyadari bahwa suatu saat nanti, pasti akan ada masalah besar yang datang. Menghantamnya bertubi-tubi tanpa sebuah peringatan, terutama tentang kehidupan kelamnya.


"Apakah semua masalah akan datang di mulai dari saat ini?" dalam pikirnya.


Tanpa Ira sadari, Ari sudah masuk ke kelas dan melihatnya tertidur di dekat Iki. Dia sengaja membiarkannya, jika pria itu bukan Iki mungkin Ari sudah marah.


*Duut duut!!* ponsel Ira bergetar, dia membuka matanya di lihat dari Ayu.


"Iya?" mengangkat panggilan itu.


"Dimana? udah selesai ini. Turun!"


"Masih di depan aula, buruan!"


"Iya ini ke situ!" bangun dari rebahannya dia berlari kecil keluar kelas.


"Udah, tunggu!" mengakhiri panggilan.


Nampak Ari dan yang lain sedang duduk sambil bermain gitar di tempat biasa (Depan ruang komputer).


"Kemana?" tanya Ari.


"Bentar!' jawabnya nyelonong melewati mereka.


Menuruni tangga, berlari kecil ke depan aula.


"Udah makan belum?" tanya Ayu.


"Belum." menggelengkan kepalanya.


"Yuk sambil makan? boleh kan keluar?"


"Iya, di depan aja."


Mereka berjalan keluar sekolah, sambil melangkah Ira menoleh ke atas memberi isyarat pada Ari bahwa dirinya pergi dengan ka Ayu.


*


Setelah makan, Ayu mengajaknya duduk di taman untuk berbicara.


"Sebenernya ada masalah apa sama ibu? teteh juga mau denger dari sisi Ira?" berusaha bersikap lembut untuk mencari jawabannya.


"Emang ibu cerita apa?"

__ADS_1


"Jangan tanya balik, cerita aja langsung!"


Seketika itu bukan hanya jantungnya yang berdegup kencang, tubuhnya bergetar merasa lemas tak berdaya.


"Ibu udah tau."


"Tau? tentang?,,,,," Ayu terdiam, "Tentang semuanya?" tanyanya sudah mengerti apa yang di maksud oleh Ira.


Wanita itu diam dan mengangguk, ini baru awal tetapi matanya sudah berkaca-kaca. Rasa sakit ini sangat dalam jika harus mengingat tentang siapa dirinya dan ucapan buruk yang ibu lontarkan kepadanya.


"Bertengkar dengan ibu? apa yang dia katakan?" tanya Ayu penasaran.


"Ibu mana yang tidak akan marah ketika mengetahui bahwa diam-diam putrinya menjadi seorang pelac*r?"


Menggenggam erat tangan Ira, "Ini semua tidak akan terjadi jika ibu dan ayah bersama atau mereka bertanggung jawab sepenuhnya. Apa yang ibu katakan?"


"Apa dia bersikap kasar?" sambungnya.


"Dia menapar, lalu berkata kasar." bercerita secara langsung seperti ini membuat Ira tidak bisa menahan air matanya.


"Apa? apa yang dia katakan?" Ayu bersikeras ingin tau.


"Dia bilang nyesel udah ngelahirin gue dan gak bunuh gue saat di dalam kandungan. Dia mau gue mati!" menunduk, air matanya berjatuhan.


Ayu terdiam, sebenernya bukan tidak sakit. Justru sangat sakit, tapi dia lebih memilih diam agar tidak memperparah keadaan.


"Nanti gue bicara sama ibu?"


Ira menatapnya, "Bicara tentang apa? alasan gue menjadi seorang pelac*r?"


"Ini semua tidak akan pernah terjadi, jika sebagai orangtua mereka tanggung jawab sepenuhnya. Meskipun marah tapi dia tidak berhak mengatakan hal buruk seperti itu."


"Hidup memang seanji*g ini!"


Ayu terdiam, mengusap-usap punggung adik perempuannya. Meskipun begitu, Ira tau bahwa Ka Ayu sedang menahan kemarahannya.


"Apa yang salah dari gue? oranglain gak tau apa-apa?" ucap Ira menatap kakanya.


"Sejauh ini gue bahkan tidak menjalin hubungan seperti anak remaja pada umumnya, karena selalu merasa diri ini begitu hina untuk di miliki oleh orang lain. Gue selalu berharap meskipun tidak pada pasangan, tapi setidaknya akan ada salah seorang keluarga yang dimana gue bisa menjadi diri sendiri tanpa harus memakai topeng. Dimana gue bisa mengeluh, menceritakan semuanya tanpa khawatir akan adanya penghinaan dan penghianatan. Gue juga gak minta di lahirin jika kehidupan akan seperti ini? salah gue apa?" Ira menangis sesenggukan, lalu Ayu memeluknya dengan erat.


"Udah! nanti gue coba bicara sama ibu." jawab Ayu menciumi kepala Ira.


"Bicara apa?"


"Udah!"


Mereka terdiam, setelah merasa tenang Ira bercermin merapikan kerudungnya.


"Nanti pulang kan?" tanya Ayu.


"Iya, nanti pulang bareng Iki."


"Soal PKL bayarannya udah teteh bayar setengah, nanti sisanya coba minta ke ayah."


"Kapan di bayar?"


"Tadi langsung, mumpung ada."


"Padahal gak usah, masih punya tabungan ko."


"Udah,, sekarang masuk sana. Teteh pulang iya?"


"Iya,, makasih." memeluk Ayu lalu dia pergi dengan motornya dan Ira kembali ke sekolah.


Sampai di gerbang Ira melihat Anggi, Rendi dan yang lain, termasuk Ari masih duduk di depan ruang komputer.


Karena jam istirahat sekolah ramai seperti biasanya. Ada dari mereka yang duduk berkumpul di depan kelas, di kantin, warung luar sekolah dan sebagian di kelasnya.


Wanita itu berjalan melewati beberapa kelas sambil menunduk untuk menutupi matanya yang sembab habis menangis. Setelah berbicara dengan Ka Ayu memang dia merasa sedikit lega, tetapi sekarang justru pikirannya semakin kacau. Dia masih tidak tau akan ada apalagi setelah ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2