
.
.
.
Wanita itu duduk sembari melihat teman yang satu persatu meninggalkan ruangan.
"Beneran gak ikut Ra?" tanya Anggi.
"Enggak, lagi pengen sendiri sana pergi!"
Anggi, Iki dan beberapa temannya pergi meninggalkan. Sekarang Ira hanya sendirian di ruangan itu sekarang.
Berjalan ke sisi jendela, terdiam melihat ke luar satu layangan melayang jauh ke atas langit. Tidak terlihat siapa dan dimana orang yang menerbangkannya, indah namun ira tau bahwa angin kencang menerpa layangan itu memaksanya untuk bertahan meski dia hanya bergantung pada sebuah benang yang mengikatnya.
Ponselnya bergetar panggilan masuk dari Ari.
"Iya? lucu amat ko nlp." balas Ira menjawab teleponnya.
"Lagi apa? sendiri iya di kelas?"
"Hmmm.. iya."
"Mau di samperin ke situ? apa turun aja ke bawah aku tunggu."
"Gak usah ke sini dan gak mau turun juga."
"Jadi ceritanya lagi pengen sendiri? apa gak enak sama masalah aku karena kamu terlibat?" tanya Ari lembut.
"Enggak juga sih, geer amat!" balas Ira, sebenarnya banyak sekali hal yang membuat hari ini menjadi buruk untuknya.
"Ko pengen sendiri? kayaknya kebalik, harusnya aku."
"Iya udah deh!" Ira mematikan teleponnya.
Melihat ke seluruh ruangan dia memang sendiri, karena kelas yang lain sedang belajar. Meski begitu masih terdengar samar-samar suara berisik tak karuan dari beberapa kelas mungkin guru yang mengajarnya menyenangkan sehingga terdengar tawa candaan.
*Tok tok tok!!!* seorang mengetuk pintu.
Wanita itu menoleh dan melihat Ari yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.
Berjalan menghampiri Ira yang sedari tadi berdiri di sisi jendela.
"Kenapa?"
"Ko ke sini?" Ira balik bertanya.
"Kangen." Pria itu tersenyum menggoda.
"Lagi dan lagi, udah ke bawah aja sana ke warung belakang!" menyuruh Ari pergi.
"Mungkin lebih baik menemani wanitaku daripada membiarkannya sendirian."
"Udah deh jangan menggodaku dengan berlebihan."
Ari hanya memandang dan tersenyum.
"Hmmm yuk turun ke bawah aja, berdua di kelas nanti malah banyak rumor gak jelas!" ucap Ira berjalan lebih dulu keluar kelas.
Ari tersenyum kecil melihat Ira lalu dia mengikutinya.
"Mau kemana?" tanya Ari.
"Kan mau turun ke bawah."
"Hmm iya gimana ibu negara aja."
Mereka berjalan menuruni tangga terlihat Iki , Anggi dan beberapa teman sedang makan di kantin.
"Ekhemm mau kemana ini?" tanya anggi.
"Pacaran ri?" tanya Rendi.
"Kalian kenapa si? biasanya juga gue bareng Ari!" ucap Ira membalas pertanyaan mereka.
"Heumm iya sih, kan siapa tau, karena ini yang di tunggu-tunggu." balas Iki.
"Iya deh terserah!" Ira meninggalkan mereka.
*
__ADS_1
Ponselnya bergetar ada panggilan masuk.
Ira hanya membiarkan tidak menjawab.
Gadun itu meninggalkan pesan.
"Gimana kabarnya?" tanyanya.
"Baik, lagi jam masuk!" balas Ira.
Jika tidak ada kebutuhan Ira jarang sekali berhubungan dengan gadunnya. Tidak mengirim pesan atau menelepon. Kadang mereka mengirim pesan atau menelepon hanya untuk menanyakan kabar tapi Ira hanya membalas dengan singkat.
Karena kehidupan ini tidak begitu menyenangkan terutama jika berhubungan dengan perihal kebutuhan jadi dia selalu berusaha mencari cara untuk menemukan kesenangannya sendiri, tapi tetap saja tidak menemukan apa-apa seolah dirinya telah mati lalu di paksa untuk selalu hidup.
Ari mencubit pipi Ira yang sedang berdiri terdiam membalas pesannya.
"Nanti sore mau kemana?"
"Gak kemana-mana." (menyimpan ponselnya di saku)
"Emang kenapa?" Ira balik bertanya.
"Jalan sore yuk mantai?"
"Mau jemput? yakin? kan jauh."
"Kalo mau iya gak papa. Tapi pulangnya agak malem boleh?"
"Hmmm iya" Ira mengangguk.
Sampai di warung belakang nampak pemandangan yang tidak biasa karena ternyata ada beberapa orang dengan seragam yang berbeda.
"Udah pada keluar lo?" Tanya ari pada salah satunya.
"Jam kosong sekalian balik, Nih" memberi sebatang roko pada Ari.
"Sarua (sama)" balas Ari menyulut rokonya.
Ira duduk di motor Ari. Dia jarang sekali memarkir motornya di sekolah karena selalu pulang lebih awal.
Ari masuk ke dalam warung membawa minuman dingin untuk Ira.
"Kenal mereka?"
Ari hanya mengangguk dan duduk bersama Ira.
"Nanti mau pulang duluan, soalnya ada kerja." ucap Ari.
"Heumm iya."
"Nanti langsung di jemput aja kerumah jam 15:00 an!"
"Katanya sore?"
"Nanti di jalannya santai aja."
Ira hanya mengangguk melihat dari kejauhan beberapa teman dan adik kelas sudah berdatangan menuju warung itu.
"Ko udah pada keluar?" Ira (melihat jam tangannya).
"Udah jam istirahat Bu."
"Duluan masuk iya!" ucap Ira sembari bangun dari duduknya dan mengusap rambut Ari.
"Kok?" memegang tangan Ira menghentikan.
Ira tersenyum mengangkat sebelah halisnya.
"Aku mau langsung kerja, jadi gak masuk ke sekolah lagi."
"Iya gak papa, nanti sore jadi jemput kan?"
"Hmm iya." mengangguk melepaskan tangan Ira.
"Duluan iya!" (menepuk punggung) ucap Ira pada pria yang masih sepupunya itu.
"Mau kemana Teu? bue baru nyampe." jawabnya.
"Kemana Ateu?" ucap seorang pria (adik kelasnya).
Ira hanya tersenyum melewati. Sembari berjalan menuju ke sekolah terdengar sedikit suara dari orang di belakangnya yang bertanya pada Ari.
__ADS_1
"Pacar lo Ri?" tanya salah satu pria yang beda sekolah itu
"Gue yang mau dia!" jawab Ari.
Ira tertawa pelan, di dalam hatinya merasa senang akan perkataan Ari.
"Untung gak di sana." ucapnya merasa malu.
**
Jam sekolah telah berakhir, Ira membereskan buku dan bersiap untuk pulang.
"Mau langsung pulang teu?" tanya Susan.
"Iya kenapa?"
"Enggak, anak TKR (Teknik Kendaraan Ringan) ngajak berenang ke pantai sekarang!" ucap Dewi.
"Kok mendadak? Gak ada yang bilang dari kemarin." balas Ira.
"Bilangnya juga baru tadi pas istirahat." balas Susan.
"Oh tanyain lagi dong, kalo bisa besok aja jangan sekarang."
"Iya ini mau di tanyain. Jangan dulu pulang iya!" ucap Susan sembari jalan bersama Dewi menuju kelas TKR.
Ira kembali duduk di kursinya.
"Kenapa gak bilang tadi?" ucap Ira pada Iki.
Iki hanya diam memainkan ponselnya.
Jurusan Ira TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) jika bukan jam jurusan terkadang anak TKR masuk ke kelas Ira untuk belajar dan guru tidak melarang karena mata pelajarannya sama.
"Ateuu?" teriak Susan.
Ira hanya menengok.
"Mana?" tanya Ira.
"Tuh" Susan menunjuk pada 5 pria yang sedang berjalan menghampiri bersama Dewi.
Memang kita semua akrab tapi hanya di sekolah jika di luar sekolah jarang sekali. Dari beberapa anak TKR hanya Arif, Sandi, Beni, Rezki, Pras dan Ari yang sangat dekat dengan Ira dan yang lainnya.
"Mantai sore yu teu?" ucap Beni.
"Nanti sore?"
"Iya, apa mau kapan?" tanya Arif.
"Anggi sama Rendi mau pergi jalan, sebenernya gue juga ada janji. Besok aja deh biar kumpul semua!"
"Santi juga udah pulang kan?" ucap Iki.
"Hmmm iya terserah deh." balas Rezki.
"Jadi gimana ini? deal besok aja?" tanya Susan pada semuanya.
"Iya udah besok aja lah." balas Iki.
"Iya deh gue mau pulang sekarang!" ucap Sandi.
Mereka semua meninggalkan kelas menuruni tangga.
Ira berjalan dengan Iki ke parkiran membawa motor. Karena tadi diskusi di atas parkiran sedikit kosong yang lain sudah pulang lebih dulu.
"San, Dew gue pulang duluan iya?" ucap Ira melambaikan tangan dan melaju dengan motornya.
Ketika keluar dari sekolah Ira bertemu dengan Anggi dan Rendi di gerbang.
"Mau pulang sekarang?" tanya Anggi.
"Iya, duluan iya."
"Iya hati-hati sayang!"
Mereka berdua melaju dengan motornya. Jalanan di penuhi dengan murid sekolah yang akan pulang.
Sudah menjadi kebiasaan untuk Ira memandang sedikit ke atas langit yang luas. Memang teriknya matahari yang panas akan membakar wajahnya, tetapi entah kenapa awan putih dan langit biru itu berhasil membuat hatinya merasa nyaman.
***
__ADS_1