
.
.
.
Mobil berhenti di depan kantor desa beberapa km sebelum sekolahnya. Ira yang masih berusaha menelpon Susan tetap duduk tanpa beranjak.
Cahaya lampu motor-mobil melaju ke balik arah, menyorot wajah cantiknya yang sedang melamun dengan tatapan kosong.
"Jam berapa kau akan pulang?" tanyanya menyadarkan Ira yang terdiam menatap jalanan.
"Entah, jika pun tidak aku akan menginap di kosan teman." jawabnya menyimpan ponsel di tas, karena dari kejauhan sudah melihat Susan berhenti di seberang jalan.
"Kau pergi sekarang?"
"Iya, terimakasih untuk semua sikap lembutmu." jawabnya tersenyum lalu membuka pintu mobil.
"Jika tidak ada yang mengantarmu pulang hubungi saya." ucapnya melihat Ira turun.
"Terimakasih, Bleeg!" menutup pintu mobil lalu merapihkan dirinya dan berjalan beberapa langkah sambil menunggu Susan menyebrang.
Pira itu menghidupkan mesin mobilnya lalu berjalan melewati Ira untuk memutar arah di lapangan, dengan wajah datar Ira hanya melihatnya tanpa menyapa.
"Udah selesai?" tanya Susan menghentikan motornya di depan Ira.
"Udah, tapi Ari dari tadi beneran di sana?"
"Iya, yuk?"
Ira naik di jok belakang dan mereka berjalan pelan menunju kosan Susan.
"Ada siapa aja di sana?" tanya Ira mendekatkan wajahnya pada telinga Susan.
"Banyak, anak TKR ada di sana semua."
"San berhenti, stop stop!" ucap Ira menepuk beberapa kali pinggang Susan.
"Kenapa sih Ra?" Susan menghentikan motornya.
"Turun dulu?" ucap Ira yang turun lebih dulu.
"Kenapa sih?"
"Diem," wanita itu memeluk Susan, "Ada bau-bau aneh gak? setelah berhubungan gue gak mandi. Kalo Ari curiga gimana?" melepas pelukannya menatap Susan.
__ADS_1
"Enggak, ini bau parfum lo. Karena rasa bersalah pada Ari membuat lo merasa takut. Tenang aja, pakai parfum lagi coba yang banyak." ucapnya penuh pengertian.
Ira membuka tasnya lalu menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh, setelah selesai mereka melaju kembali.
*
Sampai di kosan, dari jauh nampak beberapa motor terparkir di bawah pohon jambu Air.
Semua mata tertuju pada Ira dan Susan yang baru sampai, termasuk Ari yang langsung beranjak dari duduknya menghampiri mereka.
"Dari mana? lo gak bilang mau jemput Ira San?"
"Kejutan buat lo, makasih dulu ke." jawab Susan menepuk pundak Ari lalu masuk ke kamarnya.
"Dari mana? ko baru ke sini?" teriak Dewi yang sedang duduk berkumpul dengan yang lain. Ada Santi, Beni, Rendi, Pras, Arif, Rezki, Sandi dan Teguh. Mereka sengaja meluangkan waktu untuk minum bersama, karena mulai hari esok semuanya sibuk dan bahkan akan sulit untuk berkumpul seperti ini. Lebih tepatnya mereka semua akan menjalani hari dengan aturan, tidak bisa sembarang melakukan sesuatu.
"Ada urusan." jawab Ira lalu menatap Ari yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa gak nyuruh aku? ko malah minta ke Susan?" tanyanya merangkul pinggang Ira untuk duduk bersama dengan yang lain.
"Sekalian Susan ada urusan, gak kerja kamu?"
"Enggak, cape kerja terus. Kali-kali menikmati masa remaja kaya orang lain." jawabnya.
"Ada urusan titik. Udah!" duduk di samping Susan yang sedang bersandar pada Teguh.
"Nih buat yang baru dateng," Sandi menyimpan gelas di depan Ira yang berisi sedikit anggur merah, mungkin hanya dua teguk jika di minum.
Wanita itu hanya terdiam menatapnya, "Apa gue akan minum?" dalam pikirnya.
"Semua juga minum Ra," ucap Arif.
Ira masih terdiam karena Ari belum mempersilahkannya dan dia sendiri sedang tidak ingin meminumnya.
"Lama!" ucap Susan membawa gelas lalu meneguknya, membuat mereka semua tertawa.
"Haha gila Susan," Sandi yang mengisi kembali gelas kosong itu dan menyimpannya di depan Ira.
"Gue gak minum karena nunggu lo Ra, takut mabuk terus ngomong aneh-aneh. Soalnya ada si brengsek Ari disini." bisiknya membuat wanita itu tertawa, "Haha seriusan lo?" bisiknya.
"Cctaak! ngomongin apa sih bisik-bisik?" Dewi melempar korek gas yang mengenai tangan Ira.
"Gobl*k ih sakit, gue kan kurus jadi kena tulang Dew." jawab Ira lalu tangannya di usap-usap oleh Ari.
"Gak usah minum lah, gue ada cerita penting yang sampai sekarang ini perasaan sebenarnya resah gak karuan."
__ADS_1
"Bisa lah gue pengen, nanti aja oke?" jawab Susan mencium pipi Ira membuat semuanya banyak bicara secara bersamaan sehingga tidak terdengar jelas.
"Waah, apa-apaan?"
"Gila nih, Guh lo sehat mau sama yang modelan gini?"
"Lo juga sehat Ri?"
"Nih 2 cewek pada kenapa sih?"
"Suuutt!! diem, ribut amat." ucap Ira membungkam semuanya.
"Hahaha tapi gue juge geli San," ucap Ira mencubit tangan Susan lalu sedikit menjauh darinya.
"Haha bodo amat."
"Minum Bu?" tanya Rezki pada Ira.
"Boleh," jawab Ira sambil menatap Ari.
Dia tidak peduli jika pria itu melarangnya, sekarang yang dia pedulikan hanyalah perasaannya yang sedang tidak karuan.
"Setidaknya biarkan gue menikmati waktu yang tersisa malam ini dan melupakan semua masalah meskipun hanya sekejap." dalam pikirnya merasa tidak peduli.
**
Seteguk demi seteguk alkohol yang sudah dia minum, dan obrolan yang di iringi dengan canda tawa benar-benar membuat wanita itu melupakan kejadian tadi yang sempat membuat dia terkejut.
Perlahan efek dari alkohol mulai bekerja dan dia sudah merasa sedikit pusing, begitu pula dengan Susan yang seperti kelelahan bersandar pada pundak Teguh. Dewi yang sudah terbaring tidur di pangkuan Beni, sementara Santi pergi di jemput oleh kekasihnya dan belum kembali.
Wanita itu melihat jam di tangannya waktu sudah menunjukkan pukul 23:42 malam, "Pantas saja udaranya semakin dingin." gumamnya melihat jauh ke sekeliling yang nampak sudah sepi. Penghuni kosan lain mungkin sudah tertidur, begitu juga dengan warung tante di belakang sekolah sepertinya sudah tutup, karena tidak terlihat lagi manusia yang berlalu-lalang melewati kosan menuju ke warung.
"Lagi Ra?" tanya Sandi menyimpan gelas di depannya.
Wanita itu menatap Ari, dan pria itu menggeleng perlahan memberinya isyarat untuk tidak.
"Enggak, gue udah." jawab Ira sambil mencengkram tangan Ari, "Gue tiduran di kamar Susan iya? untuk kalian selamat menikmati dan habiskan ini atau gue tumpahin." beranjak melewati Susan dan Teguh yang duduk di ambang pintu lalu berbaring di kasur.
"Serem amat ibu negara ini, masa iya mau di tumpahin. Duit nih!" ucap Beni meneguk gelas yang seharusnya untuk Ira.
Dalam suasana berisik dari obrolan dan tawa di luar terdengar tidak karuan, perasaan yang tidak bisa di jelaskan sekarang membuatnya tidak bisa mendeskripsikan tentang apa yang sebenarnya dia rasakan.
Yang jelas pikirannya kembali mengingat saat dia memiliki hubungan dengan pria sekaligus gurunya itu, entah dia yang bodoh karena telah tertipu atau dia yang masih berharap bahwa ada manusia baik di dunia ini.
*****
__ADS_1