
.
.
.
Sulit bukan berarti gak bisa, tapi kalo sakit itu pasti terluka meskipun berdarah ataupun tidak. Sama seperti wanita itu sekarang, bukan tidak bisa. Dia bisa melawan takdir dengan pergi dari kehidupan gelap ini, tetapi apakah dia bisa menghadapi ujiannya? kehilangan semuanya dan harus bekerja lebih keras lagi?
Bukan hanya hati yang begitu sakit, tetapi fisik dan pikiran. Kesehatan mental yang paling utama, itu yang di percaya oleh orang. Tidak bisa di pungkiri, menjaga kesehatan mental adalah hal tersulit untuk di lakukan.
*
Sepoi-sepoi angin membuat bulukudu merinding karena dingin. Wanita itu keluar dari rumah nenek berlari kecil menuju rumahnya.
"Tok tok tok!! Tia?" panggilannya berdiri di depan pintu.
"Iya?" jawab adiknya menyaut dan membuka.
"Tia, nanti teteh pulang malem iya? mau pergi." ucap Ira sambil berjalan menuju kamar di ikuti oleh Tia.
"Kata ka Ayu tteh mau pergi iya?"
"Iya PKL,, 5 hari lagi. Sekarang sibuk banget."
"Oh iya." ucapnya keluar dari kamar.
Wanita itu berbaring di atas ranjang menatap langit-langit kamar.
Teringat sesuatu, melihat ponselnya menelepon seseorang.
"Tuut tuut!!"
"Iya?" jawab seorang pria di sebrang telepon.
"Aku mau mandi dulu, jemput sekarang iya? soalnya nanti malem ada urusan sama temen." ucapnya langsung tanpa basa-basi.
"Iya, sekarang lagi di rumah, sudah." jawabnya mengakhiri panggilan.
Lalu Ira beranjak langsung ke kamar mandi.
"Ragu kalo gini, perasaan gue gak enak." ucapnya sambil melepas baju.
"Tok tok tok!, ada telpon berisik. Angkat jangan?" ucap Tia berdiri di balik pintu kamar mandi.
"Hah?" mematikan kran air.
__ADS_1
"Ada yang nelepon dari tadi."
Dia ingat, kali ini ponselnya tidak dalam mode senyap. "Dari siapa?"
"Gak ada namanya, cuma huruf S."
Ira langsung mengenakan handuknya dan membuka pintu, "Sini, makasih." terdiam menatap panggilan yang masuk dan membiarkannya hingga berakhir.
"Ngapain suleng nelepon?" ucapnya menyimpan ponsel di rak sabun dan membilas rambutnya.
Dengan badan yang mengigil karena dingin, wanita itu selesai mandi. Dia langsung mengenakan baju dan duduk di depan cermin untuk berdandan.
"Perasaan gue gak enak, ada apa iya?" gumamnya beranjak dari duduk dan merapihkan kasur.
"Duut duut!!" ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar.
"Udah siap?" tanya pria itu.
"Udah, ini ke depan." jawabnya mengakhiri panggilan.
Sebelum melangkah keluar kamar dia bercermin kembali, memeriksa tas untuk memastikan kunci rumah di bawa lalu menyimpan ponsel ke dalam.
Melihat ke seluruh ruangan yang sepi, nampaknya ibu dan Tia berada di kamar. Dia membuka pintu rumah, dan berjalan perlahan. Melewati rumah nenek dengan hati-hati, terlihat dari luar jendela kakek dan kedua adiknya sedang duduk sambil menonton tv.
Sore hari menjelang senja, riuh angin yang menggoyangkan pepohonan mengantarkan wanita itu sampai ke tepi jalan.
"Sial!" ucapnya melihat ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang duduk ngopi di sebuah warung sebrang jalan.
"Heumh,, bodo amat lah!" ucapnya melihat mobil pria itu berhenti di depannya dan dia langsung masuk. "Jalan dulu, jangan parkir di sini." dengan wajah panik sambil menoleh ke belakang arah orang-orang tadi.
"Kenapa?" tanyanya tidak mengerti.
"Itu ada tetangga yang merhatiin, udah mau maghrib juga mereka ko belum pulang." ucapnya merasa lebih baik.
"Mereka gak salah, kamu yang terlalu terang-terangan. Saya bilang nanti di jemput jam 8 malam, kenapa mau sekarang?"
"Nanti malem ada urusan sama temen, sengaja kumpul aja sih. Anterin iya?"
Pria itu hanya mengangguk tanpa berkata.
Dalam ucap, wanita itu selalu berkata bodo amat dan tidak peduli dengan pandangan orang lain tentang dirinya. Tetapi pada kenyataannya, dia merasa takut dan panik ketika ada dari mereka yang melihatnya bersama dengan pria itu.
*
Dalam diamnya teringat dengan suatu kejadian dimana dia pernah menampar dengan seorang istri, yang dimana suami dari wanita itu menggodanya tetapi dia bersikeras bahwa Ira lah yang menggodanya lebih dulu.
__ADS_1
Ira bukan wanita munafik, terutama tentang apa yang dia mau dan kesalahan apa yang telah dia lakukan. Jelas-jelas saat itu, sebut saja pria itu SJ.
Dari hari ke hari dia mendekat pada Ira. Bukan hanya sengaja menemuinya, tetapi dia memberinya uang tanpa di minta. Wanita mana yang tidak mau menerima apa yang pria beri secara cuma-cuma? dia memang mengetahui maksud dari pria itu, tetapi jika sebelumnya dia mau memberi apapun yang Ira minta kenapa tidak?
Dia tau pria itu beristri dan rumahnya tidak jauh dari rumah nenek. Berulangkali dia menolak semakin sengaja pria itu mendekat, hingga akhirnya dia hanya merespon dan tanpa terduga istrinya mengetahui apa yang dia lakukan.
Pantas jika istrinya mengira Ira wanita murahan dan menggoda suaminya lebih dulu, karena ketika dia mengetahui hubungan mereka Ira sudah membalas pesannya. Suatu hari ketika Ira pergi ke sebuah toko sembako dan bertemu dengan wanita itu, tanpa di duga dia memarahinya di depan orang banyak. Dia mencaci dengan kata-kata kotor sehingga Ira tidak bisa menahannya dan menampar wajah wanita itu tanpa berkata apapun.
Ketika orang lain telah melerai, Ira mengatakan dengan tegas bahwa suami dari wanita tersebut yang selalu mendekatinya dan bahkan memberi tanpa di mintai. Dia mengatakan bahwa berulangkali menolak tetapi pria itu justru semakin mendekat. Dan Ira menegaskan dengan melibatkan Alloh bahwa dia bahkan tidak tidur ataupun sengaja bertemu dengan pria itu.
Meskipun dia tau istrinya tidak mungkin percaya tetapi dia sudah menjelaskan dan tidak ingin memperpanjang masalah itu, dia mengganti nomor ponselnya agar SJ tidak menghubungi. Tetapi pada kenyataannya, satu kesalahan bisa berakibat fatal. Semua orang mempercayai bahwa Ira adalah wanita murahan penggoda suami orang.
Sebenernya bukan tidak bisa dia menerima laki-laki itu, sebanyak apapun uang yang mereka tawarkan tetapi jika pria itu tetangganya Ira akan menolak. Tidak nyaman rasanya berhubungan dengan orang yang sering kali di lihat dan sudah mengenal sedikit tentang sikapnya. Bagaimana jika mereka berhianat dengan membicarakan tentang ini kepada orang lain? sama dengan membawa diri ke jurang yang curam. Terjatuh dan mati, atau terdiam tetapi dalam ketidak tenangan?
"Melamun?" tanyanya di keheningan menyadarkan Ira.
"Sedikit." jawabnya singkat.
"Bukan sedikit, sudah makan?"
"Sudah tadi di rumah nenek."
"Sekarang mau makan?"
"Tidak perlu."
"Langsung?" tanyanya memperlambat laju mobilnya.
"Langsung aja, aku ada urusan. Gak papa kan?"
"Tidak apa-apa, saya juga ada perlu." jawabnya lalu membelokkan mobil ke sebuah penginapan di tepi pantai.
Mobil berhenti dan pria itu pergi lebih dulu untuk memesan kamar. Ira terdiam perasaannya semakin tidak karuan. Resah, gelisah, takut dan cemas bercampur membuat tubuhnya bergetar dan berulang-ulang menghela nafas panjang.
"Semoga gak ada apa-apa yaalloh." ucapnya lalu teringat, "Lucu sekali bukan? bahkan di saat seperti ini aku mengingat-Mu."
"Tiktok!" pria itu mengetuk pintu kaca mengisyaratkan Ira untuk mengikutinya.
Berjalan menunduk mengikuti langkahnya, dia masuk ke sebuah kamar luas yang menghadap langsung ke pantai. Mereka sudah mengetahui suasana seperti apa yang membuat wanita itu merasa nyaman.
Duduk dengan sebatang roko, mereka terdiam beberapa saat. Dengan perasaan yang gelisah, tanpa mengganti pakaiannya dan ingin mempercepat waktu Ira langsung menggodanya.
Mudah sekali untuknya menggoda pria seperti itu. Hanya dengan mendekat dan memberinya sentuhan lembut, dia langsung menggendongnya ke ranjang tanpa menunda waktu.
*****
__ADS_1