Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 56


__ADS_3

.


.


.


Sampai di sekolah, di sambut dengan murid-murid angkatan kelas 12 yang berjalan menuju aula. Guru meminta mereka menemui wali kelas perihal penempatan untuk memulai praktik kerja lapangan.


Tanpa menyimpan tasnya Ira dan Susan menghampiri Anggi yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Baru masuk?"


"Iya,, Iki mana?" tanya Ira.


"Lagi ke wc."


Wakil kepala sekolah memasuki aula, di ikuti oleh beberapa guru pria dan wanita. Mereka mengumumkan kepada masing-masing murid untuk menemui pemilik dari tempat kerja dengan resmi, sebagai bentuk awal dari proses kemandirian murid ketika memasuki dunia kerja nanti.


Anggi saling menatap dengan Ira, mereka berpikir tentang kapan waktu yang baik untuk pergi? tetapi Ira berpikir hal yang lain, sekarang atau mungkin besok dia harus keluar kota untuk menemui pembimbingnya ke perusahaan. Menyelesaikan administrasi dan setelah itu mencari tempat untuk tinggal, lalu kembali ke rumah mempersiapkan semuanya dan jika tanggal keberangkatan sudah di tetapkan dia baru bisa berangkat. Apakah uang tabungan yang dia pegang akan cukup? bagaimana jika tidak? siapa yang akan menolongnya? dan apakah mungkin dia akan kembali lagi?


"Kapan Ra?" tanya Anggi yang berdiri di sampingnya.


"Gak tau, kalo duit yang gue punya di pake buat ongkos bulak-balik gimana dengan kebutuhan yang lain? gak bakalan ada yang nanggung." jawabnya terdiam melamun.


"Oh iya,, bentar!" Anggi pergi ke belakang, Ira tidak bisa melihatnya karena sudah tertutup oleh orang-orang yang sedang berkumpul.


Suara guru pria yang sedang berbicara itu seloah menembus telinganya, Ira tidak mendengarkan sama sekali. Pikirannya masih tertuju pada keuangan yang entah cukup atau tidak. Jika tidak, darimana dia akan mendapatkan uang? apakah dia akan benar-benar kembali lagi? tidak ada ketenangan dalam hidupnya dan baru beberapa hari ini dia merasakan tidak memiliki beban yang berat, seolah dia baru saja bisa bernafas lalu apakah sekarang kegelapan itu akan menyelimutinya lagi?


"Heemhhh,,," menghela nafas panjang. "Kenapa begitu sulit untuk keluar dari lingkaran set*n ini? amarahnya memuncak dia mencaci dalam hati.


"Apa sebaiknya gue nyerah dan berhenti sekolah, lalu bekerja? jika tetap seperti ini kapan keadaan akan berubah?" wanita itu keluar dari aula berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya, "Gak, ini gak bisa. Gue gak mungkin menemui manusia itu lagi." ucapnya tidak terasa air mata jatuh membasahi pipi.


Dengan nafas terengah-engah dia masuk ke kelas "Brrakk!!" membanting pintunya. Duduk di bangkunya, "Hheehh,, hhuuuhuu hikshiks,,,," akhirnya dia menangis. Hatinya terasa hancur karena lagi dan lagi dia akan mengkhianati dirinya sendiri.


"Sekain dan kembali ke kelas masing-masing" terdengar kata penutup pengumuman itu.


Diam menempuk-nepuk dada yang sesak dan mengusap air matanya. Suara obrolan dari lorong sudah terdengar, teman-temannya akan segera memasuki kelas. Hati yang masih di penuhi dengan amarah itu terpaksa harus segara baik-baik saja meskipun dada semakin sesak karena menahannya.


"Kreekk!" pintu terbuka.


"Loh? pantesan gue cariin gak ada?" ucap Susan duduk di hadapannya.


"Sayang aku cariin?" Anggi berdiri di belakang Susan.


Ira hanya tersenyum menatapnya, "Kenapa?" tanya Susan mencengkram pundaknya.

__ADS_1


"Enggak," membuka tasnya dan bercermin, melihat beberapa temannya sudah memasuki kelas.


"Kenapa?" tanya Anggi.


"Udah! sekarang Pak Roni ke sini kan? kita bicara nanti." jawab Ira melihat guru pria wali kelasnya itu masuk.


Susan beranjak dari duduknya dengan mata yang masih menatap Ira, "Bicara nanti!" ucapnya pergi ke tempat duduk.


"Pagi?" sapa gurunya.


"Pagi pak."


Langsung pada intinya, guru itu membagi muridnya untuk bekerja di tempat yang sudah di tetapkan. Setiap perusahaan di isi oleh 4 orang murid, begitu juga Ira bersama dengan Anggi, dan 2 pria di luar kota. Sementara Susan bersama dengan Santi, Dewi dan Iki di sini.


Di tengah-tengah guru yang sedang menjelaskan, Iki menyelanya.


"Maaf pak? saya boleh izin bertanya?" ucapnya membuat semua mata memandangnya.


"Silahkan Ki, ada apa?"


"Hmm,, boleh gak kalo saya barter sama Ira? saya ingin di luar kota dan Ira juga merasa keberatan dengan ini. Iya kan Ra?" Iki menatapnya membuat wanita itu kebingungan.


"Apa gue gak salah denger? Iki mau barter tanpa ngasih tau gue sebelumnya?" berkata dalam hati sambil menatap Iki dengan raut muka yang masih tanda tanya.


"Oh kalian mau barter?" tanya gurunya.


"Sebenernya tidak boleh, tapi jika itu keputusan kalian, bapak mempersilahkan. Karena jika ada sesuatu terjadi pada kalian nanti akan menjadi tanggung jawab pembimbing dan bapak juga. Bagaimana dengan Anggi?" guru itu bertanya karena dia menjadi satu-satunya perempuan yang akan bekerja di luar kota nanti.


"Saya tidak perlu pak, kebetulan sekali akan tinggal dengan nenek nantinya." jawab Anggi membuat Ira menyubit tangannya.


"Baiklah, apakah ada tambahan?" tanya guru kepada muridnya.


Dengan serentak mereka menjawab tidak. Guru itu mengakhiri pembicaraannya meminta masing-masing murid untuk segera mempersiapkan diri menemui guru pembimbingnya. Kecuali mereka yang bekerja di luar kota, guru akan mengantarnya besok ketika semuanya sudah selesai.


Mereka semua bersiap-siap sementara Ira masih duduk dengan kebingungan.


"Brakk!" Susan menggebrak meja.


"Ayo Ra?" ajaknya menarik tangan wanita itu.


"Bentar, Ikiii?" teriak Ira menoleh ke samping.


"Apa sih sayang?" ucapnya menghampiri.


"Gue beneran di sini? bareng sama Susan?"

__ADS_1


"Iya lo di sini, gue yang ke luar kota. Udah sana berangkat!" ucapnya keluar kelas.


"Nggi? gak papa gue di sini?" tanya Ira pada Anggi yang sibuk dengan ponselnya.


"Sebenernya keberatan sih jadi gak ada temen, tapi gak papa ko."


"Beneran Nggi?" Ira belum merasa yakin.


"Iya beneran ih!" jawabnya mencubit pipi Ira.


"Yuk Ra?" ajak Dewi berdiri di depannya.


Tanpa menjawab Ira merapihkan buku, menyimpannya di kolong meja lalu dia memakai jaket dan maskernya.


"Lo sama gue Ra, pake motor Teguh." ucap Susan sambil menuruni tangga.


"Gue belum sama ketemu Ari, anak TKR udah pada berangkat apa?" tanyanya.


"Kayanya udah duluan deh mereka, Beni juga gak bilang sama gue." jawab Dewi.


"Tapi gue belum sarapan sumpah!" ucap Santi menghentikan langkah mereka.


"Sebenernya gue juga sama San." tambah Ira.


"Bentar, nunggu aja di kantin." ucap Dewi lalu dia pergi menemui gurunya untuk meminta izin makan terlebih dahulu.


"Ko agak degdegan gitu, waahh kita akan menjadi seorang wanita yang bekerja dari pagi hingga sore haha" ucap Santi.


"Akhirnya kita akan memulai hidup dalam peraturan." ucap Susan menatap Ira.


Mereka berdua saling menatap dan tersenyum, mengingat kembali pembicaraan tadi pagi.


"Iyaaaaaa,,,,,!" teriak Dewi kembali dengan senyumnya, bisa terlihat pasti guru pria itu memberinya izin untuk makan terlebih dahulu.


"Makan yuk? jangan lama-lama, yang lain nunggu." ucapnya lalu mereka memesan makan.


Melihat ponselnya terdiam berpikir, dia belum melihat Ari sejak di aula tadi dan sekarang pria itu bahkan pergi tanpa memberitahunya.


"Tidak apa, kita sama-sama sibuk sekarang." ucapnya sambil makan membuat Dewi, Susan dan Santi menatapnya.


"Kenapa lo?" tanya Dewi.


"Enggak, yuk ah?" ajak Ira yang sudah selesai makan, begitu juga dengan ke-tiga temannya.


Mereka beranjak lalu menemui Pak Roni. Setelah mempersiapkan berkasnya, mereka berangkat menuju tempat yang di tuju.

__ADS_1


*****


__ADS_2