
.
.
.
3 tahun yang lalu,,,
Rumor buruk yang membuat dia di drop out dari sekolah membuatnya kebingungan antara berhenti atau melanjutkan sekolahnya.
Dia tidak mungkin mengatakan tentang ini kepada kaka atau neneknya karena nanti mereka bisa menanyakan alasannya kenapa? dan berbicara kepada ibu atau ayah adalah sebuah ketidakmungkinan yang dimana mereka tidak akan bisa mengatasi dan justru hanya akan menghakimi.
Di tengah-tengah kebingungannya, suatu hari tanpa sengaja Ira bertemu dengan seseorang yang dimana dia kira pria itu berbeda dengan lelaki brengsek lainnya. Dia memiliki status dan berpendidikan, berhati baik dan di segani banyak orang, tetapi semua itu tidak menjamin dia pria yang berbeda, dia sama seperti yang lainnya.
"Tidak ada yang benar-benar tulus di dunia ini, terkadang di balik sebuah kebaikan pasti ada imbalannya" itu yang di percaya oleh Ira hingga saat ini.
Guru BK, seorang pria berumur sekitar 38 tahunan yang membantunya ketika dia memiliki rumor buruk di SMP. Dia membersihkan nama Ira dengan membuat sebuah pengumuman, bahwa wanita itu masih virgin dan bukan psk seperti yang di rumorkan.
Setelah hari itu perlahan pandangan orang-orang dan suasana di sekolah menjadi berbeda, satu persatu mereka mulai bersikap seperti biasa dan seringkali menyapa seolah sudah melupakan rumor sebelumnya yang bahkan tidak ada seorangpun mau berbicara dengan Ira.
Sampai kelulusan dan Ira bersekolah di SMA dia tidak pernah lagi bertemu dengan guru itu dan belum sempat mengucapkan terimakasih.
Pada waktu dia bertemu dan berterimakasih, sekaligus meminta bantuan pria itu untuk mendaftarkannya ke sekolah ini karen Ira tau dia memiliki akses dan akan lebih mudah untuknya. Setelah bertemu kembali dan mengantarkan Ira kesekolah, seperti yang dia duga dan percaya bahwa tidak ada kebaikan yang tulus tanpa sebuah imbalan.
Senja menjelang malam, pria itu mengajaknya makan di sebuah restoran lalu kemudian pergi ke sebuah toko baju untuk berbelanja. Awalnya Ira hanya mengira itu adalah sebuah kebaikan dan bentuk rasa kasihannya, tetapi tidak. Pria itu mengendarai mobilnya ke sebuah hotel dimana tidak secara langsung mengajak Ira untuk berhubungan.
Rasa kecewa yang amat luar biasa karena Ira sudah terlanjur menganggap pria itu seperti paman, sampai dia menyadari kenyataan bahwa hidup memang selalu sial bagi wanita sepertinya.
Awalnya Ira menolak. Lalu terdiam berpikir, jika memang pria itu menginginkannya, mungkin dia bisa memberi apapun yang Ira minta dengan mudah karena dia memiliki semuanya.
Hubungan yang awalnya dia anggap sebuah kebaikan, kini berubah menjadi hubungan timbal balik dari apa yang dia lakukan dan Ira dapatkan. Bukan lagi antara murid dan gurunya, tetapi dia meminta Ira untuk menjadi wanita simpanannya dan melarangnya berhubungan dengan lelaki manapun kecuali dirinya.
Sebenernya hal itu tidak menjadi masalah untuk Ira, terutama dia selalu menuruti apapun yang wanita itu minta dan wanita itu menikmatinya. Tetapi akhirnya Ira memilih untuk mengakhiri hubungannya karena semakin lama dia merasa tidak nyaman berhubungan dengan seseorang yang pernah berstatus sebagai gurunya dan pria itu bersikap overprotektif sehingga Ira tidak sedikitpun di beri kebebasan untuk bersenang-senang.
Mungkin maksud dari pria itu menjaga diri Ira untuk tidak berhubungan, terutama melakukan hubungan badan dengan pria manapun karena dia merasa sudah memiliki sepenuhnya. Tetapi bagaimanapun Ira adalah gadis remaja yang ingin merasakan cinta dan menjalin hubungan dengan seorang pria. Semakin hari pria itu bahkan melarang Ira untuk keluar rumah tanpa izinnya, sekalipun dia pergi bersama dengan teman perempuan pria itu melarangnya, membuat Ira muak dan memilih mengakhiri semuanya meskipun harus kehilangan semua kenikmatannya.
Karena sejujurnya bukan hanya pria itu, Ira tidak bisa melepaskan gadun yang sudah mendapatkannya ketika masih remaja virgin. Meskipun tidak nyaman, tetapi pria itupun selalu menuruti apapun yang Ira minta jika dia bisa. Wanita itu harus membagi waktu dan berhati-hati, agar tidak menjadi sebuah kesalahpahaman yang membuatnya akan kehilangan semuanya.
__ADS_1
"Hemmhh,," menghela nafas panjang, dalam pikirnya dia bertanya-tanya apakah pria itu akan berusaha menghubunginya? sebelum kepergiannya Ira meminta pria itu untuk tidak lagi menemuinya, tetapi dia selalu bersikeras menghubungi dan tidak melepaskan sampai pada akhirnya Ira mengganti semua nomor ponsel, memblokir semua akun media sosialnya dan menghilang perlahan darinya.
Dia berhasil melepaskan diri dan tidak lagi berhubungan dengan pria itu hingga saat ini. Sampai waktunya mereka bertemu kembali, bagaimana mungkin Ira tidak terkejut dan menjadi beban pikirannya sekarang? kejadian tadi membuatnya banyak berpikir dan merasa tidak tau harus berbuat apa?
"Ahh gimana dong?" ucapnya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dia memalingkan tubuhnya menghadap ke dinding perlahan menutup kedua matanya, tetapi sebelum itu, dia merasakan seseorang duduk di belakangnya.
"Mungkin Susan," dalam pikirnya.
"Bu?" suara Ari yang ternyata duduk di belakangnya, sontak dia menoleh tetapi pria itu justru langsung mencium bibirnya.
Dia mengingat ada banyak orang di luar dan berusaha melepasnya, tetapi ciuman lembut yang pria itu beri membuatnya terhanyut dalam kenikmatan.
"Ekheemm nikmati sekali," terdengar suara Susan membuat keduanya melepas ciuman itu.
"Ganggu lo San!" ucap Ari menoleh ke arahnya.
"Siapa yang ganggu? gue mau ambil hp," jawabnya mengambil handphone yang tergeletak di samping tv.
"Gak papa lanjutin haha, perlu gue tutup gak pintunya?" tanya Susan yang akan keluar kamar berdiri di ambang pintu.
"Tutup San," ucap Ari, lalu Ira berteriak, "Jangan gak usah" menatap pria itu.
"Apa? mau nginep di sini? apa pulang?"
"Kalo kamu mau anterin pulang sih"
Ari melihat jam di tangannya, "Setengah dua malam, yakin mau pulang? aku sedikit mabuk juga, nginep aja iya?"
"Aku nginep di sini"
Pria itu mendekat ke wajahnya mencium leher bagian belakang telinga Ira, "Tidur yuk?" bisiknya.
"Apa? aku bunuh kamu!"
"Hehe emangnya aku ngajak kamu tidur untuk berhubungan? nginep di rumah yuk? tidur sama aku, hanya tidur gak lebih," ucapnya mencubit pipi Ira.
__ADS_1
"Bukan muhrim"
"Haha sekarang ngomongnya bukan muhrim, dari kemarin kemana aja bu?"
"Enggak ah mau di sini, tidur sama kamu mabuk gitu nanti yang ada nyosor terus"
"Gak percaya sama aku?" tanyanya tersenyum menatap Ira.
"Enggak"
"Hehe ya dah di sini, aku mah tidur di kosannya Teguh"
"Iya sana"
"Ri yuk?"ajak Teguh masuk ke kamar.
"Bentar minta satu kali ciuman, jangan ganggu lo!"
"Sialan," ucap Teguh keluar kamar.
Ari menatapnya, "Boleh?" ucapnya tersenyum dengan mengangkat sebelah alisnya.
Tanpa menjawab Ira menciumnya, begitu pula dengan Ari yang membalas ciuman itu beberapa kali mengigit bibirnya.
"Udah, sana pulang!"
"Aku pulang iya?"
Dia beranjak dari duduknya melangkah keluar kamar, tidak lama Susan masuk dan menutup pintu.
"Gue mabuk Ra, mau langsung tidur," ucapnya mematikan lampu kamar dan berbaring di samping Ira.
"Gue juga mau tidur, selamat malam cantiknya aku," ucap Ira berbaring dan terdengar gemuruh suara knalpot motor yang bising, di luar Ari dan yang lainnya pergi meninggalkan kosan.
Hingga beberapa menit kemudian, malam yang tadinya gaduh tidak karuan sekarang berubah menjadi sunyi, di sana hanya terdengar suara kipas angin yang menjadi lagu penghantar tidur.
*****
__ADS_1