Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM

Tak Ingin Menyedihkan: KUPU-KUPU MALAM
Bagian 53


__ADS_3

.


.


.


Sampai di tepi pantai adzan Maghrib berkumandang. Mereka turun dari motornya berjalan mencari tempat duduk yang nyaman. Di bawah pohon ketapang yang rimbun menjulang tinggi terdapat tempat istirahat terbuka, keduanya duduk di sana.


"Heumm." Iki menghela nafas memandang lautan luas yang di penuhi oleh perahu nelayan, cahaya lampu dari masing-masing perahu membuat lautan terlihat seperti kota berpenduduk.


Begitu pula dengan Ira, dia terdiam tanpa berkata apapun.


*


Setengah jam mereka berdua saling diam menenangkan diri masing-masing.


"Lo bisa minum gak Ki?" tanya Ira memecah kediaman mereka.


"Bisa, tapi dikit kayanya."


"Beli yuk? lo yang bayar tapi haha."


"Dasar!" Iki beranjak dari duduknya berjalan ke arah warung.


"Manusia itu sedang menjadi pria sesungguhnya malam ini." ucap Ira sambil melihat ponselnya yang tidak di aktifkan.


"Ari nelepon gak iya? aktifin jangan? terserah lah pusing!" menyimpan kembali ponsel di sakunya membiarkan.


"Ra?" sapa Iki dari arah belakang sambil membawa sebotol anggur putih dan dua gelas. Begitu juga dengan sekantong plastik cemilan.


"Ko yang itu?"


"Gue suka yang ini, lo gak mau?"


"Bisa."


Menyimpannya di tengah-tengah keduanya.


Ira membuka plastik itu, ada satu bungkus roko di dalamnya.


"Lo merokok Ki?" tanya Ira karena sebelumnya tidak pernah melihat pria ini merokok.


"Kadang sih. Aneh iya?"


"Enggak." jawabnya sambil menyulut sebatang rokok.


"Gue seorang pria normal malam ini." ucap Iki menyulut rokonya.


Ira hanya tersenyum menatapnya. Pria yang biasanya berlagak seperti perempuan melebihi dirinya sekarang benar-benar terlihat seperti seorang pria. Mungkin benar apa yang sering orang katakan : bahwa masalah bisa mendewasakan seseorang.


*


"Lo ada masalah apa Ra?" tanyanya.


"Ki pernah gak ngerasain ketika dari sekian banyaknya hinaan dan perkataan buruk dari orang lain, lo paling inget sama satu manusia dan perkataan buruknya ke lo? seberusaha apapun lo lupain, pada akhirnya lo tetap akan inget?"


"Iya. Kayaknya bukan hanya gue, setiap manusia pasti pernah ngalamin. Masalah apa?"


"Gue bertengkar sama ibu, sampai pada titik dimana dia bilang nyesel udah ngelahirin gue dan gak bunuh gue sejak dalam kandungan." ucapnya sambil memakan kacang.

__ADS_1


"Hmm,, itu alasan lo nginep di kosan Susan?"


Wanita itu hanya mengangguk. "Sebenernya gue gak bilang sama ka Ayu, tapi namanya juga seorang kaka pasti dia mencari tau alasan apa yang membuat gue gak pulang?"


"Terus dia udah tau?"


"Dia bertengkar dengan ibu dan keadaan itu semakin membuat hubungan gue dan ibu memburuk. Yang pastinya gak ada sama sekali kenyamanan di rumah sekarang, termasuk di kamar."


"Gue gak tau harus bilang apa. Itu masalah lo dan hanya lo sendiri yang bisa rasain. Lagipula sama, sekarang gue juga punya masalah. Jalan satu-satunya adalah menyembuhkan diri sendiri dengan cara lo sendiri." ucap Iki menuangkan tetesan terakhir di gelas lalu memberinya pada Ira dan dia meneguk habis alkoholnya.


"Pusing gak Ra? gue cuma seperempat dan sisanya sama lo."


"Dikit,," bersandar pada Iki menatap lurus ke lautan. "Pantai memang satu-satunya penyembuh yang paling ampuh iya?" ucapnya.


Iki melihat ponselnya ada panggilan masuk dari Ari.


"Ponsel lo mana Ra?"


"Ada, kenapa? cuma gak di aktifin." menunjukkan ponselnya yang mati.


"Kalo Ari nelepon?"


"Bodo amat, dah lah pusing gue." menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Pria itu beranjak dari duduknya untuk menjawab panggilan Ari dan sekaligus dirinya akan menelepon seseorang.


"Kemana?" tanya Ira.


"Bentar!" menjauh.


Terdiam menikmati efek alkohol yang perlahan membuat dirinya merasa pusing.


*


"Tumben tuh anak." ucapnya sambil melihat ponselnya yang mati. "Hidupin gak iya? gimana kalo Ari nelpon?" merasa bimbang tapi pada akhirnya menyimpan kembali ponselnya.


"Ra?" ucap Iki menghampirinya.


"Ada apa?"


"Gue ada urusan. Gak tau bentar atau lama, tapi haru pergi sekarang."


"Maksudnya kita pulang?"


"Enggak! lo tunggu di sini gak papa?" tanyanya.


"Ohh,, gak masalah sana. Sekarang jam 21:08 mau nyampe jam 12 juga kalem. Tapi jangan nelepon."


"Bener?"


Wanita itu hanya mengangguk.


"Gue pergi iya cantik?" ucap Iki mengusap rambut Ira lalu pergi meninggalkannya.


Sekarang dia hanya sendirian. Terlihat ada beberapa orang yang sedang berkumpul tetapi jauh di ujung sana, mungkin mereka sedang minum bersama.


Beranjak dari duduknya berjalan ke arah jalan untuk membeli minuman. Sebelum menyebrang dia melihat seorang pria mengendarai motor beat hitam mendekat. "Merasa tidak asing." ucapnya terhenti karena pria itu berhenti di depannya.


"Ira? disini?" tanya Irfan yang masih satu angkatan dengannya.

__ADS_1


"Iya, kamu ngapain?"


"Ada urusan sih. Mau kemana?" tanyanya.


"Pengen beli susu sih, agak mabuk ini."


"Sama gue aja, tunggu di sini!"


Pria itu turun dari motornya lalu pergi ke warung, sementara Ira duduk di motornya sambil menunggu.


"Nih,," memberi 2 kotak susu coklat kesukaannya.


"Terimakasih." lalu meminumnya. Tidak ada rasa canggung di antara mereka karena sebelumnya Irfan dan Ira memang pernah dekat.


"Sendiri Ra?" melihat ke sekeliling tidak ada siapapun di sana.


Ira hanya mengangguk. Mengalihkan pandangannya ke jalan utama, dia tersentak kaget karena melihat Ari datang tanpa di duga.


"Anjing! masalah nih." berkata dalam hati sambil menatap Ari yang memarkir motornya.


"Ri?" sapa Irfan.


"Ketemuan?" tanyanya.


"Kebetulan, iya udah gue pergi Ra?" ucap Irfan menghidupkan motornya dan langsung pergi.


Wanita itu menatap Ari yang terlihat marah. Sebelum dia berbicara, pria itu berjalan ke arah pantai mendahuluinya.


"Ri?" Ira mengikutinya lalu langkahnya terhenti karena Ari menatapnya.


"Ketemu sama dia? pantesan no kamu gak aktif!" ucapnya sambil menyulut sebatang rokok.


Pria itu berdiri menatap lurus ke pantai, Ira berdiri di hadapannya.


"Sumpah demi apapun ini hanya kebetulan. Liat? ponsel aku mati dan sampai sekarang belum aku aktifin." menunjukkan ponselnya.


Ari masih terdiam menatapnya sambil merokok. Ira tau pria itu merasa cemburu dan sedang marah sekarang.


"Dengar! aku gak mau banyak berdebat dan menjelaskan panjang lebar, yang pastinya pertemuan tadi hanya sebuah kebetulan. Udah!" meyakinkan Ari tetapi pria itu justru masih terdiam dan mengalihkan pandangannya.


Ira membuang roko yang pria itu pegang, lalu meletakkan kedua tangan Ari di pinggangnya. Mendekat dan menatapnya, tetapi Ari masih belum bereaksi sama sekali.


"Aku tau kamu marah, tapi maaf. Iya?" ucapnya berkali-kali menci*m bib*r pria itu.


Satu tangannya mengusap lembut pundak hingga ke leher Ari, tetapi dia masih terdiam sehingga membuat wanita itu ingin menggodanya.


"Kamu marah?" ucapnya, lalu menci*m halus leher dan memberinya kecup*n di belakang telinganya.


Dia yang sedang berusaha menggoda pria itu, tetapi dia sendiri yang merasa terangs*ng. Hingga dengan sengaja menggig*t telinganya.


Pada akhirnya, Ari menyerah dari kecemburuan dan memeluk Ira lalu menci*m bib*rnya.


Angin laut yang berhembus tidak terasa dingin, karena pelukan dan ci*man yang sedang di lakukan oleh dua manusia itu.


"Aku ingin." ucap Ari berbisik sambil memeluknya.


Wanita itu tersenyum karena dia juga menginginkannya, apalagi sekarang dia sudah setengah mabuk.


"Heeumm iya." jawabnya menci*m pundak Ari.

__ADS_1


Lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.


*****


__ADS_2