
.
.
.
Dua wanita itu saling bertatapan tanpa berkata apapun.
"Apa sih?"
"Kopinya gak di minum Ra? udah gue beliin!"
"Terimakasih sayangku." ucapnya sambil menyeruput kopi hitam itu.
"Terusin Ra."
"Sebenernya ini gak penting Nggi haha."
"Tapi kan ini awal dari kisahnya, harus tau dong?"
"Oke lanjut,,,,tadi sampe mana?"
"Sampe 5 orang yang ke rumah lo pergi, yang ternyata dari kegelapan ada banyak orang."
"Oh iya,, setelah itu gue gendong Tia karena ibu histeris sampe pingsan. Tiba-tiba tengah malem abang dateng dengan wajah yang sudah pucat, terus ibu tanya kenapa? dia diem aja kayak orang yang kaget sampe gak bisa ngomong apa-apa. Lalu ayahnya dateng beberapa kali ngusap wajah abang, "kenapa lo? ada apa?" bentaknya."
"Baru abang gue sadar terus dia jawab, "Gue cuma tukeran motor sama paman, terus pas pulang di perjalanan di cegat sama masa di tanyain 'Mana Mas Di?' karena banyak pertanyaan dan bentakan gue bingung harus jawab apa?" ucapnya.
"Ibu nangis lagi lalu di tenangin sama paman dan dia bilang. "Padahal barusan masih tiduran sama Tia sambil nonton tv. Tiba-tiba petuanya nelpon suruh dia segera pergi jauh dari rumah. kalo gak dia bakalan mati sekarang!" Ibu menangis keras.
"Anj*ng rencana siapa ini? pantes di depan banyak masa." ucap paman beranjak dari duduknya lalu dia menelpon seseorang.
"Siapa Ra?" tanya Anggi.
"Rekan-rekannya ayah. Dan kau tau Nggi? lucunya, karena mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan sama-sama berada di luar kota. Dalam waktu satu minggu mereka gak ada yang tahu tentang kejadian ini! mereka tau setelah pulang ke rumah, mendengar dari orang lain baru mereka datang menemui ibu dan meminta maaf karena gak bisa bantu apapun. Jikapun mereka bisa bantu semuanya udah terlambat Nggi."
"Kenapa terlambat Ra?"
"Ketika malam itu telah berlalu, gue pikir masalahnya hanya malam itu tapi ternyata berlangsung selama beberapa hari. Ketika pagi gue berangkat ke sekolah, di depan banyak orang yang ngomongin ayah gue. Dari mulai dia merampok, nyuri, banyak lah!"
"Ternyata kasus semalam adalah pencurian. Katanya ayah gue nyuri uang, handphone dan motor yang kemarin dia cat. Dan gue baru sadar bahkan motor yang kemarin itu dimana? dan milik siapa? gue udah mulai curiga ini sebuah jebakan. Tapi saat itu keadaannya beda, sampai pada akhirnya mau gak mau gue harus bilang "Gue gak peduli apapun, lagi pula dia hanya ayah tiri bukan ayah kandung gue. Dia orang lain!" padahal dalam hati gue sakit ngomong gitu."
"Ohh dan yang terlambat,, pada saat gue pulang sekolah bahkan gue belum makan dan ganti baju, 5 orang tadi malam datang kembali dengan pertanyaan yang sama. "Mana Mas Di?" lalu dia bilang ke ibu bahwa ayah gue udah ngerampok salah satu rumah jadi harus di ganti rugi."
"Bentar, ganti rugi?"
"Iya Nggi! 5 motor yang ada di rumah, 2 laptop, 4 ponsel android, dan uang sekitar 5 jutaan di ambil semua. Padahal dalam satu mingguan itu keuangan di rumah sudah kacau karena ayah kalah judi. Mereka benar-benar mengambil semua yang tersisa dan seketika itu juga gue ngerasa menjadi manusia paling miskin di dunia. Kenapa? pertama gue kehilangan ayah, kehilangan diri ibu karena semenjak saat itu sikapnya mulai berubah, gue kehilangan motor kesayangan, laptop dan ponsel yang baru dua minggu lalu gue beli bareng ayah. Dan lebih sialnya kehidupan ini, lo tau Nggi?"
"Apa Ra?"
"Para tetangga dan anak-anaknya ayah gue yang tadinya mendewakan ayah dan ibu, mereka semua menjauh seolah gak pernah kenal sama keluarga gue. Bahkan banyak dari mereka yang memiliki utang kepada ayah, tapi saat gue dan Ka Ayu tagih ke rumah mereka lo tau nggak Nggi? mereka gak ada yang ngaku punya hutang. Bahkan ada yang ngaku tapi gak di bayar sampe hari ini! padahal banyak, saat itu semuanya udah habis. Makan aja gue beras di kasih nenek saking susahnya keadaan. Anj*ng banget kan mereka?"
"Nah Ra,, ini baru kesialan yang sebenarnya. Kenapa lo gak bakar aja tuh satu-satu rumah orang yang gak ngaku punya hutang? ikut kesel gue!"
"Saat itu kan gue masih SMP, masih rapuh. Kalo saat itu sekarang, jangankan bakar tuh rumah. Bak*r orangnya juga gue berani. Hukum dan dosa gue yang tanggung!"
"Mantap ibu negara ini haha." Anggi mengambil satu botol air putih di tasnya lalu minum.
"Lo yang cerita tapi gue yang haus, emosi dengernya. Nih minum!"
"Haha thanks sayang." Ira minum bekas Anggi. "Bentar,, beli kopi buat apa kalo gak di minum?"
"Setahu gue, lo minum kopi hitam."
"Terus satu lagi?"
__ADS_1
"Solidaritas aja haha."
"Dasar!"
"Belum selesai kan?"
"Belum dong, masih mau denger?"
"Masih dong!"
"Hmm,,, tapi ngomong-ngomong kemana sih semua orang? Ari sama Rendi juga belum balik?" Ira menatap ke luar jendela masih belum ada yang datang.
"Mereka ke belakang paling."
"Iya sih, oke gue sambung iya? seminggu setelah kejadian itu lingkungan kembali seperti biasa. Ayah pun sudah memberi kabar kepada ibu, begitu juga paman. Awalnya gue pikir paman gak ikut, tapi ternyata dia ikut. Hanya saja mereka berpisah beda tujuan untuk keselamatan masing-masing, jujur yang kasihan di sini itu paman. Lo tau kan pas nganterin ayah itu paman kan lagi kerja, dengan pakaian seadanya dia ikut ke kota. Paman tidak pulang karena dia tau, sekalipun dia pulang pasti akan di interogasi tentang keberadaan ayah. Itulah kenapa akhirnya paman ikut pergi bersama ayah ke luar kota dengan arah dan tujuan yang belum jelas."
"Lebih tepatnya saat itu ayah udah punya tujuan sementara paman belum."
"Kasihan deh paman lo Ra."
"Iya Nggi gue juga."
"Terus kemana ayah lo? gimana dengan paman lo?"
"Saat itu ayah punya temen yang lagi nunggu buat berangkat berlayar. Karena keadaan dan butuh tempat juga ayah ikut sama si temen ini. Lalu ibu diam-diam ngurus surat persyaratan, terus di kirim ke sana. Mungkin ini nasib baik juga, setelah 2 bulan temennya berangkat ayah juga berangkat ke Hongkong. Sampe sekarang gak tau berlayar dimana? dulu sempet sih kasih kabar lewat Facebook katanya dia di Qatar."
"Lalu paman lo?"
"Awalnya paman pasrah jadi gelandangan, kata dia sendiri haha. Tapi mungkin karena dia tampan juga nahh,,, ada cerita di sini Nggi haha."
"Apa Ra?"
"Jadi paman itu godain seorang janda yang agak tua, tapi dia banyak duitnya.. Beberapa waktu dia numpang makan, minum, morotin uangnya lah haha. Setelah cukup dapat, tadinya dia mau pulang tapi saat itu dia kan di ibukota dan kebetulan dia pernah pengen ngerasain merantau ke pulau seberang. Nahh,, nekad lah dia berangkat ke sana. Awalnya kehidupan di sana sulit, tapi mungkin karena paman juga pandai dalam berbagai hal dan entah apa aku gak tau jelas gimana perjalanannya pokoknya kehidupan menjadi lebih baik di bandingkan di sini. Itu menurutnya."
"Jadi paman lo gak nyesel udah bantuin ayah lo?"
"Oh iya,,, jadi intinya bisa di katakan musibah ini membawa berkah?"
"Iya Nggi bener, begitu juga ayah gue yang kerjanya judi kan mendadak jadi seorang pelaut nyari duit halal haha."
"Iya, terkadang ada banyak hal yang dimana membuat kita jatuh sejatuh-jatuhnya tetapi menjadikan kita manusia yang lebih baik di baliknya."
"Iya Nggi bener."
"Terus gimana lagi Ra?"
"Masih mau denger?"
"Iya ih." Anggi mencubit pipi Ira.
"Sakit ih" mengusap pipinya. "Gue bingung harus mulai dari mana? jadi semenjak saat ayah udah berangkat berlayar sikap ibu gue berubah Nggi, terutama sama gue."
"Berubah gimana Ra?"
"Dia menjadi dingin, cuek, tidak peduli, terutama sama apa yang gue lakuin. Dia selalu membanding-bandingkan gue sama ka Ayu." Ira terdiam mengingat kembali.
"Emang gue menyadari mungkin semuanya berawal dari diri sendiri. Saat itu gue kelas 3 SMP, gue menjadi anak yang nakal. Mungkin salah pergaulan juga, gue mulai merokok bahkan mabuk. Itulah kenapa orang tua harus membatasi pergaulan anak mereka. Yang gue rasain saat itu, karena ayah gue gak ada. Ayah kandung gue gak tau apapun tentang gue dan ibu tidak peduli. Seolah gue punya kebebasan untuk ngelakuin apapun karena gak ada yang peduli."
"Intinya kurang kasih sayang Ra?"
"Yang gue butuhin itu perhatian lah minimal."
"Gue lupa sumpah gimana awalnya, yang jelas gue merasa kehilangan semuanya. Kehilangan arah dan tujuan, seolah gue sadar gak sadar, satu-satunya yang gue anggap penting saat itu adalah kesenangan diri sendiri."
"Heumm gimana iya Ra?" terlihat dari raut wajah Anggi yang kebingungan.
__ADS_1
"Saat itu ibu marah setelah dia tahu gue suka merokok dan mabuk. Dia bersikap kasar sama gue. Inget banget,,, hari minggu. Malamnya gue gak pulang karena minum di pantai sampai pagi. Gue pulang dengan keadaan mabuk. Dan,,,ibu marah dia jambak gue, nampar, nendang. Intinya dia marah."
"Sakit Ra?"
"Sakit sih pasti, tapi saat itu kan gue masih agak mabuk. Dan gue juga menyadari kenapa dia marah. Orang tua mana yang akan membiarkan anak perempuannya meroko, mabuk, bahkan sampai gak pulang. Pergi kemana? sama siapa? setidak peduli apapun dia iya pasti dia khawatir lah. Bagaimana juga dia seorang ibu."
"Lalu?"
"Hmm,,, mungkin karena ibu cuek dan sering marah gak jelas sama gue. Terutama dia sering membandingkan gue sama ka Ayu, ada rasa gak terima dan benci dalam diri gue. Ada rasa ingin memberontak dengan keadaan yang gak berpihak sama gue. Ngerasa gak adil aja gitu, sikap dia yang berbeda sama gue, seolah gue di diskriminasi olehnya."
"Nenek lo gimana?"
"Nenek gak terlalu deket sama gue saat itu, karena dia kan ngurus Hesti."
"Sindi dimana?"
"Sindi kan di bawa sama ayah gue!"
"Ohh iya iya,, terus?"
"Gue merasa ibu semakin membenci gue, dia bahkan mulai gak bicara."
"Oh jadi dia gak bicara sama lo sejak SMP?"
"Iya,, dan keadaan semakin buruk ketika ibu pergi ke kota ayah buat nemuin embahnya Tia."
"Buruk gimana?"
"Gue di tinggal sendiri di rumah, tanpa biaya. Setau nenek ibu ninggalin gue dengan uang buat kebutuhan, jadi nenek gak pernah ngasih uang. Cuma nganterin makan doang."
"Pasti sulit kan?"
"Banget Nggi, bener-bener kek gak punya siapapun soalnya ka Ayu nginep di kosan temennya karena sibuk sekolah dan mau lulus juga."
"Terus gimana ibu lo? sekolah lo?"
"Dia bahkan gak pernah ngasih kabar, seolah dia lupa gue. Dan untuk sekolah gue biasa gak jajan, soalnya suka makan sebelum berangkat dan bawa bekal tapi bayaran sekolah,,,,?" Ira diam tersentak, bimbang dalam pikirnya. "Apa gue bilang sekarang sama lo Nggi? gue gak tau siap atau enggak, tapi,,,,?"
"Brakk!!" Anggi menggebark meja. "Ra? suka melamun ih."
"Gue bingung harus dari mana?" Ira diam mematung. "Sebenernya disini awal semua kehancuran itu Nggi, awal gue merusak tubuh gue sendiri." ucapnya dalam hati.
"Ngomong aja gak papa Ra?" Anggi dengan raut wajah serius dan penasaran karena dia tau Ira menyembunyikan sesuatu.
"Mungkin memang tepatnya harus nanti malam, sekarang gak bisa!" dari sudut pintu kelas Ira sudah melihat Rendi.
"Kenapa Ra?"
"Heii cantik?" ucap Rendi masuk ke kelas.
Anggi menoleh.
"Kenapa harus datang sekarang sih? ganggu tau gak?" jawab Anggi memukul tangan Rendi yang berdiri di depannya.
"Emang lagi apa?" tanya Rendi yang tidak tau apa-apa.
Ira hanya tersenyum menatap mereka berdua.
"Udah gak papa Nggi."
"Iya udah,, Ra nanti di lanjut iya?" beranjak dari duduknya keluar kelas di ikuti Rendi.
"Mau kemana?" teriak Ira.
"Kantin!"
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik!" Ira tersenyum menatap punggung Anggi yang sedang berjalan lalu hilang di ujung pintu.
*****